Perjuangan Sunyi di Balik Dinding Rumah

719 Words
​Mobil mewah Aidan akhirnya tiba di kediaman mereka. Aidan masih bergeming di kursinya, menunggu pintu dibukakan Pak Sopir, sesuai kebiasaannya. Namun, Anisa segera membuka pintu mobil sendiri. Saat kakinya menjejak lantai, ia berhenti sejenak. ​"Hhh..." Anisa membuang napas, sebuah upaya keras untuk menstabilkan diri. Pintu mobil Aidan, yang sudah dibuka Pak Sopir, dibiarkan terbuka. Aidan diam-diam melihat punggung istrinya. Kepala Anisa terasa pusing tak tertahankan, dan sisa demam membuat tubuhnya terasa berat, tetapi ia bertingkah seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ia takut, jika ia menunjukkan sedikit saja kelemahan, Aidan akan mencibir dan menuduhnya manja. ​Anisa berdiri sambil berpegangan pada pintu, lalu menutupnya perlahan. Ia menarik napas lagi. Saat ini, yang Anisa butuhkan hanyalah istirahat dan obat agar ia bisa pulih dan mengajar anak-anak di TK esok hari. ​Pak Sopir yang melihat koper Anisa masih di bagasi meminta persetujuan Aidan. "Tuan maaf apa Anda akan turun sekarang? Karena saya akan mengambilkan koper milik Nyonya." ​Aidan yang tertangkap basah sedang memperhatikan istrinya, langsung pura-pura melihat ponsel. "Kamu urus koper dia terlebih dahulu dan juga koper saya," ucap Aidan dingin, pura-pura sibuk membalas pesan padahal tidak ada aktivitas di ponselnya. ​Pak Sopir menutup pintu mobil kembali dan bergegas mengambil koper. "Maaf, Nyonya, koper biar saya yang bawa saja. Nyonya masuk terlebih dahulu karena wajah Nyonya terlihat semakin pucat," ucap Pak Sopir, memberikan perhatian kecil. ​Anisa tersenyum lembut dan menggeleng. "Bapak sudah punya pekerjaan sendiri, yaitu membawa koper milik suami saya. Jadi, lebih baik saya bawa sendiri koper saya. Terima kasih ya, Pak, atas tawarannya. Saya masuk dulu, permisi," ucap Anisa. Ia langsung menyeret kopernya dengan susah payah, meninggalkan Aidan sendirian di dalam mobil. ​Melihat Anisa sudah masuk, Aidan segera keluar dari mobil, lalu ikut memasuki rumah dengan langkah cepat, langsung menuju ruang kerjanya. Aidan sengaja mengabaikan dan melewati Anisa, tetapi pikiran tentang tangan panas dan mimisan Anisa di mobil terus mengganggu konsentrasinya. Ia berusaha keras untuk mempertahankan sikap dingin dan cueknya, meyakinkan diri bahwa kondisi Anisa hanyalah gangguan kecil. ​Anisa tidak ambil pusing dengan sikap Aidan. Ia sampai di tangga dan menatap ke atas. "Kenapa aku baru sadar jika tangga di sini banyak sekali? Padahal biasanya juga aku melewatinya tanpa harus menghitung. Tapi dalam keadaan sakit memang semuanya terasa berat, jalan pun juga berat. Ya sudahlah, Bismillah," batin Anisa. Ia mulai menaiki tangga perlahan, mengangkat kopernya sedikit demi sedikit. Anisa benar-benar bercucuran keringat, ia hanya bertahan karena tekad kuat untuk mengajar esok hari. ​"Huh, Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sampai lantai atas juga," ucap Anisa dalam hati setelah melalui perjuangan berat itu. ​Anisa bergegas menuju kamarnya yang terpisah, merebahkan diri begitu sampai. Kepalanya berdenyut kencang, dan ia tahu kondisinya memburuk lagi. Ia menelan obat yang tersisa dan memohon agar ia bisa segera tidur dan sembuh, memilih untuk tidak keluar kamar sama sekali karena takut memicu cemoohan Aidan. ​Di ruang kerjanya, Aidan juga tidak tenang. Ia bolak-balik memeriksa berkas, tetapi pandangannya seringkali terarah ke lorong menuju kamar Anisa. Ia ingat bagaimana Anisa terlihat kelelahan saat mencapai lantai atas tadi. Aidan merasakan ketakutan tersembunyi yang ia salahkan sebagai kekhawatiran akan dicela keluarga jika Anisa sakit. Pikiran bahwa Anisa bisa sakit parah dan mengganggu stabilitas rumah tangganya membuatnya gelisah. ​Aidan akhirnya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Bibi. "Halo, Bi. Saya mau tanya, sejak Anisa masuk ke dalam kamar tadi sore sampai malam hari, apa dia meminta Bibi membawakan sesuatu atau membawakan makan malam ke kamarnya?" tanya Aidan. ​"Maaf, Tuan, dari Nyonya pulang dan masuk ke dalam kamar tadi sore sampai malam hari, Nyonya tidak keluar kamar. Nyonya juga tidak menghubungi saya untuk meminta makanan ataupun mengantar air putih seperti biasanya," jelas Bibi. ​"Ya sudah, Bi, kalau seperti itu saya tutup dulu," ucap Aidan, yang semakin gelisah mendengar penuturan Bibi bahwa Anisa benar-benar mengisolasi diri tanpa makan. ​Di tengah malam, Aidan tidak tahan lagi. Ia keluar dari ruang kerjanya dan berdiri sejenak di depan pintu kamar Anisa. Ia mendengar keheningan total. Ia ingin mengetuk, tetapi gengsi dan keangkuhannya menahannya. Ia hanya menempelkan telinga ke pintu, lalu kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan campur aduk. Aidan tahu bahwa Anisa tidak baik-baik saja, dan ia sadar bahwa ia diam-diam takut akan konsekuensi dari pengabaiannya. Ia berdoa dalam hati—bukan untuk kesembuhan istrinya tetapi agar Anisa segera pulih dan tidak mengganggu jadwal pentingnya esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD