PESTA dansa telah dimulai, Chloe terlambat sampai di sana. Dan entah bagaimana ceritanya dia melihat Xavier sedang berdansa bersama Natalie ditengah para pasangan dansa lainnya.
Sudut bibir Chloe tertarik membentuk senyum melihat betapa serasi dua sahabatnya tersebut. Meskipun serIng beradu celoteh di hadapannya, tapi Chloe tahu sebenarnya Natalie diam-diam memendam perasaan pada Xavier. Hanya saja Natalie tidak bisa mengungkapkan perasaannya karena sikap Xavier yang terlalu overprotektif pada Chloe.
Semua orang terlihat bahagia di lantai dansa. Tidak hanya Xavier dan Natalie, ada juga mommy dan daddynya, mom Bel dan dad Karl, Uncle Aston dan Aunty Genny juga masih banyak pasangan lainnya yang Chloe kenal sejak kecil.
Rasanya, sebagai satu-satunya manusia yang tidak memiliki pasangan—Chloe merasa tidak pantas berada di sana. Chloe memilih pergi ke meja bar dan menyuruh bartender memberinya segelas vodka.
Dalam hitungan menit, gadis itu telah menghabiskan sepuluh gelas vodka hingga berhasil mabuk. “Satu gelas lagi!” Chloe menyodorkan gelasnya ke sang bartender, meminta tambah.
“Maaf Nona, tapi Anda sudah mabuk berat. Mr.Mackton akan memarahiku jika sampai tahu,” ucap Paul sang bartender, berupaya menghentikan Chloe.
Namun Chloe terus mendesak. “Jangan khawatir, daddy tidak akan marah padamu. Jadi cepat isi gelasku! Ini hari ulang tahunku, aku bebas melakukan apapun yang aku mau!” katanya, dengan pipi merah efek minuman keras yang telah diminumnya.
Meski tidak yakin, bartender itu akhirnya menuruti permintaan Chloe karena takut dipecat dari pekerjaannya. Saat gelas Chloe telah diisi penuh oleh sang bartender, seseorang tiba-tiba datang dan merebut minumannya.
“Hei kembalikan! Itu milikku!” Chloe memprotes pada lelaki bertopeng yang baru saja merebut gelasnya.
Lelaki itu menggeleng, dan membuat Chloe geram. “Jangan main-main denganku! Aku adalah Chloe Mackton, putri dari CEO Dapper Mackton! Cepat kembalikan minumanku atau akan kulaporkan dirimu pada Luke karena berani mencampuri urusanku?”
“Luke?”
Chloe terdiam, entah kenapa suara lelaki itu mirip dengan seseorang ya ia kenal. Tapi persetan dengan suaranya, lelaki di depannya hanyalah salah satu anak buah dari Luke—pengawal yang bekerja untuk daddynya.
“Bosmu! Martin memberitahuku kalau Luke memerintah seluruh pengawal memakai topeng untuk menyamar. Ish! Kuno sekali caranya,” gerutu Chloe, tidak habis pikir mengapa Luke menggunakan cara pasaran itu sebagai metode penyamaran.
Seringaian muncul dari bibir lelaki di depannya. Sepasang mata hijau miliknya menyorot Chloe intens, memerangkap gadis itu hingga terpaku dalam buai tatapan gelapnya yang candu.
Chloe menahan napas ketika lelaki itu mendekatkan wajah dan berbisik di samping telinganya. “Luke menyuruhku untuk mengawasimu.”
Astaga… suaranya saja terdengar seksi. Tidak sampai disitu, aroma maskulin dari tubuh atletisnya pun seketika menguar memenuhi hidung Chloe yang menjerit ingin merasakan dekapannya. Siapapun, tolong! Lelaki di depannya ini sepertinya sangat berbahaya.
Chloe ingin berpaling, menyelamatkan diri dari aura gelap lelaki itu. Namun perasaannya berhendak lain, bersedia dengan senang hati dijerat oleh lelaki asing di hadapannya. Sangat menggoda, juga menarik untuk disentuh.
Namun tunggu! Sejak kapan tangan Chloe sudah berada di d**a terbungkus kemeja hitam milik lelaki itu? Mengelusnya dengan gerakan lambat hingga mengundang sesuatu dalam dirinya keluar. Sesuatu yang terasa menggelitik perutnya.
Sebelah alis lelaki itu terangkat, ikut tergoda dengan apa yang telah Chloe perbuat pada tubuhnya. “Sepertinya kamu sudah sangat mabuk hingga berani melakukan ini bersama pria asing,” ujarnya, serak.
Chloe tersenyum jail. Matanya yang sayu menatap penuh minat lelaki di depannya. “Biasanya aku tidak akan seberani itu melakukannya bersama orang yang tidak kukenal. Tapi hari ini entahlah, kau membuatku… goyah.” Chloe mengedipkan mata nakal.
Godaan Chloe berhasil memancing lelaki yang masih memakai topeng membelai lembut pipinya. Tatapannya teduh, membuat Chloe merasa nyaman. Lalu sebuah ide gila muncul dalam kepalanya. Dia akan memanfaatkan lelaki di depannya untuk membuat Victor cemburu.
“Paul, tolong rekam aku!” Chloe menyodorkan ponselnya yang sudah masuk ke fitur kamera pada Paul.
Lelaki bertopeng mengernyitkan dahi, bingung untuk apa Chloe memberikan handphonenya pada sang bartender yang terlihat sama herannya. Tetapi Paul tidak membantah dan hanya mengikuti perintah Chloe sementara gadis itu kemudian tiba-tiba menarik lelaki bertopeng menuju ke tengah ballroom.
“C’mon guys! Waktu berdansa selesai! Sekarang waktunya kita bersenang-senang!” Chloe berteriak memberi pengumuman, lalu menunjuk ke arah DJ yang langsung mengerti aba-aba Chloe. “DJ! Mainkan musiknya sekarang! Let’s dance together!”
Alunan slowed musik dansa seketika berganti menjadi hentakan musik EDM Party Electro House dan membuat seluruh tamu undangan otomatis menggoyangkan tubuhnya untuk menari bersama. Suasana pesta ulang tahun seketika berubah riuh seperti di dalam kelab.
Menyadari ada yang tidak beres dengan putrinya, Dapper berjalan hendak memastikan keadaan Chloe namun ditahan oleh Emily. “Chloe sudah berumur 20 tahun, dia sudah cukup dewasa untuk melakukan hal yang dia suka. Lagi pula sekarang hari ulang tahunnya. Biarkan Chloe bersenang-senang,” ujar wanita itu pada suaminya.
Walaupun hatinya masih resah mencemaskan putrinya, tapi Dapper memilih menuruti perkataan istrinya. Perkataan Emily ada benarnya. Selama ini Dapper terlalu mengekang kebebasan Chloe, dan bersikap protektif demi melindungi putri kesayangannya.
Dapper sadar otoriternya menyebabkan Chloe merasa dibatasi, jadi hari ini Dapper akan membebaskannya. Asalkan putri kesayangannya bahagia, Dapper akan melakukan apapun untuk itu.
Kembali ke posisi Chloe. Paul masih merekam setiap aksi yang dilakukan Chloe sesuai yang diperintahkan gadis itu padanya. Bahkan saat Chloe menari dengan meliuk-liukkan tubuhnya secara erotis di hadapan lelaki bertopeng yang sejak tadi hanya diam membeku melihat kelakuannya. Paul pun tak kuasa menelan ludah melihat rekaman yang ia sorot lewat ponsel Chloe.
Sadar bahwa gadis itu bertindak kelewat batas, lelaki bertopeng berbalik menghampiri Paul lalu merebut ponsel Chloe yang digunakannya merekam. “Sialan! Berani-beraninya kau terus merekam!” maki lelaki bertopeng seraya menghadiahi Paul pukulan di perut.
Beruntung aksinya tak menjadi tontonan orang-orang di sana karena terlalu sibuk menari dan menikmati pesta yang tidak lagi terlihat seperti pesta ulang tahun.
Selesai mengurus soal Paul, lelaki bertopeng itu kembali ke tempat Chloe dan menyuruhnya berhenti menari sebab tubuh seksinya telah mengundang banyak perhatian dari para tamu laki-laki yang mencuri-curi pandang ke arahnya.
“Berhenti menari!”
Perintah pertama, diabaikan oleh Chloe.
“Kubilang berhenti menari!”
Yang kedua, masih tetap diabaikan.
“Chloe Mackton! Berhenti menari!”
Dan yang ketiga kali, Chloe menoleh dengan raut kesal namun tidak lama sebelum kemudian menari lagi.
Ah, jadi begini rasanya diabaikan gadis cantik, rutuk lelaki itu dalam hati. Telah habis kesabaran, lelaki itu akhirnya memanggul Chloe ke pundaknya bak’ mengangkat sekarung beras.
“Eh!! Turunkan aku!” Chloe berteriak kaget.
Sampai di dalam lift yang bergerak menuju lantai tiga, Chloe masih memberontak meminta diturunkan. “Turunkan aku berengsek! Kau membuatku mual!” pekik Chloe. Yang akhirnya membuat lelaki bertopeng itu menurunkan Chloe dari gendongannya.
“Oh Ya Tuhan, kamu akan membawaku kemana?” tanya Chloe, setengah sadar mengetahui dirinya berada satu lift dengan lelaki asing.
Dengan santainya, lelaki bertopeng menyahut, “Ke kamar.”
Mata Chloe terbelalak, tapi kondisinya yang mabuk membuat otaknya bekerja lambat. “Ke kamar? Untuk apa pergi ke kamar?” Chloe bertanya polos, lelaki yang berdiri di dekatnya sampai dibuat gemas dengan pertanyaannya.
Belum sempat lelaki itu menjawab, Chloe kembali dihebohkan dengan ponselnya yang berada di genggaman lelaki bertopeng. “Whoaa… ponselku!” Chloe merebut ponselnya lalu mendekapnya erat-erat seolah ingin melindunginya dari lelaki bertopeng yang dia pikir telah mencurinya.
Chloe lupa jika dia sendirilah yang dengan suka rela menyerahkan ponselnya ke Paul. Andai saja lelaki bertopeng tidak mengambil kembali ponsel Chloe, mungkin pikiran m***m Paul sudah membuatnya nekad memviralkan video Chloe yang sedang menari erotis di pesta.
Harusnya lelaki bertopeng mendapat ucapan terima kasih, bukannya tatapan menuduh yang dipancarkan Chloe sekarang. “Berani sekali pengawal rendahan sepertimu mengambil ponselku, dan juga membawaku tanpa izin!” protes Chloe lalu menendang tulang kering kaki lelaki bertopeng hingga membuatnya mengadu kesakitan.
“Aw!”
Chloe berbalik memunggunginya sambil melipat tangan dengan kesal. Berusaha mengabaikan ringisan lelaki bertopeng pasca ditendang olehnya.
Tetapi lelaki bertopeng tidak memprotes atau menyalahkan perbuatan Chloe. Hanya terdengar helaan napas panjang darinya yang mencoba sabar menghadapi sikap bar-bar Chloe.
Sesampainya di lantai tiga. Mereka berdua di hadapkan lorong kamar VVIP. Lelaki bertopeng segera menarik pergelangan tangan Chloe keluar lalu melangkah menuju kamar nomor 03.
Chloe agak terkejut mengetahui lelaki itu membawanya ke kamar VVIP nomor 03, terlebih lagi ketika lelaki itu menekan kode masuk kamar dengan benar hingga pintu terbuka. Chloe melongo—tidak percaya lelaki itu akan semudah itu mengetahui kamar pribadi Chloe di hotel milik daddynya ini.
Padahal selama ini yang mengetahui kode kamar ini hanyalah Chloe dan kekasihnya Victor. Tunggu! Jangan bilang kalau…
“Victor?!!!”
Victor melepas topeng yang melekat di wajahnya pasca Chloe meneriakkan namanya setelah mereka masuk ke dalam kamar hotel. “Kamu baru menyadarinya sekarang? Setelah puas menari di depan umum dan menendang kakiku?” protes Victor, meski suaranya terdengar kesal namun tatapannya tetap lembut.
Chloe tidak memedulikan omelan Victor sebab lebih dulu diserang jutaan rasa bahagia setelah bertemu dengan kekasihnya lagi setelah tiga tahun lebih menjalin hubungan jarak jauh. Chloe memeluk erat tubuh Victor sambil berucap, “Vic… aku sangat merindukanmu.”
Kekesalan Victor sepenuhnya menyirna, kemudian balas memeluk Chloe sambil berkata, “I miss you too baby and happy birthday!”
Chloe mendongak, melukis senyum sembari menatap sepasang mata hijau milik Victor yang menunduk balas menatapnya. Wajah Victor terlihat semakin menawan, Chloe merasa sangat beruntung memiliki kekasih tampan dan rajin belajar seperti Victor.
“Kamu masih Victor yang kukenal kan?” Chloe membelai rahang Victor yang kokoh.
Sedangkan Victor tak memalingkan barang sedetikpun tatapan matanya dari sang kekasih. “Tentu saja, aku masih Victor yang begitu mencintaimu,” balasnya dengan suara berat yang terdengar merdu di telinga Chloe.
Jemari Chloe berhenti di bibir merah alami milik Victor, pandangannya ikut turun menatap penuh minat benda kenyal tersebut. Terakhir kali Victor menciumnya tiga tahun yang lalu ketika Chloe mengantar lelaki itu ke bandara.
Sudah selama itu dan Chloe benar-benar ingin merasakan ciumannya lagi sekarang.
Victor yang peka lantas bertanya dengan senyuman geli, “You want a kiss?”
Chloe cemberut, pipinya semakin memerah sebab malu ketahuan ingin dicium. Tapi gadis itu tidak ingin melewatkan kesempatan berharga. Chloe menyingkirkan harga dirinya lalu memandang Victor dengan mata berkilat penuh keyakinan, “Yes I want!”
Tidak lama setelah Chloe menjawab demikian, Victor menyelipkan satu tangannya ke belakang tengkuk Chloe, mendorong kepala gadis itu dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
Masih sama seperti yang terakhir kali, Victor menciumnya dengan lembut dan perlahan. Tidak menggebu-gebu ataupun secara brutal, lelaki itu selalu melakukannya dengan cara manis dan hati-hati.
Tapi kali ini Chloe ingin lebih. Pengaruh alkohol yang diminumnya tadi membuat Chloe tidak dapat berpikir jernih dan menginginkan lebih dari sekadar ciuman lembut dari kekasihnya. Tiga tahun menjaga jarak dari orang yang dicinta membuat Chloe merasa haus akan sentuhannya.
Victor meremas pinggul Chloe ketika gadis itu menuntut ciuman lebih dalam, bahkan dengan sengaja menggigit bibir bawahnya agar Victor membuka mulut dan memberi akses bagi lidah mereka saling mencecap satu sama lain.
Sepuluh gelas vodka ternyata mampu mengubah Chloe menjadi liar. Tidak hanya menciumnya dengan ganas, Chloe juga mendorong tubuh Victor hingga lelaki itu jatuh telentang ke atas kasur.
Victor terbelalak ketika menemukan Chloe merangkak naik menduduki perutnya. Untuk sesaat Victor terpana dengan kecantikan Chloe. Harus ia akui jika kekasihnya itu seratus kali lipat berubah menjadi lebih cantik—sekaligus lebih dewasa dengan daada sintalnya yang membuat Victor salah fokus.
“Chloe… kita melewati batas.” Victor memperingatkan ketika Chloe mencoba melepas ikat pinggang celana Victor dan mengabaikan peringatan kekasihnya.
Jantung Victor berdegub kencang, bertarung keras untuk melawan atau ingin membalas tatkala Chloe berganti menurunkan resleting gaun pestanya hingga Victor dapat melihat bahu mulus yang masih tertutup tank top tanpa lengan dibalik kulit tubuh seputih salju milik Chloe yang hampir telanjang.
“Ini tidak benar, kamu sedang dalam kendali alkohol. Aku tidak ingin membuatmu menyesal besok,” ucap Victor sambil mati-matian menahan gejolak dari dalam tubuhnya.
Tapi lagi-lagi Chloe tidak memedulikan apapun selain melakukan yang otaknya inginkan sekarang. Chloe melanjutkan aksinya, menurunkan tubuhnya hingga wajahnya cukup dekat dengan leher jenjang Victor yang terlihat begitu menggiurkan.
Bak seorang vampire yang haus akan darah, Chloe menjilat leher lelaki itu hingga membuat Victor menegang. Chloe menjilat dan menggigit leher Victor hingga meninggalkan bekas kissmark di sana. Buah karya yang membuatnya tersenyum melihat hasilnya.
Chloe kembali menegakkan tubuh, sasaran berikutnya ialah daada bidang Victor yang masih terbungkus kemeja. Jemari lentik milik gadis itu membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Victor hingga perut sixpack dan daada berotot milik kekasihnya terpampang dengan jelas.
“Vic, aku menginginkanmu,” bisik Chloe secara sensual.
Victor pun semakin gelap mata. Chloe membuatnya tidak mempunyai pilihan selain memutuskan sesuatu yang mungkin akan ia sesali besok pagi.
Kemudian tiba-tiba saja Victor membalik posisi tubuh mereka dengan Chloe berada di bawah kungkungannya. Seringaian muncul di bibir Victor, lalu tanpa menahan diri lagi lelaki itu sudah menghujani Chloe dengan ciuman di setiap bagian kulit tubuhnya.
BERSAMBUNG...