"Demi apa sih gila, tahu gitu tahu kalau misalkan kamu sendiri enggak tahu kalau bunda lagi dimana dimananya mah mending juga aku mah nyariin aja mas dari tadi. Jelas-jelas aja kamu juga nggak tahu jadi yaudahlah, sama-sama nggak tau juga ujung-ujungnya. Udah ah aku mau pergi mau nyariin bunda bye!"
Tanpa berbasa-basi lagi kini aku pun pergi dari hadapan mas Rega dan berjalan ke arah ruangan lebih dalam lagi di rumah ini meninggalkan sosok laki-laki yang entah sekarang ekspresinya sudah seperti apa pun tak tahu. Tetapi yang pasti sudah tertebak juga pasti sosok itu akan menampilkan wajah-wajah kesel dan greget yang lain tapi hanya bisa ia tahan tahan seperti kebiasaan-kebiasaannya yang membuat dirinya juga seketika tanpa hanya bisa diam tanpa merespon segala ketidakjelasan aku atau bahkan segala sesuatu yang sekiranya membuat dirinya kesal seperti sekarang ini karena memang jelas jadi pendengaran aku pun tak terdengar sahutan kembali dari mas Rega yang kutinggalkan itu.
Namun, baru berjalan beberapa sosok laki-laki yang tak lain tak bukan adalah mas Rega yang ada di sofa sana dan aku yang baru saja ingin menghilang dari ruang tamu dalam artian satu langkah lagi memang diriku akan sampai di ruang tengah tapi sebuah panggilan sukses mengejutkanku dan membuatku berbalik badan bersamaan dengan suara Mas Rega yang terdengar jelas di telingaku berucap ....
"NOH YANG DICARIIN, BUND! DICARIIN ANAK WEDOK TUH!"
DAMN IT, mendengar itu sontak saja aku kembali dibuat mengepalkan kedua tanganku penuh ke bawah menahan semuanya data dengan kaki yang kini kembali melangkah mendekat ke tempat semula yang justru tidak berjalan dengan baik karena memang sebenarnya kenyataannya bola yang sedang adalah sosok yang kini tampak kebingungan di samping mas Rega sana yang entahlah mungkin baru saja sampai juga setelah memanggilku dan sosok laki-laki itu juga berulah sedemikian rupa sampai membuatku juga greget seperti sekarang.
"Apa Mas? Siapa yang nyariin dan ngapain teriak-teriak kamu tuh dikira ini di hutan apa gimana. Ngomong pelan-pelan kan bisa baik-baik gitu nggak usah harus dengan teriak-teriak ganggu pendengaran tau nggak mas?!"
"Bhaks, syukurin tuh!" ujarku cepat. Bersamaan dengan itu pula aku sampai di hadapan kedua nya dengan begitu cepat karena memang kenyataannya hanya selang beberapa langkah saja dari ingin menghilang tapi harus berbalik lagi dan kembali ke tempat sekarang ini gimana aku yang berada di hadapan bunda juga mas Rega yang terlihat menghelakan nafas malas mendengarkanku yang menye-menye ini.
"Tahu tuh bunda padahal kan emang yang namanya juga mas Rega Bun. Kalau enggak teriak-teriak juga kayaknya tuh bukan identitas dia banget itu bukan kayak isyarat dari dia banget gitu bukan kayak apa ya karakteristik apa sih itu namanya. Karasteristik rasanya tuh kek ciri-ciri dia banget gitu loh kan kayak apa isi namanya ya Allah lupa pokoknya itulah namanya ...." sambungku kembali memanas-manasi keadaan.
Tetapi siapa sangka jika pada kenyataannya justru di detik setelahnya tanganku ditarik penuh oleh mas Rega dan seketika aku lah kepalaku dililiti oleh kedua tangannya yang justru membuatku terdampar di tempat paling menjijikan di antara lengan dan badannya itu yakni ketiak busuknya.
Sontak saja aku teriak bukan main sampai di beberapa detik, sebuah pembelaan hadir dari bunda membuatku terbebas dengan tatapanku juga yang setelahnya ku sinis kan penuh ke arah mas Rega dengan tak berperi kemanusiaannya.
"Mas, kamu itu loh. Sama adiknya kok ya jahat banget gitu lah itulah ya bau ketek kamu, mana kamu itu belum mandi lagi. Udah sana mandi, kamu itu jorok banget. Dan satu lagi, siapa yang kamu maksud nyariin bunda tadi heh?!"
"Hadeh ... Bela aja terus bela tuh anak perempuan kesayangannya. Orang dia yang mulai juga, cK! Lagian ya. Ya udah sih, iya habis ini Rega mandi ya Allah astagfirullahaladzim segitunya juga bunda sama Rega. CK! Udah ah, bye anak mama. Habis ini jangan lupa baik-baik ya ke bunda wkwkwk ...."
Mendengar itu sontak saja aku pelotot i dengan penuh sosok mas Rega yang justru tampak cengengesan dan malah mengejekku semakin tambah parah lagi bersamaan dengan dirinya yang memang benar-benar pergi dari harapanku juga dari harapan bunda ya aku tengok sekarang tengah tersenyum masa merespon aksiku juga tingkah mas Rega yang sedemikian rupa.
Sedetik kemudian mas Rega benar-benar pergi dan menghilang dari pandanganku ujung pandangan bunda yang justru kini tampak semakin dalam menatap ke arahku yang sama saja membuatku tersenyum penuh merespon hal itu dan membenarkan posisi duduk seolah mencari kenyamanan di sini di samping bunda yang kini tampak membenarkan posisi jilbabnya yang sedikit miring itu.
"Eheheh, bercanda bunda tadi itu mas Rega atau enggak beneran apa ribut ribut kok sama Laras gak sampai aja nggak nggak aneh-aneh juga kok santai aja pun nggak usah usah marah-marah juga ya salah ini ya pokoknya kita amandemen kok santai aja ehehehe ...."
Yah, memang harus aku lakukan seperti hal itu setiap selesai tah perdebatan kecil ataupun apapun itu dengan sosok laki-laki yang sudah pergi tadi memang selalu saja aku harus demikian dihadapan bunda karena kenyataannya jika memang salah satu dari antara aku dan mas Rega tampak sedikit bercak tok pasti bunda sangat tidak suka hal itu dan ujung-ujungnya pasti salah satu di antara aku dan dia akan ada yang dimarahin dan mungkin jika kali ini aku tidak bertindak lebih lanjut maka akan menjadi korbannya ya aku sendiri yang tertinggal di sini dan justru malah dibiarkan begitu saja oleh mas Rega yang kenyataannya tanpa kacuk itu itu yang malah pergi dan yang malah seperti tambah memanas-manasi keadaan agar bunda marah denganku.
Walaupun kenyataannya memang kini aku sedikit berlega hati karena sosok di sampingku ini yang tak lain tak bukan adalah bunda kini tampak hanya menggalakkan nafas kasar tapi tidak mengucapkan apapun yang justru itu hanya membuatku tersenyum miris secara diam-diam menyadari respon hal itu.
"Tapi tapi kalau misalkan urusan yang nyariin bunda emang aku nyariin bunda Bun, lagian bunda dari tadi kan bilangnya bakal nunggu di sini enggak bakal pergi pergi lah nyatanya pas Laras sudah selesai mandi udah selesai bersih-bersih juga kok nyatanya bunda malah pergi pergi makan nggak ngomong sama sekali lagi gimana rasanya coba kalau kayak gitu ceritanya. Emang bunda dari mana sih hmm? Terus ini mau nggak, eh maksudnya jadi apa engga nemenin ke kompleks depan sana Bund? Kalau jadi ya ayo Laras temenin tapi kalau nggak jadi ya udah Laras mainan ponsel aja gitu hehehe ...."
Aku yang menjawab demikian, bunda tampak geleng-geleng kepala kecil yang membuatku terkekeh. "Ya kan Laras cuma nanya Bun ya Allah santai ya Bun jangan marah-marah ya Bun habis ini bun," lanjutku salah paham dengan apa yang akan terjadi setelah ini tapi kenyataannya juga berani aku pun tak tahu apa-apa dan hanya mendengarkan apa saja yang seperti kebiasaanku kebiasaanku itu selalu merasa jauh atau bahkan segala ketakutan ku selalu saja terjadi terlebih dulu sebelum kenyataannya membuktikan semuanya.
"Hmmm kamu ini mbak, ya udah kalau emang beneran nggak ada ribut-ribut sama sekali ya udah yuk kamu ambil jilbab sana ke kamar masuk dulu habis itu turunnya bunda tungguin di sini kamu buruan ya bunda enggak bakal pergi pergi lagi apakah pergi-pergi lagi di sini pokoknya langsung ke atas ambil jilbab udah gitu temenin bunda jadi ke komplek depan sana oke?! Udah sana ambil jilbab."
"Siap bos!"
Mendengar itu tanpa berbasa-basi lagi kini aku langsung bangkit dari dudukku dan berjalan ke arah kamar yang ada di belakang sana sebelum setelahnya benar-benar mengambil jilbab dan turun kembali ke ruang tamu setelah mungkin 5 menit kemudian karena memang diriku yang tampak buru-buru saat menuju ke kamar ataupun setelahnya sampai menuju kembali ke ruang tamu seperti sekarang ini yang sukses aku dapati bunda yang tersenyum menatapku seraya satu tangannya meraih tanganku cepat seolah menyuruh lebih dekat dan lebih dekat lagi dengan keberadaannya.
"Udah kan?! Nah gini dong, kamu itu cantik kan kalau pakai jilbab kak. Ya bukannya bunda nggak suka kalau kamu nggak pakai jilbab terus atau bunda nyuruh kamu buat pakai jilbab terus itu enggak cuma ya kan kodratnya wanita itu kan berjilbab terus ya dia sebaik mungkin kalau misalkan emang mudahkan jilbab an juga ya kalau misalkan emang mau dia kenapa enggak dilakuin gitu ya bunda mah juga maunya ya yang baik-baik aja sih tapi udah juga nggak maksa udah intinya gitu aja. Yuk berangkat!"
Mendengar itu seolah senyumku lontarkan dari arah 2 sudut bibirku merespon segala perkataan yang dilontarkan oleh bunda meskipun dalam hati dan dalam pikiran juga sekejap itu terasa seperti ingin sekali why berkata. 'Iya Bund, doain aja ya anakmu ini bisa Istiqomah. Soalnya yang aku takutin itu kalau misalkan ini tuh cuma bisa buka lepas terus buka tutup jilbab aja takutnya kalau orang Istiqomah ya Allah pun emang bener sih nggak bakal tahu dan nggak bakal bisa kayak apa ya kayak gitulah intinya. Tapi ya semoga aja ini benar-benar sering pakai jilbab lah Amin semoga aja biar nggak ngecewain bunda ayah juga ke neraka. Tapi kan intinya sama aja ya, kalau misalkan ini tuh apa namanya ujung-ujungnya aku juga mencintai seseorang diam-diam gitu dosa nggak sih ya sekolah udah ribet banget.'
Dengan giringan penuh kini kembali aku layangkan saat ini, seolah berusaha menghilangkan segala pikiran pikiran yang hari itu kembali dari otaku ini. Kini tanganku sudah diraih penuh oleh bunda, dan kaki ku kini sudah beriringan penuh dengan sosok itu berjalan keluar rumah dan benar-benar pergi jalan kaki sampai ke kompleks depan sana karena memang salah bunda ada urusan apa aku pun tak tahu yang pasti janjiku untuk menemaninya terlaksanakan saat ini walaupun harus dengan berjalan kaki tapi it's ok lah daripada mengecewakan bunda dan yang menjadikan diriku seperti beban keluarga yang terus saja bergentayangan di rumah dan terus saja beraksi walaupun dengan hal-hal kecil seperti ini.
1 detik 2 detik berlalu, mungkin sudah ada sekitar 2 menitan aku dengan bunda berjalan menyusuri jalanan kompleks yang memang sore ini terbilang tak cukup ramai seperti biasanya. Tak ada obrolan sama sekali Antara aku dan bunda sepanjang jalan ini, jalan dimana memang masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk sampai ke kompleks depan sana karena memang jika boleh dikatakan rumahku berada di nomor sekian sendiri yang pada dasarnya memang sedikit akhir.
Yang sudah banyak langkah yang ku lalui bersama bunda saat ini semenjak keluar dari rumah sampai di perumahan nomor 10 itu di depan sana. Kurang lebih 10 rumah lagi yang mungkin bakal aku dan bunda lewati sampai benar-benar sampai di depan kompleks sana untuk apa antara aku juga tidak paham dengan maksud dan tujuan dari bunda tapi yang jelas biarlah bunda sendiri yang memberitahu nanti jika sudah sampai mungkin yang pastikan dia apanya aku yang dimintai untuk menemani pasti akan aku lakukan jika memang aku bisa bukankah begitu simpelnya?!
Masih dengan suasana yang hening dengan kakiku dan kaki bunda yang masih melangkah penuh penghayatan sudah dari tadi. Sama sekali tidak ada yang ingin mengucapkan sepatah ataupun dua patah kalimat yang kenyataannya memang beginilah sampai membuatku juga greget sendiri di sini tapi hanya bisa aku diam kan juga semuanya ini.
"Hust, malah ngelamun. Ya udah Bu Rahayu kalau gitu kami pamit dulu ya takutnya tambah sore nanti malah kehujanan atau gimana ini kalau udah mulai musim penghujan ya ditambah lagi juga kalau semakin sore kan enggak enak juga gitu ya dek ya?!"
Seketika aku mengangguk penuh tanpa kata yang terlontar sedikitpun meskipun sebenarnya aku sendiri masih sedikit ngelag karena tiba-tiba bunda yang mengejutkanku itu pada kenyataannya baru saja ia seperti dibuat langit dalam lamunannya tapi sudahlah ternyata memang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Sampai di detik setelah itu
Aku tatap pandanganku ke arah sekitar dimana keberadaanku yang masih terus berjalan menyusuri jalan yang kompleks yang sepi ini ini dengan bunda. Sedetik kemudian ku alihkan pandanganku kembali menatap kearah bunda yang tak menghiraukan kesamaan sekali yang memang jika dikatakan mungkin jika ada orang yang peka dengan sebelumnya atas segala accident juga wajah-wajah yang aku tampakan mungkin sadar jika aku sedikit malas karena tidak diajak ngobrol sama sekali meskipun aku dengan benda tak ada marahan sama sekali tapi bukankah sungguh terlalu tidak etis gitu jika dipikir-pikir. Sampai sebuah panggilan tiba-tiba membuatku dan bunda juga mungkin menoleh ke arah samping sampai bibir ini pun juga tertarik penuh menciptakan sebuah lingkungan indah dari dua sudut tanah saat sebuah panggilan terdengar di telinga membuatku dan juga bunda yang kulihat juga refleks menoleh kini semakin tersenyum menatapnya.
Seorang ibu berumur kurang lebih 40 tahun dan itu membuat kami seketika berhenti segala langkah kakinya sampai menatap ke arahnya dengan penuh niat seperti sekarang ini.
"Mau kemana ini kok tumben-tumbenan jalan kaki berduaan kayak gini dari rumah sampai ke sini ini mau ke mana tujuannya Mbak, Bu?!" tanyanya kepo. Santai saja aku menoleh kearah bunda karena memang di satu sisi pertanyaan itu juga mewakili santai saja aku menoleh ke arah bunda karena memang di satu sisi pertanyaan itu juga mewakili pertanyaan yang ingin aku tanyakan tadi tapi tak sempat-sempat untuk ditanyakan.
"Nah loh, kemana Bund? Bunda tadi cuma bilang mau ke komplek depan doang lo ini awalnya saya akan menyuruh Laras yang jawab jelaslah nggak tahu intinya itu maksudnya intinya dari maksud yang pengen bunda ini untuk kita mau kemana gitu kita mau ngapain gitu kan Laras juga nggak tahu. Udah Bun jawab Bun, ya nggak Tan?!"
Sosok wanita yang memanggilku tadi pun tersenyum dengan gelengan kecilnya itu justru membuatku terkekeh pelan berbeda dengan sosok bunda yang justru malah mencubit pinggang kecil sampai diriku juga sedikit teriak karena hal itu. "Maaf ya Mbak ya Laras itu kalau ngomong emang suka kadang tuh nggak jelas kayak gini," jawab bunda menjawab sosok ibu tadi yang aku tahu bernama Bu Rahayu.
Sedangkan aku yang mendengar itu kini tampak menyengir tak jelas, lebih-lebih dengan bunda juga yang seketika sedikit melotot ke arahku ditambah lagi dengan diriku yang yang diam-diam juga tampak mengelus-elus pinggang yang dicubit tadi memang darahnya pedih tapi tak sepedih omongan bunda yang berkata jika memang sudah kebiasaan ku tak jelas seperti ini rasanya sedikit menyesakkan tapi ya bodo amat juga karena pada kenyataannya memang seperti itu hingga dengan sedikit belahan nafas ku jawab ucapan bunda itu dengan kalimat.
"Ya bukannya enggak jelas bunda tapi itu kan ya kan emang bener Laras juga nggak tahu ini bunda tujuan yang ngajak ke kompleks depan sana mau ngapain kan Yang pasti kan parah suruh nemenin nemenin aja gitu nggak tahu cumi-cumi nya mau gimana tapi yang pasti kan kalau disuruh nemenin ya nemenin. Ya nggak Tan?!" tanyaku kepada sosok ibu Rahayu yang memang ku panggil dengan panggilan tante.
"Oalahh, jadi tu mau ke depan sana. Hmmm, mau ngapain Bu tumben banget jalan kaki biasanya kan motoran."
Tanpa ada niatan menjawab atau menyela pertanyaan yang dikeluarkan oleh tante Rahayu itu, kini justru aku asyik sendiri dengan kaki yang sedikit aku hentak-hentakkan ke jalanan sini karena pegal berdiri. Tapi masih jelas telingaku juga merespon segala hal yang diucapkan oleh bunda juga Tante Rahayu seperti sekarang ini.
"Hehehe enggak Bu, kebetulan itu emang lagi pengen jalan kaki aja kalau misalkan pakai motor itu kan kelihatan cepat itu kalau jalan kaki kan enak juga gitu lagi nggak cuma di depan sana ya jadi kenapa nggak jalan kaki aja gitu sekalian sehat jalan sore gitu sekali-kali juga. Nggak mau ngapa-ngapain sih Bu, ya cuma kayak biasa aja ini mau beli kebutuhan bulanan biasa kan jadi lebih enak aja gitu kalau misalkan sekalian sore-sore gini ya begitu aja sih Bu Rahayu. Ah iya, ngomong-ngomong ini nggak pergi-pergi Bu? Bukannya biasanya ...."
Dan yah, seperti inilah keadaannya. Seketika aku putarkan bola mata malas merespon hal itu, bukannya dengan segera tapi malah semakin berlama-lama seperti sekarang ini yang tak kunjung selesai arah dan tujuannya. Bukankah memang benar ya aku tahu jika tujuan bunda sebenarnya mungkin emang ke Alfamart karena mendengar itu seketika pula aku pun juga teringat jika di depan compact sana terdapat sebuah minimarket yang mana memang ini bisa dibilang juga sudah tanggal tua otomatis semua yang ada di rumah pun sedikit demi sedikit mulai terlihat dengan jelas tak yang semakin menipis itu dan mungkin seperti inilah keadaannya tapi jika takutnya selesai juga dan malah terjadi perbincangan yang entah disengaja ataupun tidak oleh bunda seperti sekarang ini justru membuatku semakin malas yang hanya bisa menghentak hentakan kaki ku sedikit lebih keras seolah agar membuat bunda pekan namun tak kunjung kok ayang malah jadi ai sebuah senyuman seperti sekarang ini.