BAB 13 | TWO BOYS AGREEMENT

1951 Words
MALAM hari saat berlangsungnya pesta, para tamu sudah hadir memenuhi ruangan di lantai satu. Chloe mengenakan gaun bertabur payet yang bersinar bak berlian dengan rambut bergelombang yang dibiarkan tergerai, kemunculannya di ujung teratas tangga sontak menjadi perhatian utama seluruh tamu undangan dibawah sana yang menatapnya kagum. “Woww… apakah itu putri Mr.Mackton?” tanya seorang pria pada temannya yang berdiri di sampingnya. “Iya, dia Chloe Mackton. Gadis yang pernah terpilih sebagai wanita tercantik versi VOGUE Magazine,” sahut temannya. Sementara di sisi lain, Xavier dan Javier tak luput menjadi korban pesona Chloe. “Woah… the girl is really beautiful,” puji Javier, begitu juga Xavier yang ikut berkomentar di sampingnya, “Tidak salah jika Chloe dinobatkan sebagai gadis tercantik di Texas.” Kehadiran Chloe itupun menjadi sasaran empuk para media yang beberapa diundang hadir. Sudah tak terhitung berapa kali jepretan kamera yang memotret Chloe disetiap langkahnya menuruni tangga. Sesampainya gadis itu di lantai dasar, ia langsung dikepung oleh para media yang menanyakan bagaimana perasaannya malam ini di hari spesial ayah dan ibunya. “Aku sangat senang malam ini, terima kasih untuk rekan media dan para tamu yang sudah berkenan hadir,” jawab Chloe dengan senyum menawan yang mampu meluluhkan hati para lelaki yang melihatnya. “Sebentar lagi Mom dan Dad akan datang, kita harus bersiap melakukan surprisenya karena aku benar-benar ingin mereka terkejut sampai menangis karena bahagia kita bisa berkumpul untuknya di malam istimewanya ini,” ujar Chloe lagi. Gadis itu kemudian berlalu menyapa kakek dan neneknya yaitu Rebecca dan Robert. Mereka terjebak obrolan cukup lama apalagi sejak nenek dan pamannya yang datang jauh-jauh dari Virginia—Anna dan Ethan ikut bergabung ke pembicaraan bersama Chloe. “Mrs. & Mr.Mackton sudah datang!” teriak Martin setelah berlari melewati pintu belakang. Luke kemudian memberi arahan pada para tamu undangan dan mematikan saklar lampu rumah mereka hingga kini keadaan rumah menjadi gelap gulita. Sementara di luar mansion, Dapper tengah membukakan pintu mobil untuk Emily yang lantas bertanya-tanya mengapa lampu rumah mereka mati. “Mungkin lampu rumah kita konslet.” Dapper mencari alasan, lalu mengajak istrinya masuk ke dalam untuk memeriksa. Emily masih belum sadar kalau dia akan mendapat surprise di rumahnya, hingga kemudian suara petasan confetty serta terompet mengejutkannya di pintu masuk dan secara otomatis lampu rumah menyala hingga mempertontonkan puluhan tamu yang berkumpul di dalam rumahnya. “Surpriseeee!!” teriak semua tamu secara kompak. “Ya Tuhan, apa-apaan ini Dapper? Kenapa… semua orang bisa ada di sini?” Emily bertanya pada suaminya dengan spechless. “Mereka berkumpul di sini untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan kita sayang,” jawab Dapper lalu menuntun istrinya menuju ke tempat kue ulang tahun bertingkat dua miliknya berada. “Happy Anniversary Mom, Dad!” Chloe memeluk ibunya erat lalu mencium pipi kiri dan kanan Emily bergantian. “Happy Anniversary!” Axelion ikut hadir memberi ucapan kepada orang tuanya. Emily dan Dapper terlihat begitu bahagia lalu tak segan memeluk kedua buah hatinya di hadapan para tamu undangan yang terenyuh melihat kebahagiaan keluarga kecil itu. “Lihatlah, aku membuatkan kue untuk Mom dan Dad secara khusus. Kalian menyukainya kan?” Emily memandang takjub kue buatan Chloe yang fantastis. “Very perfect, Mommy menyukainya. Terima kasih putriku.” Lagi-lagi Emily memeluk Chloe sebelum kemudian menempatkan posisi di belakang kue ulang tahun. Semua orang kemudian menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk pasangan itu. Emily dan Dapper meniup lilinnya bersama. Dapper juga memberi pidato yang berisi ungkapan terima kasih kepada para tamu yang sudah hadir serta berdoa untuk hubungan rumah tangga mereka yang lebih baik. Sejak sebelum pesta dimulai, Chloe belum melihat Victor dimana pun. Chloe berpikir lelaki itu menghilang karena marah dengan obrolan mereka di dalam mobil saat pulang dari supermarket. Of course, mana ada manusia yang tidak kecewa dan marah setelah tahu dirinya telah dibohongi? Chloe sungguh merasa bersalah pada Victor, dia harus mencari kekasihnya dan meminta maaf sekali lagi. Chloe mengedarkan pandangan, berusaha mencari Victor di antara puluhan tamu di ruangan itu. Chloe mengangkat gaunnya sedikit lalu berlari mencari ke ruangan lain. Dirinya yakin Victor masih ada di dalam mansion ini, lelaki itu tidak mungkin melewatkan pesta penting kedua orang tuanya. Gadis itu berlarian kesana-kemari mencari pujaan hatinya yang masih tidak menampakkan diri. Xavier menyadari kegelisahan gadis itu lalu berniat mengikutinya saat Chloe menaiki tangga. Tetapi seseorang tiba-tiba menghentikannya dengan menarik kerah bajunya dari belakang. “Urusanmu adalah denganku bung.” Suara berat dan dingin itu berasal dari Victor. Xavier sedikit terkejut menemukan keberadaan laki-laki itu yang ada di sini, sedangkan kekasihnya sedang kalang kabut mencari ke lantai atas. “Apa maumu?” Xavier menyentak tangan Victor supaya melepas cengkeramannya. “Harusnya aku yang bertanya begitu. Apa yang sebenarnya kamu harapkan dari Chloe?” balas Victor, sengit. “Dia temanku, dan aku berhak melindunginya dari pria sepertimu,” jawab Xavier sambil merapikan jas yang dikenakannya, terkesan cuek membalas Victor. “Pria seperti apa yang kau maksud? Aku adalah kekasihnya!” Victor hampir terpancing amarah, tangannya mengepal seolah siap untuk memukul pria di depannya kapan saja. “Kekasih kamu bilang?” Xavier membalas remeh, “kekasih mana yang tidak ada saat pasangannya dalam bahaya? Kekasih mana yang tidak ada saat pasangannya sedang sedih? Kau pikir hanya dengan statusmu kau bisa melakukan segalanya untuk Chloe? Tidak,” Xavier tersenyum kecut. Terdapat jeda sepersekian detik sebelum kemudian Xavier kembali angkat suara, “Yang kamu pikirkan selama ini hanyalah kesuksesanmu sendiri!” Mungkin, di mata semua orang—seperti itulah kelihatannya. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana Victor mati-matian melindungi Chloe dan apa tujuannya untuk sukses. Semata-mata semua Victor lakukan atas dasar demi kebahagiaan gadis yang dicintainya. Tapi Victor tidak perlu menjelaskan itu semua, tidak peduli apakah Xavier paham atau tidak, itu bukan hal penting karena dia bukan siapa-siapa mereka. Xavier hanyalah lelaki asing yang tidak tahu apa-apa dan berpikir dirinya adalah seorang super hero berkedok sahabat Chloe. “Aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk membuatmu mengerti. Satu hal yang ingin aku katakan padamu sekarang adalah…” Victor menghela napas panjang, masih dengan tatapan tajam mengarah pada Xavier, “tolong jaga Chloe saat aku tidak ada di sampingnya.” Perlahan, bola mata Xavier membulat. Tidak menyangka Victor akan menyuruh untuk menjaga kekasihnya. Victor terkekeh sejenak melihat ekspresi spechless Xavier. “Aku menyuruhmu untuk menjaganya, bukan untuk mencintainya jadi jangan memasang tampang terkejut seperti itu,” kelakar Victor, kali ini ekspresinya berubah datar. Sejak setelah pembahasan di mobil sepulang dari supermarket tadi siang, Victor menghilang untuk merenungkan banyak hal. Walau ia sangat membenci Xavier bahkan tidak rela apabila lelaki itu berada di dekat gadis yang dicintainya, tapi Victor menyadari bahwa hanya Xavier lah satu-satunya pria yang bisa dia percaya untuk menjaga Chloe di saat Victor tidak ada. Victor telah berpikir ribuan kali dan akhirnya memutuskan untuk memercayai Xavier sebagai penjaga Chloe. Keputusan ini diambil juga karena Victor memercayai kekasihnya sendiri. Victor yakin Chloe mampu menjaga perasaannya, dia bisa melihat ketulusan dari sepasang mata biru milik Chloe. Gadis itu tidak akan mudah memalingkan hati ke laki-laki lain, bahkan ke Xavier yang selama ini merupakan teman kecilnya sekalipun. Selain itu, Victor juga memiliki agen mata-mata yang lain. Dia akan bertugas sebagai dinding pembatas antara hubungan Xavier dan Chloe, mengingat selama ini mereka sering menghabiskan waktu bertiga. Coba tebak sendiri siapa agen mata-mata itu. “Apa kau menyembunyikan penyakit kronis yang sebentar lagi mampu merenggut nyawamu?” Xavier bertanya dengan dahi berkerut, heran dengan permintaan Victor yang sangat jauh dari prediksinya. Victor memutar bola mata, lalu menjawab agak kesal, “Aku sehat, masih mampu hidup sampai menikah dengan Chloe dan menempuh masa tua bersamanya.” Xavier meringis, jadi bukan karena itu. “Lalu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba menyuruhku menjaga Chloe?” Xavier masih berusaha mengorek informasi lebih dalam. Namun dari awal Victor telah menekankan bahwa dia tidak akan berusaha membuat Xavier mengerti. “Aku sudah bilang sebelumnya. Aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk membuatmu mengerti. Apa kau tidak paham dengan kalimat itu?” sergahnya yang kemudian membuat Xavier mencebik. “Dasar sok misterius,” cibirnya. “Lagi pula, tanpa kau menyuruhku pun aku selalu melindunginya selama ini,” lanjutnya sambil menatap Victor untuk melihat reaksinya. Dan ternyata tidak ada jejak murka di raut ekspresinya. Lelaki itu justru tersenyum lalu menjabat tangan Xavier secara paksa. “Baiklah, senang bekerja sama denganmu. Tapi ingat… pertandingan kita merebutkan posisi nomor satu di OLIEFB masih berlaku. Jadi jangan berpikir kalau aku adalah sekutumu,” ujar Victor, yang terdengar menyebalkan di telinga Xavier. Tanpa banyak basa-basi, Victor kemudian melangkah menaiki tangga menyusul Chloe yang mungkin masih berusaha mencarinya. Sedangkan Xavier hanya termenung melihat kepergiannya ke lantai atas. Xavier penasaran apa yang sedang Victor rencanakan. Tidak mungkin lelaki itu tiba-tiba menyuruhnya dengan suka rela untuk melindungi kekasihnya tanpa alasan yang jelas. Ntah apa yang sedang terjadi, mungkin sekarang tujuan mereka sama yaitu keselamatan Chloe. *** Victor bergeming, mengamati dari jauh seorang gadis yang sedang berjongkok memeluk lutut sembari terisak di sudut balkon lantai dua yang temaram. Chloe pasti sedih karena mengira dirinya menghilang karena marah padanya. Padahal tidak. Awalnya Victor memang marah karena Chloe dan Natalie berkompromi membohonginya terkait Xavier, tapi tidak lama kemudian Victor mulai berpikir rasional sehingga mendapat keputusan akhir dengan mengizinkan Xavier berada di sisi kekasihnya—bahkan menyuruh lelaki itu melindungi Chloe. “Iam sorry.” Victor berjongkok di depan Chloe dan membuat gadis itu mendongak menatapnya dengan mata basah. “Sorry for making you cry,” lanjutnya seraya mengusap bulir air mata Chloe. Tetapi bukan perminta-maafan yang Chloe inginkan, melainkan melihat Victor masih ada di sini bersamanya adalah hal yang paling membuatnya lega. “Victor!” Chloe menyerukan nama Victor kemudian berhambur ke pelukannya. “Kupikir kamu sudah pergi meninggalkanku hiks...” Chloe berkata sesenggukkan, “aku takut sekali jika kehilanganmu Vic,” sambungnya dengan air mata terus bercucuran keluar. Victor mengusap punggung Chloe naik-turun. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu baby. Percayalah… walaupun selama ini kita tidak bertemu, tapi aku selalu melindungimu dari jauh,” ujar Victor, suaranya yang lembut menenangkan hati Chloe. “Aku percaya, karena aku pun merasakannya. Kamu selalu melindungiku dari jauh maupun dari dekat,” sahut Chloe, yang telah berhenti menangis. Tangan Victor mengacak lembut poni rambut Chloe hingga sedikit berantakan, sementara Chloe tersenyum menerima perlakuan manisnya. “Jika suatu saat ada berita buruk tentang diriku yang bisa menyakitimu, apakah kau akan tetap percaya padaku?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Victor. Chloe tertegun. “Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu berniat menyakitiku?” Chloe balik bertanya dengan suara pelan. Matanya yang tadi berbinar meredup ketakutan. Victor mengulas senyum, sekuat mungkin menyembunyikan kekalutan yang dirasakan dalam benaknya. Chloe tidak boleh sampai tahu tentang perjodohannya dengan Amanda. Tidak boleh! Victor menekankan itu dalam hati, “Aku hanya sekedar bertanya, dan kamu sudah setakut itu humm?” Tangan Victor terjulur menyelipkan poni rambut Chloe ke belakang telinga supaya tidak menutupi wajahnya yang cantik. “Apakah kamu meragukanku?” tambah Victor dengan kedutan senyum yang kali ini tidak setulus sebelumnya. Kepala Chloe menggeleng keras. “Tidak. Aku percaya padamu,” jawab Chloe, tegas. Jemari Victor menyentuh dagu Chloe, lalu mengangkatnya sambil berkata, “Aku senang kamu percaya padaku Chloe, dan aku tidak akan pernah mematahkan kepercayaanmu padamu.” Mata hijau Victor menatap lekat sepasang mata biru milik Chloe yang telah terjerat dengan pesonanya. “Maka ketika kamu mendengar sesuatu yang buruk tentangku, itu bukanlah hal yang benar. Karena semua yang kulakukan, semata-mata demi dirimu.” Victor kembali berucap serius. Chloe menyangka Victor hanya sedang menggombal, gadis itu tidak sadar bahwa Victor serius mengatakannya untuk meyakinkan Chloe. Tapi entah itu serius atau memang hanya sebatas rangkaian kata yang indah, Chloe tetap bahagia mendengarnya. Terlebih pada dua kata terakhir dari yang Victor ucapkan. Demi dirimu… rasanya Chloe teramat beruntung mendapat hak istimewa itu dari lelaki yang sangat ia cintai. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD