Part 9

1097 Words
Flashback on “mbak, boleh saya bantu?” ntah mengapa melihat wanita bercadar dihadapannya membuat hatinya tentram, saat ini wanita itu sangat kesulitan membawa tumpukan kerdus berisi roti. Akhirnya dia berinisiatif membantu. “terima kasih mas, saya bisa melakukan sendiri. Saya sudah terbiasa seperti ini kok. Permisi…!” si wanita pun membungkukkan badan lantas pergi. “mbak… mbak… boleh saya kenal lebih dekat dengan mbaknya?” jangankan menjawab, menoleh saja si wanita tidak. Tapi tetap saja tidak mau menyerah, terus saja mengejar si wanita yang mau masuk kedalam rumah. “mbak jangan cuekin saya dong, mbak pasti tau dong hukum orang yang mencuekin orang lain itu gimana. Tidak baik lho mbak” seketika si wanita langsung berhenti, untuk saja bisa mengimbangi jadi bisa mengerem jalannya secara mendadak. Kalau tidak, fix tubuhnya akan menabrak tubuh si wanita. “dosa kalau yang dicuekin itu mahromnya” lantas si wanita melanjutkan jalannya, ah… bikin malu diri sendiri saja. “alviiiinnnn… jangan deketin dia, dia calon kakak ipar kamu” seketika langsung patah hati Flashback off “ternyata kakak yang aku bangga-banggakan seperti ini sifat aslinya, gak nyangka kak vian tega menyakiti wanita sebaik kak hulya. Jika sedari awal kak vian tidak menginginkan kak hulya, seharusnya kak vian tidak menerima perjodohan yang mama tawarkan. Sepertinya mama salah menjodohkan kak hulya dengan kakak, seharusnya mama jodohkn alvin saja” vian yang sedari awal menunduk, reflek mendongak Ketika alvin mengucapkan kalimat terakhirnya “apa maksud kamu vin?” “alvin tidak akan membiarkan kak vian menyakiti kak hulya, jika iya… jangan salahkan jika alvin merebutnya dari kakak. Camkan itu” ancam alvin Apakah vian boleh beranggapan bahwa adiknya sedang menaruh hati pada istrinya? “Assalamualikum” ucap hulya, tangannya membawa Tiga kantong plastik “oh ada alvin, mau ke ruangan mama ya. Kakak boleh titip ini untuk semua yang disana nggak?” tanya hulya pada alvin “boleh kok kak” jawabnya sinis, hulya tahu kalau alvin saat ini sedang kecewa pada kelakuan kakaknya nampak dari mimik wajahnya yang menatap sinis sang kakak. “kamu duluan saja ya, ini tolong dibawa. Terima kasih” lantas alvinpun pergi meninggalkan hulya & vian berdua. “mas minum dulu ya!” hulya memberikan 1 botol air mineral pada vian, sambil menanti vian… hulya menyiapkan alat kompres. Menuang air panas dari termos ke mangkok stainlis yang ia pinjam dari kantin, serta menyiapkan revanol untuk membersihkan luka di ujung bibir vian “mas, hulya kompres pipinya ya” vian pun mengangguk. Dengan lembut hulya ngompres pipi vian, tiba-tiba tangan vian memegang tangannya. Membuat hulya menatap netra vian. “hulya, kenapa kamu mau mengobati lukaku? Seharusnya kau menambahnya dengan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan papa. Karna aku pantas menerimanya” hulya hanya tersenyum “apa kau tidak marah padaku hulya, setelah apa yang aku lakukan terhadapmu?” hulyapun menyelesaikan aktivitasnya, menghempaskan nafas secara perlahan “kalau ditanya marah, jelas hulya marah…. Bahkan sangat” matanya tak lagi menatap netra milik vian, beralih ke pandangan kosong yang terfokus kedepan. Bahkan air mata kembali mengalir “tapi untuk melakukan kekerasan yang hanya membuang tenaga, tidak mas. Bahkan untuk marah saja rasanya sudah tidak guna, semuanya tidak akan mengembalikan pada keadaan semula. Keadaan dimana hulya dapat memiliki mas vian seutuhnya menjadi suami hulya” jawaban hulya sungguh bagai panah tajam yang menusuk hati vian “maafkan aku hulya, sungguh akupun juga tak menginginkan ini terjadi” vian memeluk tubuh ringki hulya “ya sudah, kita keruang rawat mama yuk mas. Mereka semua pasti sudah menunggu kedatangan kita” lantas merekapun pergi dengan tangan vian merangkul tubuh hulya. Dalam hati hulya berdoa semoga selamanya tidak akan ada jarak yang memisahkan mereka berdua. “Assalamualikum” ucap hulya & vian ketika masuk ke ruang rawat melsa, mama vian. “wa’alaikumsalah warahmatullah” “pa, mama tidak mau bertemu dengan dia. Dia sudah bikin malu keluarga… pergi, pergi sana” ucap bu melsa histeris “sudah ma, tenang dulu. Papa pastikan dia tidak kemari lagi” rama menenangkan “kak, alvin mohon jangan kemari dulu mama masih shok atas perbuatan kakak” sebenarnya tidak tega alvin mengusir kakaknya, tapi bagaimana lagi ini demi kesehatan mamanya. “baik, kakak titip mama ya vin. Kalau ada apa-apa kabari kakak” sungguh sakit hati vian mengetahui seorang wanita yang menjadi cinta pertamanya membenci dirinya, bahkan tidak mau melihatnya. “hulya, mas pamit ya” hulya mencium punggung tangan suaminya & vianpun mengecup kening hulya. Vian melangkah keluar ruangan, setelah 10 meter menjauh dari kamar rawat sang mama tiba-tiba ada yang memanggilnya. “vian tunggu” Ditolehnya ternyata sang aby “iya by” dengat hati gemetar vian menghampiri sang aby mertua “boleh aby bicara?” vian mengangguk “kita duduk disini saja ya” pinta sang aby menunjuk kursi deret depan ruangan tersebut. “vian ikhlas kok jika aby mau melakukan hal yang sama seperti papa, vian sadar vian salah & vian pantas mendapatkannya bahkan lebih parah lagi mungkin” “tidak vian, aby tidak akan melakukan hal itu. Aby hanya ingin bicara empat mata sama kamu sebagai aby nya hulya” Beberapa menit hening namun setelahnya aby kembali bersuara “dalam ajaran agama kita tidak ada larangan untuk berpoligami, akan tetapi dengan syarat & ketentuan yang berlaku. Aby tidak marah kamu mempoligami anak aby jika anak aby memiliki kekurangan, jika tidak ada kekurangan, tolong jelaskan pada kami alasan kamu mempoligami anak aby” “Demi Allah by, vian tidak pernah berniat untuk melakukannya by. Vian terpaksa” “aby tidak tahu apa yang kamu katakan benar atau tidak. Karna hanya Tuhan & hati kamu sendiri yang tahu. Lisan tidak menjanjikan sinkron dengan hati” aby menjeda omongannya “Sehebat-hebatnha wanita, mereka tidak mau berbagi vian. Mereka ingin memiliki segalanya sendiri, tanpa ada siapapun yang ikut memilikinya. yang aby tahu, kamu memadu anak aby dengan wanita dimasa lalu kamu. Wanita yang pernah kamu cintai, sedangkan kamu dan anak aby menikahpun tanpa cinta. Tidak ada yang tidak mungkin bahwa suatu saat kamu akan mencampakkan anak aby.aby harap Kamu bisa adil pada mereka, tidak hanya materi tapi juga perhatian serta perbuatan. Namun Aby tidak yakin manusia bisa berlaku adil, suatu saat kamu akan berat sebelah, karna keduanya memiliki kelebihan & kekurangan masing-masing maka tak hayal jika suatu saat kamu juga pasti akan membanding-bandingkan keduanya. Kendatipun kamu telah berlaku adil, tapi nyatanya ketika diantara mereka melihat kamu berduaan dengan salah satunya… mereka akan tetap sakit vian. & Jika suatu saat anak aby telah menyerah dengan keadaan ini, aby mohon lepaskan dia. Sesabar-sabarnya anak aby, tetap saja dia bukan malaikat yang terus diam saja saat hatinya telah lelah. Biarkan dia mencari kebahagiaannya, mungkin kalian memang tidak berjodoh. Begitupun sebaliknya, jika kamu sudah tidak lagi bisa menjaga amanah aby untuk menjaga hati, raga, & batinnya… maka segeralah kembalikan anak aby pada kami, orang tua hulya. Rumah kami akan selalu terbuka untuk kepulangannya. Bahkan jika seandainya hari ini pun kau akan melakukannya, aby terima. Jangan biarkan kamu menyakitinya lebih lama vian.” aby menangis dalam diam "InsyaAllah vian akan menjalankan amanah aby, terima kasih by telah bijak menghadapi vian. Vian akan berusaha untuk tidak mengecewakan aby" lantas vian memeluk aby mertuanya, hingga tak terasa hujan tangis diantara keduanya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD