“BAGAIMANA dengan adonan yang sudah kamu masukkan ke oven?” tanya Victor ketika mereka dalam perjalanan ke supermarket dan sekarang sudah berada di dalam mobil. Chloe yang duduk di samping Victor menjawab, “Aku sudah berpesan ke Bibi Rebecca supaya mengeluarkannya saat sudah matang.”
Victor mengangguk, “Syukurlah, kupikir kamu lupa,” tanggapnya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di supermarket. Chloe mengambil keranjang belanja, Chloe sekalian ingin membeli bahan-bahan makanan yang hampir habis. Ditemani oleh Victor, mereka jadi terlihat seperti sepasang suami-istri yang sedang membeli persediaan rumah tangga.
“Aku menemukan buah cerry!” Victor berteriak ketika Chloe sibuk memilih sayur-sayuran. Gadis itu menoleh dan tersenyum sambil mengangguk pada Victor. “Ini sama persis dengan cerry yang tadi dihabiskan Axelion,” ujar Victor saat dia sudah sampai di depan Chloe.
“Bagus! Terima kasih sudah bantu mencari,” sahut Chloe lalu menaruh steroform berisi buah cerry yang tadi dibawa Victor ke dalam keranjang belanjaan. “Apa di rumahmu juga kehabisan sayuran?” tanya Victor ketika Chloe kembali berkutat dengan sayuran di depannya.
“Iya. Axelion sangat suka bayam, dia selalu menghabiskan sup bayam yang dibuat Mommy,” jawab Chloe sambil tak lepas memilah-milah bayam di tangannya.
Ditengah kesibukan mereka saat itu, tiba-tiba dua laki-laki kembar menghampiri Chloe dan menyapanya. “Hai beauty… wah tidak disangka kita bertemu di sini, seperti jodoh,” sapa Xavier lebih dulu, kemudian disusul saudara kembarnya Javier. “Iya, sepertinya Tuhan sengaja merencanakan ini karena kita akan ditakdirkan bersama.”
Victor menaikkan salah satu alis, menatap tidak suka dua pria kembar yang begitu familiar di matanya. Siapa lagi kalau bukan si kembar dari keluarga Clifford. Berani sekali mereka menggoda Chloe di depannya, rutuk Victor dalam hati.
“Javier? Xavier? Ya Tuhan tidak kusangka kita akan bertemu di sini.” Chloe memeluk Xavier dan Javier secara bersamaan. Sedangkan di sisi lain Victor melotot, tidak percaya jika kekasihnya akan semudah itu memeluk pria lain.
“Aku belum pernah melihatmu lagi sejak satu bulan yang lalu pertemuan terakhir kita di acara perusahaan daddy. Apakah kau sesibuk itu Jav?” tanya Chloe
Yang kemudian dibalas Javier, “Kuliahku jauh dari sini, jadi aku lebih sering pulang ke apartemen daripada ke mansion,” Javier mengerlingkan mata, “satu bulan tidak melihatmu, rasanya sudah seperti berpuluh-puluh tahun, aku merindukanmu Chloe.” Javier bergerak memeluk Chloe lagi, namun kali ini lebih erat.
Victor memberengut. Mereka hanya tidak bertemu selama satu bulan, dan Chloe sudah memperlakukannya dengan sangat spesial. Bagaimana denganku yang sudah dua tahun ini? Victor menggerutu dalam hati.
Chloe tergelak, “Hahaha. Kau tetap sama Jav, selalu berlebihan,” tanggap Chloe seraya melepas pelukan Javier.
Aura gelap yang keluar dari tubuh Victor membuat Chloe seketika teringat akan keberadaan kekasihnya. “Oh ya, kalian masih ingat dengan Victor kan? Dia kembali ke Texas untuk sementara waktu ini,” ujar Chloe.
Sedangkan si kembar Javier dan Xavier bergeming menatap lama wajah Victor sambil mengingat. “Victor? Siapa dia, apa dia supir baru keluargamu?” tanya Javier.
“Tidak mungkin dia supirnya Jav!” sanggah Xavier, lalu menyambung, “Dia pasti pembantu barunya, lihat saja dia menemani Chloe berbelanja kebutuhan.”
Gezz… rasanya ingin sekali Victor memukul dua cecunguk yang berdiri di depannya. Javier dan Xavier masih tetap sama seperti sejak terakhir kali Victor bertemu mereka. Tetap menyebalkan dan masih tidak ada bosannya menggoda Chloe.
Sementara Chloe sudah tertawa terbahak-bahak akibat ucapan Javier dan Xavier yang sebelum ini menyangka Victor supir atau pembantu barunya. “Hahaha.”
“Sepertinya kalian perlu diberi pukulan supaya mengingat siapa diriku.” Victor berucap sinis lalu melangkah mendekati Javier dan Xavier sambil memandang tajam mereka berdua.
“Wohooo… santai bung! Aku tidak suka mencari masalah dengan orang lain, apalagi dengan beradu fisik.” Xavier mengangkat tangan mencoba menenangkan Victor.
“Ya, saudaraku benar. Lagi pula, kau akan kalah karena kami berdua dan kamu hanya sendirian,” timpal Javier sambil tersenyum nyengir meminta damai.
Victor menghela napas panjang, kapan dua cecunguk ini akan berhenti menjadi orang menyebalkan? “Bagaimana kabar kalian? Tidak usah pura-pura lagi, aku tahu kalau kalian sebenarnya mengingatku,” Victor berujar disertai senyuman miring licik.
“Hahaha. Kami baik-baik saja bung, tapi bagaimana kau bisa tahu?” Javier tertawa keras menyadari usahanya membohongi Victor gagal. “Sepertinya Victor punya keahlian membaca pikiran orang lain Jav,” seloroh Xavier pada Javier yang terkikik mendengarnya.
“Mana mungkin. Tingkah kalian terlalu jelas menunjukkan,” jawab Victor, dengan nada ogah-ogahan. “Lagi pula, kau—” Victor mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Xavier, “kita bertemu di OLIEFEB tahun lalu, sudah pasti kau masih mengingat wajahku,” lanjutnya dengan sorot mata sinis.
“Kau benar. Mana mungkin aku melupakan pria nomor dua,” sahut Xavier yang meskipun dikatakan dengan nada bercanda namun lewat pemilihan kalimatnya jelas sekali menunjukkan bahwa dia sedang mengolok-olok Victor.
Lalu jangan ditanya bagaimana ekspresi Victor setelah itu. Wajahnya sudah mirip dewa kematian yang siap mencabut nyawa Xavier sekarang juga. “Jangan bangga dengan prestasi singkatmu boy! Tahun ini pastikan kamu tidak menangis karena posisi pertama akan kurebut darimu,” desis Victor, dengan jelas memberitahukan ancamannya.
Xavier menyeringai, berbeda dengan raut Victor yang dingin dan tampak serius—Xavier justru tampak santai dan slengean saat membalas, “Jangan terlalu serius, kaulah yang akan menangis. Lihat saja nanti…”
Ketegangan sekejab menguasai keadaan, andai kata mereka sedang dalam film action, pasti sepasang mata Victor dan Xavier telah memancarkan laser pembunuh untuk menyatakan peperangan mereka.
Chloe sampai dibuat merinding melihat percikan api permusuhan yang dikeluarkan keduanya. Tapi sekarang bukan waktu yang bagus untuk bertengkar.
“Emm, sepertinya aku dan Victor harus segera kembali untuk melanjutkan persiapan pesta nanti malam. Kalian berdua sudah mendapat undangannya kan?” tanya Chloe, mencoba mencairkan kembali suasana yang sempat panas.
Javier yang sepertinya paham ikut menyahut, “Kami sudah mendapatkannya, pesta anniversary uncle Dapper dan aunty Em.”
Chloe tersenyum, lebih tepatnya meringis. “Baiklah, sampai jumpa di pesta nanti malam kawan. Kami pergi dulu yah!” Chloer pamit sambil melambaikan tangan sebelum kemudian menarik Victor pergi dari sana untuk kembali pulang ke rumah.
***
Ketika dalam perjalanan pulang, suasana hati Victor tampak buruk. Lelaki itu tidak berbicara sepatah kata pun sejak bertemu Xavier dan Javier di supermarket.
“Bukankah hari ini langit terlihat begitu cerah Vic?” Chloe berusaha membuka percakapan, dengan niat ingin membuat perasaan Victor lebih baik.
Tapi dia tidak mengira jika Victor malah akan menanyakan hal yang sama sekali tidak ingin dirinya jawab. “Kamu dan Xavier satu universitas, apakah kalian sering bertemu saat kuliah?”
“Ti-tidak. Xavier mahasiswa jurusan bisnis sedangkan aku mahasiswa farmasi, gedung kami berjarak cukup jauh jadi itu mustahil,” alibi Chloe, tidak ingin menambah kekesalan Victor dengan menjawab jujur.
“Xavier lelaki berengsek yang sombong. Dia juga tidak tahu malu karena terang-terangan mengejar seorang gadis yang telah memiliki kekasih. Aku tidak percaya dia berencana merebutmu dariku!” Victor meracau dengan geram.
“Dia tidak seperti itu Vic,” ceplos Chloe, secara tidak sadar telah menyerukan pembelaan pada Xavier hingga memancing Victor menatap tajam dirinya.
“Kau membelanya?” Victor terkejut, sekaligus merasa sakit.
Chloe menggelengkan kepala dan buru-buru mengklarifikasi ucapannya. “Aku tidak membelanya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Xavier tidak sejahat itu, dia tidak mungkin merebutku darimu. Xavier tahu betapa aku sangat mencintaimu dan berulang kali aku mengatakan padanya kalau dia hanya sebatas sahabat di mataku.”
Rahang Victor mengeras, ekspresinya semakin bertambah marah. “Berulang kali? Apa itu berarti kalian sering menghabiskan waktu bersama saat aku tidak ada sehingga membuatmu harus berulang kali mengingatkannya bahwa dia hanya sebatas sahabat bagimu?!” Suara Victor meninggi, sementara Chloe memejamkan mata—meringis sebab pilihan kata-katanya yang kurang tepat sehingga membuat Victor meradang.
“Maafkan aku Vic.” Chloe merasa tidak ada hal lain yang patut ia lakukan selain meminta-maaf pada kekasihnya. Dia tidak ingin ada kebohongan yang lain sehingga memutuskan untuk jujur, “Kamu memang benar. Aku sering bertemu Xavier, tapi tidak hanya berdua. Ada Natalie bersamaku.”
Mata Victor menyipit ketika teringat obrolannya bersama Natalie. “Ahh… aku tahu sekarang,” Victor menganggukkan kepala dengan suara menahan geram, “penguntit menyebalkan yang dimaksud Natalie, dia adalah Xavier kan?” seringaian terulas di bibir Victor yang saat ini memandangnya miris.
Sedangkan tubuh Chloe seakan mati rasa melihat ekspresi itu. Dia tiba-tiba tidak bisa menggerakkan bibir untuk bicara atau sekadar tersenyum. Terlebih ketika Victor memutuskan berpaling dari wajahnya dan terdiam dengan kilat mata yang memancarkan kekecewaan mendalam.
Chloe sadar betul, bahwa dirinya telah menyakiti kekasihnya. Tanpa sadar, kedekatan yang terjalin antara dirinya dan Xavier selama ini merupakan awal keretakan hubungannya bersama Victor.
***
Chloe meletakkan topper cake berbentuk boneka karakter Emily dan Dapper dalam tiga dimensi di atas kue bersusun tiga buatannya yang kini terlihat sempurna. “Woww… cantik,” puji Bibi Marry yang menemani Chloe menghias kue anniversary Emily dan Dapper.
“Apa menurut Bibi, mommy dan daddy akan menyukai kue tartnya?” tanya Chloe.
“Mereka pasti menyukainya Chloe. Kue buatanmu sangat indah dan juga enak,” jawab Bibi Marry sambil memberi Chloe dua jempol.
“Makasih ya Bi udah bantuin hias kuenya.”
“Iya sama-sama. Kalau gitu, kuenya bibi simpan dilemari pendingin dulu ya.”
“Iya bi.”
Bibi Marry lalu memindahkan kuenya ke lemari pendingin, sementara Chloe baru sadar bahwa sejak tadi dia tidak melihat Victor di sekitarnya. Kemana lelaki itu pergi?
Sekarang pukul lima sore, mansion mereka sudah hampir selesai didekorasi, hanya tinggal peletakkan bunga dan papan berisi ucapan selamat yang dikirim khusus oleh kolega Dapper untuk Emily. Sementara para koki masih sibuk berkutat di dapur menyiapkan berbagai hidangan untuk tamu undangan nanti malam.
Chloe memutari tempat tinggalnya namun masih tidak menemukan Victor di sana. Chloe penasaran apakah hilangnya Victor ada kaitannya dengan pembahasan mereka saat dimobil sepulang dari supermarket tadi siang.
Astaga… Victor pasti masih marah. Chloe mendadak panik lalu mengeluarkan ponsel dari saku untuk menelpon kekasihnya, namun bunyi suara operator yang mengatakan Victor sedang dalam panggilan lain membuat dahi Chloe mengernyit.
“Berada di panggilan lain?” Chloe bergumam cemas, pikirannya langsung berkeliaran kemana-mana, takut jika Victor menghilang karena sedang sembunyi untuk menelpon selingkuhannya.
Tidak mungkin, Victor bukan tipikal pria yang tega melakukan itu. Victor yang Chloe kenal adalah laki-laki paling setia, lembut dan baik kepadanya.
Jadi, buang semua pikiran burukmu Chloe!
BERSAMBUNG...