Q U A T T O R D I C I

1375 Words
SELAMAT MEMBACA! ☆☆☆ Raefal membuka kedua matanya perlahan-lahan, kemudian ia mengedipkan matanya berkali-kali berusaha untuk mengumpulkan kembali nyawanya sedikit demi sedikit. Gelap. Semuanya terlihat sangat gelap, Raefal melihat sekelilingnya dan ia baru sadar bahwa dirinya masih berada di tempat yang sama, di tempat Hanna. Raefal kembali menatap gundukan tanah yang di tumbuhi rumput hijau yang sangat lebat itu, Raefal mengusap batu nisan milik Hanna, kemudian menciumnya cukup lama. Dan lagi ... ia tak bisa menahan butiran air yang kembali menggenang di kedua matanya. Butiran air itu kembali jatuh menetes membasahi kedua pipinya. "Bunda ... Raefal cengeng ya?" Tanya Raefal diselingi tawa kecilnya, "Raefal pulang dulu ya, Bunda? Nanti Raefal ke sini lagi. Bunda baik-baik di surga sana." Raefal kembali mencium batu nisan Hanna, "Raefal sayang, Bunda ..." Raefal tersenyum, lalu ia  beranjak untuk pergi dari sana. "Assalamu'alaikum, Raefal pulang dulu ya, Bunda." Setelah itu, Raefal mulai meninggalkan makam Hanna dengan berat hati. Ia sangat merindukan kehadiran Hanna di sisinya. Raefal segera memasuki mobil dan mulai menyalakan mesinnya. Sebelum menancap gas, Raefal mengecek ponsel untuk melihat jam. 07.15 pm. 27 missed calls from Zea Nayara 48 missed calls from Mama❤ "Oon banget si lo, Fal! Pasti Mama sama Zea nyariin gue." Umpat Raefal dengan kesal. Lagipulan, kenapa sih Raefal harus tertidur di makam Hanna tadi? Tanpa banyak berpikir lagi, Raefal langsung menancap gas untuk kembali pulang ke rumahnya. Perjalanan pulang tak semulus yang Raefal harapkan, malam ini sangat banyak kendaraan yang berlalu lalang, sehingga menimbulkan kemacetan yang lumayan parah. Raefal melihat kedua matanya melalui kaca dan betapa terkejutnya dia saat melihat matanya yang sembab. Tidak terlalu kentara, namun jika di perhatikan dengan teliti, pasti terlihat sembab. Raefal belum siap untuk dicecari banyak pertanyaan oleh Ratna saat Raefal pulang nanti. Kendaraan mulai maju perlahan-lahan. Hujan kembali turun menemani perjalanan pulang Raefal malam ini. Raefal memarkirkan mobilnya di sebuah mini market, ia haus dan ia akan membeli minuman. Namun, hujan turun dengan begitu deras dan Raefal tidak membawa payung. Akhirnya, Raefal memutuskan untuk menerobos hujan, daripada ia terus berdiam diri di sana yang akan semakin memakan waktu lama lagi untuk sampai ke rumah. Setelah membayar di kasir, Raefal kembali menerobos hujan yang belum juga mereda untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang. Akhirnya ia sampai di rumah setelah satu jam lebih berada di perjalanan. Namun sialnya, baju Raefal masih basah sedangkan di rumahnya tidak hujan sama sekali. Raefal melihat Ratna yang sedang menunggunya di depan pintu dengan raut wajah yang terlihat begitu cemas. Mau tidak mau, Raefal harus turun sekarang juga. "Sayang ... kamu dari mana aja?" Ratna memegang kedua pipi Raefal dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, "kenapa baju kamu basah gini? Ayok masuk, langsung ganti baju ya. Mama mau buatin s**u hangat untuk kamu dulu." Raefal tersenyum melihat betapa Ratna menyayangi dirinya, "Iya, Mama Ratna yang cantik." Raefal menyengir lebar dan mereka berdua mulai masuk ke dalam. "Oh iya, ada Zea. Tapi, dia lagi ke kamar mandi. Kamu ganti baju dulu aja." Ujar Ratna kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur. Raefal tidak menuruti perkataan Ratna, ia malah pergi ke ruang tamu untuk menemui Zea. Ternyata Zea sudah berada di ruang tamu dan saat ini ia sedang menundukan wajahnya sambil memainkan jari-jemarinya. "Ze?" Panggil Raefal saat ia sudah berdiri tepat di hadapan Zea. Zea mengangkat wajahnya dan sudah bersiap untuk memeluk Raefal, namun Zea urungkan dan malah mengernyitkan dahinya. "Raefal abis kecebur di mana?" Tanya Zea heran melihat baju Raefal yang basah seperti itu, padahal di luar tidak hujan sama sekali. "Di got." Jawab Raefal enteng. "Kok ngga kotor?" Tanya Zea masih terheran-heran. "Kamu percaya aku kecebur di got?" Tanya Raefal sedikit jengkel tapi gemas. Zea hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang amat polos. "Terus Raefal kenapa basah?" "Kehujanan." "Bohong aja kamu! Orang ngga hujan kok dari tadi." Zea menyipitkan kedua matanya, berusaha terlihat seperti sedang mengintimidasi Raefal. "Buat apa aku bohong? Tadi kehujanan pas mampir ke mini market." "Oh ... yaudah ganti baju sana, hush!" Usir Zea sambil mengibaskan tangannya. Padahal ini rumah Raefal, mengapa malah Raefal yang di usir-usir seperti itu? Ah ... namanya juga Zea. Kalau cewek itu tidak aneh, patut di curigai. "Yaudah aku ganti baju dulu." ucap Raefal lalu mulai berjalan menuju kamarnya. *** Raefal kembali ke ruang tamu dengan pakaian yang sudah berganti. Ia mengenakan celana jeans selutut dengan kaos pendek berwarna abu-abu. Rambutnya yang masih basah ia usap dengan tangannya berkali-kali hingga terlihat sangat berantakan dan hal itu membuat Zea menelan salivanya dengan susah payah. Raefal terlihat berkali-kali lebih tampan jika rambutnya berantakan seperti itu. Melihat Zea yang menatapnya seperti itu, Raefal segera duduk di samping Zea dan memegang kening gadis itu. "Kenapa? Kamu sakit?" Zea menggeleng dengan cepat, "Raefal ganteng banget ..." Ujarnya dan hal itu sontak membuat kedua sudut Raefal melengkung dengan sempurna. "Segitu gantengnya aku ya? Sampe kamu bengong kayak tadi? Hahaha ..." Tawa Raefal pecah saat itu juga. Dan melihat Raefal tertawa seperti itu, kadar ketampanannya sudah melebihi ambang batas, "Raefal sekarang tambah ganteng ... udah dong jangan ketawa terus, jantung Zea udah ngga kuat. Raefal mau bikin Zea mati, ya?" Kata Zea yang langsung menutup rapat mulut Raefal agar lelaki itu berhenti tertawa. Raefal m******t tangan telapak tangan Zea yang membekap mulutnya dan hal itu tentu saja langsung membuat Zea menarik tangannya dari mulut Raefal. "IH, RAEFAL!!!" Teriak Zea dengan kesal lalu menggesekan telapak tangannya ke baju Raefal. Setelah itu, Zea langsung mengigit lengan Raefal dengan sangat kencang. "ADUH, AMPUN ZE, AMPUN!!" Ucap Raefal memohon. Zea melepaskan gigitannya dan tersenyum penuh kemenangan, "Satu sama, wlee!" Zea menjulurkan lidahnya mengejek Raefal. Raefal tertawa, kemudian mengacak rambut Zea dengan sangat gemas. "Oh iya, Raefal kemana aja? Ngga masuk sekolah, ngga kasih kabar, Zea telpon ngga diangkat, Zea kirim pesan ngga dibalas." Zea menarik napas dan memanyunkan sedikit bibirnya. "Abis ketemu Bunda." "Lho? Bukannya Bunda kamu-" "Abis dari makam Bunda." "Oh gitu ... kenapa ngga bilang Zea? Zea kan juga mau ketemu sama Bundanya Raefal." "Nanti pasti aku ajak kamu ketemu Bunda, kok." Raefal tersenyum hangat. Malam ini mereka terus berbincang. Membicarakan hal kecil yang seharusnya tidak perlu di bahas sampai hal yang berharga untuk mereka. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Pulang?" Tanya Raefal dan Zea langsung mengangguk. Sebelum pulang Zea berpamitan kepada Ratna dan Raefal meminta izin untuk mengantarkan Zea pulang. "Tante, Zea pulang dulu, ya? Makasih, Tan. Assalamu'alaikum!" Zea mencium punggung tangan Ratna dengan lembut. Untungnya malam ini jalan raya untuk menuju ke rumah Zea tak begitu padat. Jadi, Raefal bisa lebih cepat mengantarkan Zea sampai di rumahnya. Tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Zea. Zea dan Raefal bisa melihat ada seseorang yang sudah menunggu Zea di depan pintu rumah. Zea turun bersama Raefal. Raefal harus meminta maaf karena sudah memulangkan Zea sampai semalam ini. "Assalamu'alaikum, Papa!" Zea mencium tangan Ray tanpa ada rasa takut sedikitpun, padahal wajah Ray sudah terlihat sangat marah. "Wa'alaikumsalam, Zea tahu sekarang jam berapa?" Tanya Ray dengan wajah datar namun menakutkan. "J-jam se-" "Apa Papa pernah mengajarkan kamu pulang sampai larut malam seperti ini?" Zea menggeleng dan menundukkan wajahnya dalam-dalam. "Hey!" Tunjuk Ray pada Raefal yang berada persis di hadapannya, "Siapa kamu? Berani sekali mengajak anak saya main sampai larut seperti ini!" Kilat marah terlihat jelas di kedua mata Ray. "Om ... maaf saya terlambat mengantar Zea pulang. Perkenalkan saya Raefal, om." Raefal ingin mencium punggung tangan Ray, namun Ray segera menjauh dari Raefal. "Jadi kamu Raefal? Saya peringati kamu, mulai sekarang jangan temui dan ganggu anak saya lagi. Pergi!" Bentak Ray dengan keras. "Tapi om-" "TIDAK ADA TAPI-TAPI, SAYA BILANG PERGI, YA PERGI!" Ray menatap Raefal dengan tajam, tubuhnya menjadi gemetar karena mengeluarkan amarahnya yang begitu memuncak. "Papa ... " "ZEA MASUK! NGGA USAH IKUT CAMPUR!" Ray juga membentak Zea, Zea hanya bisa menuruti ucapan Ray dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Om, salah saya apa? Saya sayang Zea, om-" "Kamu tidak mengerti bahasa manusia? Harus pakai bahasa apa untuk mengusir kamu dari sini? Salah atau tidaknya kamu tidak perlu tahu, yang terpenting saya tahu yang terbaik untuk anak-anak saya. Sekali lagi saya melihat kamu masih bersama dengan Zea, saya tidak akan segan-segan untuk melakukan hal yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya." Ucap Ray dengan tegas. "Saya harus melakukan hal apa agar Om percaya sama saya? Saya sayang Zea, Om. Beri saya kesempatan untuk membuktikan itu semua." Raefal berusaha memohon. "TIDAK AKAN SAYA BERIKAN KESEMPATAN APAPUN UNTUK KAMU. PERGI!" Ray memutar tubuhnya dan menutup pintu dengan sangat kencang. Tubuh Raefal lemas. Tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Kesempatan tidak akan pernah ada untuk dirinya. Raefal kembali berjalan menuju mobil, ia menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil, ia menutup wajahnya dan menarik rambutnya putus asa. Cairan kental berwarna merah kembali mengalir dari hidungnya, Raefal mengusapnya dengan kasar. Lalu ia memukuli kepalanya sendiri dengan sangat kencang. "s**t!"  Hanya satu kata itu yang bisa Raefal ucapkan saat ini. ☆☆☆
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD