Rabu, 16.00 WIB Setelah pelarian melelahkan dari kantor Bram pagi tadi, Anisa menghabiskan siangnya dengan berpura-pura tidur dan mengunci diri di kamar sampai sore hari. Kartu nama Bram ia selipkan di dalam casing ponselnya, tempat yang ia pikir paling aman dari jangkauan Aidan. Namun, ketenangan semu itu pecah saat suara deru mobil yang sangat ia kenali berhenti di halaman depan. Bukan hanya satu mobil, tapi dua. Di ruang tamu, Aidan yang masih berkutat dengan laptopnya mendongak saat Bik Ijah membuka pintu dengan wajah pucat. Masuklah orang tua Anisa dan di belakang mereka, berdiri seorang pria jangkung dengan raut wajah keras yang tertutup kacamata hitam. Dia adalah Rafli. Kakak laki-laki Anisa yang selama bertahun-tahun memilih mengasingkan diri di luar negeri karena muak denga

