Dini hari. Arin tersentak dari tidurnya. Merasakan sakit di kedua dadanya, serta tubuhnya yang terasa pegal karena belum pernah sekalipun berganti posisi. Bagaimana bisa bergerak. Tubuhnya terkunci di dalam sebuah pelukan yang begitu hangat dan menenangkan. Jangankan untuk bergerak. Tatapannya saja terbatas saat ini. Tidak ada pemandangan lain yang bisa ia lihat kecuali piyama hitam yang kini tepat berada di hadapannya. Fachri. Benar sekali. Ia yang kini tengah memeluk Arin dengan sangat erat. Setelah kejadian yang tidak mengenakkan sebelum mereka tidur tadi. Arin baru sadar dirinya telah menolak Fachri secara tidak langsung. Fachri yang sangat berbeda dari Zidan, tapi kenangan buruk itu tidak bisa membedakannya. Sehingga ia merasa ketakutan yang amat besar saat Fachri ingin menyentuh

