[28]

1635 Words
Gerhard berlarian menuju rumah Melior, begitu pula dengan Nikita yang berlari di belakang pria itu dengan napas yang tersengal - sengal. Karena terlalu lama berlari, Nikita bisa merasakan kakinya mulai terasa kebas dan kaku.  Setibanya di depan rumah Melior, Gerhard langsung menghampiri kerumunan orang yang ada di depan rumah Melior. Tanpa permisi, pria itu langsung menggeser setiap orang yang menghalangi jalannya hingga terdorong ke arah lain. "Melior!" pekik Gerhard saat melihat Melior yang berubah menjadi batu, persis seperti yang terjadi kepada Ibunya. Melior tampak menunjuk ke arah sesuatu dengan mulut yang terbuka lebar dan kedua alisnya yang saling bertautan seolah wanita itu sedang menunjuk ke arah lain sembari meluapkan emosinya. "Astaga apa yang terjadi padamu!" gumam Gerhard sembari memeluk tubuh Melior. Sebuah tanda berbentuk huruf G ditemukan di area tengkuk Melior. Gerhard sontak langsung melepaskan pelukannya pada wanita itu dan beralih pada tanda huruf G di tubuh wanita itu. Melihat tandanya saja Gerhard sudah yakin jika tanda itu sama persis dengan yang berada di kulit Ibunya. Gerhard mengepalkan tangannya, "Aku yakin ini dilakukan oleh satu orang!" pekik Gerhard sembari menahan emosinya. Gerhard berdiri dari posisinya kemudian memperhatikan setiap orang yang hadir di sana. Berusaha mencari pelaku dibalik kejadian ini. Namun nihil, Gerhard bahkan tak bisa mencurigai siapapun. Nikita yang sedari tadi berlari di belakang Gerhard akhirnya tiba. Kaki wanita itu terasa lemas setelah berlarian cukup panjang, ditambah napasnya yang masih tersengal - sengal. Setelah mengatur napasnya, barulah Nikita berjalan menghampiri Gerhard. Nikita langsung membelalakan matanya saat melihat Gerhard yang sedang memeluk sebuah patung wanita di hadapannya. "A - apa yang terjadi?" tanya Nikita yang seolah kehabisan kata - kata karena tak kuasa melihat apa yang terjadi di hadapannya. Bahkan ini pertama kalinya bagi Nikita melihat hal seperti ini. 700 tahun lebih ia hidup, tak pernah sekalipun ia melihat pemandangan mengerikan seperti ini. "Gerhard," panggil Nikita lembut sambil berjalan menghampiri Gerhard yang mulai terisak. Gerhard menoleh saat merasa namanya dipanggil oleh sebuah suara yang terdengar familiar baginya.  "Apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau pulang sebelum matahari terbenam!" ujar Gerhard. "Bagaimana bisa aku pulang sedangkan kau tampak khawatir setelah mendengar berita yang disampaikan oleh tetanggamu?" balas Nikita. Nikita bisa melihat dengan jelas ekspresi yang keluar dari patung itu. Mustahil bagi seorang manusia membentuk patung dengan wajah yang realistis, terlebih ini adalah batu, bukan kayu. Gerhard menoleh ke arah belakang Nikita dan tepat di belakang wanita itu, Nico dan William muncul sembari memasang wajah iba kepada Gerhard. Bagaimana tidak, selama ini Melior sudah dianggap seperti Ibu sendiri bagi Gerhard. Terlebih Melior banyak berperan untuk menyembuhkan luka di hati Gerhard setelah pria itu kehilangan sosok Ibunya. "Mungkin sebaiknya kita meminta Cleo segera menemukan mantra yang tepat. Jika terus seperti ini, korban bisa semakin banyak. Terlebih kita tidak tahu motif apa yang sebenarnya terjadi," ujar William. "Kau benar. Padahal tadi pagi aku masih menyapa Melior. Aku tidak tahu dengan siapa dia berbicara hingga berakhir seperti ini," sahut Nico. Nikita menggelengkan kepalanya setelah mendengar cerita Nico, "Yang jelas ini bukan perbuatan seorang manusia biasa. Ini juga bukan dari ilmu sihir yang dipelajari para manusia selama ini," gumam Nikita. Gerhard menatap ke arah Nikita yang raut wajahnya telah berubah dari biasanya. Sorot mata merahnya seolah menyala dan bahkan tatapannya berubah menjadi tajam. "Apa maksudmu?" tanya Nico pada Nikita. Nikita berbalik dan menatap Nico. Semua orang terkejut saat melihat mata merah Nikita yang menyala, untuk pertama kalinya mereka melihat seorang manusia dengan bola mata berwarna merah. "Perbuatan ini, aku yakin bukan dilakukan oleh manusia. Sihir mana yang mengajarkan merubah manusia menjadi batu? Jika memang benar dilakukan oleh manusia, seharusnya para penyihir itu menemukan cara mengubahnya kembali menjadi manusia kan? Terlebih Pak William mengatakan takut memakan banyak korban, bukankah ini berarti sudah bukan kejadian yang pertama?" ujar Nikita. Semua orang yang mengelilingi Melior menganggukan kepalanya setuju dengan pendapat Nikita. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya berharap agar semuanya kembali normal dan pelakunya ditangkap," sambung Nikita. "Jadi, apa menurutmu ini adalah perbuatan bangsa lain? Elf? Vampire? Bukankah mereka sudah musnah?" celetuk salah seorang warga setelah mendengar penjelasan Nikita. "Jika ini karena hewan, sepertinya tidak mungkin," sahut warga yang lain. "Kita akan segera tahu jika sudah berhasil menyembuhkannya, bukan?" balas Nikita membuat semua orang terdiam dan membenarkan ucapan Nikita dalam hati mereka. Gerhard berdiri dan menepuk bahu Nikita hingga wanita itu berbalik menatapnya.  "Bisa bantu aku? Sepertinya aku juga harus mengantarkan Melior kepada Cleo. Ada yang perlu aku bicarakan juga padanya," pinta Gerhard. "Ke Eyelwe?" tanya Nikita. "Gerhard! Jangan gila! Tidak perlu memikirkan hal seperti ini. Cukup fokus pada akademimu saja sekarang dan jangan merepotkan Nikita. Dia sudah banyak direpotkan olehmu," sahut William. "Saya tidak merasa keberatan. Jika ini memang untuk menyelamatkan banyak orang, saya bersedia membantunya," balas Nikita. "Tapi hari sudah semakin gelap. Kalian tidak boleh melintasi Viltarin setelah matahari terbenam," ujar Nico. "Kita bisa melakukannya, aku mengenal para penghuni Viltarin," sahut Gerhard dengan tatapan mata yang berubah menjadi tajam. "Kau yakin?" tanya William. "Aku yakin, Ayah. Tubuh Melior harus segera dipindahkan. Jika tubuhnya bertemu matahari pagi, kemungkinan bisa hancur, itu sebabnya Ibu pun diletakkan di dalam kamar yang kedap sinar matahari karena cahaya matahari bisa membuat tubuhnya hancur. Jika sudah hancur, hilang sudah harapan kita untuk menyelamatkannya," jawab Gerhard. "Jika itu yang harus dilakukan, maka lakukanlah," ujar William. Setelah mendapatkan persetujuan dari William, akhirnya Nikita dan Gerhard pun mengantarkan Melior menuju Eyelwe. Para warga Desa Solandis pun bekerja sama mengangkat tubuh Melior ke atas sebuah troli yang akan ditarik oleh Dolunay milik Nikita. Tak lupa, Gerhard juga melilitkan sebuah kain ke atas tubuh Melior yang membatu karena takut mereka harus beristirahat di Adarlan dan terlambat tiba di Eyelwe. "Maaf aku banyak merepotkanmu," ujar Gerhard sesaat setelah mereka berdua masuk ke dalam Dolunay. "Tidak masalah," balas Nikita. Di tengah gelapnya malam yang diiringi suara lolongan Aul dan serigala yang bersahutan, Gerhard dan juga Nikita akhirnya berangkat melintasi hutan dan kembali menikmati jalanan panjang untuk pergi menuju Eyelwe.  "Apa Ibumu juga seperti itu? Sampai kau rela menempuh jarak jauh demi bertemu dengannya?" tanya Nikita dengan hati - hati karena takut menyakiti perasaan Nikita. "Sebenarnya aku tak ingin mengatakannya karena takut kau tidak percaya. Tapi karena kau sudah melihat Melior yang berubah dengan mata kepalamu sendiri, mungkin ini saatnya aku menceritakannya kepadamu," ujar Gerhard. Gerhard kemudian memulai ceritanya tentang bagaimana Ibunya yang telah menjadi batu sejak 18 tahun yang lalu. Dirinya bahkan tak lagi bisa menerima kasih sayang seorang Ibu. Karena itu, Melior yang begitu mengenal Gerhard, menganggap Gerhard seperti anaknya sendiri. Bahkan Melior tidak pernah lupa dengan hari ulang tahun Gerhard. Tanda yang berada di tengkuk Melior, sama persis dengan tanda pada tubuh Sagira 18 tahun yang lalu. Hanya saja, saat itu Gerhard beruntung karena Cleo secara kebetulan sedang melintas di Solandis. Cleo langsung membawa tubuh Sagira ke Eyelwe dan kembali keesokan harinya hanya untuk memberi tahu dimana ia tinggal. Sejak saat itu, Gerhard sering berkunjung ke Eyelwe hanya sekedar berbicara dengan Ibunya yang masih menjadi batu. Tak hanya itu, Cleo juga seringkali melaporkan perkembangan tentang Sagira. Meski kesembuhan Sagira 1 berbanding 14 juta, Cleo masih dengan sabar membantu Gerhard untuk memulihkan Sagira seperti sedia kala. "Aku turut prihatin padamu. Aku berharap semua akan menjadi jauh lebih baik," ucap Nikita. "Sebetulnya Cleo menyarankan padaku untuk berbicara dengan Hydra dan meminta air mata mereka. Pada awalnya aku tidak yakin, tapi karena korban yang jatuh sudah 2 orang, sepertinya aku harus melakukannya," ujar Gerhard. Nikita terkejut mendengar Gerhard yang ingin mencoba berbicara dengan Hydra, "Apa kau gila?!" "Bisa dibilang gitu. Kau tidak tahu kan jika aku bisa berbicara dengan Aul?"  "Apa?! Kau... benar - benar gila!" pekik Nikita. "Aku pun merasa begitu. Karena Cleo tahu tentang itu, ia jadi menyarankan padaku untuk mengumpulkan air mata Hydra. Katanya air matanya memiliki kekuatan sihir yang luar biasa besar," ujar Gerhard. "Memang sih. Tapi aku tak pernah melihat mereka menangis," ujar Nikita yang langsung tutup mulut karena hampir keceplosan menyebut usia aslinya. Ciiiiiiit ! Tiba - tiba saja Dolunay yang dikendarai oleh Nikita berhenti melaju. Tepat di hadapan mereka, seekor Aul dengan tubuhnya yang besar berhenti dan menghadang Dolunay Nikita hingga tak bisa bergerak. "Tunggu sebentar," ucap Gerhard. Gerhard kemudian turun dari Dolunay milik Nikita. Di depan mata Nikita, ia bisa melihat mata merah yang terpantul keluar dari hewan besar itu. "Kenapa mereka menyebut hewan ini Aul? Apa karena ia berevolusi dan bisa berubah menjadi seperti werewolf? Padahal sudah jelas dia Fenrir si serigala raksasa," gumam Nikita saat tatapan matanya bertemu dengan hewan itu. Setelah terdiam di tengah hutan beberapa saat, Gerhard pun kembali ke dalam Dolunay. Nikita yang penasaran langsung menatap Gerhard dan menunjukan ekspresi apa yang terjadi. "Dia merasakan aura aneh yang melintasi Viltarin, makanya dia memberhentikan Dolunay. Tapi sekarang sudah baik - baik saja," ucap Gerhard. "Ayo kita jalan," tambah Gerhard. Aul yang semula menghadangi Dolunay milik Nikita pun pergi dan kembali masuk ke dalam hutan sampai jejaknya tak tertinggal lagi. "Dulu, hewan itu disebut sebagai Fenrir. Dia adalah serigala raksasa," imbuh Nikita sambil melajukan Dolunay miliknya. "Fenrir?" tanya Gerhard. "Iya. Tapi sekarang ia sepertinya bisa mengambil bentuk manusia dan berubah seperti werewolf," ujar Nikita. Gerhard tampak tak mengerti dengan maksud Nikita, terlebih wanita itu mengatakan hal - hal yang tak pernah tertulis di dalam buku Oriel.  "Lupakan saja," sambung Nikita dan akhirnya kembali terfokus mengemudikan Dolunay miliknya melintasi hutan Viltarin di tengah gelapnya malam. Sedangkan Gerhard, berusaha untuk tetap terjaga karena tak ingin hal buruk menimpa Nikita. Bagaimana pun, Gerhard harus tetap terbangun dan menemani Nikita yang mengemudikan Dolunay miliknya. Sesekali Gerhard menoleh ke arah belakang, melihat ke arah patung yang tertutupi oleh kain. Dalam hati, Gerhard merasa bersalah karena membuat Sagira dan juga Melior menjadi batu. Meski Gerhard tak tau apa penyebabnya, tapi entah mengapa pria itu justru merasa bersalah dan men - cap dirinya sebagai penyebab dari semua hal, hingga ia selalu merasa bersalah. "Maafkan aku," gumamnya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD