Kayra sudah membuatkan segelas kopi untuk suaminya. Hal itu memang sudah kebiasaan Kayra ketika Daren pulang dari bekerja.
Kayra pun duduk di samping suaminya, ia lantas bertanya mengenai apa yang ia dengar barusan. Sedikit samar, tetapi Kayra mendengar jika Daren menyebutkan Paman pada sambungan telpon tersebut. Maka dari itu, sebelumnya ia tak pernah tahu jika Daren mempunyai seorang paman.
Daren terlihat seperti terkejut. Ia pun sudah memutuskan sambungan telpon itu dan menyambut istrinya. Ia pun memeluk Kayra dan mencium pipinya.
"Paman? Ohh ... aku cuma memanggil orang yang membantuku kemarin," jawab Daren.
Kayra mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa suaminya bisa terus berhubungan dengan orang itu?
"Mas, kamu tau kan kalo aku gak suka dibohongi? Apa benar itu orang yang kamu tolong kemarin? Lantas, kenapa kamu bisa berhubungan sedekat itu dengan beliau?" kata Kayra.
Selama berumah tangga, Daren memang tidak pernah membohonginya. Kayra juga tidak menyukai orang yang berbohong. Tetapi sekarang, Daren bahkan terlihat mencurigakan.
Daren tersenyum getir di sana. Rupanya Kayra mulai curiga. "Kamu ini, memangnya selama ini mas pernah berbohong sama kamu?"
Mengingat kembali kalau suaminya selalu bicara apa adanya, Kayra pun tersenyum. Ia juga tak mau terus menekan Daren untuk menceritakan orang tersebut.
Melihat senyuman istrinya, Daren merasa lebih lega sekarang. Namun, tetap saja ia tak enak sebab ia telah berkata tidak sesuai kebenaran. "Oya, gimana kamu sama ibu? Apa ibu masih marah?" tanya Daren mengalihkan pembicaraan.
"Ibu ..." Kayra menarik napas dalam sebelum menceritakannya.
"Kenapa? Apa kamu dimarahi lagi sama ibu?" tanya Daren lagi.
Namun, sekarang Kayra malah menggelengkan kepalanya. "Aku belum ketemu sama ibu. Dari tadi juga aku gak liat ibu di rumah."
"Loh, emangnya ibu kemana?"
Kayra menggelengkan kepalanya lagi. "Aku juga gak tau."
Pantas saja Kayra ada di kamarnya dan tidur pulas saat Daren pulang. Rupanya Elisa tidak ada di rumah. Lantas, kemana Elisa, tidak seperti biasanya.
"Loh, Mas mau kemana?" tanya Kayra ketika Daren berdiri dan malah pergi.
"Mau ke bawah sebentar," jawab Daren.
Tak mau ditinggal, Kayra pun mengikuti Daren turun ke bawah sana. Nampak di ruang tengah hanya ada Darma di sana. Beliau sedang menyesap rokok dan menonton televisi acara kesukaannya saat pulang kerja.
"Ayah belum tidur?" tanya Daren ikut duduk di sebelah mertuanya.
"Belum, ayah nunggu ibu kamu, dia belum pulang."
"Apa, ibu belum pulang?" sontak saja Kayra kaget.
"Loh memangnya kamu gak tau ibumu pergi kemana, Kay?" tanya Darma demikian.
Kayra menggeleng. "Enggak. Tadi siang juga gak ada siapa-siapa di sini."
Darma kembali menyesap rokok itu dan mematikannya. "Ah mungkin ibumu nginep di rumah Jia," katanya.
Kayra sedikit berpikir dan berkata, "Apa ibu sering nginep di rumah Kak Jia?" ia tidak tahu akan hal itu sebab selama ini ia jarang komunikasi dengan siapapun.
"Ya, ibumu sering nginep di sana, mungkin karena Rahel juga," cetusnya.
Kayra dan Daren pun saling pandang seolah mereka sedang memikirkan suatu hal.
"Oh begitu ..." ucap keduanya.
Darma heran akan sikap mereka. "Kalian belum tidur?" tanya nya lagi.
Keduanya pun menggeleng. "Belum."
Darma semakin tidak paham dengan kelakuan putri berikut menantunya itu. Bisa-bisanya mereka samaan seperti itu.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur," ucap Darma lagi.
Kali ini pun Daren dan Kayra mengangguk barengan lagi. "Iya Yah."
Darma sampai terkekeh, bisa-bisanya mereka seperti itu. "Kalian ini, udah kayak anak kembaran aja. Udah ah, ayah juga mau tidur, nunggu ibu kamu juga percuma, dia gak bakal pulang." Darma pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Sementara di sana Daren mendekat ke arah Kayra, menggeser Kayra seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Neng, seharusnya kita lebih berusaha lagi biar dapet dede bayi imut kayak Kakak kamu," celetuk Daren sedikit berbisik.
"Maksud kamu?" Kayra seakan tak paham maksud dari suaminya.
"Iya dede bayi, pokoknya kita musti cepet punya biar ibu kamu suka sama kita, dengan begitu mas juga gak bakalan terus-terusan dibenci sama ibu."
"Emangnya bakal berhasil? Mas kan tau sendiri kalo ibu itu menomor satukan Kak Jia dan suaminya karena mereka kaya," cetus Kayra. Ia tahu akan sifat ibunya sendiri.
"Ya ... gak ada salahnya juga kan dicoba. Kali aja kalo kita kasih dede ibu jadi lebih menghargai mas ataupun kamu."
"Kamu ini, ngomong aja pengen jatah."
"Hehe."
***
"Ibu gak pulang?"
"Gak, ibu males ketemu sama Kayra juga suaminya yang nyebelin itu."
Sebentar, Jia dan Hans pun memandang satu sama lain. Hans pun memberi kode seolah menyuruh Jia untuk membiarkannya.
"Ya udah, ibu di sini aja. Aku sama Mas Hans masuk kamar dulu ya, Bu, takut Rahel bangun juga."
"Ya sudah, kalian tidur aja sana, udah malem juga kan!!"
Hans pun segera masuk ke dalam kamar dan disusul oleh Jia di belakangnya. Di dalam sana, nampak Hans seperti terlihat kesal.
"Mau sampai kapan ibumu terus numpang di rumahku. Mentang-mentang ada menantu tak berguna itu, rumah ini jadi tempat pelarian," cetus Hans.
"Ssttt ..." Jia menutup mulut suaminya agar tidak terdengar oleh ibunya di luar sana. "Bisa lebih pelan lagi gak sih, Mas. Nanti ibu denger loh!!"
"Ya abisnya mas itu kesel sama ibu kamu. Tadi aja di restoran aku habisin berapa uang untuk dia, belum lagi aku musti beliin apa yang ibu kamu inginkan dan harganya bahkan melebihi pemberianku sama ibuku sendiri. Bisa tekor dong nanti."
"Kamu gak ikhlas ngasih semua itu sama ibu aku?" Jia merasa tak enak kalau suaminya suka membandingkan ibunya sendiri.
"Bukan masalah ikhlas atau gak ikhlas ya, Jia. Hanya saja ibu kamu kalo minta itu kayak ngerampok. Apa kamu gak inget kalo perusahaan ayah lagi di bawah? Sebisa mungkin kita harus menghemat sebab keuangan mas sekarang dijatah sama ayah."
Jia pun mencoba untuk menenangkan suaminya. "Iya, Mas, aku inget kok!! Tapi aku bisa apa kalo ibu aku nyamannya sama kita."
"Satu-satunya jalan ialah jauhi ibumu, dengan begitu dia gak bakal berani minta apa-apa lagi sama kita, kamu paham kan?"
Dengan perasaan kesal, Hans pun memutuskan untuk tidur tanpa menghiraukan istrinya lagi. Ia membiarkan Jia untuk berpikir.
Sudah lama, bahkan sejak Kayra menikah, Elisa memang selalu meminta apa-apa sama Jia. Bosan dengan kelakuan sang mertua, Hans pun seolah tidak terima. Apalagi dengan keinginan Elisa yang semakin ke sini semakin keterlaluan.
Karena merasa bingung, Jia pun keluar untuk mengambil segelas minum di sana. Ia masih memikirkan perkataan suaminya itu. Namun, di sana nampak ia mendengar jika ibunya belum tidur. Karena penasaran, Jia pun membuka sedikit pintu kamar itu dan melihat apa-apa saja yang dilakukan oleh sang ibu.
"Aahh ... senangnya punya mantu kaya. Dengan begitu aku bisa minta semua yang aku inginkan termasuk semua perhiasan ini."
Dalam hati Jia bergumam. 'Mas Hans benar, aku harus jauhin ibu'