BAB 9 | OLD MEMORIES

1624 Words
SELAMA ini Natalie mendengar sosok Victor hanya dari cerita Chloe, sekaligus melihat wajahnya sebatas lewat foto yang tersebar di media sosial. Natalie tahu Victor memiliki paras rupawan, tapi bertemu secara langsung dengannya hari ini—pria itu dua kali lipat terlihat lebih tampan. “Sungguh saya merasa terhormat karena bisa bertemu dengan Anda secara langsung pangeran Victor.” Natalie membungkuk sopan di hadapan Victor ketika Chloe ikut mengajaknya bertemu di café. Sikap Natalie itupun membuat Chloe tergelak sekilas lalu menepuk bahu temannya agar berdiri tegak. Victor lantas berkata, “Santai saja, ini bukan pertemuan resmi kerajaan. Keberadaanku di sini hanyalah sebagai pacar Chloe, tidak perlu seserius itu Alie.” Alih-alih mendengarkan penuturan Victor, Natalie malah salah fokus dengan panggilan yang diucapkan Victor padanya. “Anda mengetahui nama saya? Astaga, pangeran Spanyol mengetahui namaku!” Natalie berucap heboh. Chloe geleng-geleng kepala melihat reaksi sahabatnya yang akan sesenang ini setelah bertemu dengan kekasihnya, sedangkan Victor justru terkekeh melihat ekspresi Natalie. “Chloe sering menceritakan tentangmu di telepon. Terima kasih karena telah menjadi sahabat terbaik Chloe.” Victor berterima kasih padanya dan membuat Natalie merasa tersanjung. “Sama-sama pangeran. Aku berteman dengannya juga karena Chloe anak yang baik. Pangeran Victor sangat beruntung memiliki pacar seperti Chloe. Dia gadis yang sangaaaaat setia dengan Anda walaupun setiap hari selalu diikuti penguntit menyebalkan.” Ekspresi Natalie berubah sebal ketika menyebut ‘penguntit menyebalkan’ yang mengingatkannya kepada seseorang. Kening Victor berkerut. “Penguntit?” tanyanya, yang langsung dibalas anggukkan kepala Natalie. Gadis berambut sebahu itu lagi-lagi akan menjawab namun Chloe lebih dulu memasukkan satu suapan cheese cake ke dalam mulutnya. “Iya, dia adalah Xa—hmmpt!” Natalie mendelik ke arah Chloe sebab perbuatannya membuat gadis itu terkejut. “Hahaha, bukan apa-apa. Hanya teman yang iseng, tidak usah pedulikan hal yang tidak penting Vic.” Daripada meminta maaf pada Natalie, Chloe lebih dulu menjelaskan pada Victor supaya lelaki itu tidak curiga. Bisa gawat kalau Victor sampai tahu selama ini Xavier hampir setiap hari membuntutinya. Perang dingin antara Victor dan Xavier sejak kecil belum tuntas, Chloe tidak ingin menambah kadar persaingan di antara mereka berdua. Natalie sontak paham maksud Chloe yang ingin merahasiakan tentang Xavier lantas ikut menceletuk, “Iya. Anda tidak perlu khawatir pangeran. Aku hanya asal bicara hehe.” Walaupun begitu, Victor tetap penasaran siapa penguntit menyebalkan yang dikatakan Natalie beberapa saat yang lalu. Karena Chloe dan Xavier satu universitas, Victor khawatir apa yang ditakutkannya selama ini benar yakni tentang Xavier yang berusaha menggoda Chloe di saat dirinya tidak ada di samping gadis itu. “Penguntit itu bukan Xavier kan?” tanya Victor, yang ditujukan kepada Natalie yang seketika tergagap menjawabnya, “Bu-bukan! Siapa itu Xavier? Hahaha, kami tidak mengenalnya. Tidak ada laki-laki bernama Xavier di angkatan kami.” Fyuhh… Chloe lega sebab Natalie bisa menjaga rahasianya. Victor juga tampak percaya dan tidak memedulikannya. Mereka bertiga kemudian larut dalam obrolan santai yang menyenangkan. Senang rasanya melihat kekasih dan sahabat bisa cepat akrab, Chloe bersyukur dalam hati sebab dipertemukan orang-orang baik seperti Victor dan Natalie. *** “Maukah kau pergi bersamaku ke suatu tempat?” Victor mengajak Chloe setelah mereka bertemu Natalie dan pulang dari Café. “Kemana?” Victor yang mengemudi mengerlingkan mata lalu menjawab iseng, “Menuju kenangan lamaku.” Dahi Chloe mengernyit heran. “Apa kau memiliki kekuatan menembus ruang dan waktu sehingga mengajakku ke kenangan lamamu?” Suara gelak tawa Victor terdengar. Lelaki itu kemudian menjelaskan, “Maksudku ke Colorado, dahulu saat keluargaku masih tinggal di Amerika kami sering menghabiskan waktu dengan liburan ke Villa pribadi dekat pegunungan Aspen. Tempat itu sangat indah, aku yakin kamu akan senang berada di sana.” Chloe duduk menghadap Victor dengan ekspresi terkejut. “Ke Colorado? Tempat pegunungan Aspen?!” pekiknya, yang kemudian di balas anggukkan kepala Victor. “Tapi bukankah tempat itu sangat jauh dari Texas? Kurang lebih membutuhkan waktu 14 jam jika naik mobil sampai di sana,” ujar Chloe. Victor menggenggam telapak tangan Chloe lalu tersenyum sekilas ke arah kekasihnya. “Aku sudah mendapat izin dari daddy dan mommymu. Kita akan kesana menaiki jet pribadi milik keluargaku dan menghabiskan waktu berdua di sana.” “Yippyyy! Jika daddy dan mommy sudah mengizinkan maka aku akan ikut pergi bersamamu!” sahut Chloe sambil bergelanyut manja di lengan Victor yang menyetir. “Ini akan jadi liburan pertama kita setelah tiga tahun ldr!” pekik Chloe, tampak excited dan tidak sabar ingin segera sampai di Aspen. *** Tiba di Villa Fell milik keluarganya membuat Victor merindukan masa-masa di mana dia, Romeo dan orang tuanya sering berkunjung ke sini. Sekedar untuk melepas penat dan berkumpul keluarga. Villa Fell selalu menghadirkan suasana hangat sekaligus saksi bisu atas bahagianya keluarga Victor di masa lalu. Sejak pindah ke Spanyol dan Romeo memutuskan tinggal terpisah bersama istrinya, keharmonisan keluarga Victor mulai berkurang. Mungkin juga karena intensitas kesibukan Romeo dan Victor menambah, Romeo yang sibuk mengurus kedudukannya di politik dan Victor yang sibuk menempuh pendidikannya sehingga orang tua mereka—Sofya dan William memilih untuk tidak mencampuri atau mengganggu urusan kedua putranya yang kini telah tumbuh dewasa. Tapi mau bagaimanapun, Victor tetap merindukan momen di mana keluarganya berkumpul untuk menebar kasih sayang. Terlebih ketika sedang berlibur di Villa Fell. Banyak sekali kegiatan yang mereka lakukan di sini, selain mengeksplore lereng gunung Aspen, keluarganya juga sering memancing ikan, bersepeda atau berburu burung di hutan. “Vic.” Panggilan Chloe serta genggaman tangannya di jemari Victor membuat lelaki itu bangun dari lamunan masa lalunya. Victor membalas genggaman tangan Chloe yang dingin, suhu di Aspen hampir mencapai -30° celcius saat siang hari dan akan bertambah dingin ketika menginjak malam. “Ayo kita masuk.” Victor menuntun Chloe ke pintu masuk dan menempelkan sidik jarinya ke layar LED. Bunyi ‘tiiit’ disusul suara program komputer yang mengeluarkan kalimat ‘Welcome, prince Victor’ mengonfirmasi identitas Victor sehingga mereka berdua diperbolehkan masuk ke dalam. Bisa dibilang Villa Fell ini memiliki penampilan dan arsitektur yang sangat menakjubkan. Villa dengan unsur bebatuan yang dibangun ditengah hutan dan menghadap ke pegunungan Aspen memberi kesan naturalis. Villa Fell memiliki bangunan berbentuk huruf ‘S’ yang terbagi menjadi tiga area utama. Area pertama berisi ruang kebugaran yang dilengkapi dengan ruang yoga dan kolam renang indoor, yang bersebelahan dengan ruang tamu serta dapur dan ruang makan yang menjadi satu. Area kedua menampung deretan kamar yang kira-kira ada sebanyak sepuluh kamar beserta kamar mandinya. Sedangkan area terakhir terdapat Bar Set yang terhubung dengan ruang keluarga yang difasilitasi meja billiard dengan dinding kaca menghadap ke arah lautan lepas. Victor dan Chloe memasuki area kamar yang berada di lantai dua. Kamar Victor bersebrangan dengan ruang musik terbuka yang diterangi jendela tinggi menghadap ke arah rimbunnya dedaunan pohon-pohon di hutan. Chloe berdecak kagum melihat bentuk ruangan yang terhubung langsung dengan alam. Sungguh indah, batinnya. “Mandilah dan bersiap-siap, setelah itu aku akan mengajakmu makan di restoran luar,” perintah Victor setelah Chloe puas melihat-lihat area dekat kamar pribadinya. “Aye-aye captain!” Chloe menuruti perintah Victor kemudian menghilang menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar Victor. Sementara Victor pergi ke bagasi untuk mengeluarkan mobil sport Lamborghini Veneno berwarna silver miliknya yang terparkir di bagasi. Seorang pembantu rumah tangga menyapa Victor saat mereka tidak sengaja berpapasan di halaman. “Selamat malam Pangeran,” sapa pria paruh baya berusia sekitar 45 tahunan yang bekerja mengurus villa ini. “Hai uncle John. Senang melihatmu lagi,” balas Victor. “Saya juga senang bisa bertemu Anda lagi,” ujar John. Victor menyahut, “Aku datang bersama kekasihku, tolong katakan pada para pembantu untuk menyiapkan semua kebutuhannya di sini. Kami akan menginap selama dua hari.” “Apakah dia Nona Chloe?” tanggap John, yang ternyata mengenal kekasihnya. Sebelah alis Victor terangkat, “Darimana uncle tahu namanya?” John tertawa sekilas lalu menjawab, “Dulu saat Anda, pangeran Romeo dan kedua orang tua Anda sering menghabiskan waktu di sini, Nyonya Sofya sering mengancam Anda menggunakan nama Chloe jika Anda bersikeras menentang larangan Nyonya.” Victor terkekeh, tidak menyangka John akan mengingat kenangan yang sudah sangat lama tersebut. Memang, dulu dia sering sekali menentang hal yang dilarang Sofya—salah satu contohnya yaitu pergi naik gunung sendiri padahal masih berumur 11 tahun. Sofya yang marah besar dan tak bisa mencegahnya akhirnya menggunakan Chloe sebagai senjata untuk mengancam Victor. Chloe adalah kunci sekaligus arah mata angin bagi Victor. Semua yang Victor lakukan hanya demi Chloe, dan hanya dia juga yang bisa mengendalikan dirinya. Begitulah kekuatan cinta. “Apa tidak pernah ada yang kemari sejak keluarga kami pindah ke Spanyol?” tanya Victor. Gelengan kepala serta raut bersedih John membuat Victor ikut murung. “Tidak ada satupun. Pangeran dan Nona Chloe adalah pasangan pertama yang datang lagi ke sini setelah beberapa tahun tidak disentuh oleh siapapun. Tapi meskipun begitu, saya dan para pembantu yang merawat Villa ini selalu berharap keluarga Anda akan datang dan meramaikan villa ini lagi seperti dulu.” Sayangnya keadaan keluarga Victor kini telah berubah. Sebentar lagi Romeo akan menduduki jabatannya sebagai Raja Spanyol baru dan yang pasti akan membuatnya semakin sibuk. Sedangkan Victor juga akan lulus tahun ini dan mempersiapkan segalanya untuk membangun perusahaan. Victor menghela napas berat, lalu menjawab, “Maafkan aku uncle John. Tapi mungkin semuanya tidak akan sama seperti saat aku dan kakakku masih kecil.” John tersenyum, “Tidak apa-apa pangeran Victor. Saya tahu, Anda dan pangeran Romeo akan jadi orang besar sehingga pasti tidak banyak memiliki waktu luang untuk bepergian jauh. Saya memaklumi itu. Namun suatu saat, ketika pangeran Victor dan Nona Chloe telah menikah, saya harap saat itulah villa ini kembali dihidupkan dengan riuh suara tawa dari anak-anak kalian,” ucapnya, yang mampu menyentuh lubuk hati Victor sehingga terharu mendengarnya. Bukan hanya John yang berharap hal itu bisa menjadi kenyataan, tetapi Victor juga. Dia berharap, masa-masa bahagia seperti yang diceritakan John akan segera dia dan Chloe rasakan. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD