Suasana ramai di Lorillis tampak menjadi hal yang biasa bagi semua orang yang melintasi akademi terakhir dalam jenjang pendidikan di Lacoste. Sebuah papan pengumuman yang diletakkan pada bagian depan kantor akademi dipenuhi oleh orang - orang berseragam putih khas akademi Lorillis. Mereka semua tampak antusias membaca pengumuman yang ditulis di atas sebuah kertas dan ditempelkan pada sebuah papan pengumuman.
Gerhard melangkahkan kakinya memasuki Lorillis. Tepat di gerbang masuk, pria itu bertemu dengan seorang pria dan wanita yang sangat ia kenal, siapa lagi kalau bukan Jaromir dan juga Antheia.
"Selamat pagi Gerhard!" sapa Antheia dan berlarian menghampiri Gerhard.
"Pagi," balas Gerhard.
"Tumben sekali kau datang pagi, biasanya 5 menit lebih siang dari sekarang," sahut Jaromir.
"Lebih tepatnya selama semalaman aku tidak bisa tertidur. Aku baru pulang dari Eyelwe dan menderita insomnia. Sudah mencoba meminum teh camomile hasilnya nihil," jawab Gerhard dengan alasan yang berbohong dari cerita aslinya.
"Kau dari Eyelwe? Ada apa disana?" tanya Antheia yang penasaran dengan cerita Gerhard.
"Tidak ada, hanya mengunjungi rekanku saja," jawab Gerhard kemudian melangkahkan kakinya lebih cepat dari semula.
Tak mau tertinggal oleh langkahan kaki Gerhard yang cepat, Antheia dan Jaromir pun menyaman ritme langkahan kaki pria dengan tinggi badan 190 cm itu. Baru saja melewati gerbang, Gerhard, Antheia beserta Jaromir sontak menghentikan langkahan kakinya saat melihat kerumunan para murid akademi yang tampak memenuhi papan pengumuman di depan kantor akademi Lorillis.
"Kenapa mereka berkerumun di sana?" tanya Gerhard kepada Jaromir dan Antheia yang secara kebetulan baru saja datang seperti dirinya.
"Entahlah. Sebaiknya kita lihat ada pengumuman apa di sana," ajak Jaromir dan langsung menghampiri pengumuman.
Karena tubuh Jaromir yang lebih pendek dari yang serta memiliki postur berisi, membuat dirinya kesulitan melihat celah ke papan pengumuman itu. Untung saja ada Antheia yang badannya mungil dan segera menyelinap masuk untuk membaca papan pengumuman. Sedangkan Gerhard, dengan berjinjit saja ia sudah bisa melihat tulisan yang ada di papan pengumuman itu.
Seorang wanita yang juga baru saja tiba di gerbang Lorillis pun tampak kebingungan saat melihat kerumunan orang yang memenuhi papan pengumuman. Tanpa berpikir panjang, wanita itu bergegas menghampiri seorang pria yang ia kenal dan bertanya kepadanya.
"Hei, ada apa ini?" sapa Nikita yang tiba - tiba saja muncul dari belakang Gerhard membuat Gerhard tersentak.
"Astaga!" pekik Gerhard yang terlonjak kaget karena Nikita yang tiba - tiba muncul entah dari mana dan langsung menarik ujung bajunya.
"Maaf membuatmu terkejut," ucap Nikita.
Setelah merasa detak jantungnya melambat dari sebelumnya, barulah Gerhard mengatakan isi dari pengumuman itu.
"Itu -"
Baru saja Gerhard ingin memberitahu isi pengumuman di papan itu, Antheia dan Jaromir pun kembali. Antheia langsung menyapa Nikita dengan ramah.
"Pagi, Nikita," sapa Antheia.
"Pagi," balasnya.
"Aku tidak tahu jika kalian menjadi dekat," sahut Jaromir.
"Tidak, bukan seperti itu," tukas Gerhard.
Antheia menatap ke arah Gerhard dan Nikita secara bergantian.
"Kalian sudah baca pengumuman disana?" tanya Antheia.
"Sudah," jawab Gerhard.
"Belum," jawab Nikita bersamaan dengan Gerhard sehingga membuat Antheia kebingungan.
"Aku belum sempat membacanya, kerumunan itu menghalangi mataku," imbuh Jaromir.
"Oke kalau begitu biar kuberitahu saja," ujar Antheia.
"Pengumuman itu berisikan bahwa kita akan melakukan study tour selama beberapa hari. Di sana sih tidak ditulis wajib atau tidaknya, tapi seluruh angkatan wajib mengikuti kegiatan tersebut," sambung Antheia.
"Study tour?" ucap Gerhard mengulangi kalimat yang dijelaskan oleh Antheia.
Antheia menganggukan kepalanya, "Kau tidak tahu?"
Gerhard langsung menggelengkan kepalanya.
"Itu seperti perjalanan bersama akademi, kita juga akan belajar banyak hal. Jika dilihat dari pengumuman yang ingin semua angkatan mengikuti kegiatan tersebut, sepertinya ini akan bersifat wajib," tambah Jaromir.
"Apa itu berbayar?" tanya Gerhard.
"Biasanya 1000 wyon," sahut Nikita yang sudah tahu biaya untuk study tour berapa, terlebih dia sudah sangat sering mengikuti kegiatan itu.
"Kau benar, biayanya 1000 wyon," ujar Antheia membenarkan.
"Itu bahkan bukan jumlah yang sedikit," gumam Gerhard yang langsung memikirkan tentang biaya study tour yang ditulis.
Meski ia memiliki banyak uang, namun jika harus mengeluarkan uang sebesar 1000 wyon demi study tour beberapa hari, mungkin Gerhard perlu memikirkannya beberapa kali. Di samping ia sangat menginginkan perjalanan tersebut.
Kriiing !
Suara bel yang nyaring pun terdengar hingga menelisik masuk ke telinga Gerhard, Jaromir, Antheia dan juga Nikita.
"Sudah bel, sebaiknya kita ke kelas. Hari ini kelas Pak Aldrich yang pertama," ujar Antheia yang langsung berlarian menuju kelas meninggalkan Jaromir, Nikita dan Gerhard jauh di belakangnya.
"Sebaiknya kita segera menyusulnya," ujar Nikita kemudian berlarian kecil mengikuti langkahan kaki Antheia.
Beberapa murid yang lain pun berhamburan meninggalkan papan pengumuman dan mulai masuk ke dalam kelas mereka. Meski mereka sudah berada di lokasi Lorillis, namun jika mereka terlambat masuk ke dalam kelas, mereka akan dihitung tidak masuk dan baru bisa dikatakan masuk di kelas selanjutnya.
Gerhard dan Jaromir pun ikut berlari mengikuti Nikita. Beberapa orang sempat melihat ke arah Nikita dan Gerhard yang berlari bersamaan. Bagaimana tidak, kedua orang itu hingga saat ini menjadi topik hangat yang dibicarakan oleh seluruh warga akademi Lorillis. Si tampan dan si cantik, itulah sebutan bagi mereka berdua. Terlebih Nikita dan Gerhard memiliki otak yang luar biasa jenius daripada orang lainnya.
Setibanya di kelas, Jaromir, Gerhard dan Nikita bisa melihat Antheia yang sudah duduk di kursinya sambil mengatur napasnya. Begitu pun dengan ketiga orang yang baru saja tiba setelah ditinggal oleh Antheia, mereka langsung duduk di tempat mereka dan mengambil napas dalam.
"Se - Sekarang a - akuh menyadari ji - jika jarak dari gerbang sampai ke ke - kelas sangat jauh!" keluh Jaromir dengan napasnya yang tersengal - sengal.
Gerhard tak mampu membalas ucapan pria itu, melainkan sibuk mengatur deru napasnya.
Pintu kelas yang semula tertutup kemudian terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya dengan wajah tampannya memasuki ruang kelas.
"Selamat pagi," sapanya sambil melangkahkan kakinya menuju sebuah mimbar untuk ia memberikan materi selama beberapa jam ke depan.
"Pagi Pak Aldrich," balas seluruh murid di dalam kelas itu bersamaan.
"Apa kalian sudah melihat papan pengumuman pagi ini?" tanya Aldrich.
"Sudah, Pak," jawab mereka bersamaan.
"Kegiatan study tour yang kami adakan bersifat wajib. Karena kegiatan ini akan meliputi memperkenalkan kalian pada sejarah Lacoste serta kita akan melakukan makan siang eksklusif bersama dengan Raja dan Ratu Kerajaan Odor," ujarnya.
Sontak seluruh orang di dalam kelas itu bersorak ramai mendengar ucapan Aldrich yang mengatakan jika dalam kegiatan itu mereka akan bertemu dengan Raja dan Ratu dari Kerajaan Odor.
Antheia yang mendengar hal itu pun juga terlihat sangat antusias, ia langsung memutar tubuhnya ke belakang dan menatap ke arah Jaromir serta Gerhard.
"Kalian ikut kan? Kita akan makan siang dengan Raja dan Ratu!" pekiknya.
Nikita tampak melirik ke arah Gerhard yang duduk tepat di belakangnya. Jaromir menganggukan kepalanya, sedangkan Gerhard justru terdiam tanpa memberikan respon apapun.
"Batas pembayaran akan dibuka sampai 3 hari ke depan. Saya harap semua orang yang ada di sini bisa ikut dalam kegiatan study tour tersebut. Kegiatan itu juga akan menjadi salah satu syarat kalian untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya," ujar Aldrich.
Setelah selesai menyampaikan sedikit pengumuman tambahan untuk kegiatan study tour yang akan dilaksanakan dalam waktu 2 minggu lagi, Aldrich pun kembali memulai kelasnya. Seperti biasa ia akan lebih banyak berinteraksi dengan para murid di kelas itu hingga semua orang yang ada di sana bisa memahami materi yang ia berikan.
4 jam pun berlalu . . .
Kelas pagi yang diberikan oleh Aldrich akhirnya selesai. Bel pun berbunyi pertanda jika jam pelajaran pertama telah usai.
"Baiklah kalau begitu cukup sekian dari saya, sampai jumpa di kelas saya yang selanjutnya," ujar Aldrich sambil membenahi beberapa buku yang ia bawa dan berjalan meninggalkan kelas.
Gerhard yang semula sedang terfokus pada catatannya sontak berdiri dan berlari menyusul Aldrich yang baru saja keluar dari kelas. Sedangkan Jaromir dan Antheia tampak kebingungan dengan kepergian pria itu yang mendadak.
Merasa penasaran dengan apa yang terjadi, Nikita pun ikut menyusul Gerhard. Bukannya menghampiri Gerhard dan Aldrich yang sedang bercengkaram di lorong kelas, Nikita justru menguping pembicaraan kedua pria itu di ambang pintu kelas.
"Pak, jika saya tidak ikut, apa saya akan menerima hukuman lain? Atau ada yang harus saya kerjakan?" tanya Gerhard kepada Aldrich.
Aldrich yang semula tersenyum ramah, raut wajahnya pun berubah mendengar ucapan Gerhard.
"Bukankah kamu sudah menerima biaya santunan yang cukup besar? Saya rasa 1000 wyon bukan hal yang besar," balas Aldrich.
"Saya juga berpikir demikian, Pak. Tapi mengingat 1000 wyon bisa menjadi uang untuk makan bagi saya dan Ayah saya selama beberapa hari, saya jadi kembali memikirkan ini," ujar Gerhard.
"Kau bisa meminta bahan makanan kepada Raja saat bertemu dengan Raja. Bukankah itu jauh lebih baik?" usul Aldrich.
Gerhard pun menundukan kepalanya, sebenarnya ia sangat ingin mengikuti kegiatan ini, namun karena keterbatasan biaya, ia terpaksa harus mengalah.
"Baiklah, Pak. Saya akan mencobanya," ucap Gerhard.
Aldrich pergi dengan menepuk bahu Gerhard. Sedangkan Nikita yang dengan jelas mendengar itu, segera berbalik dan kembali ke kursinya sebelum Gerhard mengetahui jika Nikita menguping pembicaraan kedua orang itu.
Gerhard masuk ke kelas dengan wajah murung, membuat Antheia dan Jaromir terlihat kebingungan.
"Ada apa?" tanya Jaromir.
"Sepertinya aku tidak ingin ikut. Biaya 1000 wyon memberatkan bagiku," jawab Gerhard.
"Apa?! Tapi jika kau tidak ikut, bisa - bisa aku tidak naik ke tingkat selanjutnya, Gerhard!" sahut Antheia.
Nikita menatap wajah Gerhard yang tampak murung. Baru saja wanita itu ingin mengatakan jika ia bisa memberikan uang untuk membayar kegiatan study tour Gerhard, tiba - tiba saja Jaromir langsung menyelaknya dan berbicara kepada Gerhard.
"Bagaimana jika aku yang membantu biaya study tour milikmu? Aku bisa mengatakan kepada Ayahku jika biayanya 2000 wyon, seharusnya tidak masalah. Terlebih Ayahku baru saja menjual kulit harimau yang ia dapatkan 2 hari lalu," ujar Jaromir.
Gerhard menatap ke arah Jaromir yang tampak bersemangat ingin melakukan segala cara agar Gerhard bisa ikut dalam kegiatan study tour ini.
"Aku tidak ingin merepotkanmu," balas Gerhard.
"Aku bisa membantumu juga. Atau bisa juga aku dan Jaromir patungan 500 wyon untukmu. Bagaimana?" usul Antheia yang juga tak ingin Gerhard meninggalkan kesempatan study tour bersama.
"Tapi -"
"Aku tidak menerima penolakan. Besok aku dan Antheia akan langsung membayarnya. Jika kau menolak, anggap saja kau tak bersyukur dan membuat kami membuang uang sebanyak 500 wyon," potong Jaromir langsung.
Gerhard tak berani berkutik, melihat Jaromir dan Antheia yang bersikeras ingin membantu dirinya untuk membayar biaya study stour membuat pria itu terharu.
"Terima kasih banyak, aku berhutang budi kepada kalian," ujar Gerhard.
"Kau masih menganggap kami orang asing ya? Kita sudah cukup lama saling mengenal, sudah sepantasnya kami membantumu. Lagi pula, jika bukan karenamu yang mengajarkan kami cara membaca, kami tidak akan pernah bisa masuk ke dalam akademi, kau harus ingat itu, Gerhard," balas Antheia.
Memang benar, sejak pertemuan mereka pertama kali, Antheia dan Jaromir sering datang ke rumah Gerhard hanya untuk diajarkan membaca. Bahkan tempat baca buku di gudang Melior pun Gerhard juga beritahu kepada Jaromir dan Antheia, hingga kedua orang itu bisa dengan lancar membaca dan masuk ke akademi tanpa kesulitan berkat bantuan Gerhard.