Bunda Kemana Lagi

2149 Words
Tak butuh waktu lama untuk bangkit dan mengerjakan segala hal yang diperintahkan oleh bunda tadi ini aku sudah benar-benar segar dengan aktivitas yang baru saja selesai yang tak lain tak bukan adalah mandi di di sore hari seperti saat ini. Ku langkahkan kaki keluar dari kamar mandi hingga sebuah handuk yang baru saja ku gunakan untuk mengelap rambutku yang basah karena baru saja keramas. Di detik setelahnya benda itu kini sudah temangsang penuh atau mungkin bisa dikatakan sudah mendarat dengan sempurna di gantungan pakaian samping lemari yang kini berada di depanku berdiri beberapa meter juga dari kamar mandi yang ada di ujung kamar ini. Karena ku sadari penuh rambut ini masih sedikit basah maka dengan segera melangkahkan kaki mendekat ke arah meja rias yang tak jauh dari tempat kau berada semula. Tangan kanan ini seketika pula meraih benda yang tak lain tak hairdryer. Kedudukan diri di kursi rias dan secara nyata pula itu membuatku berhadapan langsung dengan bayangan diri di depan cermin sana. "Heran deh orang secakep ini kok ya nggak ada yang deketin gitu kayak ya kali nggak tuh gitulah. Ckck, mulai deh dasar Laras dikit-dikit di iniin tapi yang aku tuh cakep sih sebenarnya cuma ya itu tadi masih ada kata sebenarnya yang dalam artian itu juga nggak tentu gitu di mata orang lain. Hadeuh ... Dahlah, ini kayak gini kalau dilanjut terus ujung-ujungnya cuma jadiin diri insecure terus kerjaannya bukannya tambah bersyukur tapi malah bikin sukur karena mundur astagfirullah. Hmmm, tapi emang kalau dipikir-pikir itu sebenarnya aku juga nggak jelek-jelek amat gitu masih ada cakep-cakep nya juga. Tapi ya gimana ya udahlah mungkin emang jalannya kayak gini alurnya kayak gini nikmatin aja udah pasti juga kayak gini tuh ada maksud dan tujuannya ada yang pasti kayak mungkin bakal nemuin satu orang yang mana itu kelak bakal bisa bersyukur banget miliki aku dengan yang yah ... Mulai deh nggak jelas kayak gini hadeuh ... Laras Laras, ringin dulu ini rambut wajahnya nanti lagi dikit-dikit dijadiin bahan buat insecure sih kamu mah!" Yah, aku memang sadar. Karena sedewasa ini aku sering tersadar bahwa ya memang semakin dewasa semakin hadir dengan sosok yang susah untuk dinilai dan susah untuk di kata-katakan dalam bentuk sebuah kata dan sangat susah untuk di artikan setiap tingkah lakuku sendiri bahkan dia juga bingung apalagi orang lain dengan tingkah kau yang selalu seperti ini yang berbicara sendiri tak jelas atau bahkan lainnya yang itu juga seringkali buatku justru greget juga dengan diri sendiri tapi ujung-ujungnya tetap dilakukan seperti sekarang ini. Tapi percayalah dibalik itu semua tetap ada rasa lelah yang tercipta di badan dan otak apalagi pikiran seperti saat ini, dengan gelengan kepala yang penuh ku lontarkan bersamaan dengan itu pula aku gerakan hair dryer itu mengelilingi rambutku yang sekiranya masih sedikit basah agar cepat kering dengan pandanganku yang masih lurus ke depan sana menatap ke arah pantulan diriku di cermin. Entah saat ini sudah pukul berapa dan sudah seberapa lama aku mengurung diri di kamar mandi juga di kamar sini semenjak diriku bangkit dan pergi serta pamit dari harapan bunda beberapa menit yang lalu itu mungkin apakah sudah hampir 1 jam karena diriku sebelum mandi malah rebahan dulu di kamar tepatnya di ranjang sana. "Akuuuu wes berjuang mati-matian, nanging ora pernah mbok sawang ...." "Hadeuh ... Fyuh ...." Dalam sekejap sebuah helaan nafas kasar kembali aku lontarkan saat ini merespon hal itu, merespon sebuah aksi yang aku lontarkan bersamaan dengan diriku yang sibuk dengan bersenandung kecil makna dari lagu nya sangat menyesakkan jiwa dan raga hingga ku lontarkan hal itu secara penuh untuk kesekian kalinya bahkan memang seolah-olah tak ada rasa lelahnya sama sekali di diriku dan di jiwa-jiwa yang selalu tambah galau karena sesuatu yang jelas seperti ini. Entahlah, jujur ini terlalu rumit untuk dinilai dan dimengerti juga. Tapi entah lah namanya diri juga tak akan tahu akan seberapa sibuk dan seberapa tak jelas untuk kedepannya atau bahkan untuk menyelesaikan semuanya saja dengan cara seperti apa diri sendiri juga terkadang bingung dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Meninggalkan semua hal yang tak jelas gitu dengan segera aku bangkit kan diri ini dari duduk setelah sukses juga meletakkan hair dryer yang aku gunakan untuk mengeringkan rambut tadi di atas meja rias yang ada di hadapanku sana. Berbalik dengan santai ku lontarkan saat ini. Ku langkahkan kaki ini ini keluar dari kamar sampai di depan teras sana aku berjalan saat ini. Dengan segala kesegaran yang ada kurasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit yang tertutup oleh kaos oblong lengan panjang dan celana panjang yang ku kenakan dengan pandangan ku pula yang ku tolehkan ke sekitaran tempat berdiriku saat ini dengan seulas senyum tipis yang ku keluarkan. Rambut yang sedikit basah tadi makan terasa sangat sejuk karena diterpa oleh udara sore yang sangat syahdu ini, sebuah nyanyian ku senandungkan tipis-tipis pula dari bibir yang merasa tak berdosa sama sekali dengan keadaan seperti sekarang ini tapi memang begitulah caraku mengekspresikan diri tentang sebuah kesunyian yang ingin ku jauhkan dari hidupku mungkin karena memang jelas suasana sore ini tampak begitu sepi ditambah lagi dengan jalanan konteks depan sana yang tampak sepi tak ada orang sedikitpun yang berlalu lalang atau bahkan kendaraan pun satu pun tidak ada yang lewat di sana sampai sebuah tepukan keras berhasil mendarat di keningku dan membuatku refleks pula menoleh ke arah dalam rumah sana. "Awsss pedes juga ya mayan ternyata!" ujarku sembari mengelus-elus bekas tepukan tangan di jidat ini. "Geblek banget sih kamu tuh Laras bagian kening kening sendiri diciptakan sendiri sakit sendiri sahabat sendiri udah itu marah-marah sendiri lagi astagfirullah ...." "Ih tapi serius deh!" Dalam sekejap aku kembali terdiam, masih dengan pandangannya menatap ke arah dalam rumah sana. Detik setelahnya kaki ini dengan segera tampak melangkah penuh seolah ingin melihat sebuah keadaan yang mengingatkanku akan sebuah kejadian dan sebuah janji mungkin di sini santai saja kali ini berjalan sampai ke ruang tamu dengan cepatnya. "CK! Ini bunda ke mana lagi mana tadi udah janji janji mau nganterin dia ke kompleks depan sana tapi sekarang malah ngilang nggak tahu di mana padahal tadi kan bilangnya mau nungguin di sini gitu kalau kayak gini gimana coba nyariinnya dimana?! Mana aku juga lupa ya Allah aku kembali ku makan nasi doang gara-gara berapa bulan sendiri dikurung di rumah karena pandemi. CK! Bund ... Bunda ....." Kini tanpa berbasa-basi sama sekali, pagi ini kembali melangkah masuk kedalam rumah dengan begitu cepatnya sampai di tempat tujuan kembali ku celingukan pandangan ini sekitaran ruang tamu yang memang punya saja tidak ada tampak satu orang pun di sana dan yang pasti sosok bunda pun tidak terlihat sama sekali di situ padahal kenyataannya sebelum ia mandi pun dirinya sudah di janji-janji untuk tetap diam di situ agar ia juga tak kewalahan mencarinya. Yah bagaimana lagi jika memang kenyataannya pula Laras tak sekali dua kali kebingungan mencari sosok keberadaan bundanya yang tiba-tiba menghilang atau bahkan tiba-tiba pergi tanpa berpamitan sedikitpun dengannya walaupun sebelumnya sempat ada rencana atau janji pasti kita juga pergi saja. "Hishh, atau ini bunda tuh kemana ya Allah masa tiba-tiba ngilang terus sih!" gregetku tak habis pikir lagi. Bruk! Sampai aku hempaskan kembali badan ini duduk di atas sofa ruang tamu dengan begitu kencangnya sampai sendiri juga sedikit terpental di sana itu sedikit membuatku greget dengan diri sendiri juga tapi juga greget dengan keberadaan bunda yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan seolah-olah tak ingin diketahui oleh sama sekali pada kenyataannya sebelumnya pun sudah berpesan untuk sebuah hal yang ingin mereka lakukan berubah seperti tadi tapi bagaimana lagi jika pernyataannya tak kunjung ya temuin sosok itu saat ini. Aku tolehkan pandanganku ke arah kanan juga kiri seolah kembali mencari keberadaan sosok itu sampai sebuah kenyataan tiba-tiba mengejutkanku siapa lagi jika bukan karena Allah mas Rega yang tiba-tiba menepuk bahu sebelah kiriku dari arah samping yang entah sejak kapan pula aku tak sadar keberadaannya berada di sana seperti sekarang ini yang justru malah cengengesan mendapati diriku yang menatap kesal kearah nya penuh dengan segala kegregetan juga ketidak percayaanku saat ini. "Apa sih ah, ini orang heran banget suka banget gitu tiba-tiba muncul tiba-tiba menghilang tiba-tiba datang tiba-tiba pergi. Apa sih apa, kebiasaan banget ngagetin adeknya. Hobi kok gitu, adeknya qoid ntar nangis nangis lag-" CTAK! "Kalau ngomong disaring dulu!" sinisnya penuh yah bisa kulihat dari pandangannya saat ini menatapku tapi masih terkalahkan oleh pandangan kekesalanku ke arah mas Rega yang kenyataannya memang sangat membuat dirinya kesal juga seperti sekarang ini walaupun pada ujung-ujungnya pasti juga tetap kembali hadir di sampingku, bergabung denganku duduk di sofa panjang ini dengan tanpa rasa bersalahnya sama sekali. Berbeda dengannya yang tampak berusaha tenang agar seolah-olah tidak emosi denganku, aku kini justru tampak pada ke arah samping sejenak untuk mengontrol emosi dia juga perasaanku juga pada sosok itu sedangkan disatu sisi aku sedih juga sedang mencari sosok keberadaan bunda yang sampai sekarang belum ketemu kan tapi memang anehnya diriku meskipun mencari tapi tidak ada usaha sama sekali yang kenyataannya justru malah duduk disini tanpa ada perubahan sama sekali untuk sebuah tujuan bertemu dengan sosok itu kembali. "Lagian kamu sih dek orang juga duduk tuh biasa aja dong enggak usah kayak gitu, kayak orang lagi cari-cari apa gitu seolah-olah tuh emang nyari apa sih hah hmmm?!" Mendengar itu padahal aku kembali menatap ke arah mas Rega. "Nyariin apa? Ya nyariin Bunda to Mas ..." jawabku greget, sembari dengan mengucapkan hal itu kini aku benar kan posisi duduk menatap ke arah sosok laki-laki itu yang tampak dengan jelas mengerutkan keningnya bingung mendengar apa yang aku ucapkan ini sampai sukses sebuah lahan nafas panjang justru aku lontarkan saat ini mendapat respon yang demikian. "Gimana sih maksudnya, la ngapain nyariin Bunda. Kamu ini, pasti ada maunya nih nyariin bunda tiba-tiba. Padahal juga tadi mah enak-enakan ngiler di sofa in- heh ini sofa tempat kamu tidur tadi. Iuhh ya Allah nyelei tau d-d awsssh sakit bege!" CTAK! CTUK! "Bodo amat nih makan nih timpukan, mam-" "Ssttt, iya iya ya Allah udah ...." Refleks, mendengar itu pula aku sudahi segala timpukan yang kuberikan padanya tadi. Nama masih dengan segala wajah kesal menatap ke arah Mas Rega. Kini kembali dengan segala helaan nafas panjang, aku tahan semua kekesalan yang memuncak hari ini sampai di detik setelahnya aku hanya bisa terdiam dan berusaha agar seolah-olah aku tidak cari masalah lagi padanya. "Udah kayak gitu lagi kebanyakan tingkah kamu mas," ujarku kembali. Ya mau bagaimana lagi ucapannya tadi sebenarnya memang terlalu resahkan tapi bagaimanapun juga tak ada yang salah memang tapi hanya saja kalimat yang terucap dari bibir mas Rega itu terlalu frontal dan jatuhnya terlalu tak pas jika dilontarkan begitu saja bukan?! "Lagian iya kalau misalkan mau gabung mau nemenin duduk ya udah temenin aja nggak usah banyak cincong cincong juga gitu komen komen aja tapi nggak usah yang lainnya nggak jelas juga kali ngajak ribut kamu mah mas. Jadi ya kalau misalkan aku kayak gini ya gak salah juga dong orang kamu yang salah, terus nih kalau ditanya aku ngapain dari tadi. Nggak lihat kamu mas aku dari tadi celingak-celinguk nyariin Bunda. Hadeuh ... Tapi yang wajar-wajar aja sih kalau misalkan nggak tahu gitu orang ya emang nggak kelihatan kali ya udah ah pusing. Intinya aja Mas intinya ...." Aku gantungkan kalimat itu penuh sampai membuat sosok laki-laki di hadapanku kini tampak memutarkan matanya jengah yang sukses juga membuat diriku ingin sekali tertawa namun hanya bisa aku tahan dalam hati saja karena tak mungkin aku keluarkan jika aku keluarkan saat ini karena sedari tadi pula segala ketidak jelasan hadir di antara diriku dan Mas Rega yang kini terlihat membenarkan posisi duduknya penuh sampai membuatnya secara otomatis pula terlihat menatap ke arahku dengan badannya yang sedikit miring itu namun masih tak merespon segala hal yang kau ucapkan sebelumnya tadi. "CK, enggak usah serius-serius kali itu muka juga ya Allah lebay banget punya aku kakak. Gak usah dibahas lagi soal iler ataupun apapun itu lah ribet banget deh kamu tuh mas tiba-tiba datang tiba-tiba hilang tiba-tiba pergi tiba-tiba datang. CK, intinya aja nih. Lihat bunda nggak Mas? Soalnya nih ya kalau mau ke tahun bunda itu tadi sebelum aku mandi itu bilang katanya suruh ditemenin pergi ke kompleks depan sana tuh tapi kok kenyataannya sekarang malah ngilang pas aku udah selesai mandi juga terus udah gitu kan katanya kan tadi gue disini di ruang tamu nyatanya sekarang mana nggak ada tuh penampakan bunda sama sekali di sini. Ya kan?!" "Hust, penampakan penampakan. Apa sih, penampakan kaya hantu aja. Bilangin bunda nih entar, durhaka banget sama bundanya sendiri dibilang penampakan. CK, udah otomatis aja bilang ke bun-" CTUK! "Udah udah udah nggak usah aneh-aneh kamu Mas, lagian tadi itu asal nyeplos aja nggak sengaja ya Allah lebay banget sih kamu tuh mas. Nggak usah aneh-aneh yaa nggak suka aku, intinya aja udah. Ini serius nih aku nanya aja itu kamu lihat bunda apa nggak gitu lho mas ya Allah udah jam berapa ini coba kasih tahu di mana tahu apa nggak ya cepetan nggak kasih tahu bunda ada diman-" "Nggak tau!" "HAH, NGGAK TAU?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD