"Kalau menurut gue yang ini sih lebih manis," ucap Gretha sambil menatap croffel di tangannya.
Fattan mengangguk-angguk sambil terus mengunyah. "Iya, setuju. Lebih manis dikit dibandingkan sama yang tadi," ucapnya dengan mata yang menatap Gretha dan bergantian menatap ke kamera.
Gretha mengambil satu croffel lalu dia tunjukan ke kamera. "Kalau gue lebih suka yang ini sih dibandingkan sama ketiga croffel yang udah kita cobain."
"Kalau gue lebih suka yang pertama, mungkin karena gue enggak terlalu suka manis. Menurut gue yang pertama paling pas—" ucap Fattan terputus saat ponselnya berdering. Dia menoleh ke arah layar benda tipis itu lantas kembali menoleh ke arah Gretha, "stop dulu ya. Yanti nelepon."
Gretha berdecak sebal. "Yaelah. Ganggu aja. Lagi ngonten juga," dia berjalan lalu menjeda kameranya, "yaudah sana."
Fattan berlalu dari hadapannya dan masuk ke dalam kamar. Mungkin dia ingin lebih privasi. Sementara itu, Gretha berjalan dan duduk di sofa. Membuka ponselnya dan melihat sebuah email yang baru saja masuk.
Dia membaca dengan seksama. Ada sebuah tawaran untuk menjadi sebuah pengisi acara wisata kuliner di televisi. Dia baca lagi, pengisi acaranya bukan cuma satu, tetapi ada tiga orang food vloggers lainnya.
Perihal bayaran, dia tidak begitu memusingkan karena masuk televisi dan menbawakan acara itu membuat dirinya senang.
Tawaran itu benar-benar membuat Gretha tertarik. Dia ikuti akan ikuti prosedur untuk mengambil tawaran ini. Semoga saja namanya bisa lebih dikenal oleh masyarakat dan juga menambah cuan-cuan yang masuk ke dalam rekeningnya.
Tiba-tiba, suara pintu terdengar membuat Gretha langsung menoleh ke arah sumber suara. Fattan keluar dengan wajah murungnya. Pria itu berjalan dan menjatuhkan dirinya tepat di samping Gretha.
"Sial. Yanti minta putus," ucap Fattan sambil menoleh ke arah Gretha, "gara-gara lu nih. Pacar gue jadi cemburu terus," ucapnya sinis.
Gretha mematikan layar ponselnya lalu membalas Fattan dengan tatapan tajamnya. "Dih, apaan sih. Emang Yantinya aja yang cemburuan," ucapnya membela diri.
"Ini udah kelima kalinya, pacar gue mutusin gue karena cemburu sama lo," Fattan bersandar ke sofa, "cari pacar dong Gret biar enggak nempel ke gue terus."
Sebelah alis Gretha terangkat tinggi.
"Oh jadi lo udah enggak nyaman jadi sahabat gue?" tanyanya.
Fattan buru-buru menggeleng. Dia takut kata-katanya membuat Gretha salah persepsi. "Enggak begitu. Ini demi kebaikan kita bersama," ucapnya dengan lebih halus.
Gretha hanya terdiam.
"Gue berusaha minta balikan sama Yanti, lo berusaha cari pacar. Jangan menjomblo terus kenapa sih. Punya pacar kan enak."
Gretha berdeham singkat. "Gue coba."
"Bagus. Cari pacar emang enggak semudah itu, Gret. Tapi diawali oleh lo yang harus terbuka. Membuka diri lo buat orang lain. Jangan jutek terus."
"Iya. Jangan bawel deh."
"Gue lagi ngasih kiat-kiat buat dapat pacar nih."
Gretha berdeham singkat lagi.
"Ayo, lanjutin nggak ngontennya?"
Gretha langsung bangun dari duduknya. "Lanjutlah. Tinggal kesimpulan doang," Gretha duduk di kursi lalu dia menujuk ke arah kamera, "nyalahin, Fat."
Fattan mengikuti perintah Gretha lalu mereka kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terjeda.