"Fat. Gimana? Gue cantik nggak pakai baju ini?" tanya Gretha sambil berputar memperlihatkan dress ungunya yang mengembang.
Fattan hanya berdeham sambil mengangguk-angguk tidak jelas.
"Serius ih. Gue nanya ini," ucapnya dengan kesal. Dia merasa bahwa respons dari Fattan begitu cuek.
Pria itu berdecak sebal. "Lo udah enam kali ganti-ganti baju. Gue udah bilang, lo pakai baju apaan juga sama aja. Apalagi baju lo semuanya dress, modelnya juga hampir sama. Bedanya cuma warna dan motif bajunya," ucapnya mulai kesal dengan tingkah Gretha yang benar-benar menyebalkan.
Gretha memutari sofa lantas berdiri tepat di hadapan Fattan. "Sama aja tuh gimana? Cantik apa jelek?" tanyanya meminta kejelasan.
"Cantik," tiba-tiba senyum tipis terukir di bibir pink perempuan itu, "tapi enggak secantik itu. Ya, satu persen di atas standarlah," lanjut Fattan yang membuat Gretha seketika cemberut.
"Nyebelin lo."
Fattan terkekeh pelan memperlihatkan gigi-giginya yang putih. "Lagian lo tuh ribet banget. Lo kan food vloggers, bukan beauty vlogger. Kecantikan lo juga bukan hal pertama yang diukur. Kehebatan lo dalam me-review makanan yang jadi tolak ukurnya.
Gretha mengambil tissue, meremasnya lantas melemparkan ke arah Fattan. "Lo emang nyebelin ya," Fattan menangkap tissue itu lalu membuangnya ke tong sampah, "Gue cuma mau tampil cantik aja, biar enggak buluk di kamera. Terus food vloggers-nya bukan gue doang, gue juga enggak mau yang paling jelek di kamera."
"Narsis. Lebai."
Gretha duduk dengan posisi yang lebih condong ke arah Fattan. "Kata lo gue harus nyari pacar. Ini kesempatan. Kali aja gue menemukan cowok yang ideal yang tipikal gue banget."
Fattan mengangguk-angguk. Dia menggeser duduknya lebih dekat dengan gadis itu. "Tapi yang lebih penting cowok itu mau nggak sama lo," ucapnya yang membuat Gretha langsung mencubit pinggang Fattan kencang. Fattan mengaduh sakit, meskipun diselingi dengan tawa kencang.
"Buktinya lo jomblo terus padahal enggak jelek-jelek banget."
"Fattan! Nyebelin," teriaknya kencang, "lihat aja, gue bakal dapat cowok yang lebih plus plus plus daripada lo."
"Masa?" tanya pria itu dengan sebelah alis yang terangkat.
"Iya. Lihat aja," ucap perempuan itu dengan penuh keyakinan. Padahal dia belum tahu targetnya siapa, tetapi keyakinan itu sudah dia tumbuhkan.
Fattan mengangguk-angguk dengan tawa yang perlahan memudar. Tangannya bergerak mengusap pipi Gretha membuat perempuan itu seketika terdiam. Mereka saling bertatapan dengan lekat.
"Siapapun nanti yang jadi pasangan lo. Sehebat, sekaya, atau seganteng apapun dia. Lo harus bahagia ya," ucapnya dengan serius, "gue sayang banget sama lo. Lo udah kaya keluarga gue sendiri, Gret. Meskipun lo nyebelin dan nyusahin banget, tapi tetap aja gue enggak mau lo tersakiti."
Gretha mengangguk masih dengan mata yang menatap Fattan lekat. "Iya. Makasih ya, Fat."
Fattan menarik tangannya dari pipi Gretha lantas dia duduk dengan lebih tegak. "Eh tapi enggak tahunya, bukan dia yang nyakitin lo, tapi lo yang nyakitin dia," Fattan terkekeh pelan, "plot twist."
"Dih, apaan. Ga jelas."
"Lo makanya jangan nyebelin banget, Gret. Cuma gue yang sabar sama tingkah lo, belum tentu cowok di luar sana sabar kaya gue."
"Diam ah," dia bangun dari duduknya, "gue mau siap-siap pergi."
"Ok. Hati-hati."
Langkah Gretha seketika terhenti. "Lo enggak mau nganterin gue?"
Fattan menarik napas pelan. Mulai lagi nyusahinnya. "Ada opsi buat berkata tidak ga, Gret?"
"Enggak ada."
"Ok. Gue tunggu di mobil," jawabnya pasrah.