[16]

1669 Words
Suara bel kembali berbunyi. Satu persatu murid dari dalam kelas keluar dengan kepala yang berasap setelah menerima pelajaran di pagi hari. Meski cuaca hari ini mendung dan tak ada sinar matahari yang menerangi gedung akademi Lorillis, nyatanya mereka masih merasa kepanasan setelah menerima materi yang cukup sulit. Gerhard menghela napasnya setelah kepergian Dusan dari ruang kelasnya. Antheia langsung memutar kursinya menatap Gerhard, begitu pula dengan Jaromir yang duduk di sampingnya. "Kau berhutang cerita kepadaku," ucap Antheia. "Kepadaku juga," sahut Jaromir. Merasa perut mereka yang semakin lapar, Gerhard, Antheia dan juga Jaromir pergi keluar dari kelas. Beberapa orang sudah paham betul dengan ketiga s*****n itu. Bahkan Jaromir dan Antheia sukses membuat seluruh orang di Lorillis iri karena bisa dekat dengan Gerhard yang terkenal jenius dan tampan. Ketiga serangkai itu pergi menuju tempat makan atau yang biasa disebut dengan kantin akademi. Mereka memesan makan siang yang sudah disajikan dalam bentuk paket. Tentu saja makan siang mereka terhitung gratis karena sudah dijumlahkan ke dalam tagihan pembayaran akademi, kecuali Gerhard yang tak mengeluarkan sepeser pun. Sebaliknya, ia justru dibayar oleh akademi dan mendapat pendidikan gratis hingga lulus. Gerhard, Antheia dan juga Jaromir masuk ke dalam ruangan yang telah dipenuhi oleh berbagai murid. Kedatangan ketiga orang itu membuat hampir setengah dari murid yang ada di sana menatap ke arah mereka, atau lebih tepatnya menatap Gerhard. Antheia langsung menarik lengan Gerhard dan Jaromir dan membuat kedua pria itu berbaris di belakangnya. "Makan siang kita apa hari ini?" ujar Antheia sambil mengambil wadah untuk mengambil makan siang mereka. Kaki Jaromir berjinjit dan ia mengedarkan pandangannya melihat ke arah makanan yang tersaji dan siap ambil. Lalu menatap Antheia kemudian mengatakan menu makan siang yang baru saja ia lihat. "Ada kentang rebus, telur, daging ayam dan unta cincang," ucap Jaromir. "Ayo ambil daging ayam yang banyak," balas Antheia. "Tidak bisa, karena sepertinya ada pelayan yang memberikan jatah tertentu," sahut Gerhard. Bukannya merasa tak terima dengan ucapan Gerhard, Antheia justru menaikkan sebelah alisnya menatap Gerhard, "Kau pikir aku yang akan memintanya? Tentu saja tidak. Gunakan jurus tampanmu itu untuk menyihir para pelayan dapur. Mereka pasti mau menambahkan sedikit lebih banyak dari jatah normalnya." Memang benar, Gerhard tersenyum sedikit sambil meminta makanan tambahan saja sudah pasti para pelayan dapur akan memberikan lebih banyak. Setelah mengantri selama 5 menit, akhirnya kini giliran Gerhard. Sesuai permintaan Antheia, Gerhard sedikit tersenyum sambil menunjuk ke arah potongan daging ayam di hadapannya. "Apa boleh saya minta sedikit lebih banyak?" pinta Gerhard. Pelayan dapur yang melayani Gerhard turut tersenyum saat melihat wajah tampan Gerhard. Tanpa berkata - kata, wanita paruh baya itu langsung memberikan 3 sendok ke atas tempat makan Gerhard padahal normalnya hanya 1 sendok. "Makanlah yang banyak. Kau butuh tenaga lebih, aku dengar kau habis melawan Aul," ucap wanita paruh baya itu. Gerhard membelalakan matanya mendengar sang pelayan dapur yang tahu kejadian tadi pagi. "Ba - baik. Terima kasih banyak," ucap Gerhard lalu meninggalkan tempat pengambilan makanan diikuti dengan Jaromir dan juga Antheia di belakangnya. "Sepertinya hampir seisi Lorillis sudah tahu," sahut Jaromir sambil menempatkan tubuhnya ke atas kursi yang ia tempati. Antheia hanya menatap Gerhard, menunggu pria itu memberikan ayamnya yang ia inginkan sejak tadi. Mengerti dengan maksud tatapan Antheia yang menatap ke arah piring makannya, Gerhard pun mengarahkan piringnya ke arah Antheia. "Ambil sebanyak yang kau mau," ucap Gerhard. Antheia tersenyum senang dan mengambil potongan ayam yang ada di dalam piring Gerhard, "Terima kasih banyak!" ucap Antehia. Usai Antheia mengambil daging ayam yang ia inginkan, Gerhard kembali menarik piring makannya dan mulai menyantap makan siangnya. Sambil menikmati makan siang, Gerhard mulai menceritakan pengalamannya tadi pagi yang dinilai tak biasa. "Awalnya kupikir seragam yang kau kenakan kotor karena terjatuh," ucap Jaromir sembari melirik ke arah seragam Gerhard yang tampak kotor dan terdapat sedikit bercak darah. "Aku memang terjatuh. Lebih tepatnya aku terdorong beberapa meter karena disenggol oleh tubuh Aul," balas Gerhard. "Mereka mendorongmu? Lalu kenapa kau bisa terpikirkan untuk keluar dari Styx. Aku rasa tak masalah jika kau terlambat dan bahkan tak masuk sehari. Kau terkenal rajin jadi tak mungkin tidak masuk tanpa alasan. Terlebih Aul adalah hewan yang akan keluar di cuaca gelap dan tanpa matahari," sahut Antheia dengan mulut yang dipenuhi dengan daging ayam. Gerhard mengangguk, "Aku sempat berpikir demikian. Menunggu di dalam Styx dan membiarkan para Aul pergi sampai matahari kembali muncul. Tapi entah sampai kapan, bahkan sampai sekarang matahari tak menunjukan jati dirinya. Tak hanya aku saja yang tak bisa beraktifitas, melainkan seluruh para penumpang Styx akan terhambat," ujar Gerhard. "Sejak dulu aku selalu terheran denganmu. Dari awal pertemuan kita di hutan, aku curiga kau bisa menjinakkan hewan. Atau jangan - jangan karena itu kau berpikir bisa menjinakkan para Aul?" tanya Jaromir. "Be - benar. Aku berpikir begitu, betapa bodohnya aku," jawab Gerhard menyesali perbuatannya. "Yang terpenting kau selamat. Sayang sekali korban yang meninggal di sana," ujar Antheia. "Mereka bilang itu karena pria itu terlalu angkuh dan pantas untuk mati," ujar Gerhard. Uhuk ! Jaromir dan Antheia sampai tersedak mendengar ucapan Gerhard. "Apa maksudmu mereka bilang? Kau berbicara dengan para Aul?" tanya Jaromir. "Apa itu terdengar gila?" tanya Gerhard balik. "Sangat! Kau berbicara dengan Aul? Astaga sekelas Pak Dusan yang sudah mencoba berkomunikasi saja sangat sulit sedangkan kau bisa lolos hanya karena bisa berkomunikasi dengan para Aul?" jawab Antheia. Gerhard menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menyunggingkan senyuman anehnya. "Tiba - tiba saja aku bisa mendengar mereka dengan jelas dan itu terjadi begitu saja," ujar Gerhard. "Jika Pak Dusan tahu, mungkin ini akan menjadi hal tergila yang ia dengar. Dulu pernah ada rumor jika hanya bangsa elf dan vampir yang bisa berkomunikasi dengan para Oriel. Kau yakin tidak memiliki keturunan dari elf atau vampir?" tanya Antheia dengan wajah penasaran yang terkesan mengintrogasi Gerhard. Gerhard menggelengkan kepalanya, "Jika aku elf, sudah pasti telingaku panjang ke atas dan minimal bola mataku berwarna hijau. Tapi nyatanya bola mataku cokelat. Aku juga bukan vampir, gigi taringku tidak tajam sama sekali," ucap Gerhard. "Sepertinya kau memang anak istimewa," ucap Jaromir. Orang - orang yang berada di dalam kantin akademi tiba - tiba saja berlarian ke arah jendela, membuat Gerhard, Jaromir dan Antheia kebingungan dengan apa yang terjadi. Terlebih orang - orang itu meninggalkan makan siang mereka yang bahkan masih tampak penuh di atas piring mereka. "Ada apa?" tanya Gerhard yang kebingungan dengan orang - orang yang berlarian ke arah jendela dan menatap keluar. Merasa penasaran, Antheia dan Jaromir ikut berdiri dan melihat ke arah luar jendela. Begitu pula dengan Gerhard yang melihat ke arah luar. "Wah dia cantik sekali!" pekik salah seorang wanita yang berdiri di samping Gerhard. Gerhard ikut melihat ke bawah dan melihat wanita yang dimaksud oleh wanita yang disebelahnya. Wanita itu memiliki rambut ikal sebahu berwarna merah dengan seragam putih khas Lorillis. Wanita itu tampak bercengkrama dengan Aldrich di bawah sana. Sadar menjadi pusat perhatian para murid Lorillis, wanita itu pun mengedarkan pandangannya hingga menoleh ke arah lantai 2 tempat kantin akademi berada. Tatapan Gerhard bertemu dengan wanita itu dan tanpa Gerhard sadari, pria itu tersenyum. "Ya ampun dia cantik sekali! Lihatlah kulit putihnya yang pucat dengan rambut merahnya!" pekik Antheia yang turut merasa terkagum - kagum dengan wanita itu. "Siapa dia?" tanya Jaromir. "Dia? Aku dengar namanya Nikita. Dia murid baru di Lorillis Adarlan, sebelumnya ia dari Wendlyn," sahut salah seorang pria. Gerhard yang mendengarnya hanya menganggukan kepala mengerti. "Wajar saja jika ia menjadi pusat perhatian. Tak hanya cantik, dia sudah pasti pintar karena berasal dari Wendlyn dan juga sangat modis," balas Antheia. "Benar, dia cantik," gumam Gerhard yang suaranya masih terdengar oleh Antheia. Antheia menoleh ke arah Gerhard, "Kenapa pipimu memerah begitu?" tanya Antheia saat menyadari pipi Gerhard yang memerah. Tangan Gerhard langsung memegangi pipinya dan menggelengkan kepalanya. Bukannya menjawab, Gerhard justru kembali ke tempat duduknya dan menghabiskan makan siangnya yang tinggal tersisa sedikit. Antheia dan Jaromir menyusul Gerhard dan ikut menghabiskan makan siang mereka. "Aku penasaran dia akan ditempatkan di kelas mana," ujar Antheia. "Kita lihat saja nanti," ucap Jaromir. Setelah menghabiskan makan siang mereka, Gerhard beserta Jaromir dan Antheia kembali ke kelas mereka. Perut mereka yang semula kosong kini telah terisi dengan makanan yang baru saja mereka santap. Beberapa saat kemudian, suara bel kembali terdengar dan satu persatu orang mulai masuk ke dalam kelas. Kursi - kursi yang semula kosong perlahan diisi oleh para murid di kelas itu. Tak berapa lama sejak bel berbunyi, pintu ruang kelas terbuka, menampilkan sosok Aldrich. Tidak seperti biasanya yang datang seorang diri, Aldrich datang diikuti dengan seorang wanita cantik yang sontak menjadi pusat perhatian di ruang kelas itu. "Selamat siang semua. Bagaimana makan siang kalian? Saya rasa kalian sudah mengisi perut kosong kalian. Beberapa dari kalian mungkin tahu siapa wanita yang sedang bersama saya saat ini," ucap Aldrich. Nikita pun berjalan mensejajarkan posisi berdirinya dengan Aldrich dan tersenyum mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Hingga matanya berhenti pada sosok Gerhard dan pandangan mereka pun bertemu. "Perkenalkan saya Nikita Talfaern. Saya berasal dari Wendlyn. Senang bertemu dengan kalian," ucap Nikita. Semua orang bersorak ramai terutama para pria yang langsung jatuh hati pada wajah cantik Nikita. "Semuanya harap tenang!" titah Aldrich yang sontak membuat kericuhan di kelas itu terhenti. Setelah merasa tenang, Aldrich kembali melanjutkan pembicaraanya, "Nikita pindah ke Adarlan karena beberapa alasan dan ia akan melanjutkan di akademi Lorillis Adarlan sampai dengan tahun terakhir. Mohon untuk tidak membuat kericuhan seperti saat Gerhard datang. Tetap tenang," ucap Aldrich. "Baik Pak!" sahut semua murid bersamaan. "Kalau begitu Nikita silakan duduk di samping kursi Antheia. Kita akan segera memulai pelajaran," ucap Aldrich. Nikita hanya menganggukan kepalanya mengerti dan berjalan ke arah Antheia. Antheia pun tampak senang karena bisa sedekat ini dengan Nikita. "Hai," sapa Antheia. Nikita hanya tersenyum. Nikita sempat menoleh ke arah Gerhard yang menatap lekat ke arahnya lalu hanya mengangguk dan membalikan badannya ke arah depan dan terfokus pada pelajaran yang akan disampaikan oleh Aldrich selama beberapa jam ke depan. "Kelas ini sepertinya memiliki keberuntungan tinggi. Kemarin pria tampan yang masuk, sekarang wanita cantik," ucap salah seorang wanita yang duduk tak jauh dari Gerhard. Gerhard hanya tersenyum malu mendengarnya. Entah karena ia dipuji tampan atau karena Nikita kini satu kelas dengannya di Lorillis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD