SEUSAI Chloe makan siang di White House Tavern, sorenya adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk bersepeda. Melintasi hutan pegunungan Aspen, mereka berdua menaiki sepeda kayuh masing-masing melewati pohon-pohon besar di dalam hutan bak sedang melakukan petualangan di dunia fantasy.
Mereka berdua juga saling adu balap menuju ke danau terpencil yang berada di belantara hutan Aspen untuk menikmati matahari terbenam berdua. Dan tentu saja pemenangnya bisa ditebak, Victor selalu mengalah supaya kekasihnya bahagia.
“Yeaayy aku menang!” sorak Chloe, ketika masih berada di atas sepedanya.
Tidak lama setelah itu Victor menyusul di sampingnya lalu memberi gadis itu pujian, “Wah kau memang tak terkalahkan Chloe.”
“Hahaha. Karena kau selalu membiarkanku menang Vic,” sahut Chloe, yang ternyata menyadari rencananya.
“Setelah 20 tahun bersamaku kau baru menyadari itu sekarang?” seloroh Victor.
Chloe memberenggut, “Waktu kecil kupikir kau itu payah karena selalu kalah dariku. Tapi semakin dewasa sekarang aku sadar bahwa kau tidak payah, kau hanya sengaja membiarkanku menang supaya aku bahagia,” ujarnya dengan senyum merekah.
“Setidaknya kamu sudah sadar sekarang,” balas Victor sambil mengedikkan bahu tidak masalah.
Chloe kemudian memakirkan sepedanya ke dekat pohon besar yang rindang. Melihat kondisi danau yang sepi orang, Chloe tanpa pikir panjang langsung berlari mendekati air danau yang jernih sambil melepas cardigannya hingga menyisakan hotpans jeans pendek serta jeans bra yang menutupi setengah dadanya.
Victor mendelik melihat perbuatan Chloe yang dengan mudah melepas cardigannya hingga menunjukkan punggung mulusnya yang hanya tertutupi bra. Oke, sepertinya Victor harus pandai menahan diri sekarang karena gadis kecilnya dahulu kini sudah berubah menjadi wanita dewasa sepenuhnya.
Lihat saja ukuran d**a Chloe, oh Ya Tuhan! Victor tidak menyangka kalau d**a Chloe akan sebesar itu sekarang hingga bra yang dikenakannya terlihat penuh. Victor berdecak, gadis kecilnya yang dahulu polos kini sudah pandai menyulut gairahnya.
“Chloe!” Victor berteriak memanggil Chloe yang sudah duluan sampai di tepi danau.
Victor berlari menghampiri sambil ikut melepaskan kaos atasannya dan bergabung bersama Chloe di sana. “Wow… jadi bayanganku tentang tubuhmu saat kau mengurungku di kamar waktu pesta ulang tahun ternyata benar,” ujar Chloe sambil menatap lapar lengan berotot Victor dengan perutnya yang sixpack.
“Yah, waktu itu pun kau juga memandangku seperti sekarang,” jawab Victor dengan santainya.
“Vic! Kau membuatku menginginkan tubuhmu! Kau harus tanggung jawab!” protes Chloe sambil memercikkan air ke wajah Victor.
“Hahaha,” Victor tak kuasa menahan tawanya lalu berkata, “Sabarlah baby, kita masih punya waktu nanti malam.”
Chloe tersenyum mendengar ajakan secara terselubung dari Victor. Lalu untuk menghilangkan gairahnya yang terbit akibat melihat tubuh Chloe, Victor mengajak Chloe berenang ke tengah danau.
Mereka kemudian berenang beriringan. Setibanya di tengah danau, Victor dan Chloe mengangkat kepala untuk mengambil napas. Terpaut kontak mata cukup singkat sampai akhirnya—seolah sama-sama menginginkan, keduanya langsung mendekatkan tubuh dan berciuman di atas air danau dengan baground matahari terbenam hingga membuat suasana kala itu terasa syahdu dan romantis.
***
Berenang di danau saat musim dingin memang bukan keputusan yang tepat. Lihat saja dampak berenang di danau membuat tubuh mereka menggigil kedinginan, Victor menggiring Chloe ke kamar mandi dan mandi air hangat sekembalinya ke villa.
Dulu sewaktu mereka masih kecil, Victor dan Chloe sering mandi bersama setelah hujan-hujan. Tapi saat mereka dewasa sekarang, mandi bersama rasanya jadi canggung sekaligus malu. Chloe berusaha rileks ketika Victor membawa tubuhnya yang masih memakai bra dan celana hotpans ke bawah guyuran air shower yang hangat hingga membuat tubuhnya tidak lagi kedinginan.
Mereka tidak saling berbicara saat di kamar mandi, sama seperti Chloe, Victor juga masih mengenakan celana boxer yang digunakannya saat berenang tadi. Setelah membilas tubuh mereka dengan air, Victor lalu mengeringkan rambut Chloe yang basah dengan handuk.
Wajah Chloe mendongak menatap Victor saat pria itu sibuk mengeringkan rambutnya. “Vic,” panggil gadis itu.
“Hmm?” Victor menyahut dengan berdehem.
“Kupikir tadi kau akan membawaku ke ranjang.”
Ucapan Chloe menghentikan pergerakan tangan Victor yang berada di rambutnya. Pria itu lalu menurunkan tangannya dan mengulas sebuah senyum. “Aku sangat ingin melakukan itu, tapi aku takut jika nekad melakukannya aku tidak akan bisa menahan diri lagi.”
Chloe memeluk tubuh Victor yang masih basah. “Kamu memang laki-laki yang baik. Terima kasih untuk hari ini, aku senang sekali.”
Victor mencium puncak kepala Chloe, “Sama-sama baby. Sekarang keringkan badanmu dan ganti baju. Setelah itu kita makan malam sama-sama.”
“Siap Sir,” jawab Chloe lalu keluar dari kamar mandi untuk berganti pakaian di kamar Victor.
Sedangkan Victor akhirnya bisa bernapas lega sepeninggalan Chloe. Sebab susah sekali mengendalikan nafsunya saat bersama gadis itu, apalagi dalam keadaan setengah telanjang. Huft… beruntung Victor masih bisa menahan diri, karena jika tidak—mungkin saja Dapper akan membawanya ke neraka saat mereka pulang nanti.
***
Ukuran meja makan serta banyaknya menu makan malam mereka hari ini sepertinya tak seimbang dengan porsi makan Chloe dan Victor. Makanan yang tersaji terlalu banyak sehingga tak memungkinkan untuk menghabiskannya.
“Kenapa kita tidak mengajak para pelayan ikut makan bersama kita?” saran Chloe, saat ia menebak Victor pun tidak akan sanggup menghabiskan seluruh menu makanannya.
“Kau tidak keberatan makan di satu meja yang sama dengan para pelayan?” Victor bertanya ragu, heran mendengar putri konglomerat seperti Chloe mau melakukan hal tersebut bersama kalangan orang-orang di bawahnya.
“Tentu saja aku tidak keberatan. Setiap hari aku makan satu meja dengan babysitterku, maksudku… mantan babysitterku, sekarang kan aku sudah dewasa jadi tidak perlu babysitter lagi,” sahut Chloe dengan cengiran lebar.
Dahi Victor mengernyit, sepertinya dia kenal siapa yang sedang dibicarakan Chloe. “Maksudmu bibi Mar?”
“Ya, dia sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri.”
Kepala Victor mengangguk, baiklah jika Chloe tidak keberatan. Toh makanan mereka juga sangat banyak dan tidak ada salahnya makan bersama para pelayan. Untung-untung membentuk hubungan yang baik bersama bawahannya.
“Uncle John!” panggil Victor.
Tidak butuh waktu lama, John segera mendatangi tuannya. “Ya Pangeran?”
“Apa Uncle dan para pelayan yang lain sudah makan malam?”
Pria paruh baya yang berdiri di depan Victor sempat terdiam karena heran mendengar pertanyaan Victor yang jarang sekali ditanyakan. “Emm, belum Pangeran. Tadi kami sibuk menyiapkan makan malam untuk Anda dan Nona Chloe,” jawab John.
Victor tersenyum, “Baguslah. Kalau begitu, panggil semua pelayan lainnya dan Uncle juga. Ayo kita makan sama-sama di meja makan,” ajak Victor, sementara John yang mendengar penawaran tersebut melotot kaget.
“Ma-maaf Pangeran, apa saya tidak salah dengar?” John bertanya lagi untuk memastikan indra pendengarannya tidak salah menangkap maksud perintah Victor.
“Ayo kita makan sama-sama Uncle! Banyak makanan di sini, kami berdua tidak akan sanggup menghabiskannya.” Chloe ikut menyahut mewakili Victor.
John kemudian tersenyum cerah, pria itu tampak sangat senang ketika diajak makan malam oleh atasannya. “Baik, terima kasih. Saya panggil pelayan yang lainnya dulu,” pamit John.
Lalu tidak lama setelah itu, John kembali bersama enam pelayan pengurus villa. Bak keluarga sendiri, Chloe dan Victor berbagi makanan bersama para pelayan yang awalnya agak canggung namun akhirnya bisa menyesuaikan diri sebab ucapan Chloe yang pandai sekali mencairkan suasana di antara mereka.
Melihat keakraban Chloe dengan John dan keenam pelayan lainnya membuat Victor diam-diam tersenyum memerhatikannya. Laki-laki itu sangat bangga dengan sisi sederhana Chloe yang mau berbagi dengan bawahannya meski ia sendiri seorang anak dari keturunan orang kaya.
“Oh jadi kau berasal dari Texas, lalu bagaimana bisa kamu bekerja sebagai pelayan di sini?” tanya Chloe saat dia terjebak obrolan dengan salah satu pelayan wanita bernama Berta.
“Saya dipilih oleh Pangeran Romeo untuk mengurus villa ini, sebagai seorang pelayan yang sudah lama bekerja bersama Pangeran Romeo dan Putri Juliet, saya tentu saja bersedia ditempatkan di sini,” jelas Berta, yang kemudian membuat Chloe menggangguk-anggukan kepala paham.
“Bicara soal kak Romeo dan kak Juliet, aku jadi merindukan mereka juga. Kak Juliet adalah sahabat Mommyku saat masih ada di Amerika. Kapan-kapan, ajak kak Romeo dan kak Juliet kemari Vic!” Chloe berpaling menatap Victor, namun Victor tentu saja enggan memperbolehkan Chloe menemui Juliet atau pun kakaknya sebab takut rencana pernikahannya bersama Amanda akan terbongkar.
Lagi pula, melihat kenekadan Romeo. Victor cemas jika kakaknya itu akan melakukan hal yang jahat lagi pada kekasihnya dan Victor tentu saja tidak bisa membiarkan itu terjadi.
“Kak Romeo dan Juliet sibuk Chloe, aku juga jarang bertemu dengan mereka,” jawab Victor, berusaha mencari alasan yang tepat supaya Chloe tidak memaksa ingin bertemu Romeo dan Juliet.
Wajah Chloe menekuk cemberut. “Tapi aku merindukan mereka,” cicit Chloe.
“Pangeran Victor benar Nona. Tidak mudah menemui anggota kerajaan, apalagi sebentar lagi pangeran Romeo akan diangkat menjadi Raja dan pasti sangat sibuk sekarang.” John ikut angkat bicara membantu Victor.
Victor lantas merasa lega karena ucapan John sangat membantunya untuk menjelaskan pada Chloe.
“Iya aku sudah mendengar berita itu juga dari Natalie sahabatku. Asal kalian tahu saja, banyak sekali teman-teman kuliahku yang mengidolakan pangeran Romeo. Mereka sangat excited setelah mendengar kabar bahwa sebentar lagi dia akan dinobatkan sebagai Raja Spanyol berikutnya,” tanggap Chloe yang membuat sebagian orang di sana terkekeh mendengar ceritanya.
“Berita tentang Pangeran Romeo memang sedang gencar di media sosial akhir-akhir ini. Selain parasnya yang tampan, dia juga calon Raja yang memiliki hati yang baik,” timpal Berta.
Victor tersenyum miring, tunggu saja sampai orang-orang tahu jika kakaknya bukanlah orang sebaik itu. Victor jamin mereka semua yang sedang membicarakannya di sini akan dibuat kecewa.
“Bagaimana menurutmu Vic?”
Pertanyaan Chloe menyentak Victor dari lamunan tentang kakaknya. Lalu menyahut linglung sebab ketinggalan pembahasan, “Ha? Apanya?”
Chloe berdecak sebal, lalu berujar, “Tentang kakakmu yang sedang viral dimedsos. Sebagai adiknya, kamu pasti sangat bangga kan memiliki kakak sebaik Pangeran Romeo?”
Biasa saja, batin Victor. Tetapi ia tentu tidak bisa menjelek-jelekkan kakaknya sendiri di hadapan umum.
“Iya, aku sangat bangga pada kakakku. Dia memang orang yang baik,” katanya, berlawanan dengan hatinya yang merutuk setengah mati perbuatan Romeo padanya tempo hari.
“Yah… semua orang jadi menginginkan berada di posisi Putri Juliet sebagai istrinya,” komentar Berta, yang berhasil memancing tawa dari semua orang kecuali Victor.
“Hahaha, aku juga,” ceplos Chloe.
Yang seketika membuat Victor membelalakkan mata. “Kau ingin jadi istri kakakku?!” protesnya dengan kesal.
Chloe terkikik geli, lalu mengibaskan tangan, “Tidak… aku hanya bercanda. Tentu saja aku hanya ingin jadi istrimu, Pangeran Victor…”
Victor merasa lega lalu tersenyum secara terang-terangan ke arah Chloe. “Sudah dipastikan itu, karena kamu hanya milikku seorang,” ujarnya dengan begitu posesif hingga membuat semua pelayan yang mendengarnya menjadi iri melihat keromantisan Victor pada Chloe.
BERSAMBUNG...