Part 5

957 Words
Vian Call’s “assalamu’alaikum mas” “wa’alaikumussalam warahmatullah, hulya?” jawab & tanya vian di seberang, “iya mas ini hulya? Tumben telefon, ada apa?” seminggu dari acara khitbah, baru kali ini vian telefon hulya. “kamu sibuk enggak? Aku mau ngajak kamu beli rumah untuk kita tempati setelah akad, sekaligus propertinya. Kalau kamu bisa, nanti kita tidak hanya berdua kok, aku akan ngajak mama menemani kamu” vian menjelaskan “Alhamdulillah hulya sedang tidak ada acara kemana-mana hari ini mas” sungguh teramat bahagia hulya mendengar vian akan mengajaknya membeli rumah. Apakah boleh dia menganggap dirinya beruntung mendapat calon suami seperti vian? “okey, kalau gitu nanti aku jemput kamu sekitar jam 10 an ya. Sampai ketemu nanti, Assalamualaikum” Vian mengakhiri telefonnya. “wa’alaikum salam warahmatullah” didekapnya benda pipih miliknya, bibirnya terus tersenyum, hatinya bergemuruh syukur. Sampai tak terasa hulya bagai anak kecil yang berlompat-lompat diatas springbednya. Krek.... “ada apa nak?” umy syafa sangat kaget mendapati anaknya berloncat-loncat girang diatas ranjang tidurnya “eh umy” hulya menghentikan lompatannya lantas turun mendekati umynya “umy sejak kapan masuk?” lanjutnya “sejak mendengar suara orang loncat-loncat diatas ranjang, sepertinya ada yang lagi bahagia nih” sindir umy syafa, ibu hulya “hehehe” hulya tiba-tiba menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal. “ya sudah kalau tidak mau cerita sama umy, ndak apa-apa” umy syafa pura-pura cemberut. “cerita kok my, umy gak sabaran banget sih” senggol hulya pada lengan umynya “ya sudah cerita aja, umy sudah penasaran ini” umy syafa sudah tidak sabaran “hulya nanti ijin keluar ya my jam 10 an, soalnya mas vian ngajak hulya beli rumah sekaligus propertinya my” jelas hulya dengan wajah berbinar. “ah yang benar kamu? Jarang lho nak ada calon suami yang beli rumah ngajak calon istrinya. Semoga selamanya nak vian akan menjadi imam terbaik untukmu nak” “terima kasih do’anya my” mata hulya sudah mulai tidak dapat melihat dengan jelas karna tertutup air mata haru, berharap doa ibunya diijabah oleh Kekasih yang Maha Kasih. “seorang ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya nak” ___ “umy aby, kedatangan vian kali ini untuk minta ijin ingin membawa hulya ke tempat expo rumah. Sebab rumah itu kan vian dan hulya yang akan tempati nantinya, jadi vian ingin rumah yang terbaik menurut vian & hulya” vian dan mamanya telah sampai dirumah hulya, saat ini sedang berusaha meminta ijin untuk membawa sang calon istri. “kalau hulyanya bersedia, kami selaku orang tua hanya bisa memberikan ijin. Asalkan nanti hulyanya dapat kembali dengan tidak kurang satu apapun” jawab sang aby mertua vian dengan menyungingkan senyum, sebelum vian datang hulyapun sudah menceritakan pada abynya. “terima kasih by, insyaAllah vian akan menjaga amanah aby” lantas mereka berpamitan pada aby lutfi & umy syafa ___ Di kamar berwarna pink, seorang gadis terduduk lemas meringkuk diri memeluk figura seseorang yang sangat dicintainya. Kenyataan pahit harus dia terima, kekasih tercintanya berhenti berjuang dan rela menerima perjodohan orang tuanya. Terlihat dari raut wajahnya semangat hidup telah menurun, selera makanpun tak lagi ada. ‘seminggu sudah aku tanpamu, aku benar-benar rapuh tanpamu vian. Sungguh tega kau meninggalkanku, tak pernahkan kau berfikir sedikit tentang diriku, tentang hatiku? Aku kecewa bahkan aku marah. Kau katakan hal yang tak pernah aku inginkan disaat aku benar-benar telah melabuhkan seluruh cinta ini pada hatimu vian. Kau pendusta, semua janjimu hanya bualan semata. Tega sekali kau vian, aku benar-benar tidak sanggup menjalani sisa hidupku tanpamu. Aku benci takdir ini, Tuhan bolehkah aku menentang takdir? Aku tahu Engkau tidak akan memberi beban di pundak hamba-Mu melebihi kadar kekuatannya, tapi aku benar-benar tidak sanggup. Jika kelak aku memilih menyerah, kumohon jemput aku Tuhan. Pada kenyataannya aku tak bisa merelakan dia untuknya, sebaik apapun dia yang menggantikanku tetap saja aku tak rela Tuhan’ matanya sudah sangat sembam sebab terlalu sering dia mengeluarkan air mata ___ “pilihlah yang menurut kamu bagus, berapapun itu aku sanggup untuk membayarnya” kata vian pada hulya ‘apapun yang kuberikan padamu tidaklah sepadan dengan apa yang nantinya akan aku dapatkan darimu’ batin vian bermonolog mengingat betapa sangat gigihnya hulya menjaga dirinya sendiri. “iya sayang, pilih yang menurut kamu baik” kata bu melsa Setelah lama melihat pameran rumah di salah satu mall di pusat ibu kota Indonesia, akhirnya pilihan hulya jatuh pada rumah minimalis berlantai 2, dengan design modern. Dengan 4 kamar, taman depan rumah, serta kolam renang. Cocok untuk bersantai dengan keluarga kala weekend tiba. “mas” “apa kamu sudah menjatuhkan pilihan untuk rumah kita?” vian seakan sudah dapat membaca apa yang akan disampaikan hulya, sedangkan hulya yang mendengar vian menyebutkan kata “Kita” saja sangat berbunga hatinya. Seakan-akan taman yang indah telah subur dihatinya dengan bunga-bunga yang bermekaran. Maklumlah baru kali ini hulya diperlakukan seperti ini dari lawan jenisnya. “hulya suka rumah ini mas, menurut mas vian sendiri gimana?” “bagus, dari awal aku juga sudah naksir rumah ini. Kamu sudah yakin dengan pilihanmu ini? Kalau sudah, nanti aku akan telefon sekretarisku biar nanti dia yang urus semuanya” hulya pun mengiyakan. “sekarang kita cari properti untuk mengisi rumah kalian yuk” ajak bu melsa. Setelah berkeliling memilih beragam properti untuk rumah yang akan ditempati vian & hulya, akhirnya saat ini mereka berada di sebuah cafe di dalam mall. Vian mengajak mama serta calon istrinya makan di sebuah cafe yang mensajikan makanan Korea halal. Saat ini makanan pesanan mereka telah datang, Sempat vian berfikir bagaimana cara hulya nantinya makan ditempat umum dengan niqobnya itu. Melihat hulya makan, vian tiada henti-hentinya memperhatikan gerak gerik hulya. Niqob hulya sama sekali tidak membuat hulya kerepotan untuk makan, bertambah sudah rasa kagumnya pada seorang Hulya Altafunnisa. Hulya menangkap dari ujung ekor matanya bahwa kini dirinya sedang diperhatikan oleh vian, merasa tidak enak sendiri. Bahkan makanan vian sampai tidak tersentuh sedari tadi “maaf mas, mas vian kenapa memperhatikan hulya seperti itu? Apakah ada yang salah dengan hulya?” hulya sibuk memperhatikan dirinya, takut-takut dugaannya benar. “ah tidak, aku hanya terlalu kagum padamu” yes... ucapan vian kali ini sukses membuat wajah hulya semerah sosis bakar. “hush... ada mama juga, bisa-bisanya gombal. Tahan vian, tunggu seminggu lagi kalian akan menjadi pasangan halal. Lalu puas-puasin sudah gombalin hulya” ucap bu melsa ceplas ceplos, ya... pernikahan mereka sudah tinggal seminggu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD