[17] The Lovers

1649 Words
Suara kicauan burung terdengar hingga ke telinga seorang pria yang sedang tertidur lelap sambil memeluk guling di kakinya. Matanya terpejam, meski semilir angin dan sinar matahari sudah menyeruak masuk ke dalam kamarnya dan mengenai kulit putihnya. Tubuhnya perlahan menggeliat saat merasakan hangatnya mentari pagi. Matanya mengerjap berulang kali, berusaha menyesuaikan sinar yang masuk ke matanya sambil berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tersangkut di alam mimpinya. Merasa kesadarannya perlahan kembali, pria itu duduk di tepi tempat tidurnya sembari memegangi kepalanya yang masih terasa terombang - ambing dalam tidurnya. "Aagghh," ringisnya. Pria itu beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berdiri di depan cermin. Memperhatikan dirinya di pantulan cermin. Rambut berantakan khas orang tidur terlihat jelas di hadapannya, terlebih mata bantalnya yang tampak menggambarkan dirinya yang baru saja bangun dari tidurnya. Tok ! Tok ! Tok ! "Gerhard, boleh Ayah masuk sebentar?" ucap William yang berada di depan pintu kamarnya tepat setelah pria itu mengetuk pintu kamar Gerhard. "Uhm, silakan," jawab Gerhard dengan suara bass khas orang yang baru bangun tidur. Tak berapa lama, pintu kamarnya pun terbuka dan menampilkan sosok pria paruh baya dengan segelas s**u di tangan kanannya. Pria itu meletakkan segelas s**u yang dibuatkan untuk Gerhard ke atas meja belajar Gerhard lalu menghampiri Gerhard yang masih bercermin. "Hari ini kau akan pergi ke Eyelwe lagi?" tanya William kepada Gerhard. Gerhard mengangguk, "Iya. Sepertinya aku terlalu lelah mengerjakan tugas tadi malam sampai aku bangun terlalu siang," jawab Gerhard sembari melirik ke arah jam di dinding kamarnya yang kini telah menunjukkan waktu pukul 9 pagi. William menepuk bahu Gerhard dan meremas bahu anaknya yang kini sudah berubah menjadi seorang pria dewasa. "Jika kau terlalu lelah, pergilah lain waktu. Jangan memaksa diri. Perjalanan dari Adarlan ke Eyelwe membutuhkan waktu yang cukup lama," ujar William. Hari Minggu adalah hari dimana bagi Gerhard untuk berlibur. Entah libur kerja ataupun libur akademi Lorillis. Dan di Hari Minggu juga Gerhard akan mengunjungi Sagira yang berada di Eyelwe, atau lebih tepatnya di kediaman Cleo. Karena William sudah terlalu tua untuk menempuh perjalanan jauh, alhasil hanya Gerhard seorang diri yang datang. Biasanya William akan menitipkan sesuatu untuk Sagira ataupun Cleo. Sudah bertahun - tahun berlalu, Cleo hingga kini masih  belum menemukan bagaimana caranya untuk mengembalikan Sagira seperti semula. Ditambah kasus Sagira sangat langka dan bahkan baru terjadi. Cleo sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada Sagira dan pada siapa Sagira terakhir berbicara sampai berakhir seperti ini. Baik Cleo, Gerhard maupun William mereka hanya bisa menunggu waktu bagaimana cara mengembalikan Sagira dan apa yang membuaat Sagira menjadi seperti ini. "Tidak, Ayah. Aku baik - baik saja. Ibu pasti merindukanku," ucap Gerhard dengan alasan yang tentu saja tidak masuk akal. Sagira berubah menjadi batu. Jangankan mendengarkan cerita Gerhard, perasaannya pun sudah tak lagi terdeteksi sejak dirinya menjadi batu. Cleo yang memiliki ilmu sihir pun tak tahu apa yang dirasakan oleh Sagira. Bahkan jika orang yang tidak tahu mengenai asal usul Sagira yang menjadi batu, pasti akan mengira batu itu hanya batu biasa. Sebenarnya Cleo pernah mencoba menghancurkan rambut Sagira segali untuk melihat apakah dibalik batu itu ada sosok Sagira yang masih utuh menjadi manusia, nyatanya nihil. Seluruh tubuh Sagira berubah menjadi batu tanpa terkecuali. Termasuk hati dan perasaannya. Gerhard dan William tak menyerah begitu saja. Entah butuh waktu berapa lama sampai Sagira kembali normal seperti biasa. Tapi mereka ingin melihat Sagira kembali tersenyum dan kembali normal seperti manusia pada umumnya. "Hati - hati di jalan," lirih William. "Tentu saja, Ayah. Tak perlu khawatir kepadaku. Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Dan lagi, tidak perlu menungguku pulang, aku takut aku akan pulang larut lagi seperti minggu lalu," ujar Gerhard. Gerhard berjalan ke arah meja belajarnya kemudian meneguk s**u hangat yang telah dibuatkan oleh William. Semenjak kepergian Sagira, William lah yang merawat Gerhard dari A sampai Z. Bahkan untuk membersihkan rumah William seringkali melakukannya seorang diri. Meski terkadang Laura datang untuk membantu, namun William yang sering merasa tak enak lebih memilih untuk mengerjakannya seorang diri. Sambil terus berharap Sagira bisa cepat kembali ke rumah mereka. "Terima kasih atas susunya," ucap Gerhard tepat setelah menghabiskan s**u yang dibuat oleh William untuknya. Susu yang dibuatkan oleh William akhirnya habis dan masuk seluruhnya ke dalam perut Gerhard. Gerhard membawa gelas itu keluar dari kamarnya sekaligus menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk bertemu dengan Sagira di Eyelwe. William ikut keluar dari kamar Gerhard dan masuk kembali ke dalam kamarnya. Dirinya menjadi jauh lebih murung sejak Sagira yang berubah menjadi batu. Bahkan William sangat jarang bersosialisasi seperti dulu. Sosok William benar - benar berubah. Terkadang Gerhard merasa sedih dan tak ingin William yang menderita seorang diri. Gerhard seringkali bertanya mengenai cerita William hari ini, namun pria itu terlalu menutup diri. Dia tak membutuhkan teman cerita atau apapun, yang ia butuhkan hanyalah Sagira yang kembali kepadanya. Sesampainya di dalam kamar mandi, Gerhard melihat pantulan dirinya di permukaan air yang tenang. Dirinya kembali memikirkan hal - hal yang menurut orang lain gila. Pertama adalah Sagira yang menjadi batu dan juga kemampuannya yang bisa berkomunikasi dengan para Aul. Gerhard kembali melihat tangannya yang sempat terkoyak dan kini sudah sembuh. Bahkan William sendiri tak percaya dengan cerita yang diberikan oleh Gerhard.  Sambil bercermin pada permukaan air yang tenang, Gerhard pun bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa aku bukan manusia biasa? Apa aku seorang vampir atau bahkan dari bangsa elf?" tanya pria itu kepada dirinya sendiri. "Tapi tidak mungkin. Dari mata saja sudah menandakan aku hanya manusia biasa," balasnya lagi. Tak mau tenggelam dalam pikirannya yang tak masuk akal, Gerhard pun mengambil gayung dan mulai mengambil air untuk membasahi tubuhnya yang sudah tak lagi tertutupi oleh sehelai benang pun.  Usai membersihkan tubuhnya, Gerhard segera keluar dari kamar mandi. Kondisi rumahnya benar - benar sepi. Semenjak kepergian Sagira bahkan Gerhard bisa merasakan jantung dalam rumahnya seolah pergi.  "Jika aku memiliki kekuatan sihir, seharusnya aku bisa membuat Ibu kembali," gumam Gerhard dalam hatinya. Gerhard masuk ke dalam kamarnya dan memilih pakaian yang membuatnya tampan untuk bertemu Sagira. Gerhard benar - benar menganggap jika Sagira bisa melihat dan bahkan merasakan kehadirannya. "Ibu sangat suka warna merah. Mungkin aku akan mengenakan pakaian ini hari ini." Gerhard meletakkan pakaian berwarna merah yang ia pilih kemudian mulai mengeringkan rambutnya lalu setelah itu menggunakan pakaian yang ia pilih. Setelah rapi semua, Gerhard pun keluar dari dalam kamarnya dan mendapati William yang sedang membaca buku di ruang tengah. "Sudah mau berangkat?" tanya William kepada Gerhard yang baru saja keluar dari kamarnya. "Sudah. Mungkin aku akan berhenti sebentar di Adarlan untuk membeli bunga. Di Eyelwe jarang sekali penjual bunga," ucap Gerhard. "Jika saja kondisi tubuhku tidak selemah ini, aku pasti akan menemanimu ke Eyelwe dan kita akan pergi bersama menemui Sagira," sesal William. Gerhard mendengar nada penyesalan dalam ucapan William. Gerhard pun berjalan ke arah William dan memeluk Ayahnya dengan hangat. "Ibu pasti mengerti," ucapnya. Setelah merasa William merasa jauh lebih tenang, barulah Gerhard pamit kepada Ayahnya. Seperti biasa, ia segera menuju ke tempat pemberhentian Styx untuk mengantarkan dirinya menuju ke Adarlan lebih dulu sebelum akhirnhya melanjutkan perjalanan menuju Eyelwe dengan Ciro (kendaraan pengangkut antar kota). Setibanya di tempat pemberhentian Styx yang tak jauh dari rumahnya, Gerhard melihat ke arah langit yang begitu cerah. "Pasti tidak akan ada Aul yang berkeliaran jika terik seperti ini," gumamnya sambil menatap ke arah langit, karena memang para Aul hanya akan muncul ketika dalam kondisi mendung dan bahkan malam hari.  Beberapa saat kemudian, Styx yang ditunggu oleh Gerhard berhenti di depannya. Pria itu langsung masuk ke dalam. Tak seperti hari kerja biasa yang selalu ramai dan penuh, kali ini hanya ada Gerhard dan 3 orang penumpang lainnya di dalam Styx. Sang pengemudi pun kembali melajukan Styx yang dikemudikan olehnya dan pergi meninggalkan Desa Solandis. Sepanjang perjalanan, Gerhard hanya menatap ke arah luar jendela sembari memikirkan hal - hal yang sebenarnya tak perlu ia pikirkan. Pikiran Gerhard terasa penuh dan sesak, padahal bukan hal penting yang ada dalam pikirannya saat ini. Styx yang ia tumpangi masuk ke dalam hutan Viltarin, melintasi hutan itu sebelum akhirnya tiba di Adarlan. Hutan yang tampak gelap dan bahkan tak akan ada penghuni yang mengisi hutan itu selain para Oriel. Menurut buku yang dibaca oleh Gerhard pun, Viltarin menjadi salah satu hutan yang dihuni oleh para makhluk sihir.  Meski hanya menjadi misteri dan tanda tanya besar, nyatanya belum pernah ada orang yang menemukan kehidupan lain selain Oriel di dalam Viltarin. Yang orang tahu hanyalah Viltarin menjadi rumah tetap bagi para Aul yang buas dan kelaparan. Styx yang ditumpangi oleh Gerhard melintasi tempat yang menjadi tempat dimana Gerhard merasa semuanya hanyalah mimpi. Kegilaannya justru membuatnya merasa semakin menggila dengan kenyataan yang ia ketahui beberapa waktu lalu. Gerhard menatap ke arah hutan itu dan tiba - tiba saja. Telinganya berdenging hingga kepalanya terasa sakit. Gerhard langsung menunduk dan memejamkan matanya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup telinganya.  "Nak? Kau tidak apa - apa?" tanya salah seorang penumpang yang menyadari Gerhard tampak kesakitan tiba - tiba tak lama setelah melintasi area yang hampir menjadi malapetaka baginya. Gerhard tak menghiraukan ucapan penumpang yang bertanya kepadanya, melainkan terus memegangi telinganya. Styx terus berjalan dan sepanjang perjalanan Gerhard merasakan telinga dan kepalanya tidak baik - baik saja. Barulah ketika Styx yang ia tumpangi keluar dari Viltarin Forest, dengungan di telinganya berkurang dan bahkan menghilang.  "Nak?" panggil penumpang yang tampak khawatir dengan keadaan Gerhard. Gerhard mendongakkan kepalanya, melihat ke arah pria yang duduk di depannya. "Kau baik - baik saja?" tanya pria paruh baya itu. Gerhard menganggukan kepalanya. "Saya baik - baik saja," ucap Gerhard. "Syukurlah. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Karena semenjak kemunculan Aul beberapa waktu lalu, energi sihir di Viltarin kembali bangkit," ucap pria itu. "Apa itu yang menyebabkan aku menjadi sakit kepala dan telingaku berdengung?" tanya Gerhard di dalam hati. Gerhard tak menggubris ucapan pria tua di hadapannya, ia hanya mengangguk dan tersenyum. Beberapa saat kemudian, Styx yang ia tumpangi berhenti di sebuah pemberhentian. Gerhard pun berpamitan pada pria yang tadi mengkhawatirkan keadaannya dan turun di tempat pemberhentian itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD