Tidak mungkin Daren mengatakan jika ia sedang kirim pesan dengan Imron. Bisa-bisa Kayra malah salah paham tentangnya. Apalagi mereka sedang membahas mengenai tugas yang diberikan oleh sang paman.
"Hmm, itu ... aku lagi chat-an sama yang aku tolong kemarin, ternyata orangnya suka becanda dia," jawab Daren. Hanya itu yang bisa ia katakan sebagai alasannya.
Kayra hanya memanggut saja. Selama ini memang suaminya tak pernah berbohong, ia percaya semua yang diucapkan Daren.
"Gimana, udah siap?" tanya Daren.
"Udah."
"Yuk pergi!!" Daren menggenggam tangan Kayra dan membawanya keluar untuk sekadar menghibur sang istri. Ia hanya tidak mau Kayra kepikiran mengenai keluarganya. Apalagi kedatangan sang kakak membuatnya terlihat tertekan.
Daren mengajak Kayra keluar hanya dengan menggunakan angkutan umum saja. Walaupun begitu, tetapi Kayra suka. Sudah seperti biasanya mereka jalan berdua tanpa kendaraan pribadi.
Tiba di sebuah tempat ramai banyak orang, di sana juga ada tempat belanja yang tak lain ialah Mall besar dan bertingkat. Namun, Kayra dan Daren memilih jalan di luar Mall itu saja. Baginya, berkeliling melihat pedagang kaki lima itu lebih menarik.
"Kamu mau beli apa, Neng?" tanya Daren sambil terus memegang tangan Kayra.
"Hmm, kita jalan-jalan aja, gak usah beli apa-apa. Bukankah uang kita tidak cukup untuk membeli sesuatu?" jawab Kayra.
Daren hanya terkekeh di sana. "Kamu ini, kalo kamu mau beli sesuatu beli aja, kebetulan mas juga masih ada sisa nih!!" kata Daren.
Sontak saja Kayra menghentikan langkahnya dan bertanya. "Uang dari mana lagi? Kok Mas gak cerita sih sama aku. Sebenarnya Mas punya uang berapa?" Kayra tak mengerti, biasanya Daren selalu terbuka. Tetapi sekarang, bahkan uang yang Daren pegang pun ia tidak mengetahuinya. Ada apa ini sebenarnya?
"Begini, kemarin waktu mas dipecat, mas juga gak tau kalau ada uang di rekening. Pas cek kemarin eh ternyata ada. Gak banyak sih, tapi ya lumayan buat beliin sesuatu untuk kamu, sayang. Maaf ya mas gak cerita sebelumnya sama kamu, mas cuma mau kasih apa yang kamu mau," jelas Daren.
Mendengar penjelasan dari Daren sendiri, Kayra pun tersenyum. Ia bersyukur punya suami pengertian dan suka mementingkan kebutuhan sang istri.
"Makasih banyak, Mas. Kamu emang selalu ngerti aku," lanjut Kayra.
"Iya, Sayang. Sekarang kamu mau apa nih?"
Kayra pun mencari sesuatu yang hendak ia inginkan. Sebelumnya ia melihat barang yang ia suka. Sejak tadi Kayra menahan untuk membeli barang itu karena pikirnya uang yang ia bawa pasti tidak akan cukup. Namun, setelah mendengar kalau Daren punya uang lebih, ia jadi lebih lega sekarang.
Bukannya mendapat barang yang ia inginkan, melainkan Kayra melihat ibu dan kakaknya ada di dalam restoran ujung sana. Sejenak Kayra terdiam. Ibunya terlihat begitu gembira melahap makanan yang pastinya diberikan oleh sang kakak.
Kayra berpikir, bagaimana jika dirinya yang memberikan sang ibu makanan itu. Apa ibunya akan senang seperti yang ia lihat sekarang?
"Hei, kamu kenapa?" tanya Daren. Tetapi Kayra tidak menanggapinya, tatapannya masih mengarah ke sana sehingga Daren pun ikut melihatnya.
Daren pun tersenyum, lalu ia pun lebih mengeratkan genggaman tangannya dan membawa Kayra masuk ke dalam restoran itu.
"Loh, Mas, kita mau ke mana?" tanya Kayra tak mengerti. Ia baru sadar, ternyata Daren membawanya ke dalam sana. "Mas ..."
"Mas laper, kita makan dulu di sini ya!!" jawab Daren menyela.
"Tapi Mas, ini kan restoran mahal," katanya. Sedikit khawatir sebab Kayra yakin uang Daren pasti takkan cukup.
"Oya? Mas gak tau, tapi kita coba saja, makanan di sini pasti enak enak," katanya lagi.
Kayra juga tidak menyangka kalau dirinya dan Daren duduk tepat bersebelahan dengan ibu dan kakaknya. Tak nyaman dengan situasi, Kayra sampai terus menundukkan kepalanya.
"Selamat siang, bisa saya catat pesanan Anda?" terucap dari seorang pekerja di restoran tersebut. Lantas, Daren pun membuka buku menu dan melihat semuanya.
"Hmm, kayaknya enak enak nih, Mbak. Kalau begitu saya pesan semuanya satu per satu, jangan ada yang terlewat ya!!"
Di sana Kayra membuka matanya lebar. "Mas, kamu ini apa-apaan sih!! Gimana bisa kamu pesen semuanya yang ada di menu?" Kayra hampir pingsan. Membayangkan harga satu porsi saja ia sudah tidak sanggup, apalagi semua porsi yang ada di dalam menu itu, yang benar saja.
Elisa yang mendengar suara putrinya pun menoleh. Wanita itu penasaran dan dia sudah mendekat ke arah Kayra dan Daren di sana.
"Loh, kalian rupanya. Apa ibu gak salah dengar? Daren pesan semuanya satu per satu? Apa kamu sudah gila, huh? Mau cari mati kamu?" cetus Elisa. Ia tak menyangka jika menantunya memesan sebanyak itu.
"Memangnya apa salahnya?" kata Daren.
"Aduh ... mentang-mentang gak pernah makan di restoran mahal sampai gak tau malu begini ya kamu tuh!! Apa kamu gak lihat harga satu porsi itu berapa?" Elisa melempar buku menu itu di depan wajah Daren. "Lihat!! Harga satu porsi bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, dan sekarang kamu memesan semuanya satu per satu, apa kamu gila?" Elisa lantas menggeleng-geleng kepalanya melihat kelakuan menantunya itu.
"Oh," jawab Daren singkat. Daren terlihat biasa saja dan dia tidak merasa takut ataupun terkejut saat melihat harga yang tertera di sana. Sebaliknya, Daren hanya menanggapinya dengan santai.
"Astaga!! Punya mantu bikin malu kayak gini." Elisa terus menggelengkan kepalanya. Lantas, ia menoleh ke arah Kayra. "Hei Kay, suami kamu emang udah gila ya!! Mau maunya kamu jalan sama dia. Dengan pesanan sebanyak itu apa kamu sanggup membayarnya? Bisa-bisa kamu gak bisa makan buat ke depannya. Ini namanya pemerasan, Kay."
"Bu, Mas Daren tidak pernah sedikitpun memeras Kayra. Lagi pula aku yakin Mas Daren punya uang lebih buat bayar semuanya," jelas Kayra.
"Apa katamu? Uang lebih? Hei, sebesarnya uang lebih yang Daren miliki, itu semua pasti gak akan cukup buat bayar makanan di sini. Memangnya dia seseorang yang kaya raya seperti Hans, huh?" lanjut Elisa lagi.
Di sana Hans hanya berdiri sambil melihat ke arah Daren dengan sikap angkuhnya. Merasa dimenangkan oleh sang mertua, dirinya menjadi paling berharga.
"Kay, sebaiknya kamu pulang, sebelum pemilik restoran ini ngamuk. Bisa-bisa kamu dilaporkan sama mereka atas dasar main-main." Jia pun angkat suara. Setidaknya ia ingin melindungi sang adik.
Kayra berpikir, dia juga sudah menatap Daren seolah meminta jawaban atas semuanya. Ia juga cemas jika uang yang Daren miliki tidak akan cukup untuk membayar semuanya. Kakaknya benar, bisa-bisa dia dan suami dilaporkan atas tuduhan main-main.
Melihat kekhawatiran sang istri, Daren pun menjawabnya dengan senyum lebar di sana. Ia yakin jika uangnya akan cukup.
"Bu, sebaiknya ibu sama Kak Jia pulang saja, tidak usah khawatirkan kami," kata Kayra memberanikan dirinya berkata seperti itu.
"Kamu ngusir ibu sama kakak, Kay? Kamu lebih percaya sama lelaki miskin ini?" cetus Jia mulai emosi.
"Aku percaya sama Mas Daren kok Kak!!"
"Benar-benar!!" Jia melotot. "Ya sudah, itu terserah kamu saja, Kay. Kalau sampai nantinya kamu minta bantuan kakak, jangan harap kakak mau bantu kamu, ingat itu."
"Ibu juga gak bakal urusin kamu lagi, Kay. Semua terserah kamu saja!!" Elisa pun memilih untuk kembali ke meja nya.
Daren menggenggam tangan Kayra dan sedikit meredakan kekesalannya. "Kamu tenang aja, uang mas akan cukup kok!! Lagian bekerja selama 5 tahun itu tidak sebentar dan yang pastinya atasan mas sudah kasih semua uang yang harusnya mas dapat."
"Benarkah itu?" Kayra kembali lega setelah Daren menjelaskan semuanya.
Daren mengangguk. "Hmm, tentu saja."
"Tapi ..." lalu kemudian Kayra kembali cemberut.
"Tapi kenapa?"
"Kenapa gak kita pakai buat DP rumah saja. Dari pada dipakai yang gak jelas kayak gini, kan sayang uangnya, Mas."
Daren pun berpikir lagi. "Hmm, kamu benar juga, Sayang. Baiklah, separuh uang ini akan mas pakai untuk cicilan rumah baru kita. Setidaknya kamu gak terus-terusan dimarahin ibu."
Kayra tersenyum dan hampir melompat. "Beneran Mas?"
Daren mengangguk lagi.
Dengan senangnya Kayra, akhirnya ia pun melompat kegirangan. "Makasih banyak, Mas!!"