Kepo Lu!

1125 Words
Reflek pandangan ini pun menoleh ke arah dalam dimana keberadaan dan arah datangnya sumber suara itu yang main keras juga dari telinga. Yah, dari arah sana terdapat sosok kera yang berjalan dengan begitu aktifnya kearahku yang justru membuatku sedikit bersih payah menelan saliva dalam-dalam disertai dengan pandangan ku juga yang masih anakan ke arah sosok itu secara penuh, ini aku pun menggeleng dengan begitu tipisnya di sini. "Nggak ada sayang ya Allah ...." ujarku mengelak semuanya yang justru dari sosok itu kudapati sebuah bibir yang tampak dikerucutkan penuh oleh Rara saat ini. "Halah boong aja, apaan sih serius nanya ...." kekehnya ingin bertanya dan ingin mendapat jawaban dari ke atas pertanyaan tadi tapi aku hanya geleng-geleng kepala dengan kekehan yang aku lontarkan. Aku yang demikian, pandanganku pun tak luput dari sosok Rara yang kini semakin dekat denganku maka semakin dekat dan semakin dekat hingga berujung ia yang dalam sekejap pula tampak dekat bergabung dengan ku duduk di atas sebuah dipan yang sedari tadi ku tempati dengan begitu nyamannya. "Orang dibilang nggak ada juga kamu tuh liatin aja sih tiba-tiba datang muncul suara aja. Hadeh ... kaget serius." Krek .... Suara kayu yang saling bergesekan dari event yang aku duduk tercipta penuh karena aksi Rara yang saat ini tampak duduk dan menaiki benda itu dengan begitu santainya. "Hilih, nggak usah ngalihin topik deh kebiasaan banget jadi orang. Udah apaan ya Allah, serius ya kamu tuh lama-lama malah nyebelin tau nggak ra nanti gak jauh juga yang tadi aja belum dijawab nih sekarang udah nambah lagi ya Allah kamu orangnya kayak gitu terus aku malah jiwa-jiwa kepo nya meronta-ronta terus lu jadi bingung aku mau ngapain!" sahut Rara membuatku terkekeh kembali. "Ya makanya itu kalau dibilang nggak ada apa-apa yang ada apa-apa ya Allah kamu juga ngeyel banget sih, iya iya kalau yang nanti aku cerita yang barusan ya lihat nanti aja deh kalo gitu mah cerita atau enggak tapi serius deh ya aku tuh cuma nanya." "Nanya apaan?!" sahutnya kembali memotong ucapanku, mendengar itu pun aku justru membenarkan posisi dudukku yang terasa tak nyaman ini dalam sekejap. sedetik kemudian bukannya langsung menjawab aku justru tampak mengalihkan sejenak pandanganku kearah sekitaran tempat ini dan kearah dalam rumah Rara yang memang terlihat sedikit dari pintu yang tak ditutup kembali olehnya ditambah lagi dengan pandanganku yang seketika pula tampak hadir kenapa para jalanan sama lantas kembali ke arah Rara dengan segala raut wajah penuh tanyanya di sini. Sedangkan sang empunya tampak kebingungan penuh terlihat dari raut wajah yang dilontarkan saat ini, sampai dengan detik setelahnya aku justru memajukan tanganku dan menjentikkan jari-jariku ke arah kening Rara dengan pelan. "Sabar kenapa sih ya Allah jadi orang nggak sabaran banget deh perasaan heran aku, sebenarnya sih enggak ada juga nggak terlalu ini juga cuma yang mau nanya aja gitu aku telepon kamu dari tadi kamu izin sama aku tuh udah aduh berapa menit ya udah hampir setengah jam atau lebih tebakan malah udah hampir 1 jam ya. Nah, yang jadi pertanyaanku yang terletak di otak dan kepala pokoknya muter-muter di diriku tuh kamu ngapain aja buset dah. Berak sampai ... se-JAM?!" kaget bukan main jelas aku rasakan saat ini, aku yang menanyakan itu dengan akhiran ucapan yang juga aku bersama kan dengan pandanganku yang menatap kearah layar ponsel yang baru saja aku hidupkan itu dan menyadarinya bahwa sudah sejam lebih atau bahkan memang hampir sejam Rara menghilang dari pandanganku semenjak tadi itu sukses membuat itu terbelalak bukan main sampai dengan ucapan terakhir yang aku lontarkan itu, bagiku terkesan sedikit ngegas daripada sebelum-sebelumnya yang terlihat kalem. Tetapi tidak dengan sang empunya teman yang justru geleng-geleng kepala. "Ah ellah, lebay deh. biasanya juga aku tinggal Lampir berapa jam alasan tinggal tidur juga kamu mah biasa aja kali Ras. Tumben banget kamu jeli sama kepergianku? CK ya Allah ... bisa-bisanya yah hmmm. Tapi ya bodo amat sih orang kamu juga ditanyain dari tadi enggak ngejawab terus ya udahlah aku mau ikutan juga nggak jawab!" "Dih, balas dendam heh ceritanya?!" tanyaku tak percaya, Rara menghendikkan bahunya acuh yang sukses membuatku membuang nafas kasar di sini. "Ya ellah Ra, sepele banget ya Allah ya kali kita tiap hari tiap ketemu pasti ada ributnya terus. Hadeh ... iya iya nggak usah ngambek gitu aja ngambek. Aku sih jawab dulu nanti aku ceritain deh beneran yang tadi itu aku lanjutin lagi cuma jawab dulu lah lu ke mana aja dari tadi ya Allah ya kali kamu berak sampai sejam sendiri kan gak mungkin." "CK! Bukannya nggak mungkin lah, tapi emang udah mungkin lah gimana lagi orang kenyataannya aja aku tuh tadi tidur dul-" "WHAT THE?" "IYA YA ALLAH, TADI AKU KEBABLASAN TIDUR PUAS?! Wkwkwk ngegas ya aku? CK, tapi asyik sih!" Mendengar itu sebuah dia gelengan tak percaya jelas aku lontarkan di sini. Bukannya apa-apa hanya saja sedikit malas juga mendengarkan kalimat itu yang walaupun pada kenyataannya justru aku sendiri yang menjengkelkan di sini tapi entahlah aku adalah aku sih gadis yang selalu mau menangnya sendiri dan itu bukan masalah bagiku. Karena yang aku tau dan sadari di tempat ini berada aku tampak memutarkan dalam mata malas merespon pernyataan yang keluar dari mulut Rara beberapa detik yang lalu itu. "Ya emang ngegas kamu tuh," sejenak aku terdiam sebelum setelahnya sukses dibuat menghela nafas panjang dengan begitu beratnya di sini. "AAAA tapi kenapa sih Rara ... kita kalau ketemu pasti adu mulut juga terus-menerus. Capek aku ...." Damn it, aku yang sambat demikian ditambah lagi dengan aksiku yang seketika tampak meletakkan begitu saja ponsel pintarku ditambah lagi dengan diriku yang dalam sekejap kembali mensejajarkan kedua kakiku ke depan sana, sosok Rara tampak tersenyum kecut menatapku yang justru malah membuatku terkekeh. "Yaa kan emang iya dodol, wkwkwk makanya udahan. Udah ah capek juga aku, sini deh deketan tak ceritain beneran tentang kejadian juga pengalamanku tadi masuk ke kantor. CK, bahasaku bagus banget ya udah kaya apaan aja hahahaha ...." Tawa nyaring berhadil terlontar dariku, tapi justru sukses membuat Rara bergidik ngeri dari apa yang aku lihat dari penglihatanku ini malah semakin membuatku terbahak di tempat. "Lebay deh ah ...." ujarku sembari menyoleknya penuh. Rara geleng-geleng kepala, lantas menjitakku penuh yang aku sadari membuatku sedikit terbelalak juga di sini. "Alah kamu kali Ras yang lebay, hiyahiyahiya ... udahlah iya sih ini aku deketan buruan cerita sebelum berubah pikiran dan sebelum males lagi buat dengerinnya. Awas aja belibet lagi, kelamaan lagi, gue timpuk lu yah lama-lama!" "Uuuu sadis ...." "Yah makanya itu ... udah sih buruan to the point langsung aja gas gitu loh gue itung ya satu sampai 3 mulai." "Heh, kaya perlomb-" "Satu ...." "Dih gila nih anak bener-" "Du ... A ...." "Woy Ra, sadar ya Allah sad-" "Ti ... G-" "Fyuh ... oke oke oke, aku mulai yah ..." Sejenak helaan nafas panjang aku lontarkan di sini, "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD