BAB 5 | DISAPPOINTED

2051 Words
EKSPRESI Victor melunak, tatapan sengitnya berubah menjadi seringaian geli. “Aku mengambil keputusan yang menguntungkanku, dan juga menguntungkan kakak,” Victor sengaja menjawab dengan kesan misterius dan tidak spesifik. Menambah rasa penasaran Romeo. “Apa itu?” Victor mengedikkan bahu, “Apalagi? Tentu saja membiarkan Raja membunuh Amanda. Selain karena statusnya yang dapat membawa citra buruk kerajaan, Amanda juga bukan siapa-siapa kita sehingga tidak perlu cemas walaupun dia disingkirkan sekalipun.” Usai berkata demikian, Victor berjalan lebih dekat. Sedekat nadi leher Romeo kemudian berbisik di samping telinga kakaknya. “Tahtamu tetap aman.” Bahu Romeo menegang. Victor sengaja memperjelas ucapan terakhirnya seolah-olah itulah satu-satunya hal yang ingin Romeo pastikan darinya. Padahal tidak. Anggap saja Romeo serakah. Dia sudah berjanji pada istrinya supaya menyelamatkan Amanda dari kematian, dan menjadi Raja merupakan hal yang telah ia tunggu sejak lama. Romeo harus mendapatkan keduanya. Meskipun untuk mencapai kedua itu, dia harus mengorbankan adiknya. “Tidak!” Romeo berseru seraya menahan pergelangan tangan Victor yang hendak berjalan melewatinya. Victor mau tidak mau akhirnya kembali menatap sepasang mata hijau milik kakaknya yang tak jauh berbeda dengan warna iris matanya. “Amanda sangat penting bagi Juliet. Aku tidak bisa membiarkan Raja membunuhnya,” ungkap Romeo. “Owh. Lantas, apakah itu berarti kakak siap melepas tahtamu untukku?” Alis Victor terangkat, ingin melihat reaksi Romeo atas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Lalu, lelaki itu tertawa. “Hahaha. Apa kau sedang mengujiku Vic?” “Kamu tahu betapa aku sangat menginginkan posisi itu untuk mewujudkan masa depan Spanyol yang lebih baik. Dan akupun tahu, sejak kecil kau sama sekali tidak menyukai hal-hal berbau politik sehingga tidak mungkin kau akan menggantikanku. Tahta itu adalah milikku,” sambung Romeo dengan secuil senyum sombong penuh kemenangan. Victor memutar bola mata, akan tetapi setelah itu dia menampilkan senyuman masam. “Jadi maksud kak Romeo, kakak ingin mempertahan posisi Raja dan ingin Amanda tetap hidup dengan memaksaku untuk menikahinya?” Romeo mengangguk. “Ya,” jawabnya, singkat. Kepala Victor mendidih, tangannya meremas kuat-kuat sementara kedua matanya menatap benci kakaknya yang tega mengorbankan dirinya demi kebahagiaannya sendiri. “Kalau begitu, kakak pasti tahu aku akan menolak melakukan pernikahan itu.” Victor masih mencoba sabar. Namun perkataan Romeo berikutnya benar-benar menyulut amarah Victor sampai ke ubun-ubun. “Tentu saja. Sebab itu aku menggunakan Chloe untuk mendapat jawaban sesuai kemauanku darimu.” Sebuah seringaian sadis muncul di bibir Romeo. “Berengsek! Chloe tidak ada kaitannya dengan ini, jangan masukkan dia ke dalam masalah!” pekik Victor dengan berang. “Calm down boy. Meskipun nantinya kau harus menikahi Amanda, tapi itu tak akan membuatmu kehilangan kekasihmu,” tukas Romeo. Mata Victor menyipit tajam, hampir muak dengan pembahasan ini. “Jangan bertele-tele kak. Cepat katakan apa rencanamu?” Romeo menghela napas dalam-dalam, lalu mulai menjelaskan rencananya. “Hanya selama satu tahun. Kamu dan Amanda akan menjalin hubungan rumah tangga selama satu tahun, setelah itu kamu bebas bersama Chloe. Setelah publik mengenal Amanda sebagai istrimu, identitasnya sebagai anak dari Juliet dan Edgar tidak akan dicurigai.” Victor terdiam, sedang berpikir keras. Menimbang-nimbang apakah dia akan mengikuti rencana Romeo atau tidak. Tapi… oh s**t! Romeo menunjukkan layar ponsel ke arahnya yang berisi rekaman video Chloe sedang disekap disebuah gedung bekas. Tidak ada pilihan lain, keselamatan Chloe adalah yang utama bagi Victor. “Baiklah, aku akan mengikuti rencanamu kak. Tapi andai suatu saat kau mengingkari janjimu dan melukai Chloe, aku tidak akan segan-segan menyebarkan masalah ini ke publik untuk menodai citramu.” “Deal?” “Lepaskan Chloe dulu.” Victor mengajukan persyaratan. Tanpa menunggu waktu, Romeo kemudian menelpon seseorang dan memberitahunya supaya melepaskan Chloe. “Done. Can we continue the deal?” Romeo mengulurkan tangan. Meski ragu, tetapi Victor memaksa dirinya untuk berkompromi lalu membalas jabat tangan kakaknya. “Deal.” Kesuraman membayangi binar dalam mata Victor. Demi Chloe, meskipun ia yakin keputusannya juga akan melukai gadis itu. •••• Spanyol memiliki selisih waktu enam jam lebih cepat dari Amerika. Pukul lima sore di Spanyol berarti pukul sebelas siang di Amerika. Chloe baru dibebaskan setelah Victor melakukan kesepakatan dengan Romeo. Tanpa gadis itu ketahui, Victor-lah yang menyelamatkan nyawanya dari jauh. Tapi aksi heroik tak kasat mata itu membuat Chloe kecewa. Sebab kekasihnya—pria yang ia yakini akan datang menolongnya ternyata tidak menunjukkan batang hidungnya. Dan seperti biasa, Xavier lah yang akan selalu menjadi orang nomor satu yang dapat menemukannya. Seperti kata Natalie, Xavier seolah punya radar khusus sehingga dengan mudah menemukan Chloe walau jaraknya lebih dari satu kilometer. Xavier yang baru sampai di lokasi langsung berlari begitu melihat Chloe keluar dari dalam gedung dengan langkah lemas. “Beauty! Kau baik-baik saja?” Xavier mengangkat satu tangan gadis itu supaya bertumpu ke pundaknya. Chloe menatap rapuh Xavier, pandangannya sudah buram oleh air mata yang menggenang. “Aku baik-baik saja. Penjahat-penjahat itu tiba-tiba pergi meninggalkanku, mungkin karena mereka melihat mobilmu berjalan kemari.” Suara Chloe bergetar. Xavier panik ketika melihat bulir-bulir air mata menitik dari sepasang mata birunya. “Apa yang sudah mereka lakukan padamu? Apa mereka menyakitimu? Melecehkanmu? Atau apa? Katakan padaku Chloe! Aku akan menghancurkan penjahat-penjahat itu karena telah membuatmu menangis,” Xavier berucap dengan mata berkilat marah, penuh dendam. Andai orang yang mengatakan itu adalah Victor, Chloe sudah pasti sangat bahagia sekarang. Chloe menekan rasa sedihnya, kemudian menggeleng. “Tidak. Mereka hanya mengikat dan menyekapku di gedung. Aku tidak disiksa ataupun dilecehkan,” jawab Chloe pelan. Xavier berangsur lega. “Syukurlah kalau begitu. Lalu… kenapa kamu menangis?” Xavier bertanya seraya mengusap air mata Chloe. Untuk sesaat, Chloe tak mampu menjawab. Rasanya terlalu sulit mengatakan betapa sedihnya dia karena Victor tidak datang menolongnya. Chloe akhirnya memutuskan menyimpan alasan itu sendirian. Semuanya juga bukan salah Victor. Lelaki itu tidak tahu apa-apa sebab tinggal jauh darinya. Andai Victor ada di sini, Chloe yakin dialah orang pertama yang akan datang menyelamatkannya—bukan Xavier. “Jangan beritahu daddy tentang ini,” pinta Chloe, mengabaikan pertanyaan Xavier sebelumnya. Xavier membantah. “Uncle Dapper harus tahu putrinya telah diculik! Aku akan membantu uncle mencari tahu siapa orang-orang yang melakukan ini padamu. Karena aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi padamu. Aku mengkhawatirkanmu Chloe.” Xavier menatap intens mata Chloe yang tertegun mendengar penuturannya. Jika ada nominasi sahabat terbaik sedunia, Xavier pasti termasuk salah satunya. “Terima kasih karena selalu ada untukku Xavier.” Mata Xavier berbinar senang mendengar jawaban Chloe, namun meredup begitu Chloe meneruskan ucapannya. “Kau adalah sahabat terbaikku.” Sahabat. Sebatas sahabat. Terkadang Xavier tidak bisa menerima status itu dan berharap lebih Chloe akan menyadari perasaannya. Tapi percuma, empat tahun sudah mereka menghabiskan waktu bersama, sebentar lagi Xavier akan lulus kuliah dan Chloe masih menganggap usaha yang dilakukannya selama ini semata-mata hanya karena statusnya sebagai seorang sahabat. Kau bodoh Xav! Xavier merutuk dirinya dalam hati. Menyukai gadis yang telah memiliki kekasih dan jelas-jelas begitu mencintai laki-laki lain ketimbang dirinya. Mempertahankan perasaannya pada Chloe adalah sebuah tindakan bodoh. Xavier harusnya sadar perasaan Chloe terhadap Victor tidak akan pernah pudar sejauh apapun jarak memisahkan mereka. •••• Satu bulan berlalu pasca kejadian itu. Romeo telah memutuskan Victor akan menikah dengan Amanda setelah lelaki itu lulus sarjana. Dan memberi waktu satu tahun terakhir untuk bersenang-senang bersama Chloe sebelum janji pernikahan terucap dari mulut Victor untuk menikahi Amanda. Sedangkan Chloe masih belum tahu apa-apa perihal rencana itu. Hubungannya bersama Victor masih saja sama, berkomunikasi jarak jauh. Bahkan di hari ulang tahun Chloe yang ke 20 tahun, tidak ada harapan Victor akan datang menemuinya dikarenakan hari itu bertepatan dengan pertemuan resmi keluarga bangsawan untuk merayakan penobatan pangeran Romeo yang akan dilaksanakan kurang lebih tiga bulan ke depan. Dapper telah menggunakan ballroom hotel terbesar miliknya sebagai lokasi ulang tahun putri kesayangannya. Mengadakan pesta megah nan mewah demi membuat putrinya tersenyum di hari istimewanya. Namun sia-sia, tidak ada alasan bagi Chloe tersenyum saat ini selain melihat Victor secara langsung. Setelah melakukan acara tiup lilin dan potong kue, kini saatnya para tamu undangan menikmati jamuan dan pesta yang diadakan. Sebagai icon utama yang berulang tahun, Chloe tidak banyak menampakkan diri di tengah pesta. Gadis itu pergi ke balkon, mengasingkan diri dari keramaian untuk menelpon Victor. Tapi lagi-lagi hanya jawaban operator yang ia dapatkan. Lelaki itu mereject panggilannya. Pertemuan resmi keluarga bangsawan pasti penyebab mengapa Victor tidak bisa menerima telpon. Ya Tuhan. Chloe tahu pertemuan keluarga sangat penting, tapi tidak bisakah sebentar saja Victor berbicara dengannya untuk sekadar mengucapkan selamat ulang tahun? Tangan Chloe mencengkeram erat ponsel—bentuk upayanya menahan desakan air mata yang terus muncul. “Victor sudah keterlaluan hiks…” isaknya parau. “Tahun lalu meskipun tidak bisa datang Victor tetap mengirimkan hadiah dan ucapan selamat ulang tahun untukku. Tapi kenapa tidak untuk tahun ini—hikss…” Bahu Chloe berguncang hebat, tidak mampu menahan lebih lama agar tidak menangis. “Sesibuk itukah dirimu hingga melupakan hari pentingku?” Kesedihan yang mendalam membuat napasnya terasa berat. Tubuh Chloe goyah dan akhirnya jatuh terperenyak ke lantai balkon. Satu tangannya berpegangan erat pada pagar pembatas besi, sementara satu tangannya yang lain menekan dadanya kuat-kuat. Air matanya tak berhenti merembes keluar. Di belakangnya, seorang lelaki tampak berdiri mematung—menatap simpati posisi Chloe yang membuatnya tampak menyedihkan. “Chloe.” Panggilan itu menggiring tatapan Chloe berpindah ke arah kemunculan lelaki di belakangnya. Sejenak, air mata memburamkan pandangan Chloe yang mengira lelaki itu adalah Victor. Lalu beberapa saat kemudian, rasa kecewa menyerangnya mendapati lelaki itu ternyata adalah Xavier. “Jangan menangis beauty, sekarang hari istimewamu. Tidak seharusnya kamu menangis.” Selalu Xavier yang bertugas menghapus air matanya, memeluknya juga menenangkannya—hal-hal yang seharusnya dilakukan Victor sebagai kekasih Chloe—bukannya Xavier yang hanya sebatas sahabat. “Victor melupakan hari spesialku hiks… dia pasti sudah tidak mencintaiku lagi…” Suara pilu Chloe meremas perasaan Xavier, memancing lelaki itu memeluk tubuh rapuh Chloe lebih erat lagi. Dada Xavier memanas, tidak terima gadis yang dia sayang harus menangis gara-gara laki-laki berengsek kurang ajar seperti Victor. Xavier bersumpah dalam hati jika kejadian seperti ini terus berulang maka dirinya tidak akan segan-segan merebut Chloe dari Victor. Disela kejadian itu berlangsung, tatapan Chloe tidak sengaja mengarah ke seorang lelaki yang diam-diam mengawasi mereka dari jauh. Entah mendapat gagasan dari mana, tapi Chloe langsung menyimpulkan lelaki itu adalah Victor. Sadar bahwa dirinya telah tertangkap basah, lelaki itu segera beranjak dari sana. “Tunggu!” Chloe melepas rangkulan Xavier dan berlari mengejarnya. Xavier sontak bergeming, menatap heran kepergian Chloe. Hap! Chloe berhasil menangkap pergelangan tangannya sebelum lelaki itu menuruni tangga. Melihat bahwa lelaki itu memakai topeng untuk menyamarkan wajahnya membuat Chloe semakin yakin dirinya adalah Victor. Dengan cepat tangannya menyibak topeng yang dikenakan lelaki itu. Harapan besar tergambar dalam ekspresi Chloe, namun sedetik kemudian jatuh menyisakan kekecewaan saat melihat lelaki bertopeng tersebut bukanlah Victor melainkan anak dari Luke—ketua bodyguard daddynya yang bernama Martin. “Martin?” Chloe mengerutkan dahi, lalu memaki karena kesal, “Apa yang kau lakukan di sini?! Dan kenapa menggunakan topeng? Ini bukan pesta topeng!” “Maaf Nona. Ayahku ekhm… maksudku bos mengatakan agar seluruh pengawal memakai topeng untuk menyamar sambil diam-diam mengawasi jalannya pesta. Tadi aku tidak sengaja melihatmu menangis, aku pikir ada sesuatu yang terjadi,” jelas Martin. Chloe menghela napas panjang, ternyata dia hanya salah paham. Padahal tadi Chloe sangat berharap dia adalah Victor, tapi semua itu memang hanya akan jadi mimpi Chloe saja. “Aku mengerti. Maafkan aku juga sudah salah sangka padamu,” cicit Chloe, kembali murung. Martin melirik Xavier yang berjalan menghampiri mereka. Menyapa lelaki itu dengan sopan kemudian berpamitan pergi. “Ayo kita kembali ke pesta.” Xavier mengulurkan tangan mengajak Chloe. Disela Chloe berpikir untuk memutuskan akan pergi bersama Xavier atau tidak, tiba-tiba suara Javier terdengar dari bawah lantai satu. “Hoiiiiii Xavier, Chloe! Sebentar lagi waktunya berdansa, turunlah dan bergabung bersama kami!” Xavier melirik malas saudara kembarnya yang tampak sangat bersemangat bersama dua wanita disisi kanan dan kirinya. Javier mudah sekali menjatuhkan hati ke sembarang wanita, dasar lelaki playboy! Jauh berbeda dengan dirinya yang terjebak cinta sepihak bersama Chloe. “Ayo Chloe… berdansalah denganku.” Xavier kembali menatap gadis di depannya. “Riasanku berantakan karena menangis tadi. Pergilah ke bawah lebih dulu, aku akan ke toilet untuk membenarkan riasanku.” Chloe berjalan melewati Xavier untuk pergi ke toilet. Mengabaikan uluran tangan Xavier yang sepenuh hati ia berikan untuknya. Ya begitulah nasib cinta bertepuk sebelah tangan, harus banyak-banyak menyimpan sabar untuk siap ditolak setiap saat. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD