Part 8

1270 Words
Tangannya terlipat rapi diatas meja, kedua bola mata indahnya menatap sajian lezat yang sangat menggugah selera. Berharap yang ditunggu segera pulang, lantas menyantap bersama. “kamu meyakinkan diriku untuk tidak berprasangka padamu mas, tapi nyatanya kau bahkan membuatku khawatir. 2 hari kamu pergi & Kabarpun tak pernah kau kirim mas. Semoga Allah selalu melindungimu mas”setetes demi tetes air mata telah lolos dari kelopak matanya Tinnn… tinnn… tinnnn Rasa bahagia menguasai hati dan pikiran “semoga saja itu suara mobil mas vian” bergegas hulya mengambil niqob, tak sabar untuk segera membuka gerbang. “assalamualaikum sayang” seketika raut wajah hulya berubah setelah tahu yang datang bukan orang yang dia tunggu. “wa’alaikum salam warahmatullah ma, pa” hulya menyalami tangan kedua mertuanya “mari masuk ma, pa” “mama sama papa duduk dulu ya, Sebentar hulya buatkan minum” hulya pun berjalan menuju dapur “vian mana sayang? Kok gak kelihatan, apa dia masih tidur?” bu melsa mengekori sang menantu “Wah sepertinya enak sekali masakanmu sayang…” bu melsa melihat hidangan di atas meja makan yang sepertinya belum tersentuh membuat perutnya seketika meronta-ronta untuk segera diisi. “kita sarapan bersama yuk ma, sebentar hulya siapkan piringnya” bukan menjawab kemana vian, hulya malah antusias ngajak mertuanya sarapan. Senang hatinya akhirnya ada yang mau menyentuh masakannya walau bukan sesorang yg diharapkan. Setelah beberapa kali dia masak dan berakhir dia bagi ke tukang ambil sampah dan satpam kompleksnya. Setelah semua siap dimeja makan, akhirnya mereka sarapan bersama. “kamu belum jawab pertanyaan mama lho sayang, vian kemana?” hulya yang baru saja menyuapkan nasi ke mulut, mendengar pertanyaan bu melsa langsung saja tersedak. “ini minum dulu sayang, pelan-pelan kalau makan” segera bu melsa memberikan segelas air putih pada hulya “maaf ma pa” hulya tertunduk malu “vian kemana nak?  Sepagi ini kok sudah tidak ada dirumah?” pak rama tak kala penasaran dengan tidak adanya anak sulungnya. “hm… hm… hm” hulya bingung harus gimana, apakah dia harus jujur? “hulya, mama tau kamu tidak pandai berbohong. Katakanlah yang sebenarnya!” bu melsa menangkap ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi “iya nak, katakan saja” pak rama menimpali “mama sama papa janji jangan marah kalau hulya cerita ya, terutama pada mas vian!” keduanya mengangguk mengiyakan. “mas vian jenguk mbak bella dirumah sakit ma, mbak bella mencoba melakukan aksi bunuh diri setelah tahu mas vian menikahi hulya. mas vian ditelefon papanya mbak bella untuk segera ke rumah sakit karna mbak bella terus mengigau nama mas vian” jawab hulya jujur, air matanya kembali membasahi pipi. Bu melsa yang sedang menikmati masakan hulya seketika meghempaskan sendoknya dengan keras diatas piring setelah mendengar penjelasan hulya “apaaaa? Sejak kapan vian ninggalin kamu?” hulya telah melihat raut wajah sang mama mertua dipenuhi amarah. “sedari Malam jumat ma” wajah hulya tertunduk, tak kuat rasanya untuk menatap kedua mertua dihadapannya. “malam jumat? Bukannya itu malam pertama kalian? Dan sampai sekarang vian belum pulang?” yang bisa hulya lakukan saat ini hanya mengangguk “kamu tau dirumah sakit mana bella dirawat?” “permata husada ma, tapi hulya mohon ma jangan terlalu keras sama mas vian. Sejauh ini Hulya baik-baik saja kok ma” hulya berusaha meyakinkan, walau nyatanya berbanding terbalik “kamu tidak usah membela anak itu” bu melsa benar-benar marah “ya sudah pa kita langsung ke rumah sakit” langsung saja bu melsa menarik paksa suaminya. “maafkan anak kami ya nak, mungkin kami yang salah mendidiknya” ucap pak rama sebelum pergi meninggalkan rumah hulya. Hulya memperhatikan kepergian sang kedua mertua, memeluk tiang depan rumah. Dalam hati hulya takut dikira mengadu pada mertuanya oleh vian, menyesal telah bercerita. Bagaimana setelah ini jika vian marah pada hulya dan tambah tidak pulang-pulang? Ah, sungguh hulya ketakutan dengan asumsinya sendiri. Sudah cukup lama hulya berdiri diteras rumah, dirinya masih enggan masuk. Ada rasa perih yang dirasakan ketika sendiri didalam rumah. Drttt… drttt… Sebuah pesan Whatsup masuk, hulya merogoh saku gamis untuk mengambil benda pipih miliknya. Perlahan hulya membuka, ternyata sebuah video. Setelah diputarnya, hulya kaget bukan kepalang benda pipih yang ia pegang jatuh seketika. Tubuhnya lemas sampai tak sadar jika pantatnya telah menyentuh dinginnya lantai. Spontan Hulya menutup mulut yang walau telah dilapisi niqob. Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. ~~~ “Apa-apaan kamu vian, kamu benar-benar telah mempermalukan keluarga” sontak semua yang ada dalam ruangan menoleh kearah bu melsa ”sudah ma sabar, ingat jantung mama” pak rama menenangkan “ma, vian bisa jelasin kok” vian segera menghampiri mama papanya “kamu, kamu… aaaa”bu melsa memegang dadanya yang kesakitan, beruntung pak rama langsung menangkap tubuh bu melsa sehingga tidak sampai jatuh kelantai. “kalau sampai sesuatu terjadi sama mama, papa gak akan memaafkan kamu vian “ lantas Dengan segera pak rama meminta bantuan suster lantas membawa bu melsa ke ruang IGD. Vian yang hendak menyusul langsung dicegat oleh bachtiar, papa bella. “Tunggu sampai acara selesai, kedatangan mama kamu sudah bikin kami malu. Kalau kamu sampai pergi sebelum acara selesai, itu akan membuat kami semakin malu. Papa mohon tunggulah sebentar” ~~~ “Baik pa hulya segera ke rumah sakit” hulyapun mematikan telefon dan sang papa mertua, lantas bersiap menyusul ke rumah sakit. Tak ada mobil dirumah membuat hulya harus berjalan ke depan kompleks untuk mencari taxi. 20 menit perjalanan akhirnya hulya sampai “bagaimana keadaan mama pa?” pak rama menghambur pelukan saat hulya sudah Berasa didepannya. “maafkan kami, kami tidak bermaksud menyakitimu. Maaf kami telah salah mendidik vian” pak rama menangis dengan rasa bersalah pada hulya “apa mama kena serangan jantung karna telah mengetahui mas vian & mbak bella… “ sebelum hulya menyelesaikan ucapannya, pak rama telah mengangguk terlebih dahulu. “ya Allah” pekik hulya. “kamu sudah mengetahuinya hulya?” hulya mengangguk “ada yang mengirimkan hulya video mereka pa” jawabnya jujur Pak rama mondar mandir didepan ruangan dimana istrinya sedang ditangani dokter. Sedangkan hulya terus mengeluarkan air mata dengan segala pikiran yang berkecamuk. “Assalamualikum” saat menoleh siapa yang datang, hulya langsung menyerang dengan pelukan. “yang sabar nak, semua pasti ada hikmahnya” umy syafa mengelus punggung sang anak. Sedangkan sang aby sedang menenangkan sang besan. Aby dan umy hulya tidak tahu apa yang terjadi, mereka mengira hulya sedih karna bu melsa sedang sakit. “papa, hulya, aby umy” vian menghampiri mereka, saat tangannya terulur untuk menyalami sang papa tiba-tiba “PLAKKKK” Sebuah tamparan keras mendarat dipipinya hingga membuat sudut bibirnya berdarah Ketika tangan rama sudah terangkat kembali ingin menampar vian, dengan cepat hulya melindungi vian “sudah pa, jangan sakiti mas vian. Seberat apapun kesalahannya, ketika ada seseorang yang akan menyakitinya hulya akan sangat menentang pa sekalipun itu mama dan papa. Karna mas vian adalah suami hulya, hulya tidak akan sanggup melihatnya kesakitan. Tolong pa, jangan melakukan kekerasan. Apalagi ini rumah sakit, bisa kita bicarakan nanti. Saat ini kita masih dalam keadaan emosi, lebih baik kita fokus sama kesehatan mama dulu ya pa” bujuk hulya pada rama “setelah kamu disakiti, kamu masih membela dia hulya? Terbuat dari apa hati kamu hulya?” dalam hati rama bersyukur karna ternyata dia tidak salah memiliki menantu, hulya berhati malaikat. “maaf, kami tidak bermaksud ikut campur. Tapi kalau mengenai hulya, kami berhak tau. Sebenarnya apa yang terjadi, ada apa, apa ada yang ditutupi dari kami?” tanya umy syafa penasaran “dan kenapa kamu berpakaian layaknya orang baru selesai melaksanakan akad vian?” imbuhnya “permisi, mohon untuk tidak membuat keributan. Karna disini rumah sakit yang butuh ketenangan, dan kami ingin memberitahukan bahwa ibu melsa akan segera kami pindahkan ke ruang perawatan” ucap suster yang bertugas dengan lembut “terima kasih sus” jawab hulya berusaha menegarkan diri “aby sama umy ikut papa dulu ya nganter mama ke ruang perawatan, hulya ingin ngompres pipi mas vian dulu. Hulya janji nanti akan cerita apa yang sebenarnya terjadi” aby dan umynya pun mengiyakan. “mas, tunggu sebentar ya. Hulya cari kompresan sama p3k untuk ngobatin luka mas” saat hendak berdiri, tangan hulya diraih oleh vian. “hulya maafkan aku, ini murni bukan kemauanku. Demi Allah tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk menghianati pernikahan kita” vian mencium kedua tangan hulya. “shuttt… sudah jangan banyak bicara dulu. Sebentar hulya cari kompres dan obat dulu ya” lantas hulya melepaskan tangannya dari tangan vian.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD