Arin menghela nafas lega. Saat ia membuka mata dan melihat Fachri tepat di hadapannya. Pria itu tampak terlelap setelah menikmati malam pertama mereka. Dengan masih memeluknya dengan erat. Satu sudut bibir Arin terangkat. Mengingat bagaimana Fachri memberikan arti percintaan yang sesungguhnya. Tanpa ada paksaan apalagi kekerasan. Sehingga Ia mendamba sentuhan seperti itu lagi. Tidak seperti dulu saat bersama Zidan. Dilakukan dengan paksaan dan terkesan terburu-buru. Ia juga di tinggal begitu saja tanpa ada kabar dan berita. Fachri? Sudah banyak kesempatan yang bisa digunakannya untuk melakukan hubungan lebih. Bahkan tidak terhitung lagi. Apalagi semenjak ia selesai operasi. Secara utuh benar-benar Fachri yang mengurus segalanya. Mulai dari memandikan. Mengenakan pakaian. Mengobati l

