Sesubur apa cinta tumbuh dalam hati, sekuat apapun cinta yang kita bina, semua akan kalah oleh takdir. Adakah putus yang lebih menyakitkan selain putus karna salah satu diantara keduanya telah dijodohkan? Ditengah harap yang mendera, cinta harus pupus dengan kenyataaan yang ada. Menerima perjodohan bukan semata kita lemah untuk memperjuangkan perasaan, tapi demi menjalankan bakti pada wali ilahi.
“aku minta maaf, aku tidak bisa memperjuangkan hubungan kita seperti mimpi kita selama ini. Bahkan untuk meperjuangkan perasaanku saja aku tak mampu, maka aku tegaskan hari ini aku melepasmu dan tolong lepaskan aku. dengan begitu kamu tidak akan merasa kehilangan” ucapnya menahan kesedihan
“apakah kamu tidak ingin berusaha memperjuangkan hubungan kita sekali lagi vian? Bukannya kita berjanji untuk berjuang bersama? Mana janji itu vian?” bella tak lagi bisa menahan isak tangisnya, sejak awal vian menceritakan perihal perjodohannya dengan hulya itu sudah sukses membuat hatinya rapuh. Mirisnya vian menerima perjodohan tersebut.
“aku meninggalkanmu bukan berarti aku tak lagi mencintaimu. Hatiku masih sama, hanya namamu yang tersemat disana. Yakinlah, setelah kepergianku pasti akan ada hati yang datang. Kamu perempuan baik, pasti jodohmu lelaki baik pula” tangan vian mengelus kedua tangan bella yang berada diatas meja, meyakinkan bahwa setelah ini semua akan lebih baik.
“aku tidak hanya butuh cintamu vian, aku juga butuh ragamu. Aku hanya ingin dirimu” tak peduli semua mata memperhatikan, bella terus saja terisak. Kebetulan Cafe yang saat ini mereka kunjungi sangat ramai pengunjung, dan posisi mereka yang tepat di depan pintu masuk membuat setiap mata yang masuk tertuju pada mereka.
“aku mohon dengan sangat bella, kita harus mengakhiri hubungan ini. keputusan yang aku ambil bukan tidak dengan pertimbangan bella, Ini sudah benar-benar aku pikirkan. Aku harap kamu dapat menerimanya” lantas vian pergi meninggalkan bella yang sedang menangis, layaknya lelaki pecundang. Vian tak lagi menoleh kearah bella, takut-takut dia akan goyah akan keputusannya, air mata vian pun sudah lolos membasahi pipinya.
Vian begitu mencintai bella, tapi vian tahu bagaimana keluarganya menyikapi hubungannya dengan bella. jika hubungan itu terus berlanjut, vian tidak ingin keluarganya terus melakukan dosa sebab terus mencemooh bella. Dan hati vian akan terus sakit tak terima bila mendengarnya, vian pun tidak menjamin hubungan keluarganya dan bella akan baik-baik saja jika suatu saat bersanding dengan bella. Sebab vian tahu bagaimana keluarganya ketika telah mengatakan tidak suka pada seseorang, Walau vian tahu hati manusia tidak dapat berkomitmen. Tapi Biarkanlah bella mendapat lelaki terbaik serta mertua yang baik pula. Itulah yang ada dipikiran vian saat mengatakan “IYA” dengan tawaran mamanya.
Bella menepuk-nepuk pipinya, mencubit tangannya, memastikan apakah ini hanya mimpi buruk? Ah.. ternyata tidak, karna semuanya terasa sakit. Mengingat kembali perkataan vian membuat hatinya semakin hancur “aku akan mengikat perempuan lain malam ini”. Sungguh tak sekalipun terlintas dalam benak bella bahwa hubungannya dengan vian akan berakhir tragis seperti ini. Lebih baik pisah mati dari pada harus berpisah karna perjodohan, pisah karna perjodohan sangat menyakitkan sebab kita harus merelakan orang yang kita cintai dimiliki orang lain. Sampai seegois itu pemikiran bella.
~~~
“tanpa mengurangi rasa hormat, maksud kedatangan kami kesini untuk mengkhidbah nak hulya untuk anak kami, Alvian Ramadhan. Mungkin terkesan mendadak, namun kami tidak ingin niat baik kami didahului orang lain” lancar & lugas penyampaian rama pada keluarga Al-Bakhri.
“mohon maaf kami tidak bisa memutuskan menerima atau tidak, karna semua jawaban kami serahkan pada hulya, anak kami.” tegas lutfi zainal Al-Bakhri, aby hulya.
“sebentar kami panggilkan putri kami,” lantas umy syafa beranjak memanggil putri keduanya.
Sambil menunggu kedatangan hulya, aby menyuruh keluarga rama mencicipi hidangan yang ada. Karna kedatangan mereka sangat mendadak, jadi tidak ada persiapan apapun.
“Assalamu’alaikum” dengan salam hulya menyapa keluarga rama
“wa’alaikumussalam warahmatulla” serentak yang ada diruang tamu menjawab salam hulya.
“sini nak, duduk dekat aby” setelah p****t hulya mendarat di atas sofa dekat abynya, abynya menjelaskan kedatangan keluarga dihadapannya “begini nak, kedatangan mereka kesini untuk mengkhidbahmu. Kamu berhak menerimanya ataupun menolaknya” hulya mengangguk.
“aby, boleh hulya bicara dengan aby berdua?” bisik hulya pada abynya, lantas sang aby mengajak hulya masuk.
Sementara bu melsa sudah sangat gelisah dengan jawaban apa yang nantinya akan dia terima, sungguh bu melsa tidak rela hulya menikah dengan lelaki lain selain dengan anak sulungnya.
“maaf telah menunggu, setelah kami rembukkan... sesuai dengan prosedur, kami ingin diantara hulya dan nak alvian bertukar cv terlebih dahulu untuk mengenal satu sama lain. Karna namanya mencari pasangan hidup itu sekali seumur hidup, bukan begitu pak rama? Ya sama lha seperti kita saat memilih dulu. Hehehe“ biar suasana tidak terlalu formal, aby berusaha mencairkan suasana dengan mengajak semua orang bercanda.
“benar sekali pak, hehehe. Tapi saya berharap hulya dan vian berjodoh dunia sesyurga” jawab rama mengimbangi candaan lutfi.
“maaf pak lutfi, menyambung perkataan njenengan tadi bagaimana kalau tukar cv nya langsung malam ini saja. Agar tidak menunda-nunda niat baik” vian sontak menoleh ke arah mamanya, benar-benar disini yang kelihatan menggebu-gebu ialah mamanya.
“kita tanyakan dulu pada keduanya ya bu, karna kan yang akan menjalani mereka” jawab lutfi “bagaimana menurut kalian” lanjutnya menanyakan pada hulya & alvian, namun tanpa diduga mereka mengiyakan.
Aby segera memberikan kertas berikut bolpoin pada keduanya agar segera mengisi cv mereka masing, dengan waktu 30 menit akhirnya mereka menyelesaikannya lantas saling bertukar cv. Vian terlihat antusias membaca cv milik hulya, sedangkan hulya hanya sesekali mengangguk-angguk pelan.
“bagaimana?” pertanyaan kali ini datang dari rama, hulya kembali berbisik pelan pada abynya.
“bagaimana nak vian setelah membaca cv anak saya? Apakah nak vian ingin melanjutkan khitbah ini?” kali ini lutfi bersikap tegas untuk memastikan
“bismillah, insyaAllah, saya ingin tetap melanjutkan khitbah saya pada putri aby” jawab vian mantab
“karna nak vian telah mengetahui cv anak saya, maka sekarang saya akan memperlihatkan wajah anak saya agar nak vian nantinya tidak menyesal. Nak, bisa buka niqobmu sebentar!” pintanya pada hulya. Barang sesaat dengan tangan gemetar hulya membuka niqobnya, jangankan vian yang tidak berkedip. Mama papanya saja tidak berkedip, MasyaAllah... hulya benar-benar bidadari syurga. Menurut pengakuan hati vian sendiri, hulya jauh lebih cantik dari bella. Serapuh itukah cinta vian untuk bella, hanya dengan melihat paras cantik hulya saja membuat sedikit cintanya pada bella pudar.
‘aku akan sangat beruntung bila mendapatkan istri hulya, dia benar-benar menjaga semuanya hanya untuk suaminya. Bahkan wajahnya sekalipun.’ Batin vian bermonolog.
“bagaimana nak vian? Apakah masih tetap akan melanjutkan khidbahnya pada anak saya?” kembali aby lutfi bertanya pada vian, hulya pun kembali memakai niqobnya.
“sekali lagi saya tegaskan, dengan seijin Allah saya - Alvian Ramadhan tetap akan meneruskan khidbah ini pada saudari Hulya Altafunnisa” vian kembali menjawab dengan mantab
“untuk nak hulya sendiri bagaimana?” rama kembali menyuarakan pertanyaannya
“maaf, bukan niat saya ingin menunda-nunda. Akan tetapi ada kiranya saya dapat diberi waktu 3 hari untuk mengistikhorokan khidbah ini. Agar kelak langkah yang saya ambil tidak mengecewakan saya pribadi tentunya” hulya berucap dengan wajah yang masih tertunduk.
setelah berdiskusi dengan keluarganya, rama memutuskan untuk memberi kesempatan pada hulya beristikhoroh sesuai dengan waktu yang hulya minta.
3 hari kemudian
“bismillah, saya Hulya Altafunnisa menyatakan bahwa saya bersedia menerima khidbah dari Alvian Ramadhan” ucap hulya mantab
“Alhamdulillah” ucap syukur dua keluarga tersebut, lantas mereka membicarakan kapan perikahan vian & hulya akan dilaksanakan.