Memutuskan

1842 Words
Nampak di atas meja itu begitu banyak makanan yang sudah tersedia. Bahkan meja itu tidak muat untuk meletakkan makanan yang baru tersaji lagi. Kayra dan Daren pun bingung, bagaimana cara mereka menghabiskan semua makanan ini? Hingga akhirnya mereka pun tertawa bersama. "Astaga, Mas, gimana ini? Kamu juga sih pake acara pesen semua yang ada di menu segala. Repot juga kan jadinya." Begitupun dengan Daren. Pria itu terkekeh hingga tertawa geli. "Iya juga sih, Neng. Perut mas juga gak bakal muat buat habisin semua ini." Melihat mereka berdua tertawa, tidak sedikit orang yang melihat ke arahnya. Semua orang bahkan pengunjung restoran pun melihatnya dengan takjub. Bagaimana bisa seseorang memesan makanan sebanyak itu? "Hei Bum, banyak sekali yang kau pesan itu. Apa kau sanggup menghabiskan semuanya?" terucap dari bibir pria yang duduk di belakangnya. "Entahlah, tapi sepertinya saya takkan sanggup. Apa kau bisa membantuku untuk menghabiskan semua ini?" kata Daren. Menerbitkan wajah gembira, pria itupun mendekat ke arah Daren dan Kayra. "Benarkah itu, Bum? Anda baik sekali!!" "Ya, tentu saja. Ambil saja makanan mana yang mau kau makan sekarang!!" Daren tersenyum senang melihat pria itu mengambil beberapa porsi di meja nya. Namun, berbeda dengan Elisa dan Jia di sana. Mereka terlihat seperti tidak senang. "Lihatlah itu, kita lihat saja mereka, apa benar Daren bisa membayar semua makanan yang dia pesan?" cetus Jia. Elisa lantas berkata, "Ibu hanya menunggu Daren diusir dari sini dan pihak restoran mempermalukannya di depan umum." Bukan hanya satu orang saja, tetapi Daren dan Kayra membiarkan orang lain menikmati hidangan tersebut. Siapa yang mau maka mereka akan mengambilnya. "Neng, sebaiknya kita pisahkan untuk ayah sekalian kita ke tempat ayah kerja, sebentar lagi waktunya jam istirahat," kata Daren. Kayra mengangguk senang. Rupanya Daren selalu ingat akan ayahnya di sana. Kayra pun mengambil beberapa bagian untuk sang ayah mumpung belum habis semua. Setelah puas dengan makan siang nya, Daren pun memanggil pekerja restoran itu untuk membayar semua tagihan. Otomatis pekerja itu memberi selembar kertas berukuran panjang padanya. Daren lantas tersenyum dan mengambil sebuah kartu di dalam dompetnya. Sementara Kayra khawatir dengan tagihan itu. Kayra bahkan masih penasaran berapa yang harus Daren bayar untuk semuanya. Namun, di sana rupanya Elisa sudah menarik kertas itu dan melihatnya. Kedua matanya melotot dan hampir pingsan. "Bu, ibu gak apa-apa?" Kayra dan Jia pun langsung menangkap tubuh Elisa yang hampir terjatuh. "I-ibu gak papa, ibu baik kok!!" Elisa memegang kepalanya sendiri, mencoba untuk bangkit. "K-kamu ..." ucapnya gelagapan. Elisa bahkan tidak bisa berkata lagi. "Gak apa bu, uangku cukup kok!!" jawab Daren tenang. Lantas, ia pun memberikan kartu itu kepada pekerja restoran. Tit!! Menandakan jika kartu tersebut berhasil membayar semua tagihan yang sebelumnya Daren pesan. "Ini Pak kartunya, semua transaksi nya sudah berhasil," kata pekerja restoran itu. "Hey!!" Bukan Daren yang mengambil kartu itu melainkan Hans yang menariknya dari tangan pekerja tersebut. Hans memperhatikan kartu milik Daren dan melihat berapa tagihan yang telah ia keluarkan. "Apa kau pencuri?" cetusnya. Sontak saja, semua orang bahkan melihat ke arah Daren sekarang. "Apa?" Daren bahkan tidak mengerti bagaimana bisa Hans menuduhnya seperti itu. "Tolong jaga bicaramu. Aku tidak pernah mencuri dan itu resmi milikku!!" lanjutnya lagi. Di sana Kayra merasa geram akan sikap kakak iparnya itu. Kayra tahu jika kartu itu milik suaminya. Bahkan setiap bulan dan setiap Daren mendapatkan uang dia juga yang suka memegangnya. "Kak Hans, itu milik suamiku, aku tahu dan aku sendiri yang suka memakainya," kata Kayra sedikit meninggikan suaranya. "Kay kamu tidak berhak membentak kakak iparmu sendiri," lanjut Jia tak terima kalau Kayra berkata seperti itu. "Seharusnya Kak Jia marah sama suami Kak Jia sendiri bukan sama aku. Beraninya Kak Hans menuduh suamiku pencuri. Memangnya ada bukti kalau suamiku pernah mencuri!!" hardik Kayra lagi. Saudara kandung itu malah bertengkar dalam situasi seperti ini. Sebisa mungkin Daren menjauhkan Kayra dari Jia agar tidak berkepanjangan. "Sebaiknya kita keluar dari sini, Neng. Gak baik loh kamu marah sama kakakmu sendiri," kata Daren tenang. Sementara Jia dan Elisa masih terlihat emosi. "Jangan sok jadi pahlawan ya!! Kami bertengkar juga gara-gara kamu, sial." Jia pun mengambil kartu itu dari tangan suaminya. "Sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang juga, atau bila perlu kamu keluar dari rumah ibu juga. Aku gak sudi rumah ibu ditempati sama adik ipar sepertimu, Daren. Pria miskin, gak berpendidikan, gak bisa didik istri dengan baik sampai-sampai adikku melawan kakaknya sendiri," hardik Jia lagi. Tak terima dengan perkataan itu, Kayra pun menarik rambut Jia hingga mereka saling tarik menarik. Suasana restoran itu menjadi gaduh akibat ulah mereka. Daren dan Hans pun berusaha untuk memisahkan keduanya. "Sudah cukup, hentikan!!" Elisa berteriak. "Kalian ini apa-apaan, huh!! Malu-maluin ibu aja!! Jia benar, sebaiknya kamu keluar dari sini sekarang juga, Kay. Ibu udah gak tahan sama kelakuan kamu. Ibu juga nyesel udah setuju kamu tinggal di rumah ibu. Sekarang juga sebaiknya kamu kemasi semua barang kamu dan pindah sebelum ibu pulang." Kayra dengan perasaan tak menentu, ia pun sudah meneteskan air matanya merasa sesak. "Ibu juga ngusir aku?" "Ya!! Selama kamu berumah tangga sama pria tak berguna ini, ibu gak akan anggap kamu anak ibu. Ibu gak punya anak bandel kayak kamu, Kay. Sudah lama ibu nyuruh kamu buat jauhin dia, tapi apa buktinya, kamu malah semakin keterlaluan dan terus membelanya. Lebih baik ibu kehilangan satu anak daripada ibu punya banyak anak tapi terus nyakitin hati ibu." Elisa sedikit membentak Kayra. "Apa ibu bilang? Aku? Nyakitin ibu?" Kayra bahkan semakin merasa sesak akan perkataan ibunya sendiri. "Baik, kalau itu mau ibu. Aku akan pindah sekarang juga dan aku gak bakal kembali lagi ke rumah itu sebab aku bukan lagi anak ibu." Kayra menarik tangan Daren dan keluar dari restoran itu. "Ya, pergi aja Kay, kamu emang bukan anak ibu lagi. Terus aja bela suamimu yang pengecut itu!!" Hiks ... Di luar sana, Kayra terus menangis memeluk suaminya. Ia menyesal sudah memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya. Rupanya Elisa semakin keterlaluan. Setelah terus-terusan menghina sang suami, kini Elisa dengan gampangnya mengusir anaknya sendiri? "Udah, jangan diambil hati, lebih baik kita ke tempat kerja ayah ya!! Lupakan perkataan ibumu, saat ini mungkin dia sedang emosi," jelas Daren lagi. Ia tak mau hubungan antara ibu kandung dan anaknya buruk. Maka dari itu sebisa mungkin ia menenangkan Kayra. Kayra pun berkata, "Tapi kata-kata ibu udah bikin aku sakit, Mas. Bisa-bisanya ibu berkata seperti itu sama anaknya sendiri. Sebenarnya aku ini anak siapa?" "Huss!! Gak boleh bicara seperti itu, kamu itu anak ibu dan ayah yang cantik dan baik, aku yang jadi saksi akan semua itu." Kini, Kayra pun bisa tersenyum. Daren benar, untuk saat ini mungkin Elisa sedang emosi. Makanya dia bisa berkata sembarangan seperti itu. Seharusnya Kayra memakluminya, bukan? "Yuk kita pergi sekarang," ajak Daren lagi. Ia tak mau melihat Kayra terus bersedih. Akhirnya Kayra pun mengangguk dan mau ikut dengan Daren untuk menemui sang ayah di tempat kerjanya. Sebentar lagi waktunya jam istirahat, Kayra dan Daren tidak mau terlambat memberikan makanan itu sama ayahnya. Tiba di tempat kerja Darma, Kayra pun langsung memberikan sebuah kotak makanan itu kepada ayahnya. Lantas, Darma pun menerima kotak itu dengan senang. "Tak perlu repot-repot, Nak. Ayah bisa beli makanan di sini," kata Darma. Selama ini memang tidak pernah ada yang mengirim makanan pada jam istirahat. "Gak papa, Yah. Sekalian aku lewat ke sini juga kok!!" jawab Kayra. Darma tersenyum, membuka isi kotak itu dan langsung melahapnya dengan puas. Rasanya begitu nikmat, apalagi ditemani oleh putri dan menantunya di sana. "Hey Darma, kemarin kamu bilang ada yang mau bekerja di bagian pengangkut barang. Mana? Apa kau sengaja berbohong padaku?" terucap dari seorang pria yang tiba-tiba datang dan menepuk pundak Darma. Hampir saja tersedak, sampai Daren memberinya air minum untuk meredakannya. "Kau ini mengagetkanku saja. Ini dia orangnya, dia mantuku dan dia yang ingin aku bawa ke sini tadinya. Hanya saja tadi pagi dia lupa bawa cv nya sampai dia balik lagi buat ambil. Mungkin karena waktunya sudah terlambat, kemungkinan besok dia ngelamar ke sini," jelas Darma. Namun, pria itupun malah terkekeh. "Kau ini, tak perlu lah pake surat lamaran segala. Kalau mantumu mau sekarang pun dia bisa bekerja," ucapnya lantang. Darma terkejut. "Iyakah?" "Tentu saja. Kau ini kan mertuanya, tentu saja bisa memasukkan orang tanpa memakai surat lamaran segala. Apalagi dia ini mantu kau, ah kau ini. Memangnya lamar kerja buat bagian dalam apa!!" Lantas, Darma pun tertawa bersama pria tersebut. Benar juga. Lagi pula mereka hanya membutuhkan seorang pengangkut barang, bukan seorang yang bekerja di bagian dalam ataupun produksi. "Jadi, saya bisa langsung kerja sekarang?" tanya Daren yang berhasil menghentikan tawa mereka berdua. Pria itupun menepuk pundak Daren. "Tentu saja. Bagian kami sangat membutuhkan pekerja sepertimu." "Kami?" Daren lantas membeo lagi. Ia tak paham dengan ucapan 'kami' "Ya, kami." Daren dan Kayra pun menoleh ke arah Darma yang hanya menundukkan kepalanya. "Jadi ... ayah ..." "Ayah hanya seorang angkut barang," jawab Darma menyela. "Jadi, selama ini ayah bekerja sebagai angkut barang? Kenapa ayah gak pernah cerita sama aku? Dan kenapa ayah bilang kalo ayah kerja di bagian yang enak di sini?" kata Kayra tak terima jika ayahnya sudah menbohonginya selama ini. "Maafkan ayah, ayah cuma ..." Daren menarik tangan Kayra agar tidak pergi begitu saja. "Sudahlah, sayang. Mungkin ayahmu tidak mau kalian khawatir akan pekerjaannya," ucap Daren. Kayra pun mendengarkan perkataan suaminya dan mau duduk kembali. Daren benar. Dibalik pekerjaan dan jabatan yang ayahnya miliki, pasti ada cerita dibalik itu semua. Apalagi Kayra ingat akan sifat ibunya selama ini. Kayra mengerti sekarang. "Ya sudah, kalau begitu saya kembali ke dalam ya. Dan untuk kau anak muda, kau bisa mulai bekerja sekarang juga sesudah jam istirahat," katanya lagi. "Daren, panggil saya Daren," ucap Daren kemudian. "Ah, iya, Daren. Saya akan ingat nama itu." Pria itupun tertawa dan dia sudah pamit untuk kembali ke pekerjaannya. Sementara di sana, Kayra nampak terlihat seperti cemberut. Sekarang apa lagi yang sedang ia pikirkan? "Loh, kamu kenapa sayang, kok cemberut lagi?" tanya Daren yang peka akan sikap istrinya. "Aku ... kalau kamu langsung kerja, terus aku pulang sama siapa?" katanya. "Ooh, soal itu, biar mas yang antar kamu pulang dulu ya!!" "Tapi ibu ..." "Ada apa lagi sama ibu kamu, Kay?" Darma menyela ucapan Kayra. "Ibu ngusir aku, Yah, dia ..." Kayra pun menceritakan semua yang telah terjadi siang ini. Darma sampai menggelengkan kepalanya mendengar kelakuan istrinya yang seperti anak kecil itu. "Jangan dengarkan perkataan ibumu. Kamu pulang aja dan jangan kalian pindah dari rumah begitu saja. Ayah senang kalian tinggal sama ayah, dengan begitu ayah jadi punya teman untuk bicara selain ibumu, Daren. Selama ini ibumu selalu mementingkan urusannya dengan teman-temannya, kalau bukan dengan temannya ibumu pasti akan sibuk dengan Jia sementara ayah ditinggal sendirian. Ayah mohon, kalian jangan keluar dari rumah. Tolong jangan anggap perkataan ibumu ya!!" Daren dan Kayra pun melihat satu sama lain. Mereka bahkan tidak tahu jika selama ini ibunya seperti itu. Kayra seolah bertanya kepada Daren dalam hatinya. Mempunyai sifat peka, Daren pun mengerti dan dia pun tersenyum. "Iya Yah, kami gak akan pergi dari rumah ayah dan kami akan tetap tinggal di sana buat temenin ayah," ucap Daren sampai Kayra pun tersenyum seolah setuju. Ia juga tak tega melihat ayahnya kesepian di rumah. "Syukurlah, ayah senang mendengarnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD