Bangku belakang

1226 Words
Setelah adegan sandiwara di depan gerbang sekolah, perjalanan Anisa dan Aidan berlanjut menuju Bandara Internasional. Saat ini, Anisa hanya bisa diam, tapi rasa penasaran nya juga tinggi. Anisa menarik napas dan menanyakan hal yang menjadi rasa penasaran nya kepada suaminya. "Maaf, Mas Aidan, kita mau kemana?" tanya Anisa dengan menahan rasa takut. Aidan yang saat ini sedang sibuk dengan tablet yang dipegangnya hanya melirik tanpa menjawab pertanyaan dari Anisa. Hal ini tentunya membuat asistennya, Kenny, merasa kasihan. "Maaf, Nyonya, saya yang akan menjawab. Kita akan ke Seoul, karena kebetulan Tuan ada mitra bisnis yang harus ditemui di sana," jawab Kenny. Anisa langsung melihat ke arah Kenny dan menganggukkan kepala. "Terima kasih, Pak Kenny atas jawabannya," ucap Anisa yang masih membuat Aidan cuek. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di bandara. Saat ini, Anisa tentunya ingin menanyakan hal ini lagi, tapi dia menahannya. Mereka ada di bandara internasional untuk penerbangan panjang ke Seoul. Sesampainya di sana, Anisa terkejut mendapati koper dan tasnya sudah tersedia. Jelas sekali bahwa bukan Aidan yang menyiapkannya; segala urusan remeh seperti mengemas barang milik Anisa adalah tugas Bibi di rumah. Hal ini memperjelas betapa Aidan sama sekali tidak ingin melibatkan diri dalam detail kehidupan Anisa. Ketiganya langsung melaksanakan check-in. Di area check-in, perlakuan Aidan semakin menohok. Anisa menyadari bahwa tempat duduk mereka di pesawat tidak bersebelahan. Aidan mendapatkan kursi di kelas utama, ditemani oleh asistennya yang cekatan, Kenny, yang sepertinya sudah terbiasa dengan gaya kerja dan sikap dingin Aidan. Sementara itu, Anisa ditempatkan di kursi belakang, sendirian di kelas ekonomi. Tentunya hal ini membuat Anisa takut dan bingung. Beberapa saat kemudian, mereka sudah antre masuk ke pesawat. Anisa antri dengan orang-orang yang tidak dikenalnya. Aidan melangkah dengan karisma yang kaku menuju kursi kelas utama. Ia menyerahkan boarding pass-nya tanpa melihat ke pramugari, matanya langsung fokus ke kursinya. Kenny, asistennya, segera menyusul di belakang, membawa tas laptop Aidan. Saat mereka berdua duduk, Kenny sesaat melihat ke belakang, ke arah lorong kabin yang semakin ramai oleh penumpang kelas ekonomi. Kenny merasakan sedikit ketidaknyamanan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia tahu betul bagaimana bosnya itu memperlakukan istrinya, Anisa, dan fakta bahwa Nyonya Besar mereka ditinggalkan di kursi belakang sendirian untuk penerbangan panjang ke Seoul terasa tidak sopan. "Semoga penerbangannya nyaman, Pak," ujar Kenny pada Aidan, sambil menata dokumen di meja lipat. "Tentu saja nyaman," jawab Aidan dingin, tanpa menangkap makna tersembunyi dalam ucapan Kenny. "Kita tidak punya waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Pastikan semua briefing proyek selesai sebelum kita mendarat." Aidan kemudian mengeluarkan headphone peredam suaranya, menutup diri dari dunia luar, termasuk dari segala pemikiran tentang istrinya. Di belakang mereka, Anisa melangkah gontai melewati lorong kabin. Matanya sekilas menangkap siluet Aidan yang duduk nyaman di barisan depan. Tidak ada sapaan, apalagi lambaian tangan. Anisa segera mengalihkan pandangan, seolah-olah ia tidak mengenali pria yang baru saja menjadi suaminya itu. Ia terus berjalan, melewati bangku-bangku kosong, hingga ia tiba di area kelas ekonomi yang padat di bagian belakang pesawat. Anisa menemukan tempat duduknya yang sempit, tepat di dekat jendela. Ia meletakkan tas tangannya ke atas, merapikan jilbabnya, dan duduk dengan hati-hati. Segera setelahnya, ia menyadari ketidaknyamanan yang harus ia hadapi: ia duduk bersebelahan dengan seorang pria asing yang tampak tertidur dengan posisi yang agak menyudut, membuat ruang gerak Anisa semakin terbatas. Di antara tumpukan koper kecil dan lalu lalang penumpang lain yang mencari tempat duduk, Anisa menarik napas dalam-dalam. Udara dingin dari ventilasi pendingin di atas kepalanya langsung menusuk, ditambah lagi perutnya terasa kosong. Anisa hanya bisa meringkuk, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin, di bangku belakang yang terasa jauh sekali dari suaminya. Bukan hanya jarak fisik, tetapi jarak emosional yang menganga lebar. Ingin sekali Anisa berteriak dan juga kabur dari pesawat, tapi itu cuma ada di pikiran dan juga halusinasi otak Anisa. Anisa pada akhirnya duduk dengan tidak nyaman dan sesekali memperhatikan posisi orang yang saat ini duduk di sampingnya. **** Penerbangan panjang yang dingin dan lapar berakhir di Seoul. Begitu mendarat, tidak ada waktu istirahat bagi Anisa. Aidan segera memerintahkan Anisa untuk ikut serta ke kantor cabang miliknya di ibu kota Korea Selatan tersebut, tanpa mempedulikan kondisi istrinya. Wajah Anisa terlihat pucat akibat penerbangan yang tidak nyaman dan kurang istirahat, namun Aidan sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. Ia fokus pada jadwal dan urusan bisnisnya. Sesampainya di kantor yang mewah dan modern itu, perlakuan Aidan kembali mengikis harga diri Anisa. Anisa dan Aidan serta Kenny masuk ke dalam kantor, tapi Anisa merasakan kepalanya benar-benar pusing. "Maaf, Mas, bisakah aku izin untuk masuk ke dalam ruangan kamu? Karena aku ingin istirahat," ucap Anisa yang berhasil membuat menghentikan langkah kaki Aidan. Aidan langsung menatap tajam ke arah istrinya. "Ruangan kerja saya adalah area untuk bekerja, bukan tempat untuk bermalas-malasan," ucap Aidan monohok. "Deg!" Anisa langsung terdiam membisu dengan ucapan suaminya yang sama sekali tidak merasa bersalah. Lagi-lagi Aidan menganggap kondisi fisik Anisa sebagai kelemahan yang tidak penting. Anisa langsung menganggukkan kepala dan berusaha untuk tersenyum pasrah. Akan tetapi, saat mereka akan berjalan kembali, tiba-tiba beberapa karyawan langsung menyambut kedatangan Aidan. "Welcome to Mr. Aidan's branch office," said one of the managers there. Aidan langsung mengangguk dan menyalami kedua orang yang ada di depannya. "Thank you for your welcome, sir," replied Aidan. Dua orang itu juga menyalami tangan Kenny, lalu melihat ke arah wanita cantik yang berdiri di samping Aidan. "Excuse me, is the lady next to you your wife?" asked the manager, who looked friendly and smiled at Anisa. Anisa langsung membalas senyumannya, walaupun dia hanya diam. Aidan langsung melihat ke arah Anisa. "She's just a replacement wife. You don't need to respect or show courtesy to the woman beside me because her status is like that of an ordinary employee," said Aidan. Aidan langsung menatap ke arah Anisa karena dia yakin Anisa tidak akan pernah tahu bahasa Inggris, sehingga saat ini Aidan dengan gamblang mengatakan apa yang tidak seharusnya dia katakan. Perlakuan Aidan ini membuat semua orang di sana, termasuk Anisa, terkejut dan merasa tidak nyaman. Melihat Anisa berdiri kaku dengan wajah yang semakin pucat dan mata yang menahan air mata, Kenny, asisten Aidan, merasakan gelombang iba yang mendalam. Ia adalah satu-satunya saksi bisu yang memahami betapa menyakitkannya menjadi Anisa, wanita yang terperangkap dalam pernikahan yang sah namun penuh keremehan. "Maaf, tuan Kaidan, Anda bisa ke ruang rapat dulu. Saya akan mengantar Nyonya Anisa untuk ke ruang tunggu saja," ucap Kenny. "Hmm," jawab Kaidan dan langsung meninggalkan Anisa dan asistennya. Lalu, Anisa langsung diantar oleh Kenny ke ruang yang ada di sebelah. Setelah sampai di ruang tunggu, Kenny langsung memberikan air minum kepada Anisa dan menawarkan makanan. "Maaf, Nyonya, ini air putih yang tersedia di kantor ini. Apa Nyonya mau makan terlebih dahulu karena Nyonya belum makan kan sejak pertama tadi?" tanya Kenny sambil melihat ke arah Anisa yang terdiam membisu setelah ucapan dari Aidan. Anisa menatap ke arah Kenny. "Maaf, Pak Kenny, apa status pengantin pengganti ini sungguh sangat terhina? Padahal kita tahu bagaimana Papanya Mas Aidan yang meminta untuk pernikahan ini," ucap Anisa yang membuat Kenny kaget luar biasa. Kenny pikir Anisa tidak mengetahui apa yang diucapkan oleh Aidan. "Maaf Nyonya apa Anda tahu bahasa Inggris?" tanya Kenny yang tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. "Ya, saya mempunyai keahlian itu dan saya juga seorang guru les privat bahasa Inggris. Tapi kamu tidak perlu mengatakan hal ini kepada Mas Aidan. Terima kasih, Pak Kenny, sangat baik. Silakan Anda lanjutkan meetingnya. Saya akan menunggu di sini," ucap Anisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD