BAB 8 Kecewa

1037 Words
POV NINA 0m Reza lalu mengajak kami duduk di ruang VVIP yang ia gunakan meeting tadi, tapi sebelumnya sudah bersihkan oleh salah satu petugas Restaurant. Ketika sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Whika pamit ingin pulang duluan, katanya ada urusan mendadak. Tapi aku curiga jangan-jangan Whika bohong kalau ada urusan mendadak,dia pasti sengaja mau ninggalin aku berdua dengan 0m Reza, huh dasar Whika. Setelah Whika pulang, suasana yang tadinya santai, seketika menjadi canggung. "Kamu udah izin belum sama ayah kamu kalau hari ini kamu pulangnya lambat ?" Tanya 0m Reza memulai percakapan. "Ii..iya 0m." Jawab ku gugup. Sungguh ini pertama kalinya aku berbicara berdua dengan lawan jenis. "Nggak usah panggil 0m, panggil kakak aja yah." Timpal 0m Reza lagi. "Iya 0m, eh iya kak." Jawab ku sambil tersenyum. Kurang lebih dua jam kami mengobrol, ternyata kak Reza orang nya asyik dan nyambung diajak ngobrol. Ternyata kak Reza orangnya humoris, aku jadi nyaman berlama-lama ngobrol dengan kak Reza, sampai lupa waktu. "Kak aku mau pamit pulang yah, soalnya ini sudah terlalu sore." Kataku. "Oh iya, kakak antar yah, dan semoga kamu tidak menolak permintaan kakak, lebih tepat nya tidak boleh menolak, hehe." Kata kak Reza. "Kalau aku menolak, gimana ?" Jawabku. "Aku nangis, teriak-teriak dan berguling-guling dilantai." Kata kak Reza sambil tertawa. "Hahaha, yah udah deh aku mau." Jawabku lagi. Setibanya kami di parkiran, kami berjalan menuju ke mobil kak Reza, setelah tiba di depan mobil kak Reza, kak Reza segera membukakan ku pintu dan mempersilahkan ku masuk. Ahhh manis nya, baru kali ini aku diperlakukan semanis itu oleh seseorang. Aku memperhatikan wajah kak Reza yang sedang serius mengendarai. Hidung yang mancung, bibir tipis yang berwarna merah, alis yang tebal, serta lesung pipit yang menambah nilai ketampanannya. Postur tubuh nya juga ideal, tinggi dan tegap, mungkin kak Reza rajin berolahraga sehingga otot-ototnya terbentuk. Menurut ku wajah kak Reza terlalu muda untuk umur 50 tahunan. "Jangan terlalu fokus ngeliatain nya, entar jatuh cinta loh." Kata kak Reza sambil tersenyum meledek. "Ih siapa yang ngeliatin sih." Jawabku langsung mengalihkan pandangan. Kurasakan panas pada wajah ku, mungkin sekarang wajah ku sudah merah seperti kepiting rebus, aduuhh malunya. Aku merutuki diriku sendiri didalam hati, bisa-bisanya aku tidak sadar terlalu fokus memperhatikan wajah kak Reza. "Ahh bodoh.. bodoh..." Kataku sambil memukul-memukul kepalaku. "Eh kamu kenapa Nan ?" Tanya kak Reza bingung. "Haaa ? Nggak apa-apa kak." Jawabku kaget. Kak Reza hanya tersenyum sambil bergeleng-geleng kepala melihat tingkah aneh ku. Kak Reza hanya mengantarku sampai didepan pagar saja, aku takut nanti ayah atau ibuku mengenali mobil kak Reza. "Kak maaf ngaak usah masuk yah, aku turun nya di depan gerbang aja, aku takut ayah dan ibuku mengenali mobil kakak dan nanti mereka curiga." Kataku merasa tidak enak. "Iya nggak apa-apa, kalau begitu kamu masuk saja, setelah itu baru kakak jalan." Jawabnya. Aku mengangguk lalu segera masuk ke halaman, tak lama ku dengar suara mesin mobil kak Reza semakin menjauh. Aku langsung masuk dan menuju kekamar, malas rasanya bertemu dengan orang-orang yang ada di rumah ini. Sesampai nya dikamar aku langsung mandi, tak lupa memakai rangkaian skin care ku setelah itu merebahkan badan di tempat tidur. Aku senyum-senyum sendiri ketika mengingat semua perlakuan manis kak Reza tadi. Oohh my angel, angel baby angel, your my angel baby.. suara telepon pintarku membuyarkan lamunan ku, aku berharap yang menelpon itu adalah kak Reza. Aku segera berlari mengambil telepon pintar ku yang sedang aku charge di meja, aku sengaja mengcharge walaupun baterainya masih ada setengah, untuk persiapan ngobrol sebentar dengan kak Reza, yah semoga saja kak Reza menelpon ku, tadi sebelum pulang kami sempat tukaran nomor Witsap. Ketika aku melihat nama yang tertulis di layar telepon pintar ku, seketika aku senyum-senyum sendiri. "Jangan langsung diangkat deh, entar kak Yudi tahu lagi kalau sejak tadi aku menunggu teleponnya, nanti dia meledek ku lagi" Gumam ku. Aku membiarkan telepon pintar ku terus berdering. Biarlah dia menelpon yang kedua kalinya baru aku angkat. Satu menit setelah telepon pintarku berhenti berbunyi, tapi belum juga ada panggilan dari kak Reza, aku jadi uring-uringan sendiri. "Harusnya tadi langsung angkat aja, nggak usah sok-sok an mau jual mahal." Rutuk ku kesal. Tak lama kemudian telepon pintar ku berdering, ketika membaca nama yang tertulis pada layar telepon pintarku, seketika aku kecewa, ternyata Whika yang menelpon, bukan kak Reza. "Halo iya Whik kenapa ?" Jawab ku ketika mengangkat telepon dari Whika. "Gimana tadi sama kak Reza ? Kalian udah jadiannya yah ? Kak Reza asyik kan orang nya ? Kamu suka nggak ? Terus tadi kak Reza udah nembak kamu atau belom" Tanya Whika panjang lebar. "Aduh banyak banget sih pertanyaan kamu, udah kayak wartawan aja. Besok aja deh aku ceritain di kampus, aku udah ngantuk banget nih. Udah dulu yah, bye." Kata ku lalu segera memutuskan panggilan telepon tanpa mendengar jawaban Whika lagi. Aku sengaja berbohong pada Whika, tak ingin lama-lama mengobrol, takutnya kak Reza nggak bisa menghubungi ku karena telepon ku sibuk. Lelah menunggu telepon dari kak Reza, akhirnya aku tertidur. Kringgg.. kriingg.. Alarm ku berbunyi, itu artinya jam sudah menunjukkan pukul 05.00 subuh, berarti semalam aku ketiduran. Aku buru-buru mengecek telepon pintar ku dan berharap ada panggilan tak terjawab dari kak Reza. Lagi-lagi aku kecewa, ternyata tak sesuai yang aku harapkan, kak Reza sama sekali tidak menelpon ku. Apa aku saja yang terlalu baper yah ? Sedangkan kak Reza merasa biasa - biasa aja padaku. Atau aku aja yang menelpon nya duluan, dan berpura-pura menanyakan tentang panggilan tak terjawab nya semalam. Aku lalu mencari nama kak Reza di kontak ku, lalu menelponnya. Tiiitt.. tiiit.. tiiitt, setelah lama menunggu akhirnya kak Reza mengangkat telepon ku. "Iya Halo." Jawab kak Reza. "Ha..." suara ku terhenti ketika dari sebrang aku mendengar suara wanita yang kuduga adalah istri kak Reza, aku langsung memutuskan panggilan teleponku. "Siapa sayang yang menelepon pagi-pagi begini ?" Suara itu terngiang-ngiang di telinga ku, dan tanpa aba-aba air mataku pun jatuh. Entah mengapa hati ini rasanya sakit sekali, mungkin kah aku cemburu ? Mungkin kah aku sudah mulai jatuh cinta pada kak Reza ? Oh tuhan ini terlalu cepat. Aku lalu menghapus nomor kak Reza dan berjanji tidak akan menghubunginya lagi. Ternyata Whika bohong padaku, dia bilang rumah tangga kak Reza sudah hancur, tapi kenyataannya rumah tangga kak Reza baik-baik saja, buktinya istrinya masih memanggilnya sayang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD