SENYUM yang tersungging di bibir Chloe sama sekali tidak memudar. Gadis itu bahagia, tidak-tidak—terlalu bahagia sampai merasa tidak ada alasan baginya untuk kesal atau cemberut hari ini. Alasannya jelas sudah kalian ketahui. Yup, kehadiran Victor berpengaruh besar pada mood Chloe.
“Kuliahmu berjalan lancar Vic?” Emily bertanya.
Saat ini mereka berada di mansion keluarga Mackton, tepatnya sedang makan siang bersama sesuai perintah yang diucapkan Dapper pada Victor saat di ruang keluarga hotel tadi pagi.
Victor mengunyah steak sembari menjawab, “Semuanya lancar aunty. Nilaiku selalu menjadi yang tertinggi seangkatan.”
Mata Chloe berbinar bangga. “Pacarku memang hebat!” kagumnya.
Yang dibalas dengusan sinis Dapper. “Huh, memang apa gunanya nilai-nilai itu jika tidak diimbangi dengan kerja keras dan kemampuan berkomunikasi yang baik?” sarkasnya.
Victor tidak merasa rendah diri, dia justru membalas pernyataan Dapper dengan tenang. “Tujuh penghargaan juara pertama debat nasional, tiga penghargaan juara pertama debat internasional, lima penghargaan juara pertama olimpiade, dan lima kali menjadi pembicara seminar nasional, sisanya penghargaan kejuaran nomor dua dan tiga.”
Emily melongo, Chloe hampir memuntahkan daging di mulutnya sementara Dapper tercengang luar biasa setelah mendengar deretan penghargaan sekaligus pengalaman yang didapat Victor hanya dalam waktu tiga tahun setengah lebih dengan statusnya yang masih mahasiswa.
Hanya Axelion satu-satunya orang yang bertepuk tangan memuji Victor. “Wah! Kak Victor sangat hebat! Kakak adalah panutanku!” pekik Axelion, adik Chloe yang sekarang telah berumur sebelas tahun.
“Terima kasih Lion. Kau juga harus belajar dengan giat untuk menjadi orang hebat saat dewasa,” balas Victor dengan senyuman hangat dan satu tangan mengacak lembut puncak kepala Axelion.
“Pasti! Aku adalah calon pemimpin perusahaan C International Group berikutnya. Aku harus menjadi hebat seperti kak Victor supaya bisa menjadi CEO yang sukses seperti daddy,” timpal Axelion dengan mata berbinar semangat.
“Axelion benar, kamu sangat hebat sekali Vic! Tante bangga padamu,” sahut Emily, ikut memuji Victor.
Hal serupa yang tak luput diucapkan Chloe padanya. “Tidak salah aku menjadikanmu pacar. Selain tampan, kamu juga pintar hahaha…”
“Tapi kudengar tahun kemarin kau kalah OLIEFEB dengan Xavier?” Dapper sengaja ingin menjatuhkan harga diri Victor setelah semua orang memujinya.
Emily melotot ke arah suaminya, secara tidak langsung ingin memperingatkan Dapper agar tidak bicara sembarangan yang membuat suasana menjadi canggung.
“Ya, itu adalah penyesalan terbesarku. Saat itu aku sedang tidak enak badan, dan aku memaksakan diri tetap ikut olimpiade,” jawab Victor datar, selera makannya mendadak hilang bila diingatkan kejadian memalukan tersebut.
Padahal selisih kesalahan mereka hanya satu soal, harusnya Victor bisa menempati juara pertama dan bukannya Xavier. Karena satu kegagalannya itu juga semua orang menganggap bahwa Xavier satu langkah lebih maju daripada dirinya. Sialan!
Victor pasti akan mengalahkannya pada OLIEFEB tahun ini dan mengembalikan citranya sebagai pemenang sejati. Keturunan Clifford tidak pantas menandingi Victor Felipe Rocasolano.
Lamunan Victor buyar ketika mendengar suara decit kursi dari tempat Chloe yang berdiri. Gadis itu berdecak pinggang sambil melempar tatapan protes pada Dapper.
“Dad, hentikan! Sepertinya sejak tadi kau selalu berusaha menggurui Victor! Aku dia berbuat salah padamu? Lagi pula apa salahnya jika dia kalah dari Xavier? Menang dan kalah adalah hal wajar dalam sebuah pertandingan,” maki Chloe.
Dapper membuka mulut, hendak memberi alasan pada putrinya supaya tidak salah paham. Tetapi istrinya ikut-ikutan mengomel dan membuat Dapper terpaksa tutup mulut.
“Chloe benar! Aku juga muak melihatmu yang bersikap kasar pada Victor! Apa kau lupa Dapper? Dia sahabat Chloe sejak kecil, Victor sudah kuanggap sebagai keluargaku di sini jadi jangan menyudutkannya dengan kata-kata kurang ajarmu!”
Oke. Ocehan perempuan memang akan selalu menjadi pemenangnya. Dapper mengakui kesalahannya lantas meminta-maaf pada Victor. “Iya aku mengaku salah. Maafkan aku Vic, aku tidak bermaksud menggertakmu. Aku hanya mengetes mentalmu saja, jadi jangan terlalu dipikirkan,” kata Dapper dengan senyum mengembang.
“Tes mental? Daddy pikir kita sedang di pelatihan militer? Kita sedang makan Dad!” tekan Chloe, masih belum kelar mengomeli Dapper.
Haishh, sejak dulu sampai sekarang. Dua perempuan itu selalu mengerahkan kekuatannya untuk memojokkan Dapper. “Iya-iya, intinya aku minta-maaf,” sahut Dapper sambil menghela napas panjang.
Sedangkan Victor hanya terkekeh mendengarkan perdebatan keluarga itu. Entah mengapa melihat pertengkaran mereka membuat Victor merindukan masa-masa di mana ia sering kali berkeliaran di rumah ini waktu kecil.
Siapa yang akan menyangka, dibalik keharmonisan keluarga Mackton sekarang—dahulu mereka pernah dihadang puluhan masalah yang bahkan sempat membuat Emily dan Dapper berpisah. Beruntung pada akhirnya mereka kembali bersama dan hidup bahagia sampai sekarang.
Victor pun berharap hubungannya bersama Chloe akan berakhir sama bahagianya seperti mereka. Semoga, sebab tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
••••
Malamnya, Chloe berdandan secantik mungkin karena sebentar lagi ia akan pergi kencan bersama Victor setelah tiga tahun mereka tidak pergi kencan berdua. Pukul delapan malam, Victor sudah siap dengan setelah kemeja linen dan celana fitted yang membuat penampilannya terkesan kasual dan tampan. Sementara Chloe memakai celana jeans panjang dengan atasan kaos tanpa lengan yang dipadukan dengan cardigan berwarna soft blue.
Mereka berdua keluar menggunakan mobil sport milik Dapper. Victor yang duduk di bagian kemudi bertanya pada Chloe yang duduk di sampingnya ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju ke lokasi kencan malam ini. “Bagaimana perasaanmu?”
Chloe menoleh ke arah Victor yang menyetir. “Aku sangat senang. Melihat wajahmu secara langsung saat ini membuatku baru sadar bahwa aku sudah menumpuk rindu terlalu banyak,” seloroh Chloe, memancing tawa Victor keluar.
“Hahaha. Aku juga… sangat merindukanmu.”
“Berapa lama kau akan di sini?” tanya Chloe, mengalihkan topik pembicaraan.
“Mungkin satu minggu, atau…” Victor sengaja menjeda ucapannya sambil menatap sok misterius ke arah Chloe yang berhasil menjadi penasaran. “Atau apa?” sahut gadis itu.
Victor tersenyum menggoda. “Atau aku tidak perlu kembali saja ya supaya bisa terus bersamamu di sini?” lanjut Victor.
Chloe menepuk lengannya karena tahu Victor sedang bercanda. “Dasar! Lalu jika kamu tinggal di sini bersamaku, bagaimana dengan kuliahmu? Bagaimana dengan rencanamu di masa depan tentang mendirikan perusahaan dan menjadi CEO hebat seperti daddy?”
“Kau benar… aku harus menjadi pebisnis yang sukses dulu supaya diterima jadi menantu daddymu,” sahut Victor, berlagak lupa.
Chloe tertawa, dan tidak berhenti sampai disitu, percakapan-percakapan seru lainnya terus mewarnai sepanjang perjalanan mereka. Membuat perasaan Chloe berbunga-bunga, gadis itu bahagia karena bisa bersama pria yang ia cintai lagi meski kebersamaan mereka terbatas.
***
Seperti pasangan pada umumnya, Victor dan Chloe menghabiskan waktu kencan mereka dengan bersenang-senang di Texas Carnival. Menaiki wahana-wahana ekstrem yang menantang nyali, membeli es krim dan makan permen kapas sepuasnya sambil bercerita panjang lebar yang selalu berujung tawa.
Tiga jam menghabiskan waktu di Texas Carnival, Victor tak langsung mengajak Chloe pulang ke rumah. Mereka menyempatkan waktu bersantai di tepi sungai jembatan Corpus Christi Harbor sambil menikmati keindahan jembatan yang dihiasi lampu warna-warni hingga membuat lampunya memantul ke permukaan air sungai yang seolah ikut terlihat berwarna-warni.
“Bagaimana kuliahmu? Apa jurusan Farmasi membuatmu kesulitan? Aku pernah membaca artikel di internet, katanya jurusan Farmasi menjadi salah satu jurusan tersulit di antara jurusan lainnya,” papar Victor, ketika mereka merebahkan tubuh di antara rerumputan dekat sungai sambil memandang angkasa malam.
“Emm… bisa dibilang tidak mudah. Tapi tidak semuanya sulit juga. Aku hanya selalu berusaha melakukan yang terbaik, entah bagaimana hasilnya, yang terpenting aku sudah berusaha,” jawab Chloe sembari mengulas senyum ke arah Victor yang kini berpaling menatapnya.
“Kalau kamu Vic? Kamu pasti menyukai kuliahmu, karena jurusanmu sesuai dengan cita-cita yang kamu inginkan.” Chloe balik bertanya pada Victor.
Victor yang ditanya lantas menghela napas panjang sambil kembali menatap ke atas langit gelap. “Jurusan bisnis dan manajemen sangat membuatku pusing, tapi aku menyukainya. Karena saat aku memikirkan tugas yang aku dapat, aku juga selalu mengandai-andai bahwa aku sudah menjadi seorang CEO saat itu. Hahaha…”
Chloe ikut tertawa disampingnya, lalu balas berkomentar, “Kamu sangat ingin jadi seorang CEO ya? Kenapa laki-laki bangsawan sepertimu tidak ikut bergabung ke kepolitikan? Aku yakin raja Spanyol pasti akan memudahkanmu mendapat jabatan tinggi karena kamu adalah cucunya.”
Bukan pertama kali bagi Victor mendapat pertanyaan yang sama seperti yang Chloe lontarkan saat ini padanya. Semua orang selalu bertanya-tanya mengapa dirinya jauh lebih memilih dunia pebisnisan daripada dunia politik yang sesuai dengan latar belakang keluarganya.
“Karena aku takut menjadi boneka di keluargaku.” Walaupun yang kutakutkan sebenarnya sudah terjadi, Victor melanjutkan dalam hati.
Dahi Chloe mengernyit tidak paham. “Maksudmu menjadi boneka?” tanya Chloe.
Victor bangun dari posisi berbaringnya. Ia duduk sambil menekuk lututnya, menatap hampa air sungai tenang yang berwarna-warni akibat pantulan dari lampu jembatan.
“Jika aku masuk ke dunia kepolitikan seperti kakakku Romeo, mungkin nasibku juga akan sama sepertinya. Yang aku tahu selama ini, kehidupan kakakku selalu diatur oleh kakek dan nenekku. Bahkan wanita yang akan dinikahinya juga harus berasal dari kalangan bangsawan yang dipilih oleh nenekku.”
Chloe tertegun mendengar ungkapan Victor. Dia kemudian ikut bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di samping Victor. ”Tapi bukankah kakakmu bahagia dalam pernikahannya? Aku tahu kalau kak Romeo sangat mencintai kak Juliet. Meskipun… seperti yang pernah kamu ceritakan padaku waktu dulu, kak Juliet sebenarnya sudah menikah dengan pria lain yang bukan dari kalangan bangsawan. Tapi aku percaya kehidupan pernikahan mereka pasti tentram karena saling mencintai.”
“Kau salah.” Victor berucap getir, ia juga melempar senyum masam ke arah Chloe yang termenung memandangnya.
“Pernikahan kakakku dan Juliet tidak sebaik yang terlihat,” sambung Victor dengan ekspresi muram.
Sedangkan Chloe yang baru mengetahui hal itu lantas terkejut, sekaligus agak tidak percaya. Pasalnya, Chloe mengenal mereka bahkan pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Romeo memperlakukan Juliet dengan sangat istimewa seolah-olah dia memang sangat mencintai wanita itu. Keduanya jelas hidup bahagia.
“Ba-bagaimana bisa itu terjadi?” Chloe bertanya dengan terbata.
Mengetahui pembahasan mereka sudah terlalu jauh, dan menuju ke arah hal-hal yang dapat menumbuhkan rasa sedih. Victor mencoba mengalihkan itu dengan tersenyum jenaka sambil berseloroh, “Bukankah ini terlalu jauh dari pembahasan awal kita?”
Melihat Victor tersenyum, membuat Chloe terpaksa ikut tersenyum bersamanya. “Iya.”
Victor kembali menghela napas panjang, kemudian berujar, “Intinya, aku tidak ingin masuk dunia kepolitikan sebab aku tidak ingin berakhir seperti kakakku yang dijodohkan. Karena aku sudah memilih jodohku sendiri, yaitu kamu.”
Victor berakhir memandang Chloe dengan intens. Menghipnotis Chloe hingga terjebak dalam tatapan sepasang mata berwarna hijau milik Victor yang meneduhkan.
Sungguh… Chloe merasa sangat beruntung karena dicintai laki-laki seperti Victor. Chloe jadi tidak sabar menunggu hari di mana mereka kelak akan diresmikan menjadi suami-istri. Membangun rumah tangga yang menyenangkan sambil membina anak-anak mereka.
Tapi tentu saja masa depan itu masih terlalu jauh bagi mereka. Untuk saat ini, baik Victor maupun Chloe masih harus fokus ke pendidikan dan cita-cita yang perlu diwujudkan. Mereka akan berjuang sama-sama untuk menjadi yang terbaik. Memantaskan diri untuk satu sama lain sebelum akhirnya hidup bahagia bersama selamanya.
“Yuk kita pulang! Aku pasti akan dimarahi daddymu karena memulangkan putrinya larut malam,” ajak Victor, lalu berdiri dan mengulurkan tangan pada Chloe.
Chloe menerima uluran tangan Victor, lalu keduanya berjalan menuju mobil sambil bergandengan tangan untuk pulang ke rumah.
BERSAMBUNG...