Keesokan paginya, Aidan memerintahkan Anisa untuk bergabung sarapan di ruang makan hotel sebelum mereka check-out dan menuju Bandara Internasional Incheon. Anisa mematuhi, meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya.
Saat Anisa memasuki ruang makan mewah itu, wajahnya terlihat pucat, namun ia berusaha keras untuk menutupinya dengan make-up tipis dan outer yang hangat. Ia menemukan Aidan sudah duduk di salah satu meja, ditemani Kenny yang sedang meninjau jadwal penerbangan dan meeting.
Sarapan berlangsung dengan keheningan yang dingin. Aidan sesekali melirik Anisa, menyadari bahwa wajah Anisa memang terlihat tidak sehat, namun ia tidak menunjukkan empati sama sekali. Ia hanya memastikan Anisa mengambil makanan, bukan karena perhatian, melainkan karena ia tidak ingin Anisa sakit di perjalanan dan mengganggu agendanya.
Kenny, yang duduk di sana, sesekali memberanikan diri menawarkan teh hangat atau jus, yang diterima Anisa dengan senyum tipis sebagai tanda terima kasih atas kebaikan yang tak didapatkan dari suaminya.
Aidan kemudian mengumumkan agenda hari itu dengan nada memerintah: mereka akan check-out segera dan langsung menuju bandara. Aidan menjelaskan bahwa ia harus kembali ke Indonesia karena besok pagi sudah ada meeting penting dengan klien besar di Jakarta. Perjalanan ke Seoul ini, baginya, hanyalah intervensi singkat yang harus segera ia tinggalkan demi pekerjaan yang lebih prioritas.
Tidak ada pertanyaan tentang apakah Anisa sudah nyaman atau bagaimana perasaannya tentang kunjungan yang singkat ini. Seluruh keputusan dan jadwal sepenuhnya ada di tangan Aidan, yang sekali lagi menegaskan bahwa Anisa hanyalah pelengkap dalam agenda hidupnya. Anisa hanya mengangguk, menerima perintah itu dalam diam. Ia justru merasa lega, karena kembali ke Indonesia berarti kembali ke rutinitas mengajarnya di TK dan menjauh dari tatapan Aidan yang menghakimi.
Setelah sarapan usai, Aidan bahkan tidak menunggu Anisa selesai. Ia langsung berdiri, memberi kode kepada Kenny untuk mengurus check-out kamar mereka dan memintanya untuk memastikan kamar Anisa (yang "standar") sudah dikosongkan dengan cepat.
Setelah proses check-out yang tergesa-gesa di Seoul, rombongan kecil Aidan langsung menuju Bandara Internasional Incheon. Seperti keberangkatan sebelumnya, Aidan dan Kenny kembali duduk di kelas utama, sementara Anisa menerima boarding pass untuk kursi di belakang.
Namun, kali ini ada sedikit perbedaan yang meringankan bagi Anisa: ia mendapatkan tempat duduk di pinggir jendela, yang jauh lebih nyaman dan memberinya sedikit ruang privasi dari penumpang lain. Anisa segera duduk, mengeluarkan masker medisnya, dan memakainya untuk menutupi mulut dan hidung karena kondisi badannya yang memang belum pulih sepenuhnya.
Dengan tubuh yang lelah, Anisa menyandarkan kepalanya ke dinding pesawat yang dingin, melihat awan bergerak di luar jendela. Kelelahan fisik dan batin selama beberapa hari terakhir segera mengambil alih. Begitu pesawat lepas landas, Anisa tertidur terlelap. Tidur nyenyak itu adalah pelarian termudah dari kenyataan bahwa suaminya sendiri memperlakukannya sebagai beban. Untuk beberapa jam ke depan, ia tidak perlu menghadapi tatapan dingin atau kata-kata meremehkan.
Sementara itu, di barisan depan, Aidan tampak sibuk dengan laptopnya, memeriksa detail meeting besar yang akan ia hadapi besok. Ia bekerja tanpa henti, memproyeksikan citra pria yang fokus dan tak tersentuh. Namun, sesekali, tatapannya teralih, tidak benar-benar pada pekerjaannya.
***
Setelah mendarat di Bandara Internasional Jakarta, Aidan dan Kenny berpisah. Aidan, yang harus menjaga citra di mata keluarga, bersiap pulang bersama Anisa.
"Kamu hati-hati, Kenny, dan jangan lupa besok jadwal kita penting," ucap Aidan, mengingatkan asistennya.
"Baik, Tuan. Tenang saja, saya sudah atur semuanya. Anda dan Nyonya juga hati-hati di jalan," jawab Kenny sambil melirik ke wajah Anisa yang tampak pucat dan penuh kelelahan.
Kenny yang melihat Anisa bersiap menyeret kopernya sendiri, merasa iba. "Maaf, Nyonya, apa kopernya mau saya bawakan?" tanya Kenny. Aidan memang membatasi interaksi antara sopir pribadinya dan Anisa, tetapi Kenny tetap mencoba menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, Pak Kenny, terima kasih," balas Anisa, mempertahankan batasan yang sudah ditetapkan suaminya. Kenny mengangguk, mengiyakan, meskipun raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang besar terhadap kondisi istri bosnya.
Aidan dan Anisa akhirnya melangkah menuju mobil jemputan, Anisa menyeret koper miliknya sendiri sambil mengimbangi langkah kaki suaminya yang cepat.
Tepat saat mereka tiba di mobil, momen tak terduga terjadi. Koper Anisa yang berat membuatnya kesulitan mengangkatnya. Ketika Anisa hendak meletakkannya, tangan Aidan secara tidak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Anisa—sentuhan fisik kedua mereka setelah ijab kabul.
Sentuhan singkat itu mengejutkan Aidan. Ia langsung kaget karena meskipun Anisa terlihat biasa saja, tangan istrinya terasa sangat panas, jauh di atas suhu normal.
Reaksi Aidan hanya berlangsung sepersekian detik; ia segera menarik tangannya cepat-cepat dan kembali memasang raut dinginnya. Anisa, yang menyadari sentuhan itu, tetap memasang wajah biasa saja, seolah-olah ia tidak merasakan demam sedikit pun.
Aidan langsung masuk ke dalam mobil. Anisa yang hendak mengangkat kopernya kembali dicegah oleh Pak Sopir. "Nyonya, biar saya saja yang taruh di bagasi. Nyonya masuk saja temani Tuan," ucap Pak Sopir, yang seolah-olah tidak menyadari hubungan dingin di antara mereka. Anisa mengangguk dan masuk ke mobil, duduk tenang di samping suaminya yang sibuk dengan ponselnya. Anisa juga menyalakan ponselnya, yang memang ia matikan selama di Seoul.
Anisa membaca beberapa pesan yang masuk. Getaran ponsel Anisa membuat Aidan melirik sekilas, tetapi Anisa terlihat cuek dan fokus pada layarnya. Pak Sopir yang baru selesai menata koper langsung masuk, dan mobil pun meninggalkan bandara. Anisa segera memasukkan ponselnya kembali ke tas karena kepalanya terasa pusing saat menatap layar terlalu lama.
Perjalanan menuju rumah terasa jauh, dan kondisi lalu lintas Jakarta yang macet total menciptakan ruang kebersamaan yang canggung. Aidan, yang duduk kaku, mencoba mengalihkan kegelisahannya.
"Macet total Pak. Benar-benar tidak bisa jalan?" tanya Aidan kepada Pak Sopir.
"Sepertinya ada kecelakaan di depan, Tuan. Ada Pak Polisi. Sepertinya akan lama kita sampai rumah. Apa Anda sedang buru-buru, Tuan?" tanya Pak Sopir.
"Saya hanya ingin cepat-cepat istirahat," jawab Aidan, yang terlihat lagi-lagi melirik ke arah Anisa. Aidan sebenarnya risih duduk bersebelahan dengan istrinya dalam waktu lama.
"Saya akan cari celah Tuan supaya kita bisa sampai di rumah," ucap Pak Sopir. Aidan hanya menjawab dengan gumaman.
Di tengah kemacetan, Anisa yang hanya diam tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat keluar dari hidungnya. Cairan itu sukses menetes di tangannya, dan Anisa menyadari bahwa ia mimisan akibat kelelahan dan demam yang tertahan.
Aidan yang kebetulan melihat ke arah Anisa, sedikit terkejut melihat darah. Namun, sebelum Aidan sempat bereaksi, Anisa sudah menunjukkan ketenangan luar biasa.
Anisa langsung menutup hidungnya dengan tangan. "Pak, tolong saya minta tisu-nya," ucap Anisa dengan santai dan tanpa panik. Pak Sopir langsung membalikkan badan dan kaget. "Ya Allah, Nyonya mimisan?" tanya Pak Sopir kaget.
"Iya, tidak apa-apa. Bapak konsentrasi saja, itu mobil di depan sudah bisa maju," ucap Anisa, yang masih sempat mengingatkan Pak Sopir.
Pak Sopir menganggukkan kepala dan mobil kembali melaju perlahan. Anisa membersihkan darahnya sendiri tanpa menunjukkan rasa sakit. Setelah dirasa cukup, Anisa menggulung tisu berdarah itu di dalam tisu bersih lalu memasukkan sampah itu ke dalam tas, karena Anisa tidak mau membuat mobil Aidan kotor. Ia juga mengeluarkan tisu basah yang ia punya untuk membersihkan noda darah yang sempat mengenai hijabnya, lalu kembali duduk dengan tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Melihat Anisa membersihkan darah dengan tenang seolah mimisan adalah rutinitas, Aidan merasa gelisah dan tidak nyaman. Ketenangan Anisa dalam menghadapi penderitaan fisiknya justru mengganggu sikap dingin Aidan. Ia mulai mempertanyakan seberapa parah kondisi Anisa dan mengapa istrinya itu tidak pernah mengeluh.
Aidan merasakan sedikit gangguan sejak ia melihat wajah Anisa yang pucat di ruang makan tadi. Meskipun ia menutupinya dengan gengsi dan menyalahkan kekhawatiran keluarga, ia sesungguhnya terganggu oleh ketenangan Anisa saat menerima perlakuan buruk darinya, dan kini, tidur lelap Anisa di belakang. Ia tahu, jika terjadi sesuatu di pesawat dan Anisa sakit parah, itu akan mengganggu jadwal pentingnya.
Ketidakpedulian Aidan adalah perisai yang rapuh, dan di balik kesibukannya, ada kecemasan tersembunyi yang mulai menggerogoti.