Pagi itu, dengan tekad sekuat baja, Anisa memaksakan dirinya bangun. Kepalanya masih berdenyut, dan suhu tubuhnya terasa tidak menentu, tetapi ia menatap kalender kecilnya: Hari Kegiatan Alam. Ia tidak bisa izin. Tidak hanya karena ia takut Aidan akan menganggapnya manja, tetapi yang terpenting, ia sudah berjanji dengan anak-anak didiknya untuk membimbing mereka dalam proyek menanam biji. Membatalkan janji kepada anak-anak adalah hal yang paling ia hindari. Anisa menyelinap keluar rumah tanpa berpapasan dengan Aidan, yang pasti sudah sibuk dengan persiapan meeting pentingnya. Sesampainya di TK Bintang Harapan, Anisa memaksakan senyum ceria di hadapan anak-anak. Kegiatan alam dimulai dengan antusiasme tinggi. Anisa mendorong dirinya melewati setiap langkah, setiap tawa, dan setiap ara

