Tidak dihargai

1175 Words
Kring, kring!!! Terganggu akan suara ponselnya yang berdering sejak tadi, Kayra pun terbangun dan segera mengangkat sambungan telpon tersebut. "Ya, kenapa?" Tanpa sadar jika yang menghubunginya ialah kakaknya sendiri. "Hei Kay, apa kamu masih di rumah ibu?" Terdengar suara seperti sang kakak, Kayra pun terkejut. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya dan menatap kembali layar ponsel itu. "Kak Jia." "Aku tanya, apa kamu masih tinggal di rumah ibu?" terdengar suara Jia seperti kesal saat menelponnya. Astaga, pagi-pagi begini seharusnya Jia tidak membuat masalah. "Ah iya Kak, aku sama Mas Daren memutuskan untuk tetap tinggal di sini sebab ayah yang menginginkannya. Kalau kakak gak suka, kakak bisa bicarakan sama ayah saja," jawab Kayra seolah menegaskan. Terdengar Jia menghembuskan napasnya panjang. "Tidak perlu. Kamu mau tinggal di sana pun aku udah gak peduli, yang terpenting sekarang kamu harus jemput ibu ke sini. Aku gak bisa anter ibu sebab aku mau pergi." Kayra mengerutkan keningnya heran. "Jemput ibu? Apa ibu masih di sana?" "Ya, dan ibu masih tidur. Kamu bisa menjemputnya sekitar jam 7 pagi." Kayra lantas melihat jam dinding yang memang sekarang masih menunjukkan pukul 5 pagi. 'Masih pagi begini Kak Jia menelponku dan menyuruhku untuk jemput ibu nanti?' gumamnya dalam hati. Kayra tak paham akan hal itu. "Kay, apa kamu denger aku ngomong?" Kayra tersadar. "Ah, iya, nanti biar Mas Daren yang jemput ibu ke sana." "Apa? Aduh Kay, aku tuh nyuruh kamu, bukan nyuruh suamimu yang gak becus itu," cetus Jia. "Kak, aku gak bisa pake motor, masa iya aku ke sana jalan kaki?" "Haduh ... ya udah terserah kamu aja deh Kay, yang penting kamu atau suamimu jemput ibu ke sini. Sebentar lagi aku mau pergi. Udah ya!!" Tutt!!! Telpon pun terputus. Lantas, Kayra hanya melihat Daren yang baru saja terbangun dari tidurnya. "Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Daren. Kayra pun mengangguk pelan. "Kak Jia suruh aku buat jemput ibu ke rumahnya. Tapi aku gak bisa pake motor, bisakah kamu jemput ibu ke sana, Mas?" Kayra meminta tolong kepada suaminya. "Tentu, sayang. Mas jemput ibu sekarang juga." Daren malah sudah bergegas. Namun, Kayra menarik tangannya saat itu juga. "Gak sekarang juga, Mas. Jam 7 nanti kamu jemput ibu ya!?" "Oh, baiklah, aku kira jemput sekarang. Kalo gitu aku siap-siap dulu aja, biar nanti langsung berangkat ke sana." Daren mencium kening istrinya dan segera masuk ke kamar mandi untuk bersiap. Di sana Kayra terdiam dan hanya melihat Daren sampai masuk ke dalam kamar mandi itu. Kayra sedang memikirkan sesuatu dalam pikirannya. 'Kenapa gak sekalian Kak Jia anter ibu pulang dulu? Memangnya Kak Jia mau pergi ke mana sampai ninggalin ibu segala' rutuknya dalam hati. *** "Jia ..." Elisa baru terbangun dari tidurnya dan sudah berada di dapur memanggil anak pertamanya. Namun, ada yang salah dengan kediaman putri sulungnya itu. Biasanya Jia selalu menyiapkannya sesuatu di pagi hari, tetapi kali ini rumah itu terlihat sepi. "Jia ..." sekali lagi Elisa memanggil Jia. Namun, tidak ada yang menyahut juga. Elisa pun berdecak, "Ck, pada kemana sih, kok sepi!!" Lantas, Elisa pun berjalan menuju depan rumah. Nampak di sana hanya ada asisten rumah tangga yang sedang membersihkan pekarangan depan. Mungkin dia tahu di mana Jia sekarang. "Bi, bibi liat Jia gak? Kok rumah sepi sih!!" katanya. "Oh Nyonya pergi sama Tuan pagi-pagi sekali, katanya ada urusan mendadak. Tapi Nyonya sudah menyuruh seseorang buat jemput ibu katanya." Elisa berpikir, 'Jemput aku? Kenapa pake jemput segala sih!! Aku kan bisa tinggal di sini' Nampak di sana sebuah motor bebek berhenti tepat di depan rumah besar itu. Seorang pria yang tak lain ialah Daren tersenyum ke arah ibu mertuanya. "Daren? Mau apa kamu di sini?" tanya Elisa bingung. Kenapa harus menantunya yang menjemput kemari? "Bu, aku antar ibu pulang sekarang," kata Daren. Elisa melihat Daren dari atas sampai bawah. Ia menggunakan motor miliknya sendiri yang tak lain ialah motor jadul sekitar tahun dua ribuan. Ya ampun, bagaimana bisa Elisa menggunakan kendaraan seperti itu? Apalagi sama Daren? "Iihh!!" Elisa memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah itu dan menutup pintunya rapat. Elisa memutuskan untuk menghubungi Jia di sana. Tak lama telpon pun diangkat olehnya. "Halo Jia, kamu kemana sih, Nak. Kenapa kamu tinggalin ibu sendiri di rumah?" kata Elisa panik. "Aduh bu, maafin aku, aku ada urusan mendadak dan harus segera pergi. Aku juga bakal lama pulangnya jadi, ibu pulang ke rumah ibu dulu ya, dari pada ibu kesepian di sana, kan." Elisa lantas berdecak. "Ck, kamu ini ada-ada aja. Kamu tau kan ibu gak mau pulang selama ada Kayra dan menantu nyebelin itu." "Iya bu, aku tau, tapi beneran aku bakal lama pulangnya. Aku juga gak bisa kasih ibu uang sebab semua uang belum ditransfer lagi. Maafin aku ya bu, ibu pulang dulu ya sama Kayra." "Ck, kamu ini. Ya udah ibu pulang. Tapi ibu gak mau pulang sama Daren pake motor butut itu," cetusnya lagi. Jia seperti kesal. "Ya ampun ibu, kali ini aja gak apa-apa kan. Aku janji lain kali gak bakal tinggalin ibu lagi, ya!!" "Ya sudah!!" Elisa memutuskan sambungan telpon itu dengan kesal. Ia menghentakkan kakinya lalu kembali membuka pintu. Melihat Daren yang masih menunggu di luar sana, Elisa pun seakan sebal. Apa lagi sekarang Daren malah berjalan ke arahnya. "Ibu pulang sekarang kan?" tanya Daren lagi. "Iya ibu pulang. Kamu tunggu di sini dulu, ibu mau siap-siap dulu." Daren mengangguk senang. Baru kali ini mertuanya bersedia ikut dengannya. Beberapa lama, bahkan hampir pukul 8, Elisa belum juga keluar dari rumah itu. Namun, di sana Daren masih menunggu walaupun seharusnya ia berangkat kerja. Ini hari keduanya ia bekerja. Pasti akan bermasalah sebab dirinya terlambat. Mengingat akan Elisa yang bersedia ikut dengannya, Daren pun terus menunggu. Ia seolah tak peduli jika dirinya terlambat ke tempat pekerjaannya. Bip, bip!! Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Daren masih ingat dengan pria yang baru saja keluar dari mobil mewah itu. 'Radit? Kenapa dia ada di sini?' Pria bernama Radit itu tersenyum, tetapi bukan tersenyum untuk Daren, melainkan ... "Ibu, sudah siap?" "Udah, maaf loh ya Nak Radit, ibu repotin kamu buat jemput ke sini," cetus Elisa. Kedua matanya melihat Daren lalu mendelik begitu menyebalkan. "Loh, bu, aku di sini buat jemput ibu, kenapa ibu mau pulang sama Pak Radit?" kata Daren menyela. Pria berjas itu lantas melihat ke arah Daren. "Kamu ... bukankah kamu ini ..." ia mengingat wajah Daren. "Aduh Nak Radit, tolong jangan salah paham. Dia ini cuma tukang ojek suruhan anak saya, tapi saya gak mau pulang sama dia. Lihat aja, motornya aja butut kayak gitu, ibu bakalan alergi kalo pulang sama dia," cetus Elisa lagi. Sementara pria bernama Radit itu hanya terkekeh seolah menertawakan Daren di sana. "Kalau begitu ibu pulang denganku saja. Dengan senang hati saya antar ibu kemanapun ibu mau." Elisa membuka matanya lebar tak percaya. "Benarkah itu Nak Radit?" "Tentu saja!!" "Ahh, kau memang menantu idaman ya!?" Sekali lagi pria itu tersenyum. Ia sudah membukakan pintu untuk Elisa. Elisa pun segera masuk ke dalam sana. Namun, berbeda dengan Radit yang sudah menghampiri Daren. "Bukankah kamu harus bekerja? Cepatlah ke pabrik sebelum saya memecatmu," katanya dengan angkuh. Di sana Daren hanya mengepalkan tangannya kuat. 'Sialan'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD