Suara nyaring yang dihasilkan oleh bel menjadi akhir bahagia bagi seluruh murid Lorillis di Adarlan. Bagaimana tidak, bel yang berbunyi selama 5 detik tersebut menjadi pertanda jika kelas hari ini telah berakhir. Guru terakhir yang mengajar di kelas pun keluar dari ruang kelas dan kembali menuju kantor akademi. Sedangkan para murid yang lain, sibuk membenahi alat tulis mereka ke dalam tas sebelum meninggalkan meja mereka.
"Gerhard," panggil Nikita tepat sesaat pria itu baru saja ingin beranjak dari kursinya.
Gerhard menoleh menatap ke arah Nikita. Sontak semua orang yang ada di kelas itu pun melihat ke arah Nikita dan Gerhard yang sedang berinteraksi satu sama lain di dalam kelas. Merasa tidak nyaman, Gerhard pun memutuskan untuk tak menghiraukan Nikita dan beralih meninggalkan kelas.
Merasa tak dihiraukan oleh Gerhard, Nikita pun ikut menyusul Gerhard yang sudah lebih dulu keluar dari kelas. Sedangkan Jaromir dan Antheia saling menatap satu sama lain.
"Apa mereka ada hubungan sesuatu?" tanya Antheia pada Jaromir.
"Kurasa tidak," balas Jaromir yang kemudian ikut berdiri dan keluar dari dalam kelas.
"Hei! Tunggu aku!" pekik Antheia yang berlarian kecil menghampiri Jaromir yang lebih dulu meninggalkan kelas darinya.
Gerhard langsung keluar dari akademi karena tak ingin menjadi pusat perhatian setelah Nikita secara terang - terangan menyebut namanya di depan semua orang. Sedangkan Nikita masih terus berlari kecil mengikuti langkahan kaki Gerhard. Sampai akhirnya . . .
Grep !
Nikita meraih tangan Gerhard hingga pria itu berhenti dan berbalik menatap Nikita.
"Bisakah kau berhenti? Aku lelah mengejarmu!" ujar Nikita.
"Ada apa? Apa yang kau ingin bicarakan? Aku sudah katakan aku tidak ingin menjadi pusat perhatian karena berbicara denganmu!" ujar Gerhard.
"Pusat perhatian apanya? Bukankah kau yang lebih menarik banyak perhatian karena wajah tampanmu itu?" balas Nikita.
Gerhard membuang napasnya kasar, "Ya, dan kau juga cantik dan menjadi pusat perhatian banyak orang."
Pipi Nikita seketika memerah. Baru kali ini ada seorang pria yang menghindarinya hanya karena tidak ingin menjadi pusat perhatian. Padahal sebelumnya, Nikita sangat mudah mendapatkan perhatian dari seorang pria hanya karena ia cantik. Terlebih para pria itu merasa senang menjadi pusat perhatian karena bisa berhasil mendekati Nikita yang cantik.
"Apa aku boleh ikut ke rumahmu? Sepertinya sisir milikku tertinggal di kamarmu," ujar Nikita.
"Sisir?"
Nikita menganggukan kepalanya, "Iya."
"Kalau begitu biar aku bawakan besok," ucap Gerhard dan kembali berjalan meninggalkan Nikita, terlebih orang - orang satu persatu mulai keluar dari kelas dan melintas di dekat mereka.
Tak mau menyerah, Nikita pun kembali menarik tangan Gerhard hingga pria itu berhenti melangkahkan kakinya dan lagi - lagi memutar tubuhnya.
"Apa lagi?" tanya Gerhard.
"Aku harus menemukannya sendiri. Kumohon, hanya sebentar saja, aku tidak akan menghabiskan waktu untuk menginap di rumahmu," ujar Nikita.
Mendengar Nikita yang membicarakan tentang dirinya menginap di rumah, Gerhard pun langsung membungkam mulut Nikita dengan menggunakan tangannya.
"Oke, kita ke rumahku sekarang. Setelah mendapatkan barang milikmu, kau pulang," ujar Gerhard.
Nikita menganggukan kepalanya. Tentu saja ia tak bisa menjawab karena Gerhard membungkam mulutnya dengan tangannya.
Baik Gerhard maupun Nikita, mereka bersama - sama pergi menuju area parkiran dan segera masuk ke dalam Dolunay milik Nikita. Tanpa menunggu waktu lama, mereka berdua akhirnya pergi menuju rumah Gerhard yang terletak di Desa Solandis.
"Kenapa kau selalu menghindariku?" tanya Nikita dengan pandangan matanya yang tefokus ke arah jalanan tepat setelah mereka keluar dari wilayah akademi Lorillis.
"Entahlah. Aku hanya tidak mau berurusan dengan wanita cantik," jawab Gerhard sembari menatap lurus ke arah jalanan seperti yang dilakukan oleh Nikita.
Nikita menoleh sesaat ke arah Gerhard yang duduk di sampingnya dan menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa? Bukankah wanita cantik itu menarik?"
"Tidak juga. Saingannya banyak, aku tidak mau jatuh hati pada wanita cantik yang tidak tertarik padaku," balas Gerhard.
"Lalu bagaimana jika wanita cantik yang satu ini tertarik kepadamu?"
Gerhard langsung menoleh setelah Nikita mengucapkan kalimat itu.
"Jangan harap," balas Gerhard dan akhirnya menyelesaikan percakapan singkat mereka.
Dolunay yang dikendarai oleh Nikita akhirnya memasuki Hutan Viltarin. Sepanjang perjalanan, Nikita bisa menghitung jumlah kendaraan yang melintas di dalam hutan itu. Tak ada rumah penduduk di dalam sana, yang ada hanyalah pohon pinus yang menjulang tinggi menutup cahaya matahari yang berusahi menerangi tanah.
"Kau biasa lewat sini setiap hari?" tanya Nikita.
"Iya," jawab Gerhard singkat.
"Selalu sepi seperti ini?"
"Tentu saja. Memang kau pikir akan ada orang yang berpesta memanggang babi disini atau membakar Aul? Tentu saja tidak. Jangankan untuk turun dan berjalan, untuk berhenti saja mereka berpikir ratusan kali."
"Tapi ini menjadi satu - satunya akses yang menghubungkan Desa Solandis dengan Kota Adarlan kan? Terlebih Desa Solandis benar - benar berada di pinggir dan jalannya kembali ditutup oleh Pegunungan Emrys," balas Nikita.
"Benar. Desa Solandis benar - benar terletak di ujung pulau. Beberapa orang pernah mencoba melihat ke penghujung Pegunungan Emrys, namun yang ada hanyalah bukit dan pegunungan lain. Mungkin karena banyaknya gunung, menjadikan Desa Solandis subur dan menghasilkan batu bara yang begitu banyak," jawab Gerhard.
Jika dilihat dari peta, Lacoste hanya terdiri dari sebuah pulau besar bernama Velenna yang berarti satu. Di tengah pulau Velenna terdapat sungai besar bernama Sungai Leomord yang menajadi pemisah antara 2 kota besar. Tepat di bagian tengah sungai, sebuah jembatan besar menjadi penghubung yang menyatukan daratan Adarlan dengan Terassen dan Wendlyn.
Adarlan terletak di bagian Barat. Di sebelah Utara, terdapat bukit serta hutan pohon akar seribu bernama Rhony. Hutan dan perbukitan itu menjadi pembatas antara Kota Adarlan dengan Kota Eyelwe. Sedangkan pada bagian Selatan Kota Adarlan, menjadi titik letak dimana Desa Solandis berada yang dipisahkan dengan Hutan Viltarin, Desa Solandis merupakan satu - satunya desa di Adarlan dan menjadi tempat penghasil batu bara terbanyak karena memiliki pegunungan yang begitu banyak, yakni Pegunungan Emrys.
Beralih ke bagian Timur, jembatan yang menghubungan antara daratan Adarlan dengan Terassen serta Wendlyn, terletak persis di depan Hutan Oryn. Hutan itu menjadi tempat pertigaan, dimana jika ke bagian Utara akan menuju ke Terassen -- tempat Kerajaan Odor, dan bagian Selatan yang diisi oleh Kota Wendlyn.
Perbatasan Kota Wendlyn diakhiri dengan Laut Sansa yang membentang luas dan bahkan hingga saat ini tak pernah ada yang menemukan ujung dari Laut Sansa. Lautan itu juga yang mengitari Velenna. Meski begitu, akses menuju Laut Sansa hanya bisa melalui Kota Wendlyn. Sedangkan dari Terassen, Eyelwe dan Adarlan, ketiganya sama - sama ditutupi oleh hutan lebat dan pegunungan yang membuat siapapun akan menyerah sebelum bertemu dengan Laut Sansa.
Setelah melewati Hutan Viltarin, barulah mereka tiba di depan gerbang Desa Solandis. Gerbang itu hanya terdiri dari dua buah batu yang berdiri tegak dengan tulisan selamat datang. Usai melewati pilar batu, mereka pun disambut dengan beberapa orang yang tampak sedang sibuk dengan kegiatan mereka.
Tak seperti tadi malam, keadaan Desa Solandis berubah drastis. Jika tadi malam desa ini sangat sepi dan hanya dihiasi dengan sinar lampu serta api yang menyala pada tungku kecil, kini desa ini dipenuhi oleh para masyarakat yang berlalu kesana dan kemari. Karena terlalu ramai, Nikita sampai harus memperlambat laju Dolunay miliknya agar tidak menyenggol dan bahkan menabrak warga sana.
"Huah akhirnya tiba," ujar Nikita merasa lega karena mereka akhirnya kembali tiba di rumah Gerhard.
Gerhard pun langsung turun. Dan tepat di halaman depan rumah, William sudah berdiri dan menyambut kedatangan mereka saat menyadari Dolunay milik Nikita yang kembali terparkir di halaman rumahnya.
"Maaf saya kembali lagi, ada yang tertinggal di kamar Gerhard," ujar Nikita.
"Oh begitu. Kalau begitu cepat diambil dan kembali pulang. Jangan sampai matahari terbenam," ujar William.
"Baik!" pekik Nikita kemudian langsung berlarian masuk ke dalam rumah keluarga Alastair.
Setibanya di dalam kamar Gerhard, wanita itu langsung menutup pintu kamar Gerhard dan menguncinya. Pandangannya matanya langsung mengedar dan mencari benda berwarna merah. Sebenarnya ia berbohong jika sisirnya yang tertinggal, sebenarnya benda yang tertinggal di kamar Gerhard adalah botol Aesira miliknya.
Botol Aesira berisikan air mata suci dari Gunung Aesira. Gunung itu menjadi sumber mata air paling jernih dan belum pernah terjamah oleh siapapun. Tak ada yang tahu dimana asal air sungai Leomord mengalir, terkecuali Nikita. Gunung itu memang tersembunyi di dalam hutan dan hanya bisa diakses melalui Eyelwe. Jika dilihat dari peta, Aesira terletak di bagian Utara Eyelwe setelah melewati Hutan Maylea.
Air mata suci itu memiliki energi yang cukup untuk mempertahankan bentuk Nikita sebagai manusia. Membuat mata merahnya tak terlalu menyala, menyembunyikan taringnya serta kuku panjangnya yang berwarna merah, atau lebih tepatnya menyembunyikan wujud asli Nikita yang seorang Mongrel.
"Ketemu!" pekik Nikita tepat setelah menemukan botol aesira yang berwarna merah itu.
"Aku tidak tahu apa jadinya jika aku kehilangan botol ini. Aku harus kembali lagi ke Aesira hanya untuk mengumpulkan airnya," tambah Nikita di tengah gumamannya.
Nikita langsung bergegas mengambil botol itu dan memasukan ke dalam tas miliknya. Setelah mendapatkan barang yang ia cari, Nikita pun kembali keluar dari kamar Gerhard.
Gerhard beserta William sudah menunggu kehadiran wanita itu. Mereka tampak dengan tenang duduk di ruang tamu menatap ke arah Nikita yang baru saja keluar dari kamar Gerhard.
"Aku tidak bermaksud mengusirmu, tapi alangkah baiknya kau pergi sebelum matahari terbenam," lirih William.
"Baik, Pak. Saya mengerti kekhawatiran anda," balas Nikita.
"Sudah mendapatkan yang kau cari?"
"Sudah."
Nikita pun diantar berjalan ke depan rumah oleh Gerhard dan William.
"Hati - hati di jalan, ya," ujar William yang khawatir pada Nikita karena harus pergi seorang diri.
"Tidak perlu khawatir. Saya bisa menjaga diri saya dengan baik," balas Nikita.
"Sebenarnya mereka juga sudah pasti akan lebih takut padaku, secara aku ini seorang Mongrel," gumam Nikita dari dalam hatinya sambil tersenyum menatap William.
Sebelum berpamitan pulang, Nikita pun memeluk William. Wanita itu bisa merasakan emosi dari seorang William yang khawatir kepadanya.
"Aku pamit pulang," ucap Nikita dan segera masuk ke dalam Dolunay miliknya.
Entah datang dari mana, tiba - tiba saja Nico berlarian menuju rumah Gerhar dengan mata yang membulat. Gerhard dan William tampak panik melihat kedatangan Nico, begitu juga dengan Nikita yang langsung terdiam menguping pembicaraan pria yang baru saja tiba di rumah Alastair.
"Ada apa, Nic?" tanya William.
"Melior! Melior!" ucap Nico.
"Tante Melior? Kenapa? Ada apa?" tanya Gerhard yang jauh lebih khawatir dari pada William.
"Melior menjadi batu seperti Ibumu di depan rumahnya!" pekik Nico.
Bruk !
Gerhard langsung menjatuhkan tas ransel yang ia bawa ke tanah, mata Gerhard membulat saat mendengar ucapan Nico. Tanpa berpamitan pada William, Gerhard langsung berlari ke arah rumah Melior. Melihat Gerhard yang langsung berlari meninggalkan rumahnya, Nikita pun turun lagi dari Dolunay miliknya.
Nikita tak mengerti dengan pembicaraan Nico. Terlebih kedua pria tua itu masih tampak terkejut. Akhirnya Nikita pun ikut berlari menyusul Gerhard untuk melihat apa yang terjadi sampai membuat Gerhard berlari meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan pada William.