'Mana nih yang katanya anak kesayangan, anak kesayangan. Apaan ya Allah, padahal itu kalau dipikir-pikir juga ya cuma kayak gini ujung-ujungnya. Kalau anak kesayangan mah aku ngapain dikit harusnya juga bunda tuh peka kayak apa yang dibilang sama mas Rega tadi kalau misalkan aku ini terlalu disayang sama bunda terus apa dikit langsung diperhatiin dan ini itu itu banyak sekali. Lah, orang kenyataannya semua aja udah zonk kaya gini. CK, kesayangan dari manany-'
Batinku tertahan, segala hal yang aku rasa-rasakan saat ini dalam sekejap pula terputus. Ucapan bahkan segala ucapan ucapan yang terlontar dari dalam hati ini terputus dengan sekejap bersamaan dengan pandanganku yang seketika kembali menatap ke arah bunda yang seolah memperingatkan diriku atas sesuatu yang mungkin bunda peka terhadapku namun tidak dengan keberadaanku yang malah bingung sendiri seperti sekarang ini.
Dengan kening yang berkerut sempurna, aku tatap tante Rahayu bersama dengan bunda secara bergantian lantas sebuah senyuman aku lontarkan dari dua sudut bibirku ini secara penuh sebelum setelahnya kembali hadir dengan anggukan yang tipis kulakukan. "Ehehehe, boleh deh Bun. Kalau mau sekarang ya ayo enggak apa-apa lagian ini udah jam berapa sendiri kalau gitu kita pamit ya Tan. Takut kesorean hehehe ..." ujarku kembali menatap ke arah Tante Rahayu.
Ini sosok itu juga tampak menganggukkan kepalanya sekali dengan senyuman yang terlontar dari bibirnya sana membuatku tersenyum merespon hal itu sebelum setelahnya kami benar-benar pamit undur diri dari hadapan sosok tentara hayu yang sudah mempersilahkan aku dan bunda untuk kembali melanjutkan kompleks depan sana.
Suasana kembali hening tanpa ada obrolan sama sekali antara aku dan bunda, kembali tak ada yang saling memulai dan kembali untuk tidak ada yang saling bertukar pendapat ataupun apapun itulah yang intinya mengeluarkan suara justru tangan kananku di peluk erat oleh tangan kiri bunda yang menjadikan aku sukses dirangkul penuh oleh sosok wanita yang sudah melahirkan aku ini dengan entah disengaja ataupun tidak disadari ataupun tidak yang pasti aku sangat sadar karena sesekali merasakan hal itu aku menoleh ke arah bunda yang fokus ke depan sana dengan segala kediamannya.
'Nggak nyangka aku tuh kadang, bisa dapet bunda seperti ini itu udah kaya sebuah anugerah banget buat aku! pertama ya karena aku sadar betul kalau misalkan ya udah emang selama ini tuh kayak nggak pernah marah sama aku juga terus ya sabar banget ngadepin sikapku yang suka berubah-rubah juga nggak jelas terus suka kayak siap aja gitu dan kayak emang ke aku tuh kuat banget gitu ngadepin aku dengan moodku yang suka berdua doang aja kayak gini. Kayak kadang itu malah buat aku mikir juga kalau misalkan udah aku bukan dia apa iya sih aku bakalan kayak sekarang itu juga direspon gitu. Kaya gila aja sih, eh kok gila? Maksudnya itu Masya Allah banget gitu bisa dapet bunda kaya gini. Ya Allah pun emang sering juga sih jadinya aku yang dibilang kawasan aku terlalu kesayangan karena terlalu digimanain juga sama Bunda. Tapi kan ya wajarkan?! Apalagi aku cewek sendiri. CK! lagian itu sih mas Rega juga suka ngada-ngada aja deh. Ngadi-ngadi pake banget itu mah. Apaan coba kan kesayangan, ya walaupun emang iya sih sedikit banyaknya suka dibilang kesayangan tapi kan ya tetep aja beda. Padahal juga kalau misalkan kesayangan kan ya lebih ke apa-apa diturutin juga, mau ini mah itu tuh nggak terlalu dikekang lebih juga bebas ya Allah apa enggak bebas bebas banget tapi ya seenggaknya kan bisa agak leluasa gitu lah kalau kayak gini kan nggak ada ceritanya juga gitu loh.'
Sebuah gelengan kepala kembali aku lontarkan di sini, bukannya apa-apa hanya saja terlihat lucu saja jika pada kenyataannya semua ini terlalu rumit untuk dipahami dan terlalu rumit atau diterima juga. Padahal bukan perihal pribadi saja, hal-hal sepele ataupun diluar nalar pun seringkali seperti aneh untuk dibahas tapi juga tak mungkin dimunafikkan juga di sini.
Aku tatap ke arah sekitar dimana keberadaan aku dan bunda di sini. Tanpa ada niatan untuk mengucapkan sebuah kata sedikitpun, aku hanya seringkali membatin membatin, dan membatin di keadaan ini.
Sejujurnya ini terlalu sepele untuk dibahas tapi entahlah, bukankah diri Laras yang sesungguhnya juga memang seperti ini? Bahkan pada diri diri ya seperti ini juga aku terasa malas tempat membahasnya dan untuk merespon diri sendiri juga.
Saat jiwa-jiwa yang tak pasti terlalu sering memikirkan hal-hal yang terlalu sepele, terkadang aku bingung untuk mengerjakan semuanya. Terkadang aku terlalu lelah untuk meresponnya dan terkadang aku terlalu letih untuk membahasnya. Perihal diri yang seperti ini bahkan kalau aku mengingatnya pun justru aku ingin menangis entah kenapa, rasanya seperti terlalu bagaimana juga jika aku kaitkan dengan hal-hal atau bahkan tentang semua hal yang aku sambungkan ke dunia nyata. Pasalnya, meskipun aku ini dia bilang anak kesayangan. Nyatanya tidak begitu juga di realita yang sebenarnya, saat semuanya justru aku sadari penuh tak sejalan sesuai ekspektasi bahkan itu tak hanya sekali dua kali tapi memang sering demikian entah sampai kapan dan semenjak kapan. Karena nyatanya selain aku yang hanya beban keluarga ini, nyatanya aku juga seorang yang yah bisa dibilang terlalu bagaimana juga di sini. Aku bukan kesayangan yang sebenar-benarnya kesayangan, karena nyatanya aku juga sering diam-diam menangis karena sering dianggap sepele.
CK! lantas apakah yang dibilang kesayangan itu seperti ini? Aku bahkan tak paham dan tak mengerti dengan keadaan ini. Entah aku yang terlalu berlebihan atau apa, bahkan nyatanya saja aku sering mendapati hal-hal yang sangat membebankan pikiranku juga.
Perihal kesayangan ataupun tidak, aku cukup lelah mengartikannya. Aku cukup letih untuk membicarakannya, dan aku cukup tak semangat untuk membahasnya lagi, yang jelas setiap ada orang yang berkata demikian entah itu keluargaku sendiri ataupun tidak. Rasanya hanya akan membuatku seperti ingin menangis, menangis, dan menangis saja tanpa sadar. Entahlah, rasanya itu justru lebih meyakinkan. Dan entah ada apa juga hari ini yang bisa-bisanya setelah sekian lama aku terdiam, tiba-tiba kata itu kembali mampir di telingaku dengan begitu sengajanya. Entah itu apa artinya, yang jelas aku sendjri terlalu pusing saat ini untuk meresponnya.
Sungguh aneh memang hari ini, aneh yang seperti tak dibuat-buat juga saat ini. Entahlah, bahkan aku sendiri tak tahu dan tak mengerti akan semuanya itu. Sampai diri ini hanya bisa berucap dalam hati, 'Ya Allah apa yang dibilang kesayangannya dari diriku tuh? Padahal aku sendiri sering dibeginikan.'