Sebulan menjalin kedekatan dengan Reymond membuat Gretha sedikit banyaknya tahu tentang pria itu. Kalau sedang bersama yang lain atau sedang direkam kamera dia baik, perhatian, dan manis. Namun, di lain sisi, saat mereka hanya berdua, pria itu justru bertindak sebaliknya. Dia cuek dan biasa aja, enggak ada manis-manisnya.
Terkadang, Gretha sampai bingung dibuatnya. Dia bingung mendeskripsikan keperibadian Reymond yang seperti apa. Cuek atau perhatian? Manis atau biasa aja? Karena diberbagai waktu, sifatnya berubah-ubah.
Apa mungkin pria itu memiliki dua kepribadian?
Gretha menggeleng cepat. Kayanya sih enggak mungkin. Soalnya orang lain enggak merasakan perbedaannya.
"Subscribe aku naik semenjak colab sama kamu," ucap Reymond yang saat ini tengah duduk di sebelahnya sambil membuka jumlah subscribers-nya saat ini.
Mendengar itu membuat Gretha tersenyum lebar. "Bagus dong," ucapnya dengan begitu ceria. Dia senang kalau dirinya membawa dampak positif untuk pria itu. Rasanya, kehadirannya penting.
"Iya bagus," Rey tersenyum tipis, "dekat dengan kamu, ternyata menguntungkan ya. Kalau tahu begini kenapa enggak dari dulu aja," lanjutnya.
Gretha lagi-lagi mengangguk. "Mungkin emang sekarang waktunya."
"Kalau begitu, ayo bikin konten lagi buat channel youtube aku," ucapnya sambil menarik tangan Gretha pelan.
Perempuan itu menoleh ke arah jendela. Langit sudah sepenuhnya menggelap. Mereka baru saja sampai di Yogyakarta pukul dua siang, sejam kemudian langsung bergegas pergi ke sebuah tempat makan pinggir jalan lalu membuat konten di sana dan sekarang pukul delapan malam baru selesai.
"Sekarang banget? Enggak cape emang? Kita baru selesai shooting loh, Rey."
Reymond menggeleng. Pria itu terlihat bersemangat sekali. Ya, mungkin karena ini untuk channelnya. "Enggak. Jangan lemah dong, Gret."
Gretha terdiam cukup lama sampai akhirnya gadis itu mengangguk menyetujui. "Kontennya mau ngapain?" tanyanya.
Reymond seketika langsung membuka ponselnya. "Aku pesan minuman khas sini aja kali ya. Nanti kita review berdua. Di kamar hotelku aja."
Seketika aku terdiam. "Berdua? Di kamar hotel kamu?" tanyanya mengulang.
"Iya. Enggak apa-apa kan?" Gretha terdiam beberapa saat, "kalau kamu enggak percaya sama aku. Di kamar hotel kamu aja. Atau mau di kamar hotel kru? Terserah sih."
Sebenarnya Gretha ingin menyetujui opsi di kamarnya atau di kamar kru, tetapi kalau dia memilih itu, pastinya Reymond menganggap Gretha tidak percaya dengan dirinya. Perempuan itu jadi enggak enak hati.
"Di kamar hotel kamu aja," ucap perempuan itu akhirnya. Reymond tersenyum tipis lantas dia kembali sibuk dengan ponselnya. Mungkin memesan minuman. Pikir Gretha.
Di tempat lain, Fattan sedang menatap kontak Gretha yang sedari pagi belum mengirimkan dia pesan. Biasanya, dia merasa terganggu dengan pesan-pesan itu. Namun, setelah Gretha tidak mengirimkannya, dia merasa ada yang hilang.
Fattan mematikan layarnya dan bersiap untuk tidur. Namun, saat ponselnya ingin dia letakkan di meja, benda tipis itu bergetar membuat Fattan kembali menatap layarnya. Pesan dari Gretha membuat tubuhnya seketika menegang. Percampuran antara marah dan bingung.
Gretha
Fattan tolong
Gue mau diperkosa