DERING ponsel yang berbunyi mengusik tidur pulas Chloe hingga terpaksa membuka mata kemudian menjangkau ponselnya yang tergeletak di nakas. Mengetahui panggilan itu berasal dari Natalie membuat Chloe mengernyitkan dahi heran lantas menatap jam digital di sudut layar ponselnya yang masih menunjukkan pukul enam pagi hari.
Untuk apa gadis itu menghubunginya sepagi ini?
Tanpa buang-buang waktu, Chloe akhirnya menekan tombol hijau dan mengarahkan handphone ke samping telinga. “Chloe! Kamu baik-baik saja?” tanya Natalie di seberang sana.
Chloe yang masih dalam keadaan setengah sadar efek bangun tidur, hanya berdehem singkat sambil menguap lebar-lebar. “Ehemm…”
“Lalu di mana kamu sekarang?” Natalie bertanya lagi.
Chloe mendengus, “Kamu mengganggu tidurku hanya untuk menanyakan pertanyaan tidak penting itu?” Chloe berdecak jengkel lalu melanjutkan, “Mau di mana lagi? Tentu saja aku di—”
Ucapan Chloe menggantung ketika baru sadar ia tidak berada di kamar tidur mansion daddynya, melainkan di kamar pribadi hotel tempat menggelar pesta semalam. Oh ya, ngomong-ngomong soal pesta ulang tahun, kenapa Chloe bisa sampai ke kesini?
Mata Chloe terbelalak panik lalu menunduk dan terkejut menemukan dirinya hanya mengenakan tank top serta celana dalam dibalik selimutnya. Oh Ya Tuhan! Kapan terakhir kali ia ingat melepas gaun pestanya yang mahal itu?
“Chloe… kenapa tiba-tiba diam?” Suara Natalie kembali terdengar di telpon.
Sementara Chloe sedang celingak-celinguk ke sekitar ruang kamarnya, mencoba menemukan jejak lelaki yang mungkin saja tanpa sadar dia bawa kesini kemarin malam. “Apa yang terjadi semalam Alie? Aku tidak ingat kenapa bisa ada di sini,” gumam Chloe, lalu turun dari atas ranjang untuk mengecek kamar mandi.
Kosong, tidak ada siapapun di kamarnya selain Chloe seorang.
“Kamu tiba-tiba menghilang dari pesta. Uncle Dapper mengatakan jika kau kelelahan dan izin beristirahat ke kamar pribadimu di hotel. Saat aku ingin melihat kondisimu, uncle Dapper melarang dan menyuruhku segera pulang karena sudah malam. Aku benar-benar cemas, takut… jika kamu menghilang karena marah aku dan Xavier berdansa bersama,” jelas Natalie.
Chloe yang mendengar penjelasan gadis itu lantas membantah, “C’mon! Untuk apa aku marah karena kalian berdansa bersama?”
Natalie meringis saat kekhawatirannya ternyata tidak benar, tapi ia lega karena bukan itu alasan Chloe menghilang di tengah pesta kemarin malam. “Lalu alasanmu menghilang dari pesta apakah sesuai yang uncle Dapper katakan?”
Tangan Chloe menyentuh kepalanya yang tiba-tiba pening. Dia sendiri juga sedang berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan itu. “Aku sendiri bingung kenapa tiba-tiba bangun di kamar pribadiku di hotel.”
“Maksudmu? Kamu tidak ingat apa yang terjadi padamu ketika meninggalkan pesta?” Natalie bertanya dengan intonasi terkejut.
“Iya, menurutmu apa yang terjadi padaku?” Chloe malah balik bertanya, lalu meneruskan, “Aku bangun hanya mengenakan dalaman, napasku bau alkohol dan kepalaku pusing. Tapi tidak ada laki-laki yang tidur bersamaku di sini.”
“Astaga Chloe! Kau mabuk?!!” Natalie menjerit emosi. Lalu seperti biasa, jurus omelannya pun keluar, “Seharusnya kau tidak mabuk di pesta ulang tahunmu sendiri. Apalagi sampai tidak mengingat apa yang sudah terjadi padamu kemarin malam. Bukannya aku menakut-nakuti tapi mungkin saja tubuhmu sudah dijamah oleh laki-laki lain.”
Bola mata Chloe melotot. “Kau bercanda?!” sahutnya, tidak terima dengan tuduhan Natalie. Chloe bahkan tidak merasa sakit atau merasa tidak nyaman saat bangun, itu menandakan bahwa ia masih virgin.
“Pergilah ke hadapan cermin sekarang!” Natalie memerintah lalu Chloe dengan mudahnya menurut dan berjalan mematut dirinya di hadapan cermin.
“Coba periksa apakah ada bekas lebam kemerahan yang tertinggal di tubuhmu? Atau sesuatu seperti kissmark?”
Chloe meneliti setiap inci tubuhnya sesuai intruksi Natalie kemudian terbelalak saat menemukan satu di kulit dadanya dekat leher. “Ada satu di leherku! Tapi… bisa saja kan ini hanya bekas gigitan nyamuk?” Chloe menyentuh bekas kissmark dilehernya yang ia yakini hanya bekas gigitan nyamuk.
Natalie menepuk dahi di seberang sana. “Mana ada nyamuk di hotel kelas atas milik daddymu Chloe…” Natalie menyahut gemas. Tiga tahun menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya membuat gadis itu tidak bisa membedakan mana kissmark dan yang mana gigitan nyamuk.
“Sekarang coba periksa bibirmu. Apa bibirmu bengkak?” Natalie mengganti intruksinya dan membuat Chloe berpaling memeriksa bibirnya. “Ya, sedikit. Mungkin efek lipstik yang kugunakan semalam.”
Lagi-lagi Natalie menepuk dahi. Sahabatnya ini ada-ada saja.
“Itu bukan karena lipstik yang kau pakai Chloe. Itu pasti karena kemarin malam kau berciuman dengan seseorang!”
Chloe mulai dilanda kepanikan. “Apa! Berciuman? Tapi dengan siapa?” Menyebut kata ciuman, tiba-tiba saja Chloe terlintas sebuah ingatan percakapannya bersama seorang lelaki yang terlihat samar dalam kepalanya.
“You want a kiss?”
“Yes I want!”
Astaga… Chloe menjambak rambutnya tatkala mulai ingat jika kemarin malam dia memang sedang bersama seorang lelaki di kamarnya. “Apa yang harus aku lakukan Alie? Daddy akan membunuhku kalau sampai tahu aku sudah berduaan dengan laki-laki asing di dalam kamar semalam,” ringis Chloe sambil menggigit kuku ibu jarinya.
Terdengar helaan napas dari Natalie di seberang telpon. “Kamu harus menghadapinya Chloe. Salahmu sendiri berani-beraninya mabuk disaat banyak orang di pesta kemarin malam. Berdoa saja semoga orang yang bersamamu kemarin malam bukanlah kakek-kakek genit rekan kerja daddymu yang ikutserta diundang ke pesta.”
Bukannya meredakan kepanikan Chloe, Natalie malah menambah beban kekhawatirannya. Mau ditaruh mana harga diri Chloe andai saja semalam dirinya benar-benar menikmati waktunya bersama seorang kakek-kakek.
Haishh! Membayangkannya saja sudah membuat Chloe mual, apalagi jika kenyataan.
••••
Masih di satu lokasi yang sama yaitu hotel tempat berlangsungnya pesta ulang tahun Chloe semalam. Namun di ruangan yang berbeda, tepatnya ruang berkumpul keluarga khusus hanya untuk keluarga Mackton.
Victor berada di sana—berdiri di hadapan seorang pria berusia 42 tahun yang masih terlihat gagah dengan mata cokelat keemasan yang menatap tajam ke arahnya. Seorang pria yang kelak mungkin akan menjadi ayah mertuanya. Yup, siapa lagi kalau bukan Dapper Mackton.
“Jadi kau yang menyelinap masuk ke pesta dan memakai topeng untuk berpura-pura menjadi pengawal?” tanya Dapper, masih dengan tatapan membunuh memandang Victor.
“Ya uncle. Awalnya aku berniat memberi Chloe surprise tapi—”
“Tapi kau malah mengajaknya ke kamar hotel dan membuatnya menghilang di pesta ulang tahunnya sendiri?!” Dapper menyela dengan suara tinggi. “Beruntung para tamu percaya dengan alasanku dan tidak menaruh curiga apapun pada putriku. Aku tidak ingin reputasinya buruk karena meninggalkan pesta ulang tahunnya secara tidak sopan,” lanjutnya.
Victor mengembuskan napas pelan, ekspresinya tetap tenang walau Dapper terus mengintimidasinya. “Aku mencoba melindungi Chloe. Dia mabuk dan menjajakan tubuhnya ke para tamu, aku tentu saja tidak rela. Karena itu aku memutuskan mengurungnya di kamar.” Victor memberi penjelasan supaya tidak terus disudutkan.
Mata Dapper melebar, terkejut. “Chloe melakukan itu?”
Victor tersenyum remeh, sudah menduga jika Dapper melewatkan hal penting itu. Victor kemudian membalas Dapper dengan sarkasme. “Sebagai ayah dan orang yang ikut berpartisipasi dalam pesta Anda bahkan tidak tahu apa yang telah putri Anda lakukan.” Tatapan Victor berubah mengejek saat lanjut mengatakan, “Uncle hanya fokus dengan aunty Em saja.”
Dapper tergelak, ingin membantah tapi tidak bisa karena ucapan Victor kelewat benar. Emily menyuruhnya membiarkan Chloe berbuat sesukanya kemarin malam, membuat Dapper seketika melupakan segalanya dan hanya terfokus pada istrinya yang malam itu terlihat begitu cantik.
Kecerdikkan Victor dalam memutarbalikkan kata-kata membuat Dapper agak terkesan padanya. Padahal dahulu dia hanya bocah kecil yang suka membuntuti putrinya kemana-mana, dan sekarang Dapper tidak menyangka Victor akan menjadi laki-laki sehebat ini.
“Baiklah, tidak ada alasan aku menyalahkanmu.” Dapper memutuskan mengalah dan berhenti memojokkan Victor.
Lelaki itu kemudian berdiri lalu melangkah sampai di hadapan Victor. “Senang bertemu denganmu lagi boy!” ujar Dapper sambil menepuk pundak Victor ramah.
Victor ikut tersenyum melihat perubahan ekspresi Daper. “Senang bertemu denganmu lagi juga uncle.”
“Obrolan kita selesai. Saatnya kembali ke wanita masing-masing,” ucap Dapper lalu melangkah mendahului Victor meninggalkan ruangan. Tetapi sesampainya di ambang pintu keluar, Dapper menoleh dan berpesan, “Pulangkan putriku siang ini dan makan sianglah bersama kami.”
Victor mengangguk tanpa menjawab sepatah kata. Sementara Dapper kembali berjalan meninggalkannya. Menyisakan Victor yang termenung sendirian di ruang keluarga hotel.
“Tersisa satu tahun sebelum kamu lulus sarjana dan menikahi Amanda. Gunakan waktumu sebaik mungkin untuk berpamitan dengan Chloe.”
Tidak. Victor terbang ke Amerika menemui Chloe bukan untuk berpamitan padanya. Tahun ini liburan musim dingin berlangsung cukup lama dan Victor hanya ingin menghabiskan waktunya bersama gadis yang dia cintai sekaligus memastikan bahwa gadisnya aman dari kejahatan kakaknya.
Victor tidak akan meninggalkan Chloe. Dia sudah segila itu mencintai Chloe dan tidak mungkin putus dengannya hanya karena pernikahan bodoh yang diatur kakaknya dengan alibi demi kedamaian dua negara.
Hanya satu tahun. Romeo sudah berjanji padanya kemudian setelah itu Victor dan Amanda akan bercerai. Victor bisa berpura-pura tidak mengalami apapun dan memanfaatkan hubungan jarak jauh mereka untuk menyembunyikan pernikahannya dari Chloe.
Apapun yang terjadi, Chloe tidak boleh sampai tahu tentang pernikahan itu. Karena Victor tidak bisa kehilangannya. Tidak bisa…
••••
Usai urusannya dengan Dapper selesai, Victor kembali ke kamar tempat ia meninggalkan Chloe terbaring tidur. Masih pukul setengah tujuh pagi dan gadisnya mungkin masih terlelap pulas mengingat betapa liarnya dia semalam.
Huft… ia menyesal telah mati-matian mengendalikan diri supaya tidak melewati batas. Tapi dry s*x bersama Chloe tidak buruk juga. Victor tetap mendapat kepuasannya begitu juga gadisnya.
“Chloe?” Victor terkejut ketika sampai di dalam kamar lalu mendapati Chloe sedang menangis sesenggukkan di lantai memeluk lututnya sambil bersandar ke badan ranjang. Masih mengenakan dalamannya, gadis itu sepertinya baru saja bangun dan mungkin kebingungan dengan keadaannya.
“Baby, what’s wrong?”
Victor berjongkok di depannya seraya mengusap puncak rambut Chloe hingga memancing gadis itu mendongak menatapnya dengan mata sembab. “Huaaa… sepertinya kemarin malam aku terlalu mabuk hingga sekarang berhalusinasi bisa melihat Victor secara langsung hiks…” isak Chloe, masih berderai air mata.
Sebelah alis Victor terangkat heran. “Baby, aku benar-benar ada di sini. Bukan hanya halusinasimu,” ucap Victor dengan tangannya yang telah berganti membelai pipi Chloe.
Bukannya berhenti menangis, Chloe malah semakin deras meneteskan air mata. “Huaaa… aku bahkan bisa merasakan sentuhan dan mendengar suaranya. Ya Tuhan! Sepertinya aku sudah gila sekarang!” teriak gadis itu, yang memang terlihat seperti orang tidak waras sebab berucap melantur.
Victor jadi bingung harus membuktikan dengan cara bagaimana supaya Chloe percaya bahwa dirinya benar-benar ada dan bukan sekadar halusinasi gadis itu. “Don’t cry baby. I’m here with you…”
Sedetik usai berkata demikian, Victor memajukan wajahnya dan melumat bibir Chloe penuh kasih sayang. Campuran rasa asin dari air mata Chloe juga manis dari bibirnya tak membuat Victor berhenti.
Lelaki itu terus mencumbu kekasihnya sampai Chloe benar-benar bisa merasakan bahwa kehadirannya nyata, dan bukan sekadar bayangan saja.
BERSAMBUNG...