Part 10

1271 Words
Hidup diakhir jaman sangat miris, dimana orang hanya menghakimi dengan apa yang ia lihat dengan tidak menelusuri yang terjadi sebenarnya & tanpa mau mendengarkan penjelasan dari yang bersangkutan terlebih dahulu. Jangankan keluarganya, vian sendiri juga tak ingin bahkan tidak pernah terfikirkan untuk mempoligami hulya. Beruntung sang aby mertua menyikapi dengan bijak, Beda dengan sang papa yang langsung menghakiminya dengan kekerasan. Akan tetapi bagai tersengat aliran listrik hatinya, tatkala sang mertua menyuruhnya mengembalikan hulya. Sungguh vian tak ingin melepas hulya, apapun yang terjadi. “maafkan aku hulya, aku telah melukai hati wanita shalihah sepertimu” rintihan & tangis pecah saat sang aby meninggalkannya. “Allahku, bimbing aku menjadi suami yang adil pada istri-istrinya seperti Rasulullah” doanya Drtt… drtt… “Assalamualikum bella” ….. “baik, aku segera kesana” 5 menit berjalan akhirnya vian sampai diruangan bella. “Ya Allah yank, pipi kamu kenapa?” bella meraih pipi vian, tepat dibekas tamparan rama “siapa yang melakukannya? Apa istri pertamamu pelakunya?” vian menepis tangan bella. “aku pantas mendapatkannya, & jangan pernah soudzon pada istriku. Dia wanita baik, dia tidak mungkin melakukannya” jelas vian “bahkan dia sudi mengobatiku, yang jelas-jelas aku sudah menghancurkan masa depannya. Aku telah melukai hatinya, sungguh salut aku padanya. dia bak malaikat, Lisan & sikapnya sangat tenang, padahal aku tahu hatinya menahan sakit yang ku torehkan” air mata vian kembali lolos dari pelupuk mata “cukup yan, jangan kau teruskan memuji wanita lain didepanku. Aku sakit mendengarnya, kamu itu milikku yan. Kamu hanya boleh memujiku, tidak dengan istri pertamamu. Aku tidak akan rela berbagi dengannya kendatipun hanya pujian atau perhatianmu” nampak kebencian diraut bella pada hulya. “jangan egois bella, dia saja mau berbagi suami denganmu” tegas vian mengingatkan “itu sewajarnya dia lakukan, karna awal dia yang merebut paksa kamu dari aku yan” nada suara bella mulai meninggi “jangan salahkan dia, ini sudah suratan takdir bella” “jangan bilang kalau kamu mulai mencintainya vian? Apa maksudnya kau terus membelanya? Sadar vian… Bukannya kamu mengatakan bahwa kamu hanya mencintaiku? Dihatimu hanya tersemat namaku, iya kan? Aku tidak mau namanya juga .ada dihatimu” tolak bella “saat aku mengikrarkan nama hulya dalam ijab qabul, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk belajar mencintainya. Merupakan kewajiban suami untuk mencintai istrinya” jawab vian tanpa berfikir bahwa ucapannya menyakiti wanita yang berada diatas brankar “akan aku pastikan bahwa kamu hanya kagum padanya, aku juga pastikan tidak akan membiarkan kamu jatuh cinta padanya bahkan aku akan membuatmu membencinya” ancam bella ~~~ “Ya Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Dhinika Kuatkan sabarku dengan istigfar Ya Allah, jika memang ini suratan takdir yang Engkau berikan padaku… maka ikhlaskan aku untuk berbagi. Kokohkan hatiku seperti istri-istri Rasul-Mu Ya Allah” Di masjid rumah sakit saat ini hulya mencurahkan segala kegalauan pada Kekasih Yang Maha Kasih. Tidak ada tempat curhat paling nyaman kecuali pada sang Rabb-Nya. Setelah mencurahkan semua isi hati, akhirnya hulya kembali ke ruangan bu melsa. “makan duku ya ma, biar hulya suapin” “terima kasih ya sayang, kamu menantu mama & tidak akan ada yang lain” “shuuut… sudah ya mama tidak boleh mikirin apa-apa dulu sekarang… biar mama cepet sehat kembali, katanya gak sabar pengen pulang. Sebagus-bagus ruangan rumah sakit, tetap saja tidak enak. Iya kan ma? Sudah 2 hari lho kita disini ma, katanya mama juga sudah bosan. Makanya sekarang fokus sama kesehatan mama dulu ya, tidak usah mikir macem-macem. Kalau gitu Sekarang hulya suapin ya ma” dengan telaten hulya menyuapin makanan ke mulut bu melsa ‘terbuat dari apa sih hati kamu hulya, masih saja bersikap tenang padahal aku tahu hatimu saat ini sedang menangis. Jika Tuhan memberikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu, sungguh aku tidak akan menyia-nyiakannya hulya' batin alvin bergemuruh, saat memperhatikan interaksi dua wanita yang sangat dia kagumi. “vin, minta tolong suapin mama dulu ya terus kasih obatnya di laci. Sudah kakak takar di box obat kok” “kak hulya mau kemana?” “mau kedepan sebentar” “pasti ada kak vian ya” hulya mengangguk “tolong jagain mama sebentar ya” lantas hulya pergi keluar ruangan, ntahlah kenapa hati alvin sakit saat hulya akan menemui sang suami yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri. ___ “Assalamualikum mas” hulya meraih tangan vian lantas mencium punggung tangannya, vianpun menjawab salam serta mengecup lembut kening hulya. “bagaimana keadaan mama?” sungguh vian merindukan cinta pertamanya, vian tersiksa bila harus dibenci sang mama. Selama ini vian tidak pernah jauh dari sang mama, apalagi jika sang mama sakit. Rela vian meninggalkan segalanya demi merawat sang mama. Tapi saat ini sang mama sakit karna ulahnya, & ia pun tak bisa merawat. Bahkan sang mama tidak mau melihat wajahnya lagi. “alhamdulillah sudah dapat dikatakan membaik mas, besok atau lusa kata dokter InsyaAllah sudah diijinkan pulang” hulya menjelaskan “oh iya, kabar mbak bella gimana mas?” tanyanya antusias. Bagaimana mungkin hulya masih peduli pada wanita yang telah menjadi madunya, tak adakah sedikit rasa marah pada wanita itu? “Alhamdulillah sudah sehat & hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Karna itu pula ada yang ingin aku bicarakan padamu” “katakanlah mas!” pintanya “uangku belum cukup untuk membelikan rumah untuk bella, aku ingin minta ijin kamu untuk membawa bella ke rumah kita untuk sementara waktu. Nanti setelah uangku cukup aku akan memboyongnya ke rumah baru” vian tertunduk, ia sadar bahwa kembali ia akan melukai hulya dengan kehadiran bella dirumah mereka. “itu rumah mas vian, mas yang membelinya. Jadi meski tanpa ijin hulyapun mas berhak memasukkan siapa saja ke rumah itu. Lagian selamanyapun hulya tidak keberatan mas, hulya senang kalau mbak bella tinggal bersama kita. Biar hulya punya teman, tidak sendiri dirumah. Kalau begitu kapan mbak bella pulang mas? Hulya akan beresin serta menyiapkan kamar untuk mbak bella” jawab hulya tenang. Apakah ucapan hulya ini tulus dari hati atau merupakan sindiran? Ntahlah saat ini vian sering baper, Sikap tenang hulya nyatanya tambah membuat vian semakin merasa bersalah. “nanti sore selepas ashar” “baiklah, setelah ini hulya akan pulang” “hulya” “iya mas” vian mengambil kedua tangan hulya “maafkan aku, maafkan aku hulya” hulya mengangguk dengan hiasan senyum dibibirnya. ~~~ Tinnn… tinnn… Hulya tau siapa yang datang, hatinya sungguh melankolis. Rasanya belum siap tinggal bersama sang madu, kakinya kaku untuk sekedar berjalan membukakan pintu. Tetes demi tetes air mata pun mengalir, tapi dia harus terlihat tegar agar tidak diremehkan. Seketika itu pula hulya Menghapus air matanya, lantas bergegas menuju pintu. Ceklek… “Assalamualikum hulya” ucapa vian dengan senyum tulus “wa’alaikumsalah warahmatullah” pemandangan pertama saat membuka pintu adalah kemanjaaan sang madu pada suaminya. tubuhnya gemetar ketika sang madu bergelut manja di lengan sang suami yang bahkan dia sendiri belum pernah melakukannya. Hatinya perih bak teriris tajamnya sembilu. “hulya kenalkan ini bella & bella kenalkan ini hulya” vian memperkenalkan para istrinya “hulya” “bella” keduanya pun bersalaman “mari masuk” hulya sengaja berjalan belakangan, karna tak kuasa menahan air mata yang sudah siap mengalir. Vian sadar akan hal itu, setelah melewati hulya vian kembali menoleh ke belakang memandang sang istri pertama. Hulya menundukkan kepala dengan menarik kedua sudut bibir dibalik niqobnya seakan mengkode vian bahwa dirinya baik-baik saja. “sayang, dimana kamarku?” tanya bella manja pada vian “owh iya, mari hulya antar mbak” hulya membawanya ke kamar tamu. “sayang, aku gak mau dikamar ini. Aku mau milih sendiri kamarnya” bella merajuk lantas memeriksa setiap kamar “aku gak mau dibawah, aku mau kamar diatas. Biar bisa melihat pemandangan” tanpa menunggu persetujuan vian & hulya, bella sudah meluncur ke atas. Vian hanya bisa menggelengkan kepala “aku mau kamar yang ini, aku suka interiornya. Sedangkan dikamar lain tidak selengkap dikamar ini yank” ucap bella senang “tidak, ini kamarku & hulya. Titik” cetus vian “tapi aku mau kamar ini, aku gak mau yang lain” bella tetap bersikukuh pada pilihannya. “gak apa-apa mas biar hulya saja yang pindah, sebentar ya mbak hulya pindahin dulu barang-barang hulya” “tapi hulya…” “tidak apa-apa mas” jawabnya berusaha menenangkan vian. “iya nih, kamu kenapa sih yank? hulya fine-fine saja tuh aku nempatin kamar ini, lagian kamu tetap bisa nikmatin kamar ini bareng aku kan” jawab bella enteng, tanpa tahu bagaimana perasaan hulya yang sesungguhnya. Air mata menemani sepanjang hulya membereskan barang-barangnya. Belum apa-apa saja bella sudah mulai seenaknya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD