“SAH”
Ucap semua yang hadir
“Alhamdulillah, barakallahhu lakuma wabaraka ‘alaikuma fii khoir, dipersilahkan kepada pengantin perempuan untuk segera keluar” ucap pak penghulu
“selamat ya nak, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri, nyonya Alvian Ramadhan” dipeluknya putri keduanya.
“ayo sayang, biar kakak dan hilda yang antar kamu ke dapan”
“terima kasih kak” lantas mereka menggiring hulya menemui mempelai lelaki.
“assalamu’alaikum istriku” mendengar suaranya saja sudah membuat jantung hulya ingin keluar dari tempatnya, apalagi ditambah dengan sebutan istri? Ah rasanya tubuh hulya ingin terbang
“wa’alaikum salam warahmatullah mas” hulya berusaha meraih tangan kekar suaminya, vianpun mendaratkan sebuah kecupan Mesrah di kening hulya. Lantas tangan kanan vian mengusap lembut puncak kepala hulya sedangkan tangan kirinya menengadah ke langit untuk mendoakan kebaikan atas dirinya dan hulya serta pernikahan keduanya. Hulya pun turut menengadahkan kedua tangannya, sungguh bahagia sekali hatinya.
“hulya, mungkin pernikahan kita dibangun tanpa cinta. Tapi aku berjanji, ketika aku telah mengucapkan namamu dalam ikrarku maka semenjak saat itulah aku sudah belajar mencintaimu” ucap vian menggenggam kedua tangan hulya
“terima kasih mas, sebaliknya dengan hulya. Dan insyaAllah hulya akan berusaha membuat mas jatuh cinta pada hulya” hulya masih menundukkan kepalanya, masih malu untuk menatap lelaki yang saat ini telah menjadi suaminya. Benar-benar membuat semua orang yang berada diruang tamu rumah hulya pun tersentuh melihat adegan romantis mereka, terkecuali dua orang lelaki yang menginginkan hulya. akad nikah mereka memang diselenggarakan di rumah hulya.
Vian melirik Jam tangannya yang menunjukkan pukul 10.15 pagi, vianpun mencari sosok istrinya yang ternyata sedang bercengkrama dengan sanak saudaranya. “cantik” batin vian, walaupun saat akad sampai saat ini hulya tidak memakai gaun mewah, hanya memakai gamis syar’i putih elegan dengan hiasan mahkota kecil di ujung kepalanya. pun tidak memakai make up berlebih, tapi pancaran wajahnya benar-benar dapat vian rasakan dari sorot mata indah hulya. Hulya memang memilih memakai make up natural, hulya juga tidak memakai bulu mata palsu untuk menghias keindahan matanya. Yang meriasnya adalah hilwa, kakaknya. Hilwa hanya memoleskan sedikit bedak, mengukir alis hulya tipis, serta eye sido yang juga tipis. insyaAllah wanita cantik tidak hanya dari wajah dan penampilannya, melainkan dari hati & akhlaknya.
“hulya?”
“ah iya mas?” hulya kaget saat tangan kekar memegang pundaknya, terlihat dari kedua pundaknya yang seketika tersentak keatas.
“kita istirahat dulu yuk, nanti habis dzuhur kan acara resepsi. Biar kita tidak terlalu capek” ucap vian dengan sangat lembut.
“woy, udah gak sabaran aja rupanya abang gue ini” ucap alvin membuat gaduh, ini dia Alvin Ramadhan adik Alvian. Alvin jarang dirumah karna dia memutuskan tinggal disingapure mengurus rumah sakit milik sang nenek “sabar bang, gak ada ceritanya siang pertama. Dimana-mana itu malam pertama bang, dan malam pertama itu masih nanti... ingat masih nanti setelah resepsi selesai kalian baru boleh ena-ena” goda alvin membuat semua orang menoleh kearah mereka, sukses membuat kakak iparnya menahan rasa malu
“apaan sih vin, kakak kan Cuma ingin ngajak istirahat hulya saja” wajah bebelac alvian seketika merajuk dengan tingkah laku adiknya.
“hush alvin” mata bu melsa melotot ke arah anak bungsunya “sudah sana jangan gangguin kakakmu ah” usirnya pada alvin “ya sudah vian, kamu ajak istri kamu istirahat gih” lanjutnya.
“tapi vian belum tahu kamar pengantinnya dimana ma, mengingat ini bukan rumah kita” sindiran vian berhasil mendongakkan kepala hulya
Umy syafa yang mendengar ucapan vian segera datang menyelamatkan anaknya dari rasa malu “hulya sayang, ajak suamimu ke kamar ya” ucapnya.
“baik umy, mari mas” ajaknya masih malu-malu, vian tersenyum mengamati tingkah absurd wanita yang se jam lalu telah menjadi istrinya.
“maaf mas, kamarnya sempit mungkin tidak seluas kamar mas dirumah mama atau di rumah baru kita” ucap hulya saat membuka pintu kamarnya.
“tidak apa-apa, yang penting nyaman” ucap vian tulus
“mas, mau langsung istirahat atau mau mandi dulu? Biar hulya siapkan”
“hulya”
“iya?”
“kemarilah” vian menepuk-nepuk sisi ranjang, mengkode istrinya agar duduk di dekatnya. Hulyapun menurut.
“boleh mas lihat wajahmu?” 1 detik, 2 detik, berdetik-detik tetap tidak ada jawaban dari hulya “hulya” panggil vian ulang, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh hulya lantas membuka niqobnya.
Vian meraih dagu hulya “cantik” pujinya pada wanitanya “terima kasih telah menjaganya untukku” dikecupnya kening hulya untuk kedua kalinya setelah yang pertama saat selesai akad tadi. jangan tanya lagi seperti apa wajah hulya saat ini, merah merona seperti tomat.
“aku sungguh beruntung bisa menjadi suamimu, Tuhan sangat baik memberikan istri sebaik kamu terhadapku. Padahal aku sendiri bukanlah lelaki yg baik” lanjut vian
“mas, jangan merendah. Mas juga lelaki yang baik” ucap hulya lembut.
___
‘kamu benar-benar memupuskan cinta ini, jika kita tidak bisa bersatu... Maka biarkan aku pergi, aku tak ingin melukaimu atau dia yang telah merebutmu dariku. Aku bukan orang jahat yang tega melakukannya, lebih baik aku saja yang menanggung semuanya. Luka hati serta raga, biar totalitas sekalian. Maafkan aku Tuhan, aku menyerah'
___
Resepsi pernikahan dinyatakan usai, sehari sebelum acara vian telah mengemukakan pada keluarganya serta keluarga hulya jika setelah resepsi di gedung dirinya & hulya akan langsung pulang ke rumah mereka.
“pa, ma, aby, umy, vian pamit membawa istri vian ke rumah kami. Terima kasih selama ini telah merawat kami, hingga kini tibalah saatnya kalian harus melepas kami yang telah memiliki rumah tangga sendiri. Doakan kami agar rumah tangga kami sesuai dengan apa yang kita semua harapkan” (tanpa terfikir bahwa suatu saat doa wanita yang terbaring lemas di rumah sakitlah yang di ijabah Tuhan) lantas vian & hulya menyalami orang tua serta semua keluarga yang tersisa, isak tangis pecah mengiringi kepergian mereka. Padahal mereka masih tinggal di kota yang sama, tapi entahlah rasanya berbeda seakan-akan mereka akan pergi jauh.
“biar hulya bantu mas bawa kopernya” pinta hulya pada vian yang sedang menurunkan barang-barang bawaan mereka.
“sudah tidak apa-apa aku masih bisa melakukannya sendiri. kamu bukain pintu saja, kamu Tidak lupa membawa kuncinya kan?”
“tidak mas” hulyapun melakukan intruksi vian.
“hhhhhh... Akhirnya selesai juga” vian terlihat kecapean setelah bolak balik membawa barangnya & hulya dari mobil ke kamar.
Hulya tersenyum “mau hulya pijetin mas?” hulya yang semula membereskan pakaiannya ke lemari memutuskan menghampiri vian.
Dengan sigap vian meraih kedua tangan hulya yang lembut & kenyal itu “tidak perlu, aku tau kamu juga pasti capek” hulya kembali melempar senyum dibalik niqobnya. Walau sudah menjadi mahromnya, ntah mengapa hulya masih malu melepas niqob yang selama ini selalu menemaninya.
“mas vian mau minum apa? Biar hulya buatin sekalian buat makan malam untuk kita” tawar hulya dengan tulus
“buatkan aku s**u jangan terlalu manis ya, terima kasih sebelum & sesudahnya” ucap vian dengan kedua sudut bibirnya terangkat. Vian bukan lelaki penyuka kopi seperti lelaki pada umumnya, vian pecinta s**u. Karna mamanya yang selalu membiasakan.
30 menit berkutat di dapur, akhirnya makan malam serta 2 gelas s**u pun tersaji di meja makan.
“maaf ya mas, kalau masakan hulya tidak seenak masakan mama” ucap hulya dengan wajah menunduk, karna sedari tadi tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut vian tentang pendapatnya pada makanan yang dibuat hulya selain kata terima kasih.
“masakanmu sangat enak hulya, sampai aku tidak bisa harus berkata apa. Yang aku ingin hanya terus mengunyah masakanmu. Tidak hanya aku, bahkan semua orang penggemar Amanah Bakery sudah jatuh cinta pada makananmu” yes, sepertinya vian mulai hobi membuat si hulya tersipu malu.
“mas vian bisa saja” sungguh hulya merasa bahagia, karna vian tidak sedingin pemikirannya. Seperti di novel atau film ftv yang hulya tau, dimana suami yang hasil perjodohan akan mendiamkan istrinya dengan sikap dinginnya.
“setelah makan kita sholat isyak berjamaah ya” hulya mengangguk, tak percaya bahwa suaminya akan mengimami sholatnya. Gantian kini Hulya yang merasa sangat bersyukur mendapat suami seperti vian.
___
Vian & hulya menengadah kedua tanganya dengan melangitkan doa-doa terbaik. Namun nada dering bendah pipih milik vian mulai mengusik ritual curhat mereka pada Sang Kekasih Yang Maha kasih.
“mas, coba diangkat dulu mungkin saja penting. Sudah berkali-kali lho handphone mas bunyi” ucap hulya Setelah mencium punggung tangan milik vian, karna sang pemilik sepertinya enggan menggubris.
“Tunggu sebentar ya, mas angkat telefon dulu” pamitnya pada hulya lantas keluar kamar, karna si penelfon adalah....