Malam kembali menyelimuti Seoul. Aidan dan Kenny kembali ke hotel setelah seharian penuh dengan meeting yang menegangkan. Begitu mereka melangkah ke lobby, fokus Aidan yang biasanya hanya tertuju pada pekerjaan, kini beralih pada satu hal yang mengganggunya sejak pagi: ketidakhadiran Anisa.
Aidan, yang memiliki gengsi yang cukup tinggi, memilih untuk tidak bertanya langsung kepada resepsionis. Ia menoleh dingin kepada asistennya.
"Kenny, kamu tanya kepada staf apakah perempuan itu keluar dari kamarnya atau tidak," ucap Aidan, nadanya memerintah.
"Baik, Tuan. Laksanakan," jawab Kenny, yang segera berjalan menuju meja resepsionis.
Kenny memulai percakapan dalam Bahasa Inggris yang lancar. "Permisi, selamat malam. Saya yang tadi pagi menelepon hotel menanyakan tentang kamar tersebut. Apakah ada informasi terbaru mengenai kamar itu?" tanya Kenny.
"Anda Tuan Kenny?" tanya resepsionis.
"Ya, saya Kenny. Saya menanyakan tentang kamar hotel bernomor di kelas standar tadi," jawab Kenny, sengaja menekankan kata "kelas standar" karena ia tahu Aidan berdiri tepat di sampingnya dan ia merasa awkward dengan perlakuan bosnya.
Resepsionis itu memeriksa sistemnya. "Kebetulan, tidak ada aktivitas sama sekali dari kamar tersebut, Tuan. Bahkan, dari tadi malam hingga malam ini, tidak ada pesanan makanan yang tercatat," jelas resepsionis.
"Baik, kalau begitu terima kasih banyak," ucap Kenny.
"Sama-sama, dengan senang hati membantu Anda," balas resepsionis.
Kenny kembali menghadap Aidan dan memberikan laporannya. Mendengar bahwa Anisa tidak meninggalkan kamar atau bahkan memesan makanan, raut wajah Aidan menjadi semakin sulit dibaca. Ada sedikit gurat kegelisahan yang bercampur dengan kemarahan.
"Ya sudah, kamu istirahat saja," ucap Aidan pada akhirnya kepada Kenny.
"Baik, Tuan. Permisi," ucap Kenny, yang segera meninggalkan Aidan di meja depan resepsionis, merasa lega karena tidak harus berlama-lama di tengah aura dingin bosnya.
Namun, ketenangan Aidan tidak bertahan lama. Setelah Kenny pergi, Aidan memutuskan untuk menemui Anisa di kamarnya saja dan memastikan keadaannya. Tindakan ini sama sekali bukan karena Aidan peduli atau tiba-tiba tersentuh.
Melainkan, ia merasa sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Anisa di kamar hotel, dia pasti akan disalahkan oleh keluarganya dan urusan bisnisnya akan terganggu. Anisa, bagaimanapun juga, adalah tanggung jawab yang harus ia pastikan tetap terkendali.
Setelah Kenny pergi, Aidan bergerak menuju lift, tujuannya jelas: kamar Anisa. Meskipun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya ini murni didorong oleh tanggung jawab dan kekhawatiran akan dicela keluarga, nyatanya ada dorongan yang lebih mendasar dan mengganggu yang tidak ia pahami.
Aidan tiba di depan kamar Anisa di lantai bawah, kamar "standar" yang ia pesan. Ia mengetuk pintu dengan ketukan formal dan tegas, bukan ketukan seorang suami, melainkan seorang atasan yang menuntut kehadiran bawahannya. Tidak ada jawaban.
Aidan mengetuk lagi, kali ini lebih keras, dan segera menggunakan kunci kartu duplikat yang ia miliki sebuah tindakan yang menunjukkan betapa ia selalu memastikan dirinya memegang kendali penuh.
Saat pintu terbuka, Aidan menemukan kamar itu remang-remang. Anisa terlihat meringkuk di atas tempat tidur, wajahnya masih sedikit pucat namun tampak jauh lebih tenang daripada kemarin. Ia duduk tegak saat menyadari Aidan masuk tanpa permisi.
Aidan melangkah masuk, memindai kamar yang sederhana itu dengan tatapan menilai. Kemudian, matanya tertuju pada Anisa.
"Kenapa tidak menjawab panggilanku? Kamu tahu aku tidak suka rencanaku terganggu," tuntut Aidan dingin, langsung ke pokok masalah.
Anisa menatapnya tanpa gentar, matanya menunjukkan kelelahan yang nyata namun juga ketegasan. "Ada apa?" balasnya singkat.
Aidan tidak menjawab pertanyaannya, melainkan kembali meremehkan. "Kamu tidak memesan makanan sama sekali. Apa kamu berniat membuat masalah di sini?"
"Saya sudah minum obat dan kondisinya jauh lebih baik. Saya tidak ingin merepotkan," jawab Anisa, suaranya pelan tapi jelas. Ia tidak menyebutkan kelaparan atau kedinginan yang ia alami.
Aidan terdiam sejenak, tatapannya menyapu pil obat yang tergeletak di nakas dan kemasan obat yang bertuliskan Bahasa Indonesia. Ada kesadaran singkat mengenai betapa terisolasinya Anisa, tetapi ia segera menepisnya. Ia tidak menunjukkan simpati sedikit pun, apalagi meminta maaf.
"Jangan ulangi lagi. Lain kali, jika ada masalah, beritahu Kenny. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal remeh seperti ini," kata Aidan sebagai penutup, kembali menegaskan jarak dan status Anisa sebagai beban.
Tanpa menunggu balasan dari Anisa, Aidan langsung berbalik dan meninggalkan kamar, menutup pintu dengan tegas. Anisa kembali meringkuk di bawah selimut, menyadari bahwa satu-satunya alasan Aidan datang adalah untuk memastikan ia tidak akan menimbulkan masalah. Kehadiran Aidan hanya meninggalkan hawa dingin yang lebih pekat di kamar itu.