Langit Biru Saksi Bisu Ketidak Jelasanku

2350 Words
Kicauan burung tampak saling bersahutan dari pendengaranku penuh terdengar dengan begitu eloknya. Pandangan ini pun masih menatap ke arah depan sana setelah beberapa saat yang lalu merasakan lelah yang begitu parah karena mata yang aku paksakan untuk memainkan ponsel ditambah lagi dengan diriku yang menunggu keberadaan Rara untuk kembali ke tempat ini tapi tak kunjung datang juga setelah beberapa menit bisa dibilang hampir 30 menit dia pergi tanpa kembali sampai detik ini dari tadi. Entahlah apa yang dilakukan kembali oleh sosok itu sampai detik ini karena tak kunjung datang kembali hingga sekarang ini, yang pasti dan yang aku ketahui sekarang aku hanya bisa menikmati keindahan siang hari yang terik dan bagaimana ya kurang lebihnya itu sepertinya tidak terlalu panas seperti tadi karena sekarang udah ada pun semakin melembut dalam artian tidak terlalu terik seperti tadi dan angin sepoi-sepoi pun ikut hadir di sini dengan begitu syahdunya bersamaan dengan pandanganku juga yang terus-menerus menatap ke arah jalanan di depan sana yang semakin ramai di setiap pertambahan ketiknya dan setiap waktu yang bisa ku katakan semakin siang ini bukan membuatku merasa malu ataupun apa berada di sini dengan segala ketidakjelasanku yang seolah-olah juga seperti orang yang melamun tapi kenyataannya juga tidak terlalu ku lakukan hal itu. Bagiku pikiranku sekarang seperti semrawut tak jelas semuanya terbentur satu sama lain, seperti tidak ada arah namun masih terus berjalan luas entah sampai mana sukses mengambahnya. Dari pandanganku yang lurus ke jalanan sana, dan dari segala kesabaranku menunggu sosok Rara hadir kembali di sini setelah izinnya tadi yang entah untuk apa seselesainya itu bahkan sampai sekarang tak kunjung datang pun dalam sekejap juga membuatku siapa tuh malas juga untuk menunggunya. Bahkan sampai beberapa makanan dan cemilan yang ada di sini pun aku ajukan begitu saja karena memang aku tak mood untuk apa-apa saat ini. Jangankan untuk itu untuk berubah menjadi seperti apa yang aku inginkan saja rasanya sangat entahlah, terlalu sulit untuk dikata-katakan dan terlalu gampang untuk di ucapkan saja tapi sangat sulit untuk dilakukan. Rasanya semua ini sungguh sangat memusingkan, entah karena apa aku sendiri juga nggak tahu apa-apa tapi yang jelas aku hanya bisa udah diam diri disini dengan segala hal yang aku rasakan penuh nikmat dan campur aduk yang luas juga sampai tak menghiraukan apapun lagi tentang Rara maupun karena keberadaannya dan tentang keberadaanku yang tak jelas di sini yang seolah-olah seperti orang hilang ataupun apa itu pun dalam sekejap semuanya berubah. Entahlah ini ada angin ataupun apa yang tiba-tiba mengusik batinku yang paling dalam dan pas sampai kapan aku kembali memikirkan seseorang yang tak jelas saat ini, yang mungkin jika dikatakan dengan kasar aku ini terlalu bucin wadahnya pada kenyataannya semua itu tak bikin padaku setelah pandanganku ini penuh menatap ke arah lurus sana mendapati sepasang sejoli yang asyik mengendarai motor dengan segala candaan dan tawannya, dan juga dengan segala hal yang dalam sekejap itu membuatku terdiam disini setelah kedua bola mataku juga sukses mana mati keduanya dari ujung jalanan paling sana sampai ujung jaranan paling sini yang terdekat dengan ku dan sampai dengan kedua orang itu pun menghilang perlahan nafas panjang pun aku lontarkan dari sini. "Ya Allah ... heran banget ya perasaan tuh sering banget ketemu orang yang uwwu uwwu kayak gitu. Ya bukannya kepengen ataupun apa ya, eh tapi kalau boleh jujur mah emang kepengen juga sih. Errr tapi aku juga sadar diri kalau itu dosa. Ya bukannya aku mau sok alim ataupun apa cuma kan ya gimana ya aku tuh juga nggak munafik sama diri sendiri walaupun aku tahu itu dosa tapi terkadang aku juga pengen gitu loh kayak gitu, aku bukannya sok alim ataupun apa tapi di dulu aku juga pengen lah kayak berada di posisi kayak gitu juga apalagi kalau dipikir-pikir juga sedari tadi itu gimana ya istilahnya itu kayak sering juga gitu aku nemuin kayak gitu ya gimana anak orang nggak kepengen gitu kok tiap hari di pingin pingin kayak gitu tapi aku tuh juga kembali ke awal cerita kalau misalkan aku juga tahu dosa juga walaupun nggak tahulah imanku lemah banget perasaan ya. Astagfirullahaladzim ...." Aku ucapkan kedua tanganku penuh ini ke arah wajah dengan begitu kasarnya, sampai didetik kemudian kepala ini pun aku geleng-gelengkan pernah. Pandangan ini pun aku alihkan ke arah samping atau kesekian kalinya atau bahkan untuk ke berapa kali aku pun tak tahu, yang jelas aku rasakan saat ini sebuah embusan napas kembali aku layangkan tipis-tipis dari diriku yang penuh kesadaran ini. pandangan ini aku alihkan ke arah dimana keberadaan pintu rumah Rara yang sedikit terbuka sana tapi tak kunjung menampilkan sang empunya rumah yang sudah pergi entah beberapa menit yang lalu itu aku sendiri saat ini bahkan sangat acuh terhadap hal itu berbeda dengan sebelum-sebelumnya yang tampak kesal tapi saat ini soal semuanya aku biarkan begitu saja sesuka hatinya dan seenak Rara saja. Suasana sepi jelas aku rasakan di sini, kecuali beberapa kendaraan yang memang berlalu-lalang di hadapanku yang sesekali tak jarang orang yang melewatinya pun menatap ke arah ke karena mungkin bingung ataupun apa mendekati seorang wanita sepertiku yang bisa dibilang seperti orang tak jelas duduk di bawah pohon dengan segala kenyamanannya tetapi seperti orang hilang yang tak jelas arah dan tujuannya seperti sekarang ini, yang sukses membuatku mengerjitkan kening juga sesekali saat satu atau dua diantaranya yang aku sadari lewat di jalan sana ada yang menang hatiku dengan segala respon yang dilontarkan mereka dalam sekejap yang aku sadari juga tapi saat setelahnya pun juga aku tolak dengan segala hal yang justru membuatku jijik meresponnya. "Jijik asli, kayak nggak adab aja deh!" ujarku sesaat saat mendapati dua pemuda yang melewati jalanan di depan rumah rasana yang seolah setelah menyadari ada seorang wanita di sini yang tak lain tak bukan adalah aku walaupun mereka tak kenal denganku dan aku tak kenal dengan mereka tapi entahlah mungkin mata-mata cowok adalah mata-mata yang jelalatan. Buktinya begitu mendapati aku yang notabenya berbeda gender dengannya mereka langsung teriak-teriak tak jelas seolah menggodaku yang dalam sekejap justru membuatku bergidik ngeri sendiri sampai dengan sadar ku juga kedua pemuda itu menghilang dari pandanganku dan dari ujung jalan sana yang jika dilihat dari arah ku sudah tak terlihat karena tertutup oleh sebuah bangunan yang tak lain tak bukan adalah rumah tetangga milik Rara. "Heran deh aku kenapa ya kalau mata-mata cowok itu pasti kayak gitu, nggak tahu mau bilang apa mau senang ataupun apa tapi nggak ada senang-senangnya juga sumpah. Malah tuh jadi risih gitu loh, siapa sih mereka kenal juga nggak deket juga nggak main gak jelas aja. Mending mending cakep lah itu biasa aja deh songong banget, malam bikin risih kalau kayak gitu ih asli ya Allah ... ngeri banget ya Allah ...." Jujur memang saat ini yang aku rasakan adalah gidikan ngeri bukan main, yah karena bagaimana lagi jika kenyataannya memang demikian. Bahkan suka tak habis pikir juga aku dengan semua hal yang selalu terjadi disetiap tambahan s dan pertambahan waktu juga sih setiap pertambahan hal yang yang bisa dikatakan itu terlalu rumit untuk dimengerti dan dicerna oleh akal pikiran. Mengingat-ingat hal itu jujur membuatku merasa semakin tak mengerti dengan keadaan yang terus-menerus menghadirkan segala kejutan yang tak pernah bisa disangka-sangka. Gelengan kepala tipis aku lontarkan kembali di sini, aku benarkan posisi duduk ini dalam sekejap dari kedua kakiku yang sebelumnya tampak selonjor penuh ke depan sana. Kini kedua kaki ini pun aku lipat kembali dengan keduanya yang saling bertumbukan penuh ditambah dengan diriku yang dalam sekejap pula kembali hadir dengan sebuah ponsel yang sudah aku ambil dari samping kananku itu yang baru saja aku pelit akan penuh di sana kini kembali aku genggam erat dan aku buka kunci layar sana sampai menampilkan sebuah wallpaper random yang kupasang dan aku sadari penuh saat ini. "Haduh ya Allah ... perasaan hidupku itu berasa kayak hampa banget ya Allah astaghfirullahaladzim ... beda kayak mereka-mereka yang notabenya tuh gampang juga buat dapat padahal aku justru apa itu harus diperjuangkan sendiri nggak ada tuh yang namanya instan instan an. Kalau pengen apa ya diusahakan sendiri kalau pun pengen sesuatu yang cepat ya paling nggak sama aja harus nangis-nangis juga harus merasa nggak jelas minta keluarkan ya pokoknya heran dan bingung aja sih sebenarnya aku tuh sama diri sendiri juga. Astagfirullah ... dasar Laras nggak mensyukuri nikmat banget hish!" rutukku dalam sekejap yang justru membuatku kini tampak geleng-geleng kembali disela-sela diriku yang memainkan ponsel ini secara penuh dan berusaha untuk melupakan semuanya yang ada di otak dan yang berputar-putar tak jelas di sini. "Sekarang aku mau ngapain ya berhubung di HP nggak ada chat sama sekali, mau skrol apa gitu juga agak bingung juga mau apa juga udah bosen. Hadeh ... apa iya aku coba nulis lagi kaya dulu?!" tanya aku udah pada diri sendiri. Pandangan ini pun aku dongakkan sejenak ke arah depan sana, otak ini dalam sekejap kembali berpikir penuh. Ponsel pintar yang aku mainkan beberapa detik yang lalu itu pun dalam sekejap juga aku hentikan sejenak, "Tapi kalau misalkan nanti bunda yang keterima di kerja yang di kantor itu kalau aku nulis lagi kira-kira bakal keburu nggak ya setiap targetnya?!" Lagi dan lagi aku bertanya perihal suatu kenyataan seperti itu pada diri sendiri. Yah memang hobiku adalah menulis setelah menggambar dan melukis yang juga sama saja sih menurutku. Jika boleh aku katakan jika aku ini juga hobi menulis hanya karena beberapa bulan yang lalu saja itu kan karena terlalu menganggur. Uah memang pekerjaanku beberapa bulan yang lalu semenjak lulus dari SMA adalah sebagai penulis mungkin yang bisa dibilang juga termasuk amatir tapi alhamdulillah nya pada penghasilan dari situ walaupun memang tak seberapa tapi ketimbang tak ada kerjaan sama sekali di masa yang sangat sulit seperti sekarang ini pikirku itu bukan masalah lagi tapi entah lah itu sudah beberapa bulan yang lalu juga sekitaran 2 bulanan mungkin aku hentikan aksinya karena aku yang merasa lelah ditambah lagi dengan aku yang rasanya itu seperti bingung juga terhadap ide dan topik yang ingin aku angkat di dalamnya sana dan entah kenapa sekarang ini tiba-tiba permainan itu kembali mengusik diriku. Aku tak paham, yang aku pahami sekarang hanyalah aku yang terucap demikian itu dalam sekejap otakku kembali mencerna semuanya bersamaan dengan diriku juga yang dalam sekejap kembali menatap ke arah langit di atas sana yang sangat cerah di setiap pertambahan detiknya sampai tak sadar w******p pintar yang aku pegang tadi kini sudah kembali meluncur di bawah tepatnya di atas pahaku yang aku silakan satu sama lain kedua kakinya. "Tapi kalau dipikir-pikir lumayan juga sih nambah penghasilan lagi, lagian kan urusan yang kerjaan ini juga belum tentu keterima ya walaupun jangan sampai sih dalam artian kaya semoga aja emang terima tapi kan berharap berlebihan juga nggak baik!" ujarku bingung. "Eh? Tapi juga nggak salah sih kalau misalkan aku coba lagi ya itung-itung kalau misalkan emang belum rezekinya lagi yang ini ya kan lumayan juga bisa nambah penghasilan lagi di tempat yang itu tempat nulis biasa. Kan lumayan yah, setidaknya ada pemasukan lah Ras! daripada kamu ngelamun mikirin yang gak jelas terus mikirin si dia terus apalagi keadaan juga kayak gini kamu juga harus berorientasi ke masa depan dong Ras ya Allah ... astagfirullahaladzim ... inget ras ingat masa-masa males mau itu enggak akan menghasilkan apa-apa kalau kamu nggak bergerak lagi kayak sebelum-sebelumnya. Ayoklah, kamu pasti bisa kok. Ayok pasti bisa ....." Lagi dan lagi aku hanya bisa berusaha menguatkan diri sendiri dan mendorong diri sendiri agar kembali berniat untuk seperti apa yang aku ucapkan barusan itu, karena memang menjadi penulis itu tak mudah. Karena memang pada dasarnya untuk menulis itu juga tak main-main yang dalam artian harus ditekuni dan tidak asal-asalan juga, jujur aku pun juga rindu pada kegiatan itu. ada sebuah kegiatan yang pernah memberiku pengalaman baru walaupun secara tak langsung karena ya memang itu lebih tepatnya jika dalam istilah kerennya sekarang adalah dunia virtual. Karena aku yang menulis di sebuah media sosial di sebuah aplikasi dan disitu juga pastinya orang orangnya pun bukanlah orang-orang terdekatku yang bisa dipastikan juga semua anggota atau bahkan penulis penulis lain yang ada di dalamnya pun juga pastinya dari Sabang sampai Merauke selalu ada bahkan jika dalam kenyataan atau di dalam real lifenya seseorang terdekat ke juga ada yang melakukan hal itu mungkin saja itu sangat tipis kemungkinan untuk percaya dan sangat besar kemungkinan untuk menyepelekan. Kenapa? Karena mungkin pikir mereka adalah seperti hal yang membuang-buang waktu saja, ya mungkin bagi sebagian orang bisa saja seperti itu karena yang dilihatnya sangat enak tapi juga selebihnya orang-orang pasti akan menyampaikan karena tahu jika pekerjaannya hanyalah menulis pikiran mereka serta otak mereka pasti hanya menyimpulkan sebuah aksi menulis yang sangat mudah dengan latihan pada level paling mudah yang ada di otak mereka padahal kenyataannya itu semua tak mudah dan itu semua butuh pikiran yang penuh dan kutub sebuah topik yang memang banyak disukai oleh semua orang dan untuk mencari peluang itu sangatlah susah tetapi untuk menyepelekannya itu sangatlah mudah. Sebuah helaan nafas panjang aku lontarkan saat ini mengingat semua hal yang pernah aku lakukan sampai sejauh ini dan sampai di umurku yang bisa dibilang hampir mendekati 20 tahun ini, ku arahkan pandanganku ke depan sana lurus. Masih di keadaan yang menikmati suasana sejuk ini, dan juga masih di keadaan dimana Rara yang belum sampai kembali menampakkan segala batang hidungnya itu. Dan masa dimana aku yang memang tak tahu apa-apa dan hanya bisa berusaha mengerti keadaan dan selalu sabar menunggunya datang kembali yang entah itu kebablasan tidur atau apa aku tak paham. Kini semuanya seperti sudah membiasakanku pada kesendirian di tempat ini dengan segala pikiran-pikiranku yang bercampur aduk menjadi satu. "Ya Allah aku bingung hish ... lagi dan lagi aku kejebak pada semuanya bersamaan. pada diri yang tengah mengharapkan sebuah pekerjaan tapi juga tak mau terlalu berharap ada hal itu ditambah lagi dengan diriku yang ingin melanjutkan aksi dan mungkin bisa dikatakan segala hobi yang menghasilkan uang dariku itu tapi juga di satu sisi aku bingung untuk memulainya dan entah kenapa kembali lagi ditambah dengan diriku yang yang dalam sekejap juga dibuat ragu akan keadaan yang awkarin ini ini bahkan aku sendiri juga bingung tentang hidupku ini yang harus bagaimana dan kedepannya akan seperti apa ya Allah ...." "Aku labil dalam segala hal, pekerjaan, hobi, alur hidup, bahkan percintaan. Kenapa semuanya sial?!" "Hah? Apaan yang sial?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD