KEESOKKAN hari, bertepatan dengan hari anniversary pernikahan Emily dan Dapper yang ke 12 tahun. Dapper berencana mengadakan pesta besar-besaran untuk istrinya di mansion milik mereka. Karena tidak ingin Emily mengetahui persiapan pesta di rumah, Dapper akhirnya mengajak Emily keluar sejak pagi sampai nanti malam mereka akan kembali dengan pesta yang sudah siap mengejutkan Emily.
Dapper memercayakan persiapan pesta ke Chloe. Dapper juga berpesan supaya Chloe menjaga adiknya Axelion selagi mereka tidak ada di rumah. Chloe yang dibantu Victor menuruti permintaan Dapper.
“Daddy jangan khawatir, semua akan aman terkendali ditanganku. Aku juga tidak sendiri, ada Victor di sini jadi semuanya akan baik-baik saja,” ungkap Chloe setelah Dapper menjelaskan semua yang harus Chloe lakukan.
“Bagus! Kalau begitu, aku akan pergi bersenang-senang dengan mommymu. Sampai jumpa di pesta nanti malam…” Dapper berpamitan pada Chloe dan Victor lalu melangkah menghampiri Emily yang sudah menunggu di dekat pintu.
Emily melipat tangan di depan d**a sambil menatap curiga suaminya. “Apa yang kau rencanakan dengan Chloe dan Victor?” tanya Emily, karena sebelumnya dilarang terlibat percakapan.
“Rahasia. Sudah jangan kau pikirkan, sebaiknya kita segera pergi dari sini dan bersenang-senang. Mengerti?” balas Dapper, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Emily menghela napas pasrah, tidak menuntut jawaban lebih jauh dari Dapper. “Anak-anak, kami pergi dulu ya. Byee…” Emily melambai ke arah Chloe, Victor dan Axelion yang masih setia berdiri di depan pintu mengantar kepergian mereka.
“Byeee Mom… byee Dad! Have fun…” Chloe balas berteriak sambil melambaikan tangan ke arah Emily dan Dapper yang kemudian masuk ke dalam mobil.
Tidak lama usai mobil yang ditumpangi orang tua Chloe pergi, mobil lain yang membawa dekorasi bunga, peralatan pesta dan barang lainnya yang diperlukan datang berurutan memenuhi halaman depan mansion rumah.
“Kakak, banyak sekali mobil yang datang,” ujar Axelion sambil menatap heran mobil yang parkir berjejeran di halaman rumahnya.
“Iya, sebentar lagi rumah kita akan disulap menjadi tempat pesta untuk mommy!” jawab Chloe dengan girangnya. “Kita harus membantu mereka,” timpal Victor, hendak pergi membantu pegawai dekorasi yang terlihat kesusahan menurunkan vas bunga besar dari atas mobil namun tangan Chloe menahannya.
“Tunggu! Mereka sudah berjumlah banyak Vic, tugasmu adalah membantuku,” kata Chloe.
Victor mengernyit, “Memangnya kamu akan melakukan apa sehingga perlu bantuanku?” tanyanya.
Chloe menarik seulas senyum lalu menjawab, “Daddy sengaja tidak memesan kue karena dia tahu aku pandai membuat kue, dan menyuruhku membuat kue untuk ulang tahun pernikahan mereka karena itu akan jauh lebih berarti daripada membeli kue ulang tahun di toko.”
Mulut Victor terbuka melongo, tidak percaya jika kekasihnya pandai membuat dessert. “Sejak kapan kamu pandai memasak di dapur? Apalagi membuat kue. Setahuku dahulu kamu payah sekali bahkan hanya untuk memasak mie instan,” ceplos Victor dengan tampang innocent-nya.
Axelion yang mendengar sindiran Victor itupun tidak bisa menahan tawa sehingga memancing tatapan tajam Chloe tertuju padanya. Chloe memutar bola mata lalu menatap Victor kesal. “Semua orang pasti berubah Vic, kau tahu kan? Aku mungkin dulu payah di dapur, tapi sekarang aku adalah ahlinya.”
Victor tersenyum bangga pada gadis di depannya. Jika memang seperti itu kenyataannya, maka Victor sangat bahagia karena Chloe bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Victor jadi semakin mencintai Chloe dan hampir saja bibirnya menyosor Chloe namun buru-buru ditahan oleh tangan Chloe yang melirik Axelion di sampingnya.
“Ada adikku,” bisik Chloe, yang seketika membuat Victor berakhir malu.
“Hahaha, baiklah… ayo kita ke dapur dan membuat kue untuk aunty dan uncle!” Menyembunyikan rasa malunya di depan Axelion dan Chloe, Victor berteriak semangat lalu berjalan lebih dulu menuju dapur. Sedangkan Chloe dan Axelion saling beradu pandang lalu tertawa bersamaan melihat tingkah menggemaskan Victor yang menahan malu.
***
“Baby Lion, tolong ambilkan margarinnya di kulkas!” Chloe memerintah Axelion yang seketika cemberut mendengarnya.
“Kak, berapa kali aku bilang? Stop memanggilku baby Lion, sekarang aku sudah berumur sebelas tahun,” sungut Axelion, mengundang tawa Victor keluar. “Hahaha, dia benar Chloe. Jangan panggil adikmu dengan sebutan baby lagi, dia sudah besar,” bela Victor sambil mengacak puncak rambut Axelion yang kini tersenyum karena sudah dibela.
Chloe mendengus. “Well… sepertinya aku juga harus mengingatkanmu Tuan Victor Felipe Rocasolano yang terhormat, bahwa kamu juga memanggilku dengan sebutan baby,” protesnya.
Victor kembali tertawa lalu menanggapi, “Itu berbeda Chloe, aku memanggilmu baby karena itu memang panggilan kesayangan untuk orang yang aku cintai.”
“Ya ya ya, terserah kamu saja. Cepat Axelion! Mana margarin yang tadi kusuruh kau ambilkan?” Chloe berpindah menatap jengah Axelion yang kemudian menyodorkan mangkuk berisi margarin ke kakaknya. “Ini kak.”
“Terima kasih,” jawab Chloe. Ia lalu mencampur margarin yang sudah di mixer ke adonan kue sambil mengaduk perlahan dengan spatula di tangan kanannya sampai tercampur merata.
Melihat peluh keringat membasahi dahi Chloe, Victor mengambil tisu dan mengelap keringat Chloe. Perhatiannya itupun memancing Chloe menoleh menatapnya. “Kamu keringatan karena terlalu bekerja keras, santai saja Chloe… acaranya masih nanti malam,” ucap Victor yang dibalas kekehan singkat Chloe.
Beberapa menit kemudian, Victor bertanya ketika Chloe memasukkan adonan kue yang sudah jadi ke dalam oven. “Dari mana kamu belajar semua ini?”
Chloe menutup pintu oven lalu mengatur suhu dan waktu kuenya sebelum membalas pertanyaan Victor. “Dari kuliahku. Kami sebagai seorang farmasi diharuskan pandai meracik obat. Dan kupikir-pikir… cara meracik obat dan membuat kue sebelas-duabelas hampir sama.”
Mengabaikan obrolan dari dua orang di sekitarnya, Axelion lebih tertarik menghabiskan buah cerry yang ia temukan di kulkas. Tak peduli meski sebenarnya buah itu digunakan sebagai topping kue ulang tahun ibunya nanti malam.
“Wow, jadi maksudmu seorang farmasi dan chef itu sama?” tanya Victor.
“Hahaha, ya tidak begitu juga. Teknik memasak kami berbeda, begitu juga dengan bahan-bahannya. Jika seorang farmasi menggunakan bahan-bahan kimia untuk membuat obat, seorang chef menggunakan bahan-bahan masakan untuk jadi makanan,” jawab Chloe.
Victor tersenyum penuh arti, lalu menggapai telapak tangan Chloe yang kotor bekas tepung. “Aku tidak menyangka, calon istriku di masa depan adalah seseorang yang pandai meracik obat. Aku tidak perlu khawatir lagi kalau sakit, karena aku sudah punya dokter pribadi sendiri,” ujar Victor.
“Aku memang pandai meracik obat untuk menyembuhkan, tapi tetap saja ada satu obat yang tidak akan pernah bisa aku buat.” Ucapan Chloe menimbulkan tanya dibenak Victor. “Apa itu?”
Chloe menunjuk bagian hati Victor dengan telunjuk tangannya. “Hati. Aku tidak bisa membuat obat untuk menyembuhkan hati. Karena itu aku harap, dari kita berdua tidak pernah ada yang sakit hati. Kamu paham maksudku kan?”
Entah kenapa sulit bagi Victor untuk tersenyum saat ini. Lagi-lagi perkataan Romeo tempo hari masuk ke dalam pikirannya dan mengingatkan pada Victor bahwa kemungkinan yang terjadi jika ia harus mengorbankan perasaan Chloe.
Victor ragu ia tidak akan membuat Chloe sakit hati.
“Victor, ada apa?” Chloe menyentuh rahang Victor dan menyadarkan laki-laki itu dari lamunannya. “Ha? Kenapa?” Victor balik bertanya heran.
“Ekspresimu terlihat sedih. Apa ada sesuatu?” tanya Chloe sambil menatap cemas wajah Victor yang kini juga memandangnya. Chloe tidak boleh sampai tahu kalau dirinya sedang mencemaskan sesuatu, batin Victor.
Laki-laki itu akhirnya memaksakan seulas senyum, ia hendak membalas pertanyaan Chloe namun terpotong akibat pekikkan Chloe yang terkejut melihat Axelion menghabiskan mangkuk berisi cerry.
“Baby Lion!!!!!!”
Axelion kaget luar biasa mendengar teriakan kakaknya. Anak itu kemudian menoleh dan mengerjapkan mata dengan memasang wajah tak berdosa melihat polos kakaknya. “Kenapa?”
Chloe pergi dari hadapan Victor dan melangkah menghampiri Axelion untuk merebut mangkuk di tangannya. “Ini untuk kue ulang tahun pernikahan daddy dan mommy! Kenapa kamu menghabiskannya?!” gerutu Chloe sambil menatap kecewa mangkuk yang hanya tersisa tiga butir cerry.
“Maaf kak, aku memakannya secara tak sadar,” sahut Axelion, mencari alasan supaya tidak didamprat kakaknya lebih jauh.
Chloe melongo, tidak sadar katanya? Jadi maksudnya Axelion makan buah cerry sambil tidur begitu?
Chloe memutar bola mata jengkel, berdecak pinggang dan siap menumpahkan semua kekesalannya. “Mana mungkin kamu ti—”
“Sudahlah sayang, jangan marahi adikmu hanya karena ini,” potong Victor sambil memegang pundak Chloe supaya sabar.
Dan upaya Victor ternyata membuahkan hasil. Chloe memejamkan mata guna merendam emosinya, lalu kembali berkata pada Axelion dengan nada rendah. “Yasudah, aku akan beli lagi. Jika kamu lapar, kamu bisa minta Bibi Rebecca untuk membuatkanmu makanan,” ujar Chloe pada Axelion yang kemudian mengangguk patuh.
“Aku akan mengantarmu membeli cerry,” kata Victor sambil memegang lengan Chloe.
“Oke, kita pergi sekarang. Sebentar aku cuci tangan dan ganti baju dulu,” jawab Chloe yang dibalas anggukan kepala oleh Victor.
BERSAMBUNG...