Aamiin Semoga Ya Ras!

1841 Words
"Hishh, sumpah deh Ra aku tuh lama-lama greget sama kamu. iya loh iya ini loh udah mau aku apa namanya udah aku ceritain deh ya udah buruan diam aku mau cerita nih nggak usah ribet lagi udah diem." Aku yang berkata demikian benar saja Rara benar-benar diam di tempatnya saat ini yang justru sukses membuatku juga malah terkekeh. "Selow wkwk, iya nih aku cerita kamu kelamaan banget sih tadi ke belakang juga ya Allah ... Fiks ya aku cerita lagi sambung yang tadi. CK! Berasa sinetron yang lagi bersambung terus ditamatin lagi ya Allah ... oke oke aku mulai lagi ceritanya ya tenang-tenang sabar ... jadi itu intinya aku tuh entah kenapa ya Ra setelah denger sama apa yang diucapkan jadi kepedean aku ih ...." Entah apa artinya aku tak tahu yang pasti setelah apa yang aku ucapkan itu, dari arah pandanganku jelas mendapati Rara yang tampak mengerjitkan keningnya penuh kebingungan. Sampai di detik setelahnya itu sosok itu menanyakan sebuah pertanyaan yang sukses membuatku tak jelas di sini yang tak lain tak bukan berbunyi. "Kepedean kenapa sih woe? Emangnya pak satpam itu kenapa kok bener ini ada sangkut-pautnya nggak sih sama kerjaannya itu? Ini Ada sangkut-pautnya nggak sih sama apa ya namanya hp-nya itu kan nah terus jadi pertanyaan itu ngedeketin kamu ya bukan apa-apa sih cuma kayak nemenin kamu gitu kan bahasa kasarnya. Nah, kalau gitu yang bagian mana yang bikin kepedean ya Allah bagian mananya sayangku cintaku. Udah cerita lagi monggo, makanya kamu cerita aja nanti pasti aku dengerin kok dan kalau misalkan aku nggak paham ya udah intinya nanti bakal aku tanyain juga kamu pasti. Kuy gas lanjut ...." Tanpa berbasa-basi lagi, aku anggukan kepala ini merespon ucapan Rara. Tetapi disatu sisi aku juga sedikit menggeleng tak setuju atas apa yang diucapkannya itu karena aku sendiri bingung pada kenyataan walaupun sudah jelas asal-usul dan jalan ceritanya. "Okey baby ... ya pokoknya intinya tuh ya Ra kenapa aku kepedean? Karena ini bukan karena dia yang sok cari perhatian ataupun apa gitu ya si pak satpam itu nggak dia itu santai-santai aja gitu ya pertamanya aku juga ngantri sih tapi itu lama-lama ya ma jadi kepedean ya Allah ...." Sejenak aku terdiam, kudapati penuh dari pandangan ini sosok Rara yang mulai kesal kembali denganku yang tanpa berbasa-basi lagi aku pun terkekeh tipis. "Jadi tuh, sama kaya yang aku maksudkan tadi yang intinya itu kan kalau misalkan pak satpam itu selain aksinya yang kayak gitu tuh ya kan sebelumnya juga sempat bilang kalau misalkan yang diinterview itu aku aja. Nah, kira-kira kamu kebaya enggak aku kepedean nya itu karena apa yang kamu lihat dari kamu sadari dari kalimat yang diucapin sama pak satpamnya itu terus jadi apa yang aku ceritain juga ke kamu. Kamu nggak pusing kan dengerinnya?!" Yah, karena bagaimanapun juga aku sendiri bahkan sedikit pusing. hingga untuk merespon Hal itu pun aku tampak hanya bisa menyengir dan menyengir di sini. "Gini loh, yang aku maksud jadi kepedean itu karena pada awalnya tuh gimana ya ya pokoknya setelah apa yang banyak aku omongin tadi. Singkatnya, nggak lama setelah itu tuh juga datang Mbak Mbak ya pokoknya cakep banget sumpah nah itu yang ngasih tahu gitu loh ngasih tahunya itu kayak gini yang kurang lebih itu ya itu kan bilang kalau misalkan emang yang ada di sini itu yang interview hari ini itu tuh yang masuk cuma aku doang ... yang emang bener-bener diundang interview gitu loh maksudnya tuh. Ya kan kalau udah kayak gitu kan jadinya malah aku yang kepedean sendiri toh paham nggak sih kamu?!" Selesainya aku menucapkan kalimat itu apa kembali menatap ke arah Rara dengan begitu bingung dan bertanya-tanya juga tentang sebuah kalimat yang sukses aku lontarkan juga saat ini padanya. Bukan apa-apa, hanya saja jika memang kenyataannya perihal semua yang aku bacakan tadi jika memang tak dipahami oleh Rara bukan kakak seperti sama saja?! Entahlah, yang pasti. Saat tiba-tiba sebuah respon anggukan dilayangkan oleh Rara bersamaan dengan itu pula aku seperti dibuat menghelakan nafas penuh lega di sini karenanya. "Iya paham aku sayang ... jadi toh di sini tu aku jadi paham kalau misalkan kamu tuh maksudnya kepedean itu bukan karena yang kepedean seolah-olah nyangkut perasaan itu nggak yang lama sih kepedean itu ya itu kan karena nggak cuma pak satpamnya aja yang bilang kamu caranya interview hari ini cuma kamu terus mbak mbak yang katanya kamu cakep itu juga kan bilang kalau misalkan hari ini yang tertutup maka mau aja gitu kan? Yaa aku paham sih malah paham banget malah emang cuma kan gimana ya kayak istilahnya tuh juga dari kalimat-kalimat mereka yang diucapin itu kan emang bikin orang jadi berharap lebih juga sih aku juga tahu aku juga paham kalau misalkan aku ada di posisi kamu juga pasti aku bakal mikir kayak gitu juga. But, kalau misalkan emang gimana ya rejekinya juga pasti bakal buat kamu kok Ras santai aja." Mendengarnya aku mengangguk penuh paham, "Nah iya ya pokoknya kayak gitu tuh. jadi kan kalau misalkan kayak gitu tuh orang jadi berharap lebih kan tapi kalau menurut kamu nih ya Ra. Salah enggak sih kan aku sampai bersikap kayak gitu? Salah nggak sih kalau misalkan aku sampai kepikiran kayak gitu terus jadi malah pengen nyimpen sendiri sebuah kalimat atau belakang sebuah kenyataan mungkin yang aku juga nggak tahu ini tuh sebenarnya karena harapanku aja atau emang bakal kayak gini aku juga nggak tahu tapi yang jelas tuh jujur ya kalau dari aku pribadi aku malah jadi kepikiran kalau misalkan apa iya dan apa mungkin yang kerja di sana tuh cuma aku aja? Nah kalau misalkan emang iya kan berarti gimana ya yang keterima kan berarti aku ya? Tapi masalahnya ya itu tadi ... aku tuh takutnya kalau misalkan aku udah nyampe nyimpulin kayak gitu kan jatohnya jadi berharap lebih dan kalau udah berharap lebih itu kan jatohnya mah kaya sok mendahului takdir juga barangnya nggak ada yang tahu ke depannya kayak gimana terus kenyataannya kayak gimana juga kan aku nggak tahu nah salah enggak sih kalau misalkan aku mikir kayak gitu? Salah nggak kalau aku berharap dan nyimpulin kaya gitu?! Soalnya gimana gimana pun juga mereka tuh masalahnya nggak cuma satu gitu loh hampir 2 orang 3 orang juga orang sempet hrd-nya tuh bilang kalau misalkan kamu beri kesempatan besar juga bergabung di perusahaan ini gitu katanya. Nah, menurutmu gimana? Bakal keterima nggak yah aku kira-kira?!" Jujur ini pertanyaan konyol, but sekonyol-konyolnya apapun itu pasti kan tetap saja ada sebab akibatnya juga bukan? Dan aku pun berkata demikian juga karena memang ingin tahu hal lebih lanjut di sini. Sampai dengan segala hal juga membuatku setia di tempat menatap ke arah Rara sampai detik ini juga. "Yaa kalau mau kalau menurut aku sih kau terima atau nggaknya itu ya tergantung hrd-nya ya aku bukannya gimana-gimana cuma kan pas posisi kamu interview itu kan ya pastinya itu kamu berhadapan sama orang yang berwenang langsung buat kaya yang emang apa ya namanya itu kayak emang haknya juga buat milih antara iya tahun nggak dan aku bukannya mematahkan semangat kamu tapi kalau misalkan ada keluhan nya kayak gitu dan kamu juga yakin insya Allah deh kalau misalkan itu rezeki kamu pasti bakal jadi hahaha kamu juga kok pasti. Percaya aja." Entah kenapa mendengar penuturan Rara yang sedikit sempurna itu bukannya apa-apa aku berkata demikian karena memang sebelum-sebelumnya Rara itu tak pernah serius jika diajak berbicara serius pasti akan ada sebuah candaan kecil entah itu sekali atau beberapa kali yang pasti jika memang serius pasti akan berbicara seperti ini yang justru malah membuatku sedikit tersenyum miring secara diam-diam. 'Ini anak sekalinya bijak itu langsung kayak berasa gimana gitu ya Allah tapi gimana ya ....' Dengan penuh berat hati aku pun membuang nafas dengan begitu beratnya dari dalam hati sini secara diam-diam dan dan pastinya tanpa diketahui oleh Rara bersamaan dengan beberapa detik aku mengalihkan pandanganku ke arah lain sebelum setelahnya kembali menatap kearah sosok itu dengan senyuman yang aku lontarkan dari arah dua sudut bibirku ini. "Iya iya aku tahu aku paham sama yang kau maksud aku ngerti kok, aku juga banget banget paham bahkan banget banget ngerti sama apa yang kamu maksud itu ya gimana ya aku juga enggak bisa berkata-kata apa-apa lagi sih tapi tuh aku takutnya cuma itu tadi Ra kalau misalkan aku terlalu berharap lebih terus ujung-ujungnya dijatuhin lagi sama ekspresi gimana dong?!" Lagi dan lagi aku yang berkata sedemikian rupa itu dalam sekejap pemula hanya bisa menatap dan kembali menatap ke arah Rara dengan penuh tanyanya. "Yaa kalau misalkan berharap sih wajar lah namanya juga kan orang kerja kalau orang nyari pekerjaan yang otomatis tuh sampai udah diundang interview kayak gitu ya wajar kalau misalkan berharap lagi Ras. Lagian kamu kan masih tahu kamu kan pasti nggak gitulah sama ya ... aku cuma mau bilang kan kalau misalkan apa ya kamu kan yang enggak gimana sih bilangnya pokoknya tuh kan makan nggak sekali dua kali juga kan sama yang kejadian kayak gini ya bukannya gimana-gimana kan bisa kan rezeki itu balik lagi ke awal tadi kalau misalkan rezeki kan pasti nggak bakal kemana-mana. Nah, kalau misalkan emang itu jadi jalan kamu juga kan pasti bakalan kamu dapetin juga. Kesimpulannya kayak gini kalau misalkan kamu berharap pada sesuatu hal, misalkan kalau di sini kamu berharap bisa keterima di kerjaan ini yaitu adalah Ras. ya aku tahu kalau misalkan apa ya namanya itu kalau misalkan aku emang enggak ada pengalaman daftar-daftar kerja kaya kamu gitu maksudnya belum, nah tapi aku tetap tahulah ras apakah pengertian paham gimana rasanya dikecewain sama ekspektasi itu nggak enak banget. Tapi pesan aku cuma satu tetap semangat aja kalau misalkan suatu saat eh maksudnya kalau misalkan emang ini belum jalannya ya enggak apa-apa sih kan Allah punya rencana yang lebih indah lagi di belakang kita yang kita nggak tahu u dan emang mungkin itu lebih baik dari yang sekarang ini dengan alasan ya nggak tahu aku Wallahu alam juga kan?!" Sejenak di sini aku terdiam penuh mendengar penuturan Rara, dia memang belum pernah merasakan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di masa seperti sekarang ini. Dirinya memang belum pernah terjun langsung seperti apa yang seringkali aku lakukan untuk kesekian kalinya bahkan sampai seperti sudah dibuat bosan sendiri melakukan hal itu tapi itu semua tak membuatnya malah menjatuhkanku segala aksi tindakan dan juga semuanya yang aku berikan kepadanya dan aku ceritakan kepadanya secara penuh ini nyatanya memang mau seperti apapun itu pekerjaannya dan mau seperti apapun itu kenyataannya walaupun aku dengan dirinya itu berbeda tapi semua itu hanya tentang konsep tidak dengan kenyataan yang sebenarnya semuanya itu seperti sama saja yang membedakan itu hanyalah bagaimana cara menyikapi antara orang satu dan orang dua. Dan aku semakin paham hal itu, semua yang diucapkan oleh Rara memang benar dan semuanya itu memang sesuai dengan apa yang aku lakukan meskipun dirinya belum pernah melakukannya. Yah ... sampai segera lamunan ini yang jatuh pada sebuah pikiran tentang apa yang diucapkan oleh Rara barusan. Dalam sekejap lamunan itu terbuyar, sebuah tepukan di bahuku menyadarkanku dan membuatku menoleh ke arah samping. Di saat itu pula aku percaya yang namanya ikatan batin antara teman atau bisa lebih dekatnya lagi antara sahabat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD