makanan dingin

704 Words
Setelah seharian penuh Anisa menahan lapar, dingin, dan juga perlakuan dingin di kantor Seoul, Aidan akhirnya mengakhiri serangkaian meeting-nya. Ketika jam kerja usai, barulah Aidan teringat akan kewajibannya untuk memberi makan istrinya, bukan karena perhatian, melainkan karena keharusan sosial. "Kenny, di mana wanita itu?" tanya Aidan yang bahkan terdengar berat memanggil nama istrinya, Anisa, atau dengan sebutan istri. Akan tetapi, Aidan malah lebih nyaman memanggil Anisa dengan sebutan "wanita itu". Kenny juga merasa sedikit kesal dengan sebutan "wanita itu" dari bosnya yang sangat tidak menghargai Anisa. "Nyonya Anisa ada di ruang tunggu," ucap Kenny yang seolah-olah menegaskan posisi Anisa untuk Aidan. Aidan langsung melirik ke arah Kenny dan masih fokus ke arah ponselnya karena mereka berdua saat ini sedang berjalan keluar dari lift. "Panggil wanita itu masuk ke dalam mobil. Selesaikan urusan di kantor, karena saya harus mengajak wanita itu untuk check-in di hotel. Kamu sudah check-in terlebih dahulu, kan?" tanya Aidan memastikan. "Iya, tuan, saya sudah check-in lewat aplikasi," ucap Kenny. Aidan memang menyuruh Kenny untuk check-in duluan, sedangkan dirinya baru akan check-in di hotelnya langsung. Kenny tentunya yakin jika item pasti mempunyai rencana jahat terhadap istrinya kembali. Aidan langsung meninggalkan Kenny dan masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu di luar kantor. Kenny akan berjalan ke arah ruang tunggu dan kebetulan Anisa terlihat keluar dari ruangan itu dengan wajah pucatnya. "Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya Kenny. "Iya, Pak, apa meetingnya sudah selesai?" tanya Anisa. "Kebetulan sudah, Nyonya. Anda sudah ditunggu tuan di mobil karena tuan sudah masuk duluan," ucap Kenny sambil menunjuk ke arah mobil lewat jempol tangannya yang membuat Anisa melihat ke arah tersebut. Anisa langsung menganggukkan kepala lalu pamit dari hadapan Kenny dan berjalan ke arah mobil milik suaminya lalu masuk ke dalam. Anisa langsung diam tanpa kata dan mobil langsung meluncur meninggalkan kantor. Lagi-lagi di dalam mobil, keduanya hanya diam. Belajar dari pengalaman, Anisa tidak akan menanyakan hal apa pun kepada suaminya. Anisa tinggal membawa badannya pergi dan mengikuti ke mana perginya suaminya tanpa harus bertanya ataupun kepo dengan tujuan. Rupanya Aidan membawa Anisa ke sebuah restoran mewah di Seoul, tempat yang penuh dengan etika dan standar tinggi. Keduanya langsung disambut oleh pelayan yang membawa mereka ke ruangan yang dipesan Aidan. Sepanjang perjalanan menuju ruangan private room, Aidan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan mendahului Anisa, dan Anisa mengikutinya dalam diam, lelah fisik dan batin. Di dalam ruangan private room di restoran, suasana hening dan canggung mendominasi meja mereka. Pelayan langsung menyajikan makanan pesanan Aidan tanpa harus bertanya menu atau makanan apa yang ingin dimakan oleh Anisa. "Please enjoy, sir and madam. We hope you like the dishes we have prepared for you from our restaurant," ucap pelayan. Anisa langsung mengangguk dan membuat Aidan tersenyum sinis. "Kamu bertingkah seolah-olah mengerti apa yang diucapkan oleh pelayan," batin Aidan. Aidan langsung fokus pada pesanannya dan sesekali membalas pesan di ponselnya, sama sekali tidak memulai percakapan atau menanyakan kondisi Anisa. Sikapnya yang kaku dan dingin membuat Anisa sulit untuk menikmati makanan yang tersaji. Anisa makan perlahan, berusaha menenangkan perutnya yang keroncongan, namun setiap suapan terasa berat karena tekanan psikologis di hadapan suaminya. Akan tetapi, Anisa saat ini memaksa dirinya untuk memakan makanan yang ada di depannya daripada nantinya direndahkan lagi oleh suaminya, meskipun berat Anisa memakan dengan sangat pelan. Aidan sesekali melirik Anisa yang terlihat kurus dan makan dalam keadaan diam. Ada sedikit kerutan di dahinya Aidan, bukan karena rasa khawatir, melainkan karena ketidaknyamanan melihat Anisa yang tidak luwes di lingkungan mewah tersebut. Ia hanya memastikan Anisa makan, seolah-olah Anisa adalah tugas yang harus diselesaikan dari daftar to-do list-nya. Tidak ada pujian, tidak ada tatapan hangat, bahkan tidak ada persetujuan atas masakan yang dipilih. Bagi Anisa, makan malam itu adalah perpanjangan dari penderitaannya di kantor. Makanan mahal di hadapannya tidak sebanding dengan harga diri yang terus-menerus direnggut oleh sikap dingin Aidan. Ia menyadari, Aidan mengajaknya makan hanya untuk memenuhi formalitas agar tidak terlihat buruk di mata orang luar, bukan karena ia benar-benar peduli. Setelah selesai makan, Aidan segera berdiri tanpa menunggu, memberi isyarat bahwa malam itu telah usai, dan Anisa harus segera mengikutinya karena mungkin saja Aidan akan mengajak Anisa ke hotel. Ini hanya tebakan Anisa karena Anisa ini bukan wanita yang mempunyai indra keenam dan bisa membaca pikiran suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD