Beberapa bulan kemudian . . .
Hari ini, Desa Solandis mendapat cuaca yang jauh dari kata cerah. Langit menggelap seolah badai akan datang, suara gemuruh saling bersahutan di langit yang tak kunjung menitikkan airnya. Namun, dengan kondisi cuaca yang terasa seperti malam hari di pagi hari, tak menyurutkan semangat para pekerja Desa Solandis yang ingin pergi menuju ke Kota Adarlan untuk mencari beberapa wyon demi memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari - hari.
Waktu pun berlalu, sejak kedatangan Gerhard ke Lorillis yang menggemparkan seisi akademi akan kepintarannya. Tak hanya itu, orang - orang bahkan mengakui kepintaran Gerhard yang melebihi rata - rata karena mampu menjabarkan banyak hal meski tidak pernah mengemban pendidikan di akademik lain sebelum ini.
Seperti pagi hari pada biasanya, Gerhard akan bangun di pagi hari, memakai seragamnya dan bersiap menuju salah satu tempat pemberhentian Styx yang berada di dekat rumahnya. Kebiasaan Gerhard di pagi hari bahkan sudah menjadi hal yang biasa bagi orang - orang di Desa Solandis yang hendak pergi ke pusat Kota Adarlan.
Berkat wajah tampan dan juga sikap Gerhard yang ramah, Gerhard pun dikenal bahkan hampir oleh setiap penumpang di kendaraan Styx yang membawanya ke Kota Adarlan. Sepertinya halnya pagi ini, pria itu sedang menunggu kedatangan Styx sembari membaca sebuah buku catatan yang ia tulis tadi malam, seorang wanita paruh baya pun datang menghampiri Gerhard dan menyapa pria itu dengan ramah.
"Selemat pagi Gerhard," sapa wanita paruh baya itu yang tampak sudah sangat mengenali Gerhard.
Gerhard yang semula sedang terfokus pada buku catatan yang ia baca pun langsung mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah wanita yang menyapanya. Gerhard tersenyum saat mendapati seorang wanita paruh baya yang selalu menyapanya setiap di tempat pemberhentian Styx Desa Solandis.
"Selamat pagi Nyonya Morana," sapa Gerhard balik kepada wanita paruh baya bernama Morana itu.
Morana adalah seorang asisten rumah tangga, meski usianya sudah menginjak usia setengah abad, namun wanita yang dikenal sebagai seorang pekerja keras itu tak pernah mengeluh. Jangankan mengeluh, berpikir untuk berhenti bekerja pun tidak. Padahal jarak Desa Solandis dan Kota Adarlan cukup jauh. Terlebih jika dibandingkan dengan usianya yang semakin senja, seharusnya Morana sudah beristirahat dan menikmati masa tuanya bersama dengan anaknya.
Namun sayangnya 2 anak Morana telah berpulang lebih dulu, hingga menyisakan Morana yang hidup sebatang kara tanpa kehadiran anak. Bahkan suaminya pun telah lama pergi dan menikah dengan wanita lain. Mungkin karena kepedihan hidup yang dirasakan oleh Morana, yang membuat wanita itu memilih untuk menyibukkan diri agar tak berlarut dalam kesedihan yang lama.
"Seperti biasa aku membawakan ini untukmu," ujar Morana sembari memberikan sebuah kotak berwarna cokelat.
Gerhard langsung menutup bukunya dan ia himpit dengan lengan kirinya, kemudian mengambil kotak yang diberikan oleh Morana kepadanya dan melihat isinya.
"Aku membuatkan roti selai coklat kesukaamu. Dan oh ya, aku menambahkan madu juga di atasnya. Kau harus sarapan sebelum pergi ke akademi, jangan sampai pergi dengan perut kosong," ujar Morana.
"Terima kasih banyak Nyonya Morana," balas Gerhard lalu memasukkan kotak berisi makanan yang diberikan oleh Morana ke dalam tasnya.
"Setibanya di akademi, akan kupastikan aku langsung memakannya," ujar Gerhard.
Sejak pertemuan mereka, Morana memang seringkali memberikan perhatian kepada Gerhard dan bahkan menganggap Gerhard seolah seperti anaknya sendiri. Sedangkan Gerhard sendiri tentu saja merasa senang mendapatkan perhatian yang diberikan oleh wanita paruh baya itu.
Terlebih hingga detik ini, Ibunya masih menjadi patung batu dan penawar dari racun yang diterimanya pun belum ditemukan. Meski begitu, Gerhard seringkali datang ke Eyelwe seorang diri hanya untuk berbicara dengan Sagira yang berbentuk batu. Meski Cleo mengatakan jika Sagira tak akan mendengar berbagai cerita Gerhard kepada sang Ibu. Gerhard tetap melakukannya, dan beranggapan jika Sagira akan mendengarnya dan menyimak setiap cerita yang ia berikan.
"Jika ada sesuatu yang ingin kau makan, katakan saja. Nanti akan kubuatkan untuk kau bawa ke akademi," ujar Morana.
"Tidak perlu repot - repot Nyonya Morana," jawab Gerhard.
"Santai saja, kau sudah seperti anakku sendiri. Lagi pula siapa yang bisaa menolak memiliki anak seorang laki - laki yang tampan, pintar dan juga baik hati sepertimu, Gerhard," balas Morana dan membuat Gerhard tersipu malu mendengar pujian yang dilontarkan oleh wanita paruh baya itu.
Setelah perbicangan singkat mereka, akhirnya kendaraan bernama Styx berhenti di depan tempat pemberhentian. Gerhard mempersilakan Morana untuk masuk ke dalam lebih dulu, sebelum akhirnya dirinya ikut masuk dan duduk di samping Morana.
Sepanjang perjalanan dari Desa Solandis menuju ke Kota Adarlan, Gerhard hanya bercengkrama dengan wanita itu. Morana seringkali menceritakan kehidupannya semasa muda dan bagaimana ia merasa senang saat anaknya masih ada bersamanya. Tak pernah ada kata penyesalan dan kesedihan yang keluar dari mulut wanita itu, yang ada hanyalah rasa bangga dan bahagia yang ia ungkapkan dengan tatapan matanya yang berbinar menatap ke arah sorot mata Gerhard.
"Gerhard," panggil Morana.
Gerhard tak menjawab, pria itu hanya tersenyum sambil membalas tatapan Morana.
"Teruslah menjadi anak yang baik, apapun yang terjadi. Jika tak ada orang baik yang tersisa, pastikan kau yang menjadi salah satunya," ucap Morana.
"Tentu saja, aku akan mengingat itu," jawab Gerhard.
Bruk !
Tiba - tiba saja, Styx yang mereka tumpangi berhenti mendadak, membuat semua orang yang terduduk di dalamnya mencondongkan tubuhnya ke depan dan bahkan beberapa orang tubuhnya terlempar ke depan dan menghantam kursi bagian depannya.
"Astaga!" pekik Morana yang ikut terlempar ke depan dan untunglah segera ditahan oleh Gerhard.
Gerhard melihat ke arah sekitar, satu persatu orang yang ada di dalam Styx langsung mengeluh karena Styx yang mereka tumpangi tiba - tiba berhenti dari kecepatan tinggi hingga tubuh mereka menabrak kursi depan.
"Ada apa ini?" sahut salah seorang pria yang duduk di belakang Gerhard.
Styx yang mereka tumpangi berhenti di tengah - tengah hutan. Yang bahkan di tempat itu sama sekali tak ada pemberhentian Styx. Hutan ini bernama Viltarin dan merupakan jarak yang memisahkan antara Desa Solandis dengan Kota Adarlan. Meski Solandis masih termasuk ke dalam jajaran Adarlan, namun karena letaknya yang terlalu pinggir, Solandis seringkali disebut terpisah dengan Adarlan.
Seorang pria yang bertugas untuk mengemudikan Styx tiba - tiba masuk ke bagian penumpang dengan mata yang membulat dan terbuka lebar, bahkan peluh keringat tampak membasahi pelipis pria itu.
"Ada apa? Kenapa tiba - tiba berhenti? Bukankah Kota Adarlan masih jauh ada di depan sana?" tanya salah seorang pria.
"Ti - tidak berjalan! A - a - ada Aul!" pekik sang pengemudia lalu berlari hingga ke kursi belakang dan bersembunyi.
"Aul?" gumam Gerhard.
Gerhard pun berdiri dari tempat duduknya dan melihat ke arah luar jendela. Tiba - tiba saja . . .
Bruk !
Styx yang ia tumpangi sampai bergoyang akibat ditabrak oleh tubuh hewan buas berukuran besar dan bahkan lebih besar dari pada manusia. Sontak seluruh orang yang ada di dalam sana berlarian ketakutan dan yang pasti mereka tidak bisa keluar dari dalam Styx karena kendaraan itu sudah dikelilingi oleh para Aul yang kelaparan.
Aul adalah sebuah hewan yang memiliki kepala persis seperti serigala. Hewan itu bisa tumbuh dengan panjang mencapai 2 meter dan merupakan penghuni hutan Viltarin. Tubuhnya jauh lebih berotot seperti seorang binaragawan yang mampu mengangkat beban hingga ratusan kilogram dengan dua tangannya.
Selama ini, orang - orang selalu merasa aman melewati Viltarin karena selalu dalam keadaan cerah, namun tidak kali ini. Langit mendung tanpa matahari dan hujan menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi para Aul. Terlebih dengan cuaca yang gelap membuat hewan buas itu merasa diuntungkan.
"Tidak bisakah kita tetap berjalan saja?" pekik salah seorang wanita kepada pria yang mengemudikan Styx yang kini sedang sibuk bersembunyi di balik kursi karena ketakutan melihat para Aul yang mengelilingi Styx.
Morana menatap kosong ke arah Aul yang terus mondar mandir di luar Styx, menyadari hal itu Gerhard pun merangkul wanita paruh baya itu.
"Jangan takut. Jika langit sudah cerah, Aul akan pergi dengan sendirinya," ujar Gerhard.
Memang benar, satu - satunya cara untuk mengusir hewan itu hanya dengan cahaya matahari. Namun melihat langit mendung yang bahkan hujan tak kunjung turun, pasti akan sulit bagi mereka terbebas dari para Aul yang sudah memenuhi sekeliling Styx.
"Sampai kapan kita harus menunggu seperti ini?!" pekik salah seorang penumpang yang lain.
Penumpang itu memperlihatkan wajah penuh amarahnya karena perjalanannya terganggu dan menyebabkan Styx berhenti tepat di tengah hutan tanpa kejelasan kapan perjalanan akan berlanjut dan kapan para Aul pergi.
"Sudahlah, aku akan berjalan saja dari sini! Aku tidak takut dengan para Aul, lagi pula mereka tidak akan memakan manusia kan!" pekik pria itu dan kemudian keluar dari Styx.
Baru saja pria itu beberapa langkah meninggalkan Styx, para Aul yang semula mengelilingi Styx langsung mengejar pria itu. Para penumpang yang lain pun penasaran dengan apa yang terjadi dan sialnya pria itu menjadi santapan bagi para Aul yang kelaparan.
"Aul bisa memakan manusia jika dalam kondisi yang sangat lapar, dan sekali Aul memakan manusia, mereka akan menjadi semakin kuat, semakin besar dan semakin liar," gumam Morana.
Gerhard mendengar ucapan Morana yang bergumam. Gerhard pun menyadari, jika salah satu anak Morana pernah bekerja sebagai pencari kayu bakar dan kemungkinan besar anaknya meninggal dimakan oleh para Aul.
Orang - orang di dalam Styx berteriak histeris karena kini para Aul semakin buas setelah memakan manusia yang baru saja dengan angkuhnya keluar dari Styx. Di tengah kericuhan itu, Gerhard teringat jika sewaktu kecil dirinya pernah bermain dengan serigala buas. Meski Aul berbeda dengan serigala, namun Aul bisa dikatakan sebagai salah satu keluarga serigala.
Tanpa menunggu waktu dan tak ingin kericuhan semakin menjadi, Gerhard akhirnya turun dari Styx dan mencoba peruntungannya. Morana membelalakan matanya saat melihat Gerhard yang dengan sengaja turun dari Styx tanpa mengucapkan apapun.
Para Aul yang baru saja selesai memakan pria angkuh tadi langsung menoleh saat mencium aroma tubuh Gerhard yang baru saja keluar dari dalam Styx.
"Gerhard!" pekik Morana dari dalam Styx.
Gerhard sempat menoleh dan hanya tersenyum menatap Morana yang melihatnya dari balik jendela Styx. Entah apa yang ada dipikiran pria itu, namun ia justru turun dari Styx dan memilih menjinakkan para Aul yang bahkan terkenal hewan penghuni hutan paling buas di Lacoste.
"Ayo, aku tahu kalian tidak sejahat itu kan?" gumam Gerhard kepada para Aul meski ia tahu jika hewan - hewan itu tak akan mengerti ucapannya.
Satu persatu Aul berjalan mendekati Gerhard. Dengan mulut terbuka, gertakan gigi dan bahkan noda darah yang menempel di sudut bibir hewan itu, Aul menatap Gerhard. Gerhard menjulurkan tangannya, persis seperti apa yang ia lakukan sewaktu kecil.