BAB 4 | DIFFICULT CHOICE

1877 Words
KETIKA sampai di tengah tangga menuju lantai dasar, lobi utama University Carlos III de Madrid tempat Victor menempuh pendidikan Sarjana bisnis penuh dipadati para mahasiswa yang berkumpul. Victor berhenti, bukan karena tak mendapat akses jalan yang tertutup rapat melainkan karena lelaki itu menyadari siapa yang tengah menjadi pusat dari keramaian tersebut—Romeo Felipe Adalwine, putra mahkota Spanyol yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Victor tahu tujuan Romeo pergi kemari adalah untuk menemuinya sebab dua kali dirinya mangkir dari ajakan kakaknya untuk bertemu yang sudah pasti akan membicarakan hal serupa yang dikatakan Raja Felipe padanya dua hari yang lalu di istana negara. Tak berminat bertemu dengan kakaknya, Victor berbalik dan kembali melangkah naik. Ditengah deru yang ia tinggalkan, seseorang dari ujung tangga teratas berteriak memanggil namanya. “Prince Victor! Kamu kembali ke atas lagi pasti karena menyesal telah meninggalkanku kan?” Ramon memasang ekspresi terharu, sedangkan Victor mati-matian menahan supaya tidak merobek mulut besarnya. Sialan! Victor mengumpat dalam hati. Teriakan cecunguk satu itu berhasil menarik perhatian semua orang berpindah kepadanya, terutama Romeo yang sekarang telah mengetahui posisinya. Tidak lama kemudian, suara Romeo terdengar. “Victor! Kamu ada di sana rupanya, kakak datang untuk menjemputmu. Ayo kita pulang sama-sama!” Hening mengambil alih keadaan saat Victor tak kunjung menyahut. Ramon yang berdiri di tangga teratas menjadi satu-satunya orang yang dapat melihat bagaimana ekspresi Victor sekarang. Rahang Victor mengeras, kedua matanya menyalang penuh amarah, dan bibirnya terkatup rapat dengan gigi bergemeretak. Barulah setelah melihat ekspresi itu Ramon sadar jika sapaannya beberapa saat yang lalu membuat temannya terjebak keadaan tidak menguntungkan. “Hai Prince Romeo!” Ramon berteriak memecah keheningan, melambaikan tangan menyapa Romeo sambil tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya. Kepala Victor mendongak, menatap lelaki di depannya dengan alis bertaut heran. Ramon ingin memperbaiki kesalahannya dan dia akan membantu Victor. “Namaku Ramon Demetrio, sahabat Victor. Maaf, tapi hari ini Victor sudah janji akan pulang denganku karena kami akan—emm… mengerjakan tugas bersama! Hahaha, iya. Jadi maaf, kami buru-buru. Sampai jumpa!” Sedetik usai mengatakan alasannya, Ramon menarik tangan Victor dan mengajaknya pergi dari sana. Sementara Romeo tidak bisa mencegah hal itu terjadi karena sebelum dia sempat membalas kata-kata Ramon, dua lelaki muda itu telah lebih dulu menghilang dari lobi. Sekali lagi membuat rencana Romeo berbicara serius dengan adiknya gagal. •••• Ramon mengendalikan napasnya yang megap-megap setibanya mereka di rooftop. “Kepalaku tidak akan dipenggal karena telah membohongi calon Raja kan?” Ramon bertanya sambil memegang lehernya dengan ekspresi ketakutan. Victor menarik sudut bibirnya, setengah tertawa mendengar pertanyaan Ramon. “Apa kamu menyesal telah membantuku kabur?” ejeknya. Yang langsung dibalas gelengan kepala keras oleh Ramon. “Tidak!” tegasnya tanpa ragu. “Tapi… apakah aku sudah melakukan hal yang benar? Maksudku, untuk membantumu. Hehe,” lanjut Ramon, tersenyum nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kepala Victor mengangguk, lelaki itu juga tersenyum simpul. “Terima kasih Ramon.” Bola mata Ramon membesar, seolah mendapat ungkapan rasa terima kasih dari Victor merupakan mukjizat yang tidak akan datang dua kali dalam hidupnya. “Sama-sama prince!” jawabnya dengan mata berbinar senang. Victor melangkah mendekati pagar pembatas dan melihat ke bawah halaman di mana mobil kerajaan yang ditumpangi Romeo pergi meninggalkan kawasan universitas. Ramon menyusul berdiri di sampingnya, ikut menumpukan pandangan ke arah mobil Romeo. “Apa kamu membaca berita kerajaan yang tersebar beberapa hari ini?” Ramon bertanya di sela desau angin berembus di antara mereka. Ekspresi Victor kembali datar, dia merespon pertanyaan Ramon lewat anggukkan kepala. “Karena berita soal panggilan resmi Raja Felipe yang ditujukan untukmu, orang-orang jadi menuduhmu menyerobot posisi pangeran Romeo sebagai Raja Spanyol berikutnya. Padahal aku tahu, kamu bukan orang yang mudah tergiur dengan jabatan Raja,” ujar Ramon. Wajah Victor berpaling menatapnya. “Bagaimana jika berita itu benar?” Ramon terkejut untuk sesaat, tapi tidak lama sebelum kemudian tersenyum dan menjawab, “Tidak mungkin. Aku tahu betapa besar tekadmu ingin menjadi seorang pebisnis hebat yang menjalankan perusahaannya.” Victor tidak percaya, teman yang sering dia anggap pengganggu ini ternyata mengenalnya dengan sangat baik. Berita buruk mengenai dirinya yang tersebar di media membuat para mahasiswa menjaga jarak darinya selama dua hari ini, tetapi tidak dengan Ramon. Lelaki itu tetap berusaha menjadi temannya sesering apapun Victor mengacuhkannya. “Aku memiliki gadis yang sudah aku cintai sejak kecil.” Victor memutuskan sedikit berbagi cerita pada Ramon yang bertambah senang begitu Victor mulai terbuka padanya. “Apa gadis itu adalah kekasihmu?” Ramon balas bertanya. Victor meluaskan pandangan menatap langit biru, membayangkan wajah Chloe tersenyum di sana. “Ya. Dan aku sudah membuatnya terlalu lama menunggu.” Ramon menautkan alis, lalu menebak, “Jangan-jangan dia gadis yang kamu kenal saat masih tinggal di Amerika dulu?” “Kamu benar. Namanya Chloe Mackton,” sahut Victor tanpa memandang ke arah Ramon. “Chloe Mackton? Putri dari CEO terhebat C International Group?!!!” Ramon memekik tidak percaya. Lalu geleng-geleng kepala tidak habis pikir, “Woah… standart wanitamu sungguh tidak main-main,” celetuknya. “Aku berjuang menjadi pebisnis yang hebat dan berharap suatu hari nanti bisa mengalahkan daddynya—Dapper Mackton dalam dunia bisnis demi bisa menikahi Chloe.” Ramon menepuk pundak Victor dengan keras dan membuat lelaki itu menoleh dengan dahi berkerut tidak nyaman. “Kau berjuang keras bung! Pantas saja kamu sangat serius selama belajar di sini.” Victor balas menepuk b****g Ramon. “Kau pun juga harus serius saat belajar,” Victor berucap seperti sebuah ancaman. “Sesekali santai pun tidak masalah,” timpal Ramon dengan senyuman jenaka. Mereka berdua kemudian beradu pandang dalam beberapa detik lalu menyemburkan tawa bersamaan, menertawakan sesuatu yang sebenarnya jauh dari kata lucu. •••• Mansion megah kediaman Victor beserta Infanta Sofya dan William Felipe Leonardo—orang tuanya, sore itu kedatangan tamu Romeo dan Juliet dengan tujuan utama menemui Victor. Karena Victor enggan bertemu dan selalu menghindar, Romeo akhirnya langsung mendatangi rumah orang tuanya tempat di mana ia bisa menemui adiknya di sana. “Madre, Padre.” Romeo menyapa orang tuanya yang menyambut antusias kedatangan putra sulungnya yang jarang sekali datang mengunjunginya sebab disibukkan oleh urusan negara. “Dasar anak nakal! Apakah kamu sesibuk itu sampai melupakan keberadaan orang tuamu sendiri?” Sofya menepuk bokoong Romeo dengan kesal. Romeo meringis, sedangkan Juliet tertawa pelan melihat suaminya diomeli. “Maaf Madre, pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan,” jawab Romeo. “Anakmu yang nakal ini sebentar lagi akan menjadi Raja. Jangan perlakukan dia seperti anak kecil lagi Sofya.” William membela Romeo yang langsung menghadiahinya pelukan. “Padre memang sangat pengertian!” ungkap Romeo setelah mendekap erat tubuh ayahnya. “Setidaknya luangkan waktumu sedikit saja untuk keluarga! Apa kamu juga tidak kasihan pada istrimu? Dia mengurus dua anakmu yang masih kecil sendirian!” Sofya tak berhenti mengomeli Romeo. “Kami memiliki lima puluh pelayan rumah tangga di rumah. Madre tenang saja, banyak pembantu yang turut mengurus Anthony dan Amber.” Romeo menyahut santai. Juliet memegang tangan mertuanya yang hampir keriput. “Romeo benar, Madre tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja,” timpalnya. “Okelah-okelah, aku tidak akan mengkhawatirkan kalian lagi kalau begitu. Ayo kita masuk, pelayan sedang menyiapkan makan malam. Tinggallah sampai makan malam telah siap dan kita makan bersama.” Romeo mengangguk, kemudian menuntun kedua orang tuanya masuk ke ruang keluarga. “Dimana Victor?” Romeo mengedarkan pandangan mencari adiknya yang sejak tadi tidak terlihat jejaknya sama sekali. “Victor? Di jam-jam ini dia biasanya ada di kamar untuk belajar,” jawab William. Sofya ikut nimbrung mengajukan sebuah pertanyaan, “Oh ya Romeo, ngomong-ngomong soal Victor. Apa kamu tahu alasan kenapa dia dipanggil Raja Felipe ke istana dua hari lalu?” Romeo tertegun. “Victor tidak memberitahu kalian soal itu?” Sofya dan William menggelengkan kepala secara serentak. “Victor hanya bilang Raja Felipe mengundangnya makan bersama karena mereka sudah lama tidak bertegur sapa,” jawab Sofya. Victor berusaha menyembunyikannya dari Sofya dan William, batin Romeo. Pantas saja kedua orang tuanya masih bisa bersikap normal padanya, ternyata mereka belum tahu masalah apa yang sedang muncul ke permukaan sekarang. “Jika Victor mengatakan itu, berarti memang seperti itulah kenyataannya. Untuk apa kalian khawatir?” Romeo bersekutu membohongi kedua orang tuanya. Juliet yang sadar dengan kebohongan itupun menunduk merasa bersalah. “Aku hanya khawatir karena media bilang, panggilan itu ada kaitannya dengan pengunduran jadwal penobatanmu sebagai Raja berikutnya. Masyarakat berspekulasi Victor akan menggeser posisimu sebagai pengganti Raja Felipe,” kata William dengan kaku dan gugup. Takut jika ucapannya menyinggung perasaan Romeo. Senyuman lebar tanpa beban muncul di bibir Romeo. “Jangan cemas Padre! Hal itu tidak akan terjadi. Victor sangat membenci kepemerintahan, dia tidak akan bersedia masuk ke politik. Apa Padre lupa tujuannya sejak kecil? Victor ingin menjadi pebisnis hebat seperti Dapper Mackton.” Sofya mengangguk, sependapat dengan perkataan Romeo. “Romeo benar sayang, sudah kubilang juga kan? Victor tidak mungkin mengkhianati kakaknya sendiri.” Sofya menyahut sembari menyentuh lengan suaminya. “Juliet,” Romeo memanggil istrinya yang seketika menoleh, “tolong temani Padre dan Madre. Aku akan ke atas menengok Victor,” lanjutnya, yang dibalas anggukan kepala Juliet. Romeo berpamitan pergi, lalu melangkah meninggalkan keluarganya menuju kamar Victor yang berada di lantai dua. •••• Pintu kamar Victor tidak terkunci. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Romeo langsung mendorong handel pintu untuk masuk dan… kosong. Buku-buku bisnis dan coretan tangan Victor yang berserakan di atas meja belajar memberi petunjuk jika beberapa saat yang lalu lelaki itu masih berada di sana. Embusan angin kencang berasal dari pintu balkon yang terbuka, menarik perhatian Romeo supaya berjalan ke sana. “Shitt! Kamu di mana Chloe? Kenapa tidak menjawab telponku!” Romeo berhenti melangkah sebelum ia mencapai ambang pintu ketika mendengar suara frustasi Victor yang terlihat sedang berusaha menghubungi kekasihnya melalui handphone. “Please baby… c’mon! Jawab telponku! Aku sangat khawatir.” Victor mengeluh putus asa sambil mengulang hal yang sama—menghubungi Chloe sampai gadis itu mengangkat panggilannya. “Percuma saja Vic, mau kau menghubunginya sampai ratusan kali pun. Chloe tetap tidak akan menjawabnya.” Ucapan Romeo di belakang membuat Victor berbalik cepat dan menatap waspada kemunculan kakaknya secara tiba-tiba. Mata Victor memicing, “Kenapa kakak bisa tahu Chloe tidak akan menjawab telponku?” Victor bertanya curiga. “Maafkan aku Victor,” wajah Romeo tampak menyesal, tetapi perminta-maafannya barusan seakan memberi kode untuk Victor yang seketika tegang. “Jangan bilang kau…” Victor kehilangan suaranya diujung kalimat. Romeo kemudian memperjelas semuanya. “Ya, aku menculik Chloe untuk memancing jawaban darimu. Karena jawabanmu juga akan berimbas pada keselamatannya.” Tidak! Tangan Victor menarik kerah kemeja yang digunakan Romeo. Matanya menggelap dipenuhi amarah. “Jangan menyentuh milikku! Lepaskan Chloe!” Victor menggeram. Romeo berusaha tetap tenang menghadapi adiknya yang telah termakan emosi. “Tergantung pilihan yang akan kau putuskan Vic.” Romeo menyentak tangan Victor hingga cekalannya terlepas. Lalu membenarkan posisi kemeja sebentar sebelum menatap lurus ke arah Victor. “Mari kita percepat obrolan ini. Dirimu pun pasti sudah mendengarnya dari Raja Felipe. Maka, apa keputusan yang kau pilih sekarang?” Romeo bertanya to the point. Cekalan Victor di ponselnya menguat, dia masih diam dengan rahang mengatup. Romeo sialan! Victor tidak menyangka kakaknya akan segencar ini meminta jawaban darinya. Jadi, siapa yang sebenarnya ingin Romeo pertahankan? Tahtanya, ataukah gadis bernama Amanda yang baru kemarin dia ketahui merupakan anak dari Juliet dan Edgar yang dahulu menghilang. Victor akan mendapat jawabannya sebentar lagi. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD