Part 3

992 Words
“nak, hari ini umy ikut kamu ke toko ya! Umy sudah janjian sama bumelsa mau ketemuan disana. Umy juga pengen bantuin kamu di toko” “siap bos ku” jawab hulya dengan tangan seperti orang hormat pada berdera “aby gak ikut juga by?” tanya hulya pada abynya yang sedang nyeruput kopi hitam “aby mau sepedaan aja sama temen-temen aby. Lain kali deh aby ikut ke toko kamu sayang” “baik abyku sayang” langsung saja hulya mencium pipi sang aby “umy kita siap-siap yuk” ajak hulya pada umynya. --- Sepanjang perjalanan seorang pemuda terus saja melirik barang bawaannya yang ditaruk di jok samping dengan wajah sumringah, Sesuatu yang spesial untuk seseorang yang spesial. Hatinya sungguh bungah, tak sabar rasanya ingin cepat sampai pada tempat tujuan. Kini mobil crvnya telah berbelok ke parkiran ruko elite dikawasan jakarta pusat. Dengan tergesa-gesa sang pemuda turun dari mobil membawa barang bawaannya. “Assalamualikum mbk arum” “wa’alaikum salam warahmatullah pak firman, benarkan yak namanya pak firman?” tanya arumi memastikan, karna kemarin atasannya menyebut nama firman pada seseorang yang kini berada dihadapannya. “iya mbk, benar kok” jawab firman ramah “hulyanya ada?” “oh cari hulya, tak kira mau beli kue” mulut arumi benar-benar tidak bisa berbohong “sebentar aku panggilkan hulya” lantas pergi meninggalkan firman 5 menit menunggu akhirnya arumi kembali bersama dengan hulya & umy syafa. “Assalamualikum” “wa’alaikum salam hulya” mata firman seakan-akan tak mau berkedip melihat wanita cantik dihadapannya, walau yang terlihat hanya kedua matanya namun mata itu sudah bisa menjelaskan bagaimana cantiknya wajah sang gadis di balik khimar hitamnya. “siapa dia nak?” tanya umy syafa “kenalkan my dia temen kuliah hulya namanya firman, dia asli surabaya my. Tapi sudah setahun dia tinggal di jakarta ” alangkah senangnya firman dapat dikenalkan pada umy seseorang yang dia cintai. “tante, sy firman” firman meraih tangan wanita paruh bayah tersebut lantas mencium puggung tangannya. “jangan panggil tante, saya sudah tua. Panggil umy saja nak firman” protes umy syafa. ‘kode nih, semoga saja beneran jadi umy mertua kelak’ hati firman bersorak girang “baik umy” kedua sudut bibir firman terangkat “oh iya hulya, ini aku sudah penuhi permintaan barter kamu, sama ada sedikit makanan untuk kamu dan umy makan siang” firman memberikan sebuah kotak kardus dan rantang tupperware pada hulya. “kok repot-repot sih nak firman” bu syafa merasa tidak enak hati “tidak apa-apa my, kebetulan saja masak banyak jadi sekalian saya bagi untuk hulya. Eh... Ternyata disini juga ada umy, jadi tidak Cuma buat hulya saja deh sekarang... tapi juga buat umy. Hehehe” firman nyengir kuda “terima kasih ya fir, sekalian saja kirim makanan tiap hari. Hehehe” hulya asal nyerocos saja, gak tau kalau ucapannya benar-benar diambil hati oleh firman. “hulya (bacanya dengan sedikit membentak yes)” umy syafa menatap tajam putri keduannya dan hanya ditanggapi dengan cengiran oleh hulya “kalau begitu kita makan bersama saja yuk, kan ini sudah waktunya makan siang” ajak umy syafa antusias “maaf umy, saya sudah waktunya kerja. Jadi harus berangkat sekarang, lain kali insyaAllah akan saya sempatkan” bukannya firman ingin menolak ajakan dari camer, tapi benar-benar waktunya sudah mepet. Walaupun hotel tempat dia bekerja milik sang papa, akan tetapi jiwa profesonalisme itu harus tetap ada. Iya kan? “assalamu’alaikum jeng syafa” tiba-tiba seseorang yang baru turun dari mobil dengan tergesa-gesa menghampiri umy syafa. “wa’alaikum salam warahmatullah jeng, mari-mari silahkan” umy syafa menghaturkan bu melsa untuk duduk “maaf umy, hulya... saya pamit dulu” “loh kok kesusu sih nak firman, beneran tidak mau makan siang bersama kami dulu?” “sudah umy, insyaAllah lain waktu. Assalamualaikum” firman meraih tangan umy syafa lantas mencium punggung tangannya, lantas menganggukkan kepala pada yang lain. Dari pertama melihat firman sampai tubuh firman menghilang dari hadapannya pun mata bu melsa tidak melepaskan tatapannya pada pemuda dihadapannya, lirikan matanya sangat tajam menandakan bahwa dirinya sangat tidak menyukai keberadaan sipemuda tersebut. Setelah menaruh makanan yang dibawakan firman, hulya akhirnya bergabung “tante” hulya meraih tangan bu melsa untuk dia cium sebagai tanda penghormatan kepada wanita yang usianya mungkin sama dengan umy nya. “ini lho vian, gadis yang sering mama ceritakan ke kamu. Mama tidak bohong kan kalau nak hulya ini sangat mempesona” bu melsa menyenggol lengan anaknya memcoba menggoda, sedangkan hulya dan vian saling menganggukkan kepala sebagai tanda mereka telah saling sapa. Vian tak bisa mengelak bahwa memang benar ucapan mamanya bahwa seorang gadis dihadapannya dapat memberikan kesejukan walau hanya melalui pancaran sinar matanya. “owh ini toh yang namanya nak vian yang sering jeng melsa ceritakan itu, masyaAllah cakep banget” umy syafa tak kala hebohnya saat mengetahui bahwa pemuda dihadapannya ada vian. “ah jeng syafa keterlaluan deh muji anak saya” bu melsa tersipu malu “beneran jeng saya tidak mengada-ngada” umy syafa meyakinkan. “jeng, lelaki yang tadi itu siapa?” to the poin aja bu melsa “owh itu temen kuliah hulya, orang surabaya tapi setahun terakhir ini dia tinggal di jakarta jeng” “oh gitu” sepertinya kondisi hati bu melsa saat ini sedang gelisah “nak hulya, tante mau pesan kue untuk hari rabu ya. Kue-kuenya sudah tante tulis disini” bu melsa menyodorkan selembar kertas pada hulya. “insyaAllah hulya tidak akan mengecewakan tante” hulya mengambil selembar kertas tersebut. “kalau begitu kami permisi dulu jeng, nak hulya” pamit bu melsa “kok buru-buru jeng? Katanya tadi ada yang ingin dibicarakan” “kami masih mau ke suatu tempat jeng, buru-buru banget” bu melsa benar-benar sudah gelisah, ingin segera pergi dan menginginkan malam akan segera tiba. “oh baik jeng” “Assalamu’alaikum” “mari tante, mbak” pamit vian sesaat setelah mengucapkan salam lantas menganggukkan kepala “wa’alaikum salam warahmatullah” ucap umy syafa dan hulya bersamaan --- Didalam mobil bu melsa tidak terlihat santai, seperti menggebu-gebu. membuat vian bingung, dan tambah bingung lagi ketika mendengar jawaban mamanya. “mama kenapa sih? Kok aneh gitu?” vian sesekali melirik sang mama “pokoknya mama tidak mau tahu, malam ini juga kamu harus melamar hulya” ucap bu melsa mantab “apaaaa? mama apa-apaan sih? vian sama dia saja belum bertukar CV, belum ada persiapan apapun juga kan ma” vian benar-benar shok “mama punya firasat tidak baik pada lelaki tadi, dari tatapannya dia seperti menyukai hulya. Mama gak mau kalau kita sampai keduluan dia. kamu kan sudah setuju, jadi selanjutnya kamu ikutin saja apa mau mama. kita Cuma ngikat saja sebagai tanda kepemilikan kamu, jadi kita kesana bawa cincin aja dulu. Sekarang kita langsung ke toko perhiasan ya! oh iya, mama mau kamu juga harus menyelesaikan urusan kamu dengan si bella-bella itu.” ---      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD