Ya tapi kan kalau dipikir-pikir juga apa ya istilahnya tuh kayak mau cerita tapi gemes juga akunya juga nggak bisa bohong kalau aku juga bingung mau cerita apa gitu sama Rara. Padahal mah kalau dipikir-pikir juga itu sebenarnya ya pas gitu, bukankah juga dia lebih tepatnya kayak emang ada topik itu yang mau dibahas tapi tuh mau mulai nya itu susah aku Rara orangnya slengean kayak gini. Hadeuh ... cuman kadang kan kalau mau cerita banyak tuh juga kayak gimana juga kalau misalkan anaknya sering kali seperti ini bukannya mulai ceritanya yang ada malah kesel sendiri di sini. Hadeh ...
Dengan segala helaan nafas aku lontarkan saat ini, kembali aku tatap bola mata lentik milik Rara yang kini juga menatapku dengan senyumannya. "Udahlah buruan cerita aja kakak gimana Masya Allah Allahu akbar subhanallah lama banget kamu tuh ceritanya aku keburu gemes sama kamu. Tau nggak?!"
"Gemes gemes aja asalkan aku jangan disimpan atau diapa-apain juga, iya nih iya aku lanjut lagi ya ceritanya ya jadi tuh pas udah itu bukan ditemenin ya sama pak satpamnya tapi kamu jangan mikir aneh-aneh dulu di tempat latihan tuh di situ ya dia duduk di sampingku gitu lho ora tapi tuh aku heran nya juga gini soalnya itu ya kalau dipikir-pikir dong aku juga di sini juga serius ya sama pak satpamnya itu karena apa ya karena masa ngeliatin aku mulu terus udah gitu ya pas ini tuh dia tuh kayak gimana ya aku kan udah kayak istilahnya kata tuh sok cuek itu kan di sini walaupun kayaknya masih sibuk kayak gini juga salah cuma kan ya gimana lagi nggak ada pilihan lain juga kan maksa iya aku kayak orang kegatelan sih harus ini-itu ini-itu yang ada nanti malah di mana juga ke atas juga aku kan nggak kenal sama orangnya nggak tahu gimana lingkungan kantor sana juga yang sepenuhnya kayak gimana kan aku juga belum terlalu paham ya kayak gini ya kayak gitu terus tiba-tiba pas satpam yaitu masa bilang Ra!"
"Hasyeh bilang apaan, orang kamu tuh juga nyebelin ra udah tahu kalau misalkan aku tuh orangnya tuh geregetan suka kayak gitu lah kamu sanggar ngomong pasti di pencet-pencet kayak gitu di putus-putus terus ya marah aku mana paham aku mah jadi bingung sendiri bro. Udah buruan apaan, atau tak tingggal nih makan!"
1 kalimat yang diucapkan oleh Rara di akhir ucapannya itu membuatku seketika menatap ke arah depan persis di mana aku dan Rara berada saat ini yang memang terdapat beberapa macam makanan yang siap disantap di sini dan seolah-olah melandai sampai penuh tapi saat ini justru aku tahan karena aksiku yang sedari tadi ia bercerita namun tak kunjung juga kuceritakan pada intinya itu.
"Ya ya kalau gitu mari makan dulu aja kalau udah kelaparan, gimana?!"
"Hishhhhh tau Laras! Bodo amat aku marah loh!"
Aku sadari secara penuh segala raut wajah yang dilontarkan oleh Rara saat ini penuh dengan greget dan penuh dengan segala aksi yang bisa dibilang juga sangat gemes denganku yang membuatku justru malah terkekeh hingga detik setelahnya aku justru terbahak karena tak kuasa menahan apa yang aku sadari dari aksi Rara yang bisa dibilang sedemikian rupa itu. "Iya iyaya ya Allah ... tapi aku kan beneran aku nggak bohong kan juga serius kalau misalkan kamu udah laper ya udah nggak jadi dulu ceritanya nanti aja makan dulu atuh nanti sebelahnya keburu dulu dingin enggak enak!"
"Fyuh ... sabar Ra sabar ...."
Sontak, tawaku pun meledak di sini. Bukannya apa-apa, mendengarnya jujur memang membuatku gemas dan tak bjsa menahan humor Rara juga. Terlebih atas raut wajah dan semua yang tercipta pada mimik wajah Rara juga saat ini sontak membuatku penuh-penuh geleng juga sadar akan hal itu.
Yah memang sebelumnya kami sempat membeli seblak karena untuk membuatnya kami tak bisa, alhasil seperti inilah keadaannya. Dimana aku yang benar-benar memang sudah gemas dengan Rara dalam sekejap menepuk-nepuk pundaknya dengan penuh, dengan sang empunya yang ini sudah sangat sangat sepertinya masih juga denganku tapi aku justru semakin bercanda atasnya yang rese dalam sekejap dihadiahi sebuah jitakan penuh di kepalaku siapa lagi jika bukan karena ulah Rara.
"CK! Sabar ya Allah, gitu aja ngambek aku terus diserang kayak gini ya Allah sama temen sendiri diMasya Allah astagfirullahaladzim. Maunya gimana heh?!" tantangku dengan bercanda. Entahlah, rasanya memang sangat mengasyikkan bisa menggoda Rara seperti ini. Lebih-lebih saat sudah ada di puncak dimana Rara memang menampakan wajah wajah kesalnya itu seperti sekarang ini. Rasanya sungguh seperti mencari kebanggan tersendiri di sini yang tak bisa aku tahan-tahan lagi.
"Bukannya enggak sabar atau gimana cuma masalahnya itu kamu tadi yang bilang juga dari tadi kalau misalkan apa namanya segala ini itu tuh bisa dibilang kayak nggak mau dibeli berapa katanya mau dibelibet sendiri atuh kalau nggak Laras juga enggak lah kalau sekarang mah."
"Wkwkwk iya-iya Masya Allah, sabar napa sih. Iya nih aku lanjut wkwkwk emang rempong banget aku yah. Kenapa gitu loh wkwk, udah nih aku lanjut berisik bang-"
CTUK!
Damn it, siapa sangka jika kembali sebuah jitakan justru aku dapatkan di sini. "Nggak usah jitak-jitakin kepala juga kali ah ... nyebelin banget dah jadi orang!" ketusku dalam sesaat yang justru malah direspon sebuah putaran mata malas dari Rara saat ini.
"Bukan gitu sayang ... bukannya nyebelin ... hue astagfirullahaladzim. Kalau kaya gini sebenarnya yang nyebelin siapa sih? Heran deh aku, orang kamu yang mulai duluan juga. CK! Makanya buruan, atau kita nggak makan-makan nih? Lama bener jadi orang, cerita tinggal cerita juga. CK! kelamaan dodol!"
Mendengarnya aku hanya berusaha sabar di sini, menghelakan nafas panjang dengan pandanganku juga yang sukses menatap ke arah Rara sedari tadi ini dalam sekejap juga sukses membuatnya geleng-geleng kepala.
Sejujurnya jika boleh aku jujur, aku ingin meledakkan tawaku saat ini padanya. Tetapi bagaimana lagi jika kenyataannya aku sendiri justru tak bisa juga melakukan hal itu, sebuah hal yang sebelumnya aku buat diriku seolah-olah tak tahu apa-apa dan memang tak menyadari apapun hal itu tentang kekonyolanku saat ini padahal kenyataannya aku sadar jika semuanya itu aku lakukan dan memang aku sengaja karena sangat asyik membuat Rara kesal seperti ini.
Tapi semuanya itu hanya bertahan beberapa menit saja, karena di menit setelahnya sebuah kejadianpun dihajar penuh oleh Rara yang ....
BRAK!
"Hishh udah ah nanti aja ceritanya, nungguin kamu cerita mah lama banget juga nggak akan mulai-mulai. Orang kebiasaan gitu kaya niat nggak niat hmmm ...."
Ku pandangi penuh keberadaan Rara setelah berdiri dari duduknya yang sampai menimbulkan suara ricuh itu. Keningku pun mengerjit penuh, it's okey masalahku yang tadi aku pendam sejenak yang menjadi pertanyaanku sekarang adalah mau kemana ini anak yang sukses pertanyaan itu aku lontarkan tanpa sadar di sini.
"Nggak usah kepo, aku ae mau kepo malah diputer terus gitu ceritanya sama kamu. Hadehh ... udah ah tak tinggal bentar, bye!'"
Yah ... Rara pun benar-benar pergi layaknya orang Marah?
"Gila sih ya aku beneran ditinggal sekarang ini astagfirullah ya udah iya iya terserah kamu mau gimana juga yang penting kamu nanti balik lagi loh kamu ngapain sih lagian masuk ke rumah segala?!"
Yah, memang kenyataannya Rara saat ini tampak berjalan penuh memasuki rumahnya sana setelah sampai di teras rumahnya yang tak jauh dari tempatku berada saat ini. Sebenarnya kamu ini bukan termasuk golongan orang kaya kamu itu hanya orang sederhana yang sok kaya? CK, tidak pastinya. Yang pasti kami itu bukan dari orang sudah di rumah kami pun sangat biasa dan sangat sederhana sampai memang di sini aku berada nyatanya di lincak kalau dalam Jawa seperti sebuah tempat yang lumayan lebar dimana itu biasa ditaruh di depan rumah dari saat ini aku berada di depan rumah Rara dengan sang empunya yang benar-benar tak menoleh ke arahku yang justru malah menjawab sebuah kalimat yang berbunyi.
"Udah, sabar elah kayak aku yang sabar nungguin ini apa namanya kayak aku yang sabar nungguin kamu cerita tapi nggak juga cerita-cerita lamaan banget ya Allah. Belibet kamu sumpah, udah aku mau masuk bentar nanti kalau misalkan aku kelamaan ya panggil aja ke dalam aku berak. Atau mau ikut?!"
Damn it, mendengar itu jelas aku terkejut bukan main bukan apa-apa hanya saja mulutnya ini terlalu to the point untuk berucap ya walaupun memang sikap para adalah seperti itu dan sudah tidak aku ragukan lagi dan sudah tidak membuatku kaget lagi seharusnya tapi kenyataannya pun sama saja. lebih-lebih saat itu yang bersamaan dengan pertanyaan itu tampak menoleh ke arahku aku pun dengan rak-rak dan dengan penuh cepat tampak menggeleng-gelengkan kepalaku dengan sepenuh.
"Nggak usah ngada-ngada deh Ra, jorok banget jadi orang ya Allah. Udah sana buruan lanjutin masuk ke dalam, jijik tau nggak sih. To the point banget heran!"
"Bodo amat, bye!"
Menyadari itu gelangan gelangan penuh kembali aku lontarkan di sini, entah mimpi apa aku bisa mendapati sosok teman seperjuangan sampai sebegitu uniknya yang pasti terkadang hal kecil seperti ini walaupun tampak menjijikkan dan tampak terlalu random untuk dibahas, tapi rasanya jika aku dulu tak berjumpa dengannya mungkin aku takkan pernah sebahagia ini dengan sebuah pertemanan gitu dan itu adalah sebuah pikiranku yang seringkali mampir di otak dan juga seringkali memberi candaan itu padaku yang hanya bisa kurespon helaan nafas panjang seperti sekarang ini setelah menyadari segala hal yang terjadi barusan itu dia itu tak hanya sekarang saja tapi kejadian-kejadian di masa lalu ataupun bahkan emang sering aku lakukan ini jika sebuah hal konyol yang terjadi diantara aku atau dirinya atau di antara pertemananku, Rara dan juga Fanny. "Punya temen kayak gitu tapi kalau nggak punya temen ya gimana, mau dibuang sayang tapi kalau nggak dibuang ya nyebelin juga gitu jorok banget ya Allah. Segala berak ajak-ajak. Hadehh ...."
Tak mau terlalu memusingkan hal itu aku pun dalam sekejap tangkap kembali menatap ke arah depan sana dimana jalanan rumah sekitaran Rara sangat ramai di lewati oleh beberapa pengendara yang memang mungkin bisa dibilang tetanggaan desa dengan Rara. Entah itu iya atau tidak bahkan aku sendiri pun sebenarnya bermassa bunda tapi entahlah rasanya tetap saja diriku ini sosok yang bisa dibilang terlalu rempong juga urusan beginian. Sampai disatu sisi aku yang hanya bisa diam seperti sekarang ini, sejenak pandanganku alihkan ke arah dimana keberadaan ponsel pintarku yang aku geletakkan begitu saja di samping tempatku duduk saat ini.
Aku hidupkan layar itu dengan penuh perlahan sampai di detik setelahnya kudapati sebuah layar ponsel yang hidup menampilkan jarum jam analog yang aku buat di layar saya berbeda dengan hp-hp milik orang lain aku justru tampak memunculkan icon itu kini sudah menunjukkan pukul 12 lebih sekian sendiri.
'Pantes aja ini hari rasanya udah kayak panas banget keringatan mulu dari tadi, pantes banget ini dari tadi juga rasanya tuh kayak cacing sendiri di sini. Sumuk alias gerah juga ya lama-lama. Tapi kalau misalkan anginnya juga kayak gini yang sepoi-sepoi juga nggak kerasa juga sih. Tapi kan ya sama aja juga ujung-ujungnya, hmmm ...." ujarku dalam sekejap yang reflek menatap ke arah sekitaran juga menatap kearah atas langit sana yang memang tampak cerah menampilkan hawa-hawa mendung sama sekali. Itu membuatku sukses membenarkan posisi dudukku tanpa sengaja saat ini.
Aku sandarkan penuh badan ini ke belakang di mana emang keberadaan tempat yang aku duduknya ini salah satunya dekat dengan sebuah pohon yang lumayan besar yang saat ini juga aku gunakan untuk bersandar punggung yang rasanya seperti encok ini padahal bisa dibilang aku juga masih remaja?
"Remaja rasa lansia gini nih, eh? Tapi kalau misalkan remaja kayaknya juga enggak banget deh apa ya kayak gimana ya istilahnya kalau remaja tuh terlalu tua juga di gelanggang remaja tapi kalau misalkan dibilang dewasa juga kayaknya belum juga sih dewasa banget aku cuma ya gimana ya aku jadi bingung sendiri salah statusku ya pokoknya kayak gini lah masih muda udah kayak encok mulu kerjaannya kayak orang tua aja. Astagfirullah ... mana ini juga bisa dibilang aku malah ditinggal sendirian lagi nggak ada temennya Salah sekali di sini ya Allah. Tuan rumahnya malah buang angin didalam astagfirullah temannya ditinggalin udah pamit nya nggak etis banget ditambah lagi salah ditinggal gitu aja lagi enggak disediain minum kek atau pun apa kek yang ini juga udah habis enggak diambilnya gitu ya Allah punya temen gini amat Astagfirullah ...."
Dengan penuh geleng menyadari gerutuanku tadi, detik setelahnya pun aku selonjorkan kedua kakiku ke arah depan sana penuh, "Kayaknya main HP bentar nggak masalah deh lagian kan nggak ada kerjaan juga mau ngapain interview juga nggak tahu kan masih nunggu lagi nunggu atuh ya kalau keterima kalau nggak? Haishh positif thinking Laras ... positif thinking, positif thinking, positif thinking oke?!"