Anisa memutuskan untuk kembali ke taman bermain, akan tetapi langkah kakinya dicegah oleh Kepala sekolah.
"Bu Anisa, tunggu sebentar," ucap Bu Mala, kepala sekolah yang sangat baik terhadap Anisa, karena Bu Mala juga hadir dalam pernikahan Anisa dengan Aidan. Anisa langsung tersenyum dan membuat Bu Mala juga ikut tersenyum, lalu langsung memegang tangan Anisa.
"Ada apa, Ibu? Kenapa buru-buru sekali? Awas, lo, jatuh," ucap Anisa.
"Hahaha, nggak bakalan, dong. Ibu jatuh kan nggak pakai sepatu heels. Oh ya, Bu Anisa, saya tadi dikasih tahu dan ditelepon sama asistennya suami Bu Anisa. Katanya Bu Anisa disuruh pulang karena mau diajak Pak Aidan ke luar negeri. Saya juga diminta untuk memberikan waktu beberapa hari untuk Bu Anisa stay menemani Pak Aidan," ucap Bu Mala yang langsung tersenyum membayangkan keromantisan keduanya.
Ibu Mala memang mengetahui jika Anisa ini pengantin pengganti kakaknya, dan semua guru-guru di sini juga tahu. Akan tetapi, Bu Mala tidak tahu jika perlakuan Aidan tidak seperti memperlakukan kakaknya Anisa dulu. Makanya Bu Mala yakin jika Aidan ini pasti memperlakukan Anisa juga sama dengan mendiang kakaknya dulu.
"Aduh, Bu Anisa. Tapi kan aku lagi ngajar, apalagi ini masih jam pelajaran anak. Masa aku main pergi-pergi saja, sih," ucap Anisa yang terlihat tidak enak sekali.
Bu Mala kembali tersenyum. Keduanya memang dekat sebelum Anisa menggantikan peran sebagai istri Aidan.
"Bu Anisa, tenang saja. Kami para guru paham kok bagaimana suami yang mau dekat dengan istrinya. Makanya Pak Aidan itu tidak mau keluar negeri sendirian. Lagian Bu Anisa juga tanpa harus mengajar, harusnya itu duduk bersama saya karena secara tidak langsung Bu Anisa ini kan istri dari pemilik sekolah ini," jelas Bu Mala yang malah membuat Anisa semakin tidak enak sekali.
"Teet!" Terdengar bel masuk berbunyi, itu tandanya anak-anak akan melanjutkan aktivitas belajarnya. Dan terlihat anak-anak yang berlarian dan sesekali memanggil nama Anisa. Anisa tersenyum saat menyadari senyum-senyum polos dari anak-anak itu yang takutnya nanti Anisa tidak bisa lihat lagi.
Anisa dan Bu Mala sibuk memperhatikan anak-anak yang masuk ke kelas masing-masing bersama guru pendamping, termasuk anak-anak yang diajar oleh Anisa.
"Bip!" Bunyi klakson mobil membuat Anisa dan Bu Mala sedikit merajuk, lalu mereka langsung melihat ke arah mobil mewah yang berhenti di depan pagar sekolah TK. Wajah Anisa terlihat memucat karena menyadari jika itu adalah mobil milik suaminya.
Kemarahan Aidan di telepon ternyata tidak berhenti sampai di sana. Beberapa saat setelah panggilan terputus, sebuah mobil mewah berwarna gelap yang familier berhenti tepat di depan gerbang TK Bintang Harapan. Rupanya, Aidan memutuskan untuk langsung menjemput Anisa di tempat kerjanya.
Kedatangan Aidan segera disambut oleh Bu Mala, kepala sekolah yang ramah dan berwibawa. Bu Mala tersenyum hangat, menyambut kedatangan pemilik sekolah yang terhormat, sosok Aidan, yang memang bersama mendiang kakak Anisa, memiliki saham kepemilikan di yayasan pendidikan tersebut.
"Selamat siang, Bu Mala. Maaf mengganggu Anda," ucap Aidan dan melihat ke arah Anisa yang terlihat jari-jari tangannya bermain seolah-olah ketakutan.
"Selamat siang juga, Pak Aidan. Maaf ya, jika Bu Anisa nya belum pulang-pulang karena saya baru saja berbicara dengan Bu Anisa," ucap Bu Mala.
Aidan langsung menatap ke arah Anisa dengan tatapan kaku. "Tidak apa-apa, Bu. Kebetulan saya baru saja pulang dari kantor dan sekalian saja menjemput istri saya," ucap Aidan. Kata-kata "istri" yang keluar dari mulut Aidan tentunya membuat Bu Mala langsung tersenyum, lalu menepuk pundak Anisa.
"Tuh, Bu Anisa sudah dijemput. Ibu boleh pulang kok, silakan diambil tasnya terlebih dahulu," ucap Bu Mala.
"Ah, iya, Bu. Tolong titip anak-anak ya, Bu. Tunggu sebentar, Mas, aku ambil tas dulu," ucap Anisa kepada Aidan yang selalu menatap ke arah Anisa.
"Hmm!" jawab Aidan dan memutuskan untuk berdiri bersama Bu Mala, karena Aidan juga perlu berbicara dengan Bu Mala.
Berbeda dengan sikapnya di telepon, di hadapan Bu Mala, Aidan berubah total. Ia menampilkan sandiwara sempurna. Nada suaranya menjadi lebih lembut, senyum tipis terukir di wajahnya yang tampan, dan ia berbicara kepada Anisa dengan intonasi yang dibuat seolah-olah pernikahan mereka berjalan harmonis dan romantis.
Aidan menciptakan ilusi pasangan yang bahagia di mata Bu Mala, menjelaskan bahwa ia datang menjemput karena ingin segera mengajak istrinya melakukan perjalanan mendadak. Anisa hanya bisa berdiri kaku di sampingnya, terperangkap dalam kepura-puraan yang menyakitkan itu.
Meskipun bersandiwara di depan Bu Mala, Aidan tetap mempertahankan sikap kaku dan dingin yang khas dalam interaksi non-verbal dengan Anisa. Matanya tidak memancarkan kehangatan saat melirik Anisa, dan tangannya tidak bergerak untuk menyentuh.
Setelah Bu Mala pergi, aura beku Aidan langsung kembali mendominasi. Anisa mengambil tas dan sweater hangat yang ada di ruang guru, karena kebetulan tadi pagi hujan turun dan cuaca sedikit dingin. Anisa tidak bisa terkena cuaca dingin atau hujan karena dia bisa langsung flu dan demam, tentunya hal ini tidak diketahui oleh Aidan karena Anisa bukan orang terpenting di kehidupan Aidan.
Bu Mala langsung tersenyum saat menyadari Anisa sudah siap dan berdiri di samping Bu Mala lagi. "Bu, saya izin dulu ya, sama titip anak-anak. Tugas sudah saya taruh di atas meja untuk beberapa hari ke depan," ucap Anisa.
Anisa memang selalu menyiapkan tugas untuk anak-anak untuk beberapa hari ke depan karena Anisa memang selalu mempersiapkan semuanya.
"Iya, Bu Anisa. Hati-hati ya, selamat berliburan," ucap Bu Mala.
"Deg!" "Liburan," batin Anisa, dan wajahnya sedikit kaget. Akan tetapi, Anisa langsung merubah ekspresi wajahnya dan tersenyum, mengangguk, lalu cipika-cipiki dengan Bu Mala.
Anisa dan Aidan langsung berjalan meninggalkan TK dan menuju mobil milik Aidan yang sudah disopiri oleh asistennya, yaitu Kenny. Kenny langsung membukakan pintu untuk keduanya, dan Anisa masuk duluan, lalu disusul oleh Aidan.
Sandiwara berakhir. Anisa masuk ke mobil mewah Aidan, meninggalkan TK dengan hati yang semakin tertekan. Ia menyadari bahwa di mata dunia luar, pernikahannya terlihat sempurna, namun di balik tirai kemewahan, ia hanyalah objek sandiwara yang tak pernah ia inginkan.