[18]

1678 Words
Gerhard melangkahkan kakinya meninggalkan tempat pemberhentian Styx. Setelah menjadi murid di akademi Lorillis tampaknya membuat Gerhard semakin hafal setiap sudut Kota itu. Seperti halnya sekarang, ia dengan mudahnya menemukan tempat toko bunga, padahal biasanya Gerhard seringkali mencari toko bunga cadangan yang menjual berbagai macam bunga terutama bunga peony merah jambu yang menjadi bunga kesukaan Sagira. Bunga peony berwarna merah jambu termasuk salah satu bunga yang sulit ditemukan. Biasanya hanya ada dijual oleh pedagang bunga tertentu dan secara khusus ditanam untuk dijual.  Hari ini, Gerhard pergi menuju ke salah satu toko bunga yang cukup lengkap atau bisa dibilang paling lengkap di Kota Adarlan. Tangan kekarnya mendorong pintu berwarna hijau dengan hiasan kaca pada bagian depannya dan saat pintu terbuka, aroma bunga yang lembut, manis dan juga unik langsung menyeruak masuk ke dalam hidungnya. "Selamat datang," ucap salah seorang gadis perempuan dengan sebuah apron berwarna ungu yang ia kenakan. Rambutnya dibiarkan tergerai sebagian sedangkan bagian atasnya dikuncir dengan sebuah karet berwarna oranye. Gerhard tersenyum menatap gadis yang sedang sibuk menata sebuah buket bunga untuk dijual kepada orang - orang yang membutuhkan buket bunga, biasanya orang - orang akan memberikan buket bunga kepada orang yang mereka kasihi dan mereka cintai. "Pagi. Saya mau mencari bunga peony merah jambu. Jika ada, saya mau membelinya 10 batang," ucap Gerhard sambil melangkah mendekati gadis itu. Gadis yang semula sedang menata buket itu pun beranjak dari tempatnya kemudian berjalan dan berhenti di depan beberapa tangkai peony merah jambu. "Mohon maaf, tapi sepertinya hanya tersisa 5 batang saja, apa tidak apa - apa?" tanya gadis itu kepada Gerhard. "Tidak apa - apa, aku akan membelinya," ucap Gerhard. Setelah mendapat persetujuan dari Gerhard, gadis itu pun langsung mengambil kelima batang bunga peony merah jambu. Gadis itu membawanya ke atas meja dan mengikatnya dengan sebuah tali berwarna putih. Kemudian membungkusnya dengan plastik bening agar bunga tersebut tetap utuh di perjalanan. "Ini diam," ucap gadis itu seraya memberikan ikatan bunga peony berwarna merah jambu kepada Gerhard. "Terima kasih," ucap Gerhard kemudian mengeluarkan uang 100 wyon untuk membayar bunga peony itu. "Aku yakin dia pasti wanita yang sangat beruntung. Terlebih bunga peony ini sangat langka dan dalam beberapa hari terakhir tanah sedang dalam kondisi yang tidak baik jadi bunga peony berwarna merah jambu ini sedang sulit berkembang," ucap gadis itu sambil memasukan uang 100 wyon yang diberikan oleh Gerhard ke dalam kantung apron yang ia kenakan. "Tentu saja. Dia harus merasa beruntung karena memiliki anak yang tampan dan peka sepertiku," balas Gerhard. Gadis itu membelalakan matanya saat mendengar Gerhard yang mengucapkan ingin memberikan itu kepada Ibunya. "Jadi itu untuk Ibumu?" tanya gadis itu. "Tentu saja. Apa aku terlihat seperti pria yang sudah menikah? Aku bahkan belum lulus dari Lorillis," balas Gerhard. "Tidak. Bukan begitu. Wajahmu itu sangat tampan, jadi sangat tidak mungkin jika tak memiliki seorang kekasih," ucapnya. Gerhard hanya tertawa mendengar ucapan sang penjaga toko bunga. Tak mau berlama - lama, Gerhard pun akhirnya berpamitan dengan gadis penjaga toko bunga dan keluar dari tokonya. Setibanya di depan toko, Gerhard mengulum senyum karena berhasil mendapatkan bunga peony berwarna merah jambu hanya dengan 1 kali singgah ke toko bunga. Bruk ! Baru saja Gerhard hendak melangkahkan kakinya meninggalkan toko bunga, tiba - tiba seseorang dengan jubah berwarna perak menabraknya dari belakang. Gerhard sempat meringis kesakitan, terlebih tubuhnya masih terasa ngilu dan sedikit sakit setelah terlempar oleh Aul beberapa hari yang lalu. "Astaga! Maafkan aku! Maaf aku menabrakmu! Aku tak bermaksud demikian," ucap wanita yang baru saja menabrak Gerhard dari belakang. Gerhard mengambil bunga peony yang terlepas dari tangannya kemudian menatap wanita yang menabraknya. "Kau tidak apa - apa?" tanya Gerhard. Wanita itu mendongakan kepalanya dan menatap Gerhard. Tatapan kedua orang itu pun bertemu dan secara bersamaan mereka saling terkejut dan membuka mulut mereka lebar - lebar. "Gerhard?!" pekik wanita itu saat menyadari siapa orang yang baru saja ia tabrak. "Nikita?" ucap Gerhard saat menyadari wanita yang menabraknya adalah Nikita. Nikita melirik ke arah bunga peony yang bagian plastiknya sedikit hancur dan rusak, namun untung saja bunga itu masih tetap utuh di dalamnya. "Astaga maafkan aku!" ucap Nikita yang merasa bersalah karena menabrak Gerhard dari belakang sampai bunga itu terjatuh dari tangan Gerhard. "Tidak apa - apa. Lagi pula bunganya masih terlihat cantik," balas Gerhard. Nikita menyadari jika Gerhard berada di Kota Adarlan di hari libur, "Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau dari Solandis?" tanya Nikita. Padahal Nikita dan Gerhard baru saja kenalan beberapa hari dan bisa dibilang kedua orang itu tidak terlalu dekat.  "Oh, aku singgah sebentar untuk membeli bunga. Kebetulan aku mau pergi ke Eyelwe," ucap Gerhard. "Eyelwe? Untuk apa? Kau punya keluarga yang tinggal di sana?" ucap Gerhard. "Jika aku bercerita tentang Ibuku, apa dia akan percaya?" gumam Gerhard dalam hati. Gerhard terdiam dan tak menjawab pertanyaan Nikita. Gerhard justru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan hanya tersenyum kepada Nikita. "Kebetulan aku juga mau ke Eyelwe. Kau mau bersama - sama ke sana?" tanya Nikita. "Tapi-" "Sudah, ayo. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena menabrakmu. Aku kebetulan membawa kendaraan jadi akan lebih cepat dibandingkan naik angkutan umum, bagaimana? Tidak perlu bayar kok," ucap Nikita. Akhirnya Gerhard menyetujui tawaran Nikita. Lagi pula hari semakin siang dan jika Gerhard memaksa menaiki kendaraan biasa seperti Ciro, sudah pasti Gerhard bisa tiba saat siang atau paling buruk sore hari. Jika sudah sore, Gerhard terpaksa akan menginap di kediaman Cleo atau memaksa pulang tengah malam. Gerhard dan Nikita langsung pergi menuju kendaraan yang dimaksud oleh Nikita. Gerhard sempat tersentak namun memaklumi kendaraan yang dimiliki oleh Nikita. Itu adalah Dolunay, sebuah kendaraan yang ditenagai dengan surya. Hanya sebagian orang yang memilikinya dan kebanyakan dari mereka berasal dari Wendlyn. Karena Nikita adalah salah satu penghuni Wendlyn yang menetap ke Adarlan, tak heran jika wanita itu memiliki Dolunay. "Ayo naik," ajak Nikita yang mengajak Gerhard masuk ke dalam Dolunay miliknya. Gerhard pun segera masuk ke dalam Dolunay setelah dirinya terpana melihat kendaraan yang ada di depan matanya, "Kau ada urusan juga ke sana?" tanya Gerhard tepat setelah dirinya mendudukan tubuhnya di atas kursi yang ada di dalam Dolunay. "Iya, kebetulan aku mau pergi ke rumah temanku disana. Kau pasti terkejut ya aku memiliki teman di Eyelwe?" tanya Nikita. "Tidak juga," jawab Gerhard. Eyelwe bisa dibilang kota mati, terlebih hanya ada keturunan dari penyihir disana. Kota itu bahkan ditutup dan penghuninya tidak diizinkan untuk pindah dari sana. Di Eyelwe pun terdapat Oriel yang sengaja dipelihara, dan kebanyakan dari Oriel itu adalah sejenis Ahool dan juga Naga kecil. "Setiap orang yang tahu aku memiliki teman dari Eyelwe mereka pasti bertanya apakah aku juga seorang penyihir atau tidak. Tapi nyatanya aku hanya manusia biasa," ucap Nikita sambil menatap Gerhard dengan bola mata merahnya dan tersenyum manis pada pria itu. Pipi Gerhard seketika memerah dan terasa panas. Sontak Gerhard langsung menoleh ke arah lain karena tak ingin Nikita merasa risih dengan kondisinya.  Gerhard akui Nikita sangat cantik, bahkan warna matanya sangat langka. Kebanyakan manusia memiliki mata berwarna cokelat dan hitam dan ini pertama kalinya bagi Gerhard melihat seorang wanita cantik yang memiliki mata berwarna merah. Setiap kali Gerhard menatap mata Nikita, jantungnya langsung berdebar kencang dan bahkan pipinya terasa terbakar. Tapi Gerhard sadar diri. Dia tak boleh menyukai sosok Nikita yang berada jauh di atas kelasnya. Terlebih Nikita pun tak akan pernah membuka hati untuk pria sepertinya. "Oh ya kau punya teman atau saudaramu di Eyelwe?" tanya Nikita dengan mata yang terfokus pada jalanan sembari mengatur laju Dolunay miliknya agar berjalan sesuai dengan rute yang diberikan oleh Nikita. "Ibuku ada di sana," jawab Gerhard. "Ibumu? Kau seorang...?" "Bukan. Bukan begitu. Kebetulan dia tinggal di rumah temannya. Tapi dia tak memiliki ilmu semacam itu. Aku hanya manusia biasa," balas Gerhard cepat yang tak ingin Nikita salah paham tentangnya. Nikita hanya menganggukan kepalanya mengerti, "Padahal kebanyakan orang yang mengerti tentang sihir disana adalah orang baik. Mereka hanya senang bermain dengan magic. Tapi mereka justru dikucilkan dan Eyelwe dianggap sebagai kota mati. Apa kau pernah pergi ke Eyelwe di malam hari saat tahun baru? Di sana sangat cantik. Setiap penyihir akan menerbangkan naga kecil peliharaan mereka dan naga itu akan menyemburkan api yang begitu cantik," ucap Nikita. Gerhard menoleh ke arah Nikita. Gerhard bisa melihat Nikita si wanita cantik yang tak pernah meremehkan hal sekecil apapun. "Belum. Mungkin lain kali," jawab Gerhard. "Mungkin kita bisa melihatnya bersama," balas Nikita kemudian menoleh dan tersenyum lagi menatap Gerhard. "s**l!" pekik Gerhard dalam hatinya karena merutuki dirinya yang selalu salah fokus dengan wajah cantik Nikita. Selama perjalanan mereka terus bercengkrama. Membicarakan beberapa hal lain. Bisa dibilang Nikita lebih banyak bercerita karena ia pernah tinggal di Wendlyn dan sering pergi ke Terassen beberapa kali saat masih berada di akademi Lorillis Wendlyn dahulu. Setibanya di perbatasan Eyelwe dan hendak memasuki daerah Eyelwe, satu tangan Nikita tiba - tiba menarik jubah yang ia pakai dan melepasnya. Nikita langsung melempar jubah berwarna silbver itu ke arah kursi belakang. Trang ! Gerhard langsung membelalakan matanya karena menyadari jika jubah yang dikenakan oleh Nikita tak hanya berwarna silver, melainkan terbuat dari silver asli. "Ah itu memang silver asli. Aku menyukainya karena tampak bagus," ucap Nikita. "Aku membuatnya sendiri," sambungnya. Bahan silver di Lacoste bisa dibilang bahan yang paling langka. Biasanya digunakan untuk menangkap Oriel seperti phoenix. Harganya sangat fantastis dan jika Nikita mengenakannya untuk jubah, sudah pasti harganya luar biasa fantastis. Dolunay yang dikemudikan oleh Nikita akhirnya tiba di depan sebuah rumah berwarna hitam dengan pagar hitam yang sedikit bengkok. Nikita sempat melihat ke arah dalam karena tampak seperti tak ada tanda - tanda kehidupan. Halaman rumah itu bahkan terkesan kotor dengan dedaunan berwarna cokelat yang menutupi area halamannya. "Kau yakin?" tanya Nikita yang seolah ragu dengan rumah itu. "Iya, ini rumahnya. Kalau begitu terima kasih banyak atas tumpangannya, aku berhutang banyak kepadamu," ucap Gerhard. Nikita tersenyum, "Jika kau mau bareng lagi denganku, nanti malam aku bisa menjemputmu dan aku bisa mengantarkanmu ke Solandis," ucap Nikita. "Tidak perlu. Aku bisa naik Ciro. Nikmati waktu bersama temanmu nanti ya," ucap Gerhard. Setelah berpamitan dan mengucapkan rasa terima kasihnya, Gerhard pun turun dari Dolunay milik Nikita. Mereka saling melambaikan tangan sebelum akhirnya Nikita pergi bersama Dolunay miliknya meninggalkan pekarangan rumah Cleo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD